Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35 - Pulang ke Rumah Lama
Bu Ratna menangis sebelum Nadia sempat duduk.
Di ruang tamu rumah Pak Darto, kipas angin berputar pelan dengan suara berdecit. Foto keluarga lama masih tergantung di dinding. Dalam foto itu, Bella berdiri di tengah dengan gaun bagus, sementara Nadia berada di pinggir, tubuhnya setengah tertutup bahu Sari.
Nadia dulu tidak pernah memperhatikan posisi itu.
Sekarang ia melihat semuanya.
"Nadia," kata Bu Ratna sambil mengusap mata. "Ibu benar-benar tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi."
Nadia menaruh tas kain di pangkuan.
"Kalau Ibu menangis duluan, biasanya permintaannya mahal."
Bu Ratna tersentak.
Pak Darto yang duduk dekat jendela berdeham. "Nad, jangan begitu. Kamu baru datang."
"Saya datang karena Bapak bilang ada berkas panti yang harus saya ambil."
Eyang Marni menyahut dari kursi panjang, "Berkas bisa nanti. Dengarkan dulu ibumu."
Nadia menatap perempuan tua itu.
"Bu Ratna bukan ibu kandung saya."
Ruangan langsung tegang.
Bu Ratna menunduk lebih dalam, seolah kalimat itu melukainya sampai ke tulang. Dulu, Nadia akan buru-buru minta maaf. Ia akan berkata tidak bermaksud begitu. Ia akan menenangkan semua orang sebelum dirinya sendiri sempat bernapas.
Hari ini ia hanya menunggu.
Pak Darto menghela napas. "Nadia, dia yang membesarkanmu setelah kamu pulang dari panti."
"Membesarkan saya atau memastikan saya tahu diri di rumah sendiri?"
Bu Ratna menangis makin keras.
"Lihat, Pak. Aku memang tidak pernah bisa jadi ibu yang baik untuk Nadia. Apa pun yang aku lakukan selalu salah."
Nadia mengangguk kecil.
"Akhirnya ada kalimat yang benar."
Sari yang duduk di dekat pintu menutup mulut. Entah menahan kaget atau tawa pahit.
Pak Darto memijat dahi.
"Kita jangan bertengkar. Bella akan mengadakan pengajian kecil setelah akad. Bu Ratna ingin kamu datang."
"Tidak."
Bu Ratna mengangkat wajah. "Kamu belum dengar semuanya."
"Kalau undangan Bella, jawabannya tidak."
"Nadia, orang kampung masih bicara. Kalau kamu tidak datang, mereka akan bilang kamu dendam."
"Saya memang dendam."
Pak Darto menatapnya tajam. "Dendam tidak baik."
"Dijual keluarga juga tidak baik, Pak. Tapi rumah ini lama sekali nyaman melakukannya."
Pak Darto membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tangannya meraba saku kemeja, kebiasaan lama ketika ia bingung harus menjadi ayah atau kepala keluarga.
Bu Ratna memanfaatkan jeda itu.
"Ibu tidak minta kamu membayar semua. Hanya bantu sedikit. Kamu dapat uang kompensasi dari keluarga Wiratmaja. Orang kampung juga tahu kamu sekarang tidak kekurangan."
Nadia menatapnya.
"Jadi masalahnya bukan hanya saya datang. Masalahnya uang."
"Jangan kasar begitu. Ini untuk acara keluarga."
"Acara Bella."
"Keluarga kita akan dilihat dari acara itu."
Nadia tersenyum tipis. "Waktu nama saya diinjak malam lamaran, keluarga ini tidak takut dilihat?"
Pak Darto berkata pelan, "Nadia, biaya rumah memang sedang berat."
"Bapak meminta atau menyampaikan keluhan?"
Pak Darto tersinggung. "Kamu bicara pada bapakmu sendiri."
"Saya sedang menunggu bapak saya bicara jujur."
Sari menunduk. Ia tahu betapa jarang kalimat seperti itu bisa keluar di rumah ini. Biasanya semua orang memutar jalan: demi adik, demi ibu, demi nama baik, demi jangan malu. Hari itu Nadia menaruh kata "uang" di meja, dan semua orang seperti takut melihat bentuknya.
Pak Darto akhirnya duduk lagi. Wajahnya kusut.
"Bapak tidak ingin meminta pada anak."
"Tapi Bapak membiarkan mereka meminta lewat nama Bapak."
Pak Darto tidak membantah. Itu sudah cukup bagi Nadia. Di rumah ini, pengakuan sering datang dalam bentuk diam yang terlalu lama.
Hening.
Eyang Marni mengetuk lantai dengan tongkat.
"Anak perempuan setelah menikah harus tetap ingat asalnya. Jangan mentang-mentang sekarang jadi istri Raka, kamu merasa lebih tinggi."
Nadia menoleh pelan.
"Saya tidak merasa lebih tinggi. Saya hanya tidak mau lagi diinjak dari bawah."
Bu Ratna menggenggam ujung kerudung.
"Ibu tidak minta banyak. Kamu tahu Bella sedang sulit. Arman punya masalah utang. Bu Lilis marah. Kalau kamu datang ke pengajian, orang akan melihat keluarga kita baik-baik saja. Bella juga bisa tenang."
"Bella tenang karena saya pura-pura tidak pernah disakiti?"
"Dia adikmu."
"Kalimat itu selalu muncul setelah Bella mengambil sesuatu."
Bu Ratna menangis tanpa suara.
Nadia memandang Pak Darto. "Mana berkas panti saya?"
Pak Darto ragu.
"Berkas itu untuk apa?"
"Untuk saya simpan."
"Masa lalu tidak perlu dibongkar."
"Kalau tidak perlu, kenapa Bapak takut saya pegang?"
Pak Darto tidak menjawab.
Sari tiba-tiba berdiri. "Berkasnya di lemari kamar belakang. Aku lihat Bu Ratna merapikan kemarin."
Bu Ratna langsung menoleh. "Sari."
Sari menegang. Di pipi kirinya ada bekas kuning samar, tertutup bedak tipis. Nadia melihatnya sejak masuk, tapi belum menyinggung. Ada luka yang harus ditanya saat pemiliknya tidak sedang dikepung.
"Aku cuma bilang yang benar," kata Sari pelan.
Eyang Marni mendengus. "Kamu juga ikut-ikutan keras setelah sering main ke rumah adikmu."
Sari menunduk, tapi tidak duduk kembali.
Nadia berdiri. "Saya ambil sendiri."
Bu Ratna menghalangi setengah jalan.
"Nadia, jangan masuk kamar sembarangan."
"Kamar itu dulu kamar saya sebelum saya dikirim ke panti."
"Kamu jangan terus mengungkit panti!"
Suara Bu Ratna pecah. Bukan hanya sedih. Ada panik di dalamnya.
Nadia berhenti.
"Kenapa?"
Bu Ratna sadar ia terlalu keras. Ia cepat melembutkan wajah.
"Karena itu menyakitkan. Ibu tidak mau kamu terus hidup dalam luka."
"Aneh. Orang yang membuat luka selalu paling rajin menyuruh korban cepat sembuh."
Pak Darto berdiri. "Cukup, Nad."
Nadia menatap ayahnya. "Saya cukup sejak lama. Bapak saja yang baru dengar."
Ia melewati Bu Ratna dan masuk ke kamar belakang.
Lemari kayu tua berbau kapur barus. Di laci bawah, di bawah tumpukan sarung lama, ada map plastik kusam. Nama Nadia ditulis dengan tinta biru: Nadia Putri Darto. Di dalamnya ada fotokopi surat panti, surat keterangan kesehatan lama, dan satu foto kecil dirinya saat berumur sekitar lima tahun.
Anak di foto itu kurus, rambutnya dipotong pendek, matanya tidak tersenyum.
Nadia menutup map.
Di balik foto, ada tulisan kecil: "dikembalikan sementara jika keluarga mampu menerima". Tinta itu hampir pudar.
Nadia membaca kalimat itu dua kali.
Dikembalikan sementara.
Seolah ia barang titipan yang bisa diambil saat berguna dan ditaruh lagi saat mengganggu. Dadanya panas, tapi wajahnya tetap tenang. Rumah ini sudah terlalu sering menang karena ia menangis di tempat yang salah.
Ia memasukkan foto itu ke dalam map paling depan.
Ada satu amplop kecil lain di laci. Kosong, tapi bagian luarnya bertuliskan nama Bu Ratna dengan tanggal yang sama seperti surat panti. Nadia tidak mengambilnya. Ia hanya mengingat tulisan itu. Tidak semua bukti harus langsung dibawa; sebagian harus dibiarkan di tempatnya sampai waktu yang tepat.
Ketika ia keluar, Bu Ratna sudah duduk lemas. Pak Darto berdiri di sampingnya. Eyang Marni komat-kamit tentang anak durhaka.
"Saya bawa ini."
Pak Darto berkata, "Itu dokumen keluarga."
"Ini nama saya."
"Bapakmu berhak menyimpannya."
"Bapak dulu juga merasa berhak membuang saya."
Pak Darto seperti ditampar.
Di pintu, Sari tiba-tiba memanggil, "Nad."
Nadia menoleh.
Sari menggenggam tali tasnya kuat-kuat. Suaranya hampir tidak keluar.
"Nanti malam... boleh aku ke rumahmu?"
Bu Ratna cepat berkata, "Untuk apa? Suamimu nanti mencari."
Sari tidak melihat Bu Ratna. Matanya hanya pada Nadia.
"Aku perlu bicara."
Nadia melihat lagi bekas kuning di pipi kakaknya.
"Datang setelah magrib. Kalau Joko tanya, bilang aku yang minta bantuan jahit."
Sari mengangguk.
Pak Darto mengerutkan dahi. "Ada apa dengan Sari?"
Tidak ada yang menjawab.
Nadia berjalan keluar dengan map panti di tangan. Di teras, ia sempat menoleh ke rumah lama itu. Dulu rumah ini seperti tempat ia harus minta izin untuk bernapas. Sekarang pintunya tampak lebih kecil.
Dari dalam, suara Bu Ratna terdengar lirih.
"Pak, lihat sendiri. Setelah menikah, dia makin susah diatur."
Nadia tidak berhenti.
Ia hanya menggenggam map lebih erat.
Kalau mereka pikir pernikahan membuatnya jauh dari rumah ini, mereka salah.
Pernikahan hanya memberinya alamat baru untuk menyimpan bukti.
🤣🤣🤣