Tangan Scarlett gemetar, ia berusaha meraih celana yang lelaki itu kenakan sambil memejamkan mata.
"Aaa ...," jerit Scarlett. Ia terkejut saat tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang keras.
"Kenapa?" Ethan ikut-ikutan terkejut mendengar teriakan Scarlett yang memekakkan telinga.
"I ... itu! Ada yang keras," ucapnya sambil menunjuk sesuatu yang dimaksud dengan ekspresi malu bercampur takut.
***
Akibat hutang yang ditinggalkan sang ayah, Scarlett harus bekerja keras melakukan apa saja yang dia bisa, termasuk menjadi pelayan di klab malam. Karena sering membuat kekacauan, ia diberi pekerjaan lain untuk merawat seorang kakek tua bernama Kakek Adam. Siapa sangka lelaki tua kaya raya itu akan menjodohkan Scarlett dengan cucunya. Tidak disangka, Cucu sang kakek adalah Ethan, mantan pelatih panahan saat SMA dan merupakan cinta pertamanya. Namun, kondisi Ethan ternyata lumpuh.
Scarlett kira orang lumpuh tidak akan punya hasrat apapun. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Konfrontasi Aiden
Baru saja keluar dari kantin, saat Scarlett menuruni tangga kecil menuju halaman kampus, langkahnya dihentikan oleh sosok tinggi yang berdiri menyandar di tiang koridor. Aiden.
Adik iparnya itu menatapnya dengan sorot mata tajam, seakan sedang menilai sesuatu yang menjijikkan. Wajahnya tak menunjukkan keramahan sedikit pun, dan kemeja abu-abu yang dikenakannya makin mempertegas aura dingin yang ia bawa. Rambutnya sedikit berantakan, seolah datang terburu-buru hanya demi menghadang Scarlett di tempat itu.
"Hebat sekali. Sudah menikah, tapi masih sempat makan siang mesra dengan pria lain," sindir Aiden tanpa menyapa, nadanya menyelipkan jijik dan sindiran getir.
Scarlett mengangkat alis. Ia mengerti arah pembicaraan itu, tapi memilih tidak langsung terpancing. Ia menyampirkan rambut panjangnya ke belakang pundak dengan santai sebelum membuka suara.
"Kamu juga hebat… bisa menguntit istri kakakmu sendiri. Kamu lagi magang jadi stalker, ya?"
Aiden mendengus. "Aku hanya tidak habis pikir. Kakakku masih saja membela perempuan seperti kamu. Sudah tidak setia, tukang mencuri pula."
Ucapan itu membuat Scarlett berhenti melangkah. Ia menoleh perlahan, menatap Aiden dengan pandangan datar namun menusuk. Langit yang sedikit mendung menambah kesan tegang di antara mereka. Beberapa mahasiswa yang lewat di kejauhan sempat melirik, namun cepat-cepat berlalu saat menangkap gelagat konflik.
Ia mendekat satu langkah. Tumit sepatunya berdentak pelan di lantai koridor, membuat Aiden secara refleks mundur sedikit, merasa terpojok meski secara fisik ia lebih tinggi.
"Dengar, aku hanya bertemu Pak Arnold untuk membahas sesuatu. Kalau bertemu lelaki yang berbeda-beda dinamakan selingkuh, maka aku sudah belasan kali selingkuh dalam satu hari. Termasuk sekarang… dengan kamu."
Aiden mengepalkan tangannya. Jemarinya tampak tegang, seperti menahan dorongan untuk meluapkan amarah.
"Itu kan hanya alasanmu. Tidak ada asap kalau tidak ada api. Aku yakin ada sesuatu antara kamu dan dosen itu."
"Ada… memang ada…" jawab Scarlett ringan. Suaranya tidak naik sedikit pun, justru semakin tenang. "Dulu, kami memang pernah punya hubungan. Tapi itu sudah lama berakhir. Sekarang dia hanya mantan. Tidak lebih."
Aiden menyipitkan mata. "Aku akan laporkan ini pada Kak Ethan."
Scarlett mendekat satu langkah. Matanya bersinar penuh tantangan. Aroma parfum lembut dari tubuhnya tercium samar, tapi tetap kuat seperti dirinya.
"Silakan. Kakakmu sudah tahu segalanya tentangku. Aku jujur padanya sejak awal. Untuk apa juga aku menutup-nutupi karena memang tidak ada apa-apa di antara kami. Jadi… kenapa kamu repot-repot?" katanya tegas.
Aiden terlihat frustrasi. Ia memalingkan wajah sesaat sebelum kembali menatap Scarlett. Nafasnya naik turun cepat.
"Aku dengar kondisi kakakku semakin parah sakitnya. Dia sampai tidak bisa bekerja ke kantor. Sementara kamu… masih bisa jalan-jalan ke kampus, bahkan bertemu pria lain sepuasnya. Apa kamu pikir ini masuk akal? Seharusnya kamu merawat dan menjaga suamimu."
Scarlett tersenyum miring. Ia hampir tertawa, namun menahan diri. "Oh, begitu ya?" katanya pelan. Suaranya menyiratkan sesuatu yang tak dipahami Aiden—sesuatu yang rahasia dan dalam.
"Kenapa kamu senyum-senyum?! Kamu pikir ini lucu?!" bentak Aiden, tak bisa menahan emosi.
"Memang kamu pernah menjenguk kakakmu setelah pergi dari rumah? Kamu itu tidak tahu apa-apa tentang kakakmu, Aiden… Kamu bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Aiden tampak semakin geram. "Aku rasa kamu berharap kakakku cepat mati, ya? Supaya kamu bisa menguasai seluruh hartanya! Itu pasti rencana awal kamu sejak perjodohan itu dimulai."
Scarlett menatap Aiden lama. Kali ini benar-benar muak.
"Kalau tujuanku harta, aku seharusnya menikahi kakek kalian saja. jauh lebih kaya, lebih tua, dan lebih dekat ke kematian. Untuk apa susah-susah menikahi Ethan? Lumpuh. Masih muda. Mungkin matinya… lama," ucap Scarlett tajam, tanpa jeda. Bibirnya tak bergerak banyak, tapi setiap kata seperti anak panah yang melesat lurus ke dada lawan.
Aiden terdiam. Mulutnya terbuka, tapi tak ada kata keluar. Logika Scarlett—meski kejam—ada benarnya. Ia mengernyit, seperti kesulitan menelan kenyataan yang baru saja dilontarkan Scarlett.
"Lalu kenapa kamu mau dijodohkan dengan kakakku?" tanyanya akhirnya, lebih pelan, nyaris seperti gumaman kalah.
Scarlett mendongak sedikit, "Karena kakakmu sangat tampan... Walaupun menyusahkan, setidaknya aku bisa melihat ketampanannya setiap hari. Lagipula, kakek sudah membantu melunasi semua hutang-hutang keluargaku. Aku sangat bahagia dengan pernikahanku, Aiden." Wajahnya ceria, tapi matanya tak menampakkan senyum. Jelas sudah, kalimat itu hanya peluru lain dari mulut tajamnya.
Aiden menatap Scarlett seolah gadis itu adalah spesies alien yang baru turun dari langit. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana cara kerja pikiran perempuan di hadapannya ini.
"Kamu gila… Serius, kamu gila. Aku tidak pernah bertemu orang seaneh kamu dalam hidupku."
Scarlett mengangkat bahu ringan. "Kalau aku gila, berarti kamu juga gila. Karena kamu masih buang-buang waktu untuk berdiskusi dengan orang gila."
Aiden mendengus, menahan marah dan bingung sekaligus. Scarlett seperti benteng batu yang tak bisa ditembus logika maupun sindiran. Gadis itu tak hanya pandai membalikkan keadaan, tapi juga menyerang dengan senyum seolah tak ada yang bisa menyakitinya.
"Kamu pikir kamu menang, ya? Kamu pikir dengan sikapmu ini, kamu akan jadi istri hebat untuk Kak Ethan?"
Scarlett menatapnya, kali ini serius. Suaranya berubah menjadi lebih tenang, nyaris seperti pengakuan pribadi yang lirih tapi jelas.
"Aku nggak tahu apakah aku istri yang hebat atau tidak. Tapi aku tahu satu hal, aku tidak pernah pura-pura menjadi orang lain di depan Ethan. Dia tahu itu."
Aiden memejamkan mata sejenak. Nafasnya berat. Lelah dan bingung bercampur jadi satu di wajahnya.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan kakakku, aku bersumpah tidak akan melepaskanmu."
Scarlett menatap langit sesaat sebelum membalas. Awan gelap menggantung rendah di atas kepala mereka.
"Apa aku terlihat membahayakan untuknya?" tanyanya. “Kira-kira, siapa yang lebih membahayakan? Aku … kamu … atau keluargamu? Siapa yang paling diuntungkan kalau Ethan menderita? Apakah itu aku? Bisakah aku menguasai perusahaan keluarga kalian?”
Aiden terdiam dan memikirkannya. Sekali lagi, Scarlett memenangkan perdebatan dengan tenang. Jika Ethan sampai meninggal, keluarga mereka bahkan bisa menuntut wanita itu dengan alasan pembunuhan. Tapi benarkah Scarlett sekejam itu? Raut wajahnya yang kini datar membuat Aiden meragukan penilaiannya sendiri.
Scarlett merapikan tas selempangnya, melangkah pelan meninggalkan Aiden yang masih berdiri mematung di tempat. Langkah kakinya mantap, seolah beban percakapan barusan tak sedikit pun menggoyahkan mentalnya.
Namun sebelum benar-benar menjauh, ia berbalik dan menambahkan,
"Satu lagi, Aiden... Lain kali kalau mau menuduh orang, pastikan kamu punya bukti. Bukan hanya sekadar pakai emosi."
Aiden menggaruk kepalanya keras-keras. "Kenapa aku selalu kalah adu mulut sama kamu?!"
Scarlett tersenyum, melambai kecil. "Makanya, pakai otakmu, bodoh."
Ia pun melangkah pergi, meninggalkan Aiden yang masih berdiri di tempat, terjebak di antara kemarahan dan kekalahan logika. Angin sore menyapu rambut panjang Scarlett, membuat sosoknya terlihat seperti badai yang tak bisa dihentikan.
Saat Scarlett sudah menghilang dari pandangan, Aiden masih berdiri kaku. Kata-katanya barusan seperti teka-teki, dan kini Aiden mulai curiga. Benarkah Ethan sekarat… atau ada sesuatu yang mereka sembunyikan darinya?
semoga sehat2 ya
ceritanya tamat...ternyata belum to?
ayuk Thor...ojo sue2...aq menunggu lanjutannya♥️
lanjoottt