Genre : Fantasy, Action, Adventure,Tragedy, Mistery
Monster berkeliaran di seluruh dunia, makhluk Astral membuat manusia resah, dan kutukan para Dewa mengakibatkan banyak kemalangan yang dialami oleh seseorang.
Hunter, seorang yang dilatih khusus untuk memburu monster dan mengatasi fenomena supranatural yang terjadi di dunia ini.
Zolta namanya, seorang Hunter yang disewa oleh seorang Baron untuk membasmi makhluk yang baru-baru ini sedang meneror penduduk desa.
Dalam perburuannya itu, dia menemukan sebuah serpihan batu misterius yang mana akan membawanya terhadap pengungkapan misteri tentang asal-usul penyebaran monster dan kejadian supranatural lainnya di Benua Rutenia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gehrman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[Arc 2] Mimpi dan Realita part 5
11 Tahun yang lalu....
Di sebuah desa yang berada di sekitar Kota Yeren, hidup seorang gadis berusia 15 tahun yang bernama Adelia. Dia adalah gadis yang sangat cantik kebanggaan desa tempat ia tinggal.
Sehari-hari, Adelia selalu bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah tidak bisa lagi bekerja karena Ayahnya yang lumpuh karena sebuah kecelakaan dan Ibunya yang sakit keras beberapa tahun belakangan.
"Ibu, Ayah, Aku berangkat dulu," kata Adelia muda yang berpamitan kepada orang tuanya. Dia hendak pergi menuju Kota Yeren untuk mengikuti sebuah seleksi untuk perekrutan Maid di kediaman Count Wagner.
"Hati-hati di jalan, Nak," kata Sang Ayah yang hanya bisa duduk di kursi roda melihat Putrinya berjuang untuk menghidupi keluarga yang seharusnya menjadi kewajiban dirinya.
"Semoga kau berhasil mendapatkan posisi itu, Adelia," kata Ibunya yang kemudian memberikan bekal makanan untuknya. "Jangan terlalu memaksakan dirimu sendiri dan jaga kesehatanmu, Nak."
Adelia mengambil bekal perjalanannya dari Ibunya lalu berkata, "tentu saja Ibu, Ayah. Jika aku berhasil, hidup kita pasti akan jauh lebih baik," ucap Adelia yang terlihat akan menangis. "Aku berjanji."
Kedua orang tuanya hanya dapat memberikan senyuman ketika melihat punggung Adelia perlahan menjauh dari pandangan mata mereka.
Adelia kemudian menaiki sebuah kereta kuda yang menuju ke Kota Yeren. Dia menabung untuk dapat memiliki biaya perjalanan agar dapat mengikuti kegiatan seleksi di Kota Yeren.
"Ah Nak Adelia, mau pergi kemana kau dengan barang bawaan sebanyak itu?" tanya Sang Supir kereta kuda yang mengenali gadis cantik itu.
"Selamat pagi, Tuan Grisha. Aku ingin pergi ke Kota untuk mengikuti seleksi Maid di kediaman Count Wagner," jawab Adelia dengan ekspresi ceria.
"Kau tidak usah khawatir untuk itu, Adelia. Dengan parasmu yang cantik dan kepribadianmu yang lembut, kau pasti dapat memenangkan seleksi itu," ujar Grisha mencoba untuk menyemangati Adelia.
"Terima kasih, Tuan Grisha. Aku akan melakukan yang terbaik."
.
.
.
Sesampainya di Kota Yeren, Adelia terlihat terkejut melihat bangunan-bangunan Kota yang tinggi, keramaian para warga yang beraktivitas dan suara nyaring para pedagang untuk menarik minat para pembeli.
Ini pertama kalinya gadis itu datang ke sebuah Kota besar yang selama ini tidak pernah pergi keluar desa.
Kota besar memang sangat menakjubkan... Bahkan menara lonceng yang mana bangunan tertinggi di desa tidak sebanding dengan bangunan-bangunan yang ada di sini!
Melihat menara jam yang terlah menunjukkan pukul 8 pagi, Adelia kemudian segera bergegas menuju kediaman Count Wagner karena seleksi akan dimulai jam 9.
Setelah berjalan selama setengah jam menembus keramaian kota, akhirnya Adelia telah sampai di gerbang depan kediaman Count Wagner. Gadis itu kemudian menunjukan secarik kertas rekomendasi dari Baron pemilik Desa tempat ia tinggal kepada penjaga.
"Ah... Kau salah satu pemenang kontes kecantikan di desa milik Baron Turner, kah?" kata penjaga itu seraya membaca surat yang diberikan Adelia. "Masuklah, Nona. Seleksinya tidak lama lagi akan dimulai."
Adelia kemudian memasuki kediaman Count Wagner lalu diantar ke sebuah aula besar oleh seorang pelayan.
Rumah ini besar sekali... Bahkan lebih besar dari lapangan umum yang ada di desa.
Adelia sangat takjub dengan kemewahan rumah seorang bangsawan besar. Sebelumnya, Adelia pernah mengunjungi rumah Baron Turner, namun ia tidak menyangka rumah ini akan jauh lebih besar.
Dia juga melihat beberapa peserta seleksi lainnya yang tengah mempersiapkan diri. Terdapat 30 orang saingan yang Adelia miliki untuk mendapatkan posisi ini.
Tidak lama kemudian, Adelia melihat seorang Pelayan pria masuk ke ruangan Aula. Dilihat dari cara berjalan dan penampilannya, sepertinya dia adalah pelayan yang profesional dan berpengalaman.
"Salam para peserta seleksi, namaku Sebas. Aku yang akan mengetes kalian dan memilih siapa yang layak untuk mendapatkan posisi Maid kediaman Count Wagner," kata Pelayan Itu memperkenalkan dirinya kepada para peserta.
"Akan ada tiga yang akan dinilai untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan posisi Maid ini," kata Sebas yang mulai menjelaskan tentang tahapan seleksi.
Para peserta seleksi kemudian diperintahkan untuk berjalan, berbicara dan melakukan tugas rumahan. Sebas terlihat memperhatikan dengan teliti setiap gerakan para peserta.
Adelia dapat dengan mudah melakukan yang diperintahkan oleh Sebas karena dirinya yang selalu mengurus pekerjaan rumah di tempat tinggalnya.
Setelah selama tiga jam, kegiatan seleksi akhirnya selesai. Sebas kemudian pergi meninggalkan aula dan membiarkan para peserta untuk istirahat sejenak.
Kurasa aku melakukannya dengan baik tadi... Kuharap, itu cukup untuk membuat mereka memilihku.
Tidak lama kemudian, Sebas kembali masuk ke ruangan Aula bersama seorang pria paruh baya yang berusia sekitar 40 tahun.
"Ini adalah Count Wagner von Wihelbach—Penguasa Kota Yeren. Beliau di sini ingin menyaksikan Maid yang akan terpilih dari kegiatan seleksi ini," kata Sebas menginformasikan para peserta.
Saatnya tiba...
Jantung Adelia berdetak lebih kencang dari biasanya karena gugup akan keputusan yang keluar dari mulut Sebas. Dia kemudian mengambil secarik kertas dari saku blazernya lalu membacakan nama pemenang seleksi.
"Nona Adelia."
Hening tercipta Sebas mengumumkan nama tersebut. Para peserta seleksi terlihat kebingungan ketika tidak ada satupun yang maju ketika nama pemenang disebut.
Itu karena Adelia masih diam membeku tidak percaya akan apa yang ia dengar.
Dia baru tersadar ketika pandangan Sebas mengarah padanya. Dia kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Sebas dan Count Wagner.
"Mulai hari ini, kau akan melayani keluarga Wihelbach, Adelia," kata Sebas.
Adelia merespon kata-kata Sebas dengan mengangguk. Dia kemudian menghadap Count Wagner yang terlihat tersenyum padanya.
"Selamat karena telah terpilih, Adelia," kata Count Wagner yang kemudian memberikan sebuah lencana padanya. "Keluarga Wihelbach merasa bangga memiliki Maid secantik dirimu."
Air mata Adelia mulai membasahi pipinya, ia tak menyangka harapannya ini akan terwujud.
Melihat ini, Count Wagner memberikan sebuah sapu tangan kepada gadis itu yang membuat Adelia tertunduk malu.
"Mohon kerja samanya mulai saat ini, Adelia."
.
.
.
Beberapa bulan berlalu semenjak Adelia resmi menjadi salah satu Maid keluarga Wihelbach. Dia sangat nyaman bekerja di sana. Kegiatannya mulai dari menyiapkan pakaian Count Wagner, sarapan, dan keperluan lainnya untuk majikannya itu.
Bahkan, ketika Adelia membersihkan kamar Count Wagner, pria paruh baya itu sering mengajaknya mengobrol yang membuat hubungan mereka lebih dekat.
Hari ini, Adelia sedang membawakan sebuah teh ke ruangan kerja Sang Count. Dia kemudian mengetuk pintu ruangan itu menunggu izin dari Sang Majikan untuk masuk.
"Masuklah."
Setelah mendapatkan izin, Adelia membuka pintu lalu menaruh teh tersebut di meja kerja Count Wagner yang terlihat sedang menulis di secarik kertas.
"Silahkan dinikmati teh Anda," kata Adelia. "Apakah masih ada yang Anda butuhkan, Tuan?" tanya Adelia kembali.
Count Wagner kemudian menaruh penanya lalu menyeruput teh yang baru saja Adelia bawa.
"Bisakah kau temani aku sebentar, Adelia? Kurasa sedang ingin memiliki teman bicara," lintas Count Wagner yang terlihat memiliki mood yang baik.
"Tentu saja, Tuan Wagner."
Mereka mulai mengobrol berdua di ruangan kerja berdua saja. Count Wagner sudah meminta Adelia untuk menggunakan bahasa yang normal ketika mengobrol dengannya. Akan tetapi, Adelia tetap bersikeras menggunakan bahasa Formal karena tidak ingin lancang pada tuannya itu.
"Bagaimana keadaan orang tuamu di desa? Apakah mereka dapat hidup dengan nyaman setelah bekerja di sini?" kata Count Wagner menanyakan kondisi keluarga Adelia.
"Tentu saja, Tuan. Ibu dan Ayah sangat senang Aku bekerja di sini. Aku bahkan sedang mengumpulkan uang untuk menyembuhkan penyakit yang di derita oleh ibu," kata Adelia dengan suara yang ceria.
Adelia menerima bayaran satu keping Gulden per bulan bekerja sebagai Maid di kediaman Count Wagner. Dengan penghasilan sebesar ini, dia dapat menyewa seseorang untuk mengurus orang tuanya yang ia tinggal di desa dan mencukupi segala kebutuhan mereka.
"Berjuanglah Adelia," kata Count Wagner menyemangati Maid-nya itu. "Satu bulan lagi, akan diadakan turnamen Jousting di Kota ini. Semua bangsawan Kekaisaran akan hadir, di sini" ungkap Count Wagner.
"Jousting? Dimana para Ksatria beradu tombak di atas kuda mereka, kah?" gumam Adelia. Dia pernah melihat para Ksatria yang gagah dengan zirah besi mereka membasmi para kriminal yang dulu menyerang desa.
"Benar sekali, kuharap, acaranya nanti berjalan dengan lancar."
.
.
.
Satu bulan kemudian...
Kota Yeren terlihat sangat ramai karena adanya turnamen Jousting ini. Para pedagang terlihat berteriak memasarkan dagangannya. Anak-anak berebut membeli ukiran beberapa Ksatria terkenal di Kekaisaran.
Di jalan utama, beberapa kereta kuda mewah milik para bangsawan telah terlihat menuju kediaman Count Wagner. Antusiasme warga mulai memuncak ketika rombongan keluarga Kaisar telah tiba di Kota Yeren.
"Lihat! Bukankah itu pangeran Wilhelm!?"
"Kau benar, dia sangat tampan seperti yang dirumorkan!"
Terlihat seorang pria berusia 18 tahun memakai Zirah ksatria sedang melewati jalanan kota menunggangi sebuah kuda. Parasnya terlihat gagah dan mempesona membuat para wanita di Kota Yeren terlihat antusias.
Di sisi lain, Adelia terlihat sibuk mempersiapkan jamuan untuk para tamu yang hadir. Para pelayan dan maid kediaman Count Wagner terlihat sibuk mempersiapkan acara penyambutan agar tidak ada masalah selama acara berjalan nanti.
Setelah persiapan selesai, para tamu mulai berdatangan ke aula kediaman Count Wagner. Jamuan makan dan minuman disediakan untuk para tamu, alunan musik mulai bersenandung membuat atmosfer aula menjadi lebih megah.
Adelia sedang berada di sudut aula menyaksikan para bangsawan berinteraksi satu sama lain. Keringat menetes di dahinya, wajahnya terlihat lelah karena kesibukan hari ini. Namun, Adelia tetap mencoba memperlihatkan senyumannya kepada para tamu sebagai Maid profesional Count Wagner.
"Permisi Nona, apakah kau tahu dimana letak Taman yang ada di sekitar sini?"
Adelia mendengar seseorang memanggilnya. Dia melihat seorang pemuda berusia sama dengannya. Wajahnya terlihat tampan, mata birunya terlihat mempesona dan rambut pirangnya sangat terang menunjukan kebangsawanannya.
"Tentu saja tuan, mari ikuti saya," jawab Adelia yang kemudian mengantarkan pria itu menuju taman yang tidak jauh dari kediaman Count Wagner.
Sesampainya di taman, pemuda itu duduk bersandar di bawah pohon besar. Dia kemudian memejamkan matanya terlihat mencoba menikmati suasana sunyi dan tenang yang ada di taman ini.
"Kalau begitu... Saya mohon per—"
"Tetaplah di sini sebentar," kata pemuda itu yang tiba-tiba membuka matanya lalu memotong kata-kata Adelia. "Bisakah kau temani aku di sini sejenak?"
Mendengar permintaan pria misterius itu, Adelia terdiam sejenak. Dia masih memiliki pekerjaan lain di kediaman Count Wagner. Akan tetapi, melihat mata pemuda itu yang seakan memohon, Adelia mengangguk menuruti keinginannya.
Melihat ini, pemuda itu tersenyum kepada Adelia. "Namaku Reinhard, siapa namamu, Nona?" kata Reinhard memperkenalkan dirinya kepada Adelia.
Huh, Reinhard? Mungkinkah dia adalah Pangeran Reinhard von Salian—Pangeran Kedua Kekaisaran Salian? Tidak, tidak, ini pasti hanya kebetulan pemuda ini memiliki nama yang sama.
"Namaku, Adelia—Maid keluarga Wihelbach, senang berkenalan denganmu, Reinhard," jawab Adelia membalas senyuman Reinhard.
Mereka kemudian berbincang mengenai banyak hal. Kebanyakan Reinhard yang menceritakan mengenai pengalamannya ke berbagai tempat. Adelia yang hanya seorang gadis desa terpukau dengan cerita Reinhard. Dia berkeinginan bisa sebebas pemuda yang baru saja ia kenal itu.
"Apa kau memiliki sebuah impian, Reinhard?" tanya Adelia.
Mendengar pertanyaan Adelia, Reinhard terdiam sejenak. Sebagai seorang Pangeran dari negeri paling kuat di Rutenia, dia memiliki segalanya yang diinginkan oleh manusia. Kekayaan, kejayaan dan kekuasaan. Reinhard masih belum menemukan hal yang menarik perhatiannya selama ini.
"Aku tidak tahu," jawab Reinhard terus terang.
"Kau tidak memiliki impian? Bukannya setiap pria selalu ingin menjadi seorang Ksatria yang hebat? Kurasa mereka terlihat lebih gagah dengan baju zirah itu," ujar Adelia. Dia mengingat bagaimana para lelaki di desanya selalu bermimpi menjadi Ksatria.
"Menurutmu seorang Ksatria itu sangat keren, Adelia?" tanya Reinhard sedikit tertarik dengan pandangan Adelia.
"Tentu saja, mereka selalu menolong orang yang sedang berada dalam bahaya bukan?" jawab Adelia menggambarkan seorang Ksatria sepengetahuannya.
"Baiklah," Reinhard tiba-tiba berdiri. "Besok, Aku akan mengikuti turnamen Jousting dan memberimu bunga kecantikan, Adelia."
Mendengar ini, mata Adelia terbuka lebar karena terkejut. Bunga kecantikan adalah salah satu hadiah pemenang Turnamen yang mana, Ksatria pemenang Turnamen tersebut akan memberikan bunga itu kepada wanita paling cantik yang hadir di sana.
"Aku akan mengenakan Zirah dengan lambang mawar ungu saat turnamen berlangsung, jangan lupa untuk menyemangatiku besok."
.
.
.
Keesokan harinya, arena Jousting terlihat ramai dihadiri penduduk kota. Beberapa bendara simbol keluarga para bangsawan terpampang di sebuah platform. Para Ksatria perwakilan dari masing-masing keluarga bangsawan ini akan bertarung untuk membawa kejayaan untuk keluarga mereka.
Walaupun begitu, tidak sedikit juga ksatria-ksatria yang tidak terafiliasi keluarga bangsawan ikut serta pada turnamen ini. Salah satunya adalah Ksatria misterius dengan lambang mawar berwarna ungu.
Ksatria mawar ungu itu sudah menumbangkan dua Ksatria yang difavoritkan untuk memenangkan turnamen ini.
"Siapa pria itu sebenarnya!?"
"Selama turnamen berlangsung, zirahnya masih belum tergores sama sekali!"
Para penonton penasaran, siapa sebenarnya identitas dari Ksatria misterius ini. Mereka tidak dapat melihat wajah Ksatria itu karena terhalang oleh helm Full-face yang dia kenakan.
"Ronde Semi-final akan segera dilaksanakan! Ksatria dari keluarga Walpuergen—Theodor von Walpuergen melawan Ksatria tanpa tuan—Knight of Purple Rose!"
Seorang promotor mengumumkan pertarungan selanjutnya.
Terlihat masing-masing Ksatria memasuki arena menunggangi kuda mereka. Keduanya lalu mengambil tombak dari masing-masing Squire. Selanjutnya, kedua Ksatria menuju masing-masing sudut untuk bersiap melakukan Jousting.
Seorang wasit memegang sebuah bendera di tengah-tengah lintasan Jousting. Dia akan memberi aba-aba ketika kedua Ksatria sudah siap untuk melakukan pertarungan.
"Kedua kontestan sudah bersiap?" tanya sang Wasit.
Kedua Ksatria mengangguk menandakan keduanya sudah siap untuk bertarung. Di tangan kanan, keduanya memegang tombak panjang yang terlihat mengintimidasi. Sedangkan tangan kiri mereka memegang sebuah Rein ( tali kekang) kuda mereka.
"Bersedia .... "
Wasit mulai memberi aba-aba, kedua Ksatria menarik nafas mereka secara perlahan.
"Siap .... "
Penonton mulai berdiri untuk melihat lebih jelas kedua Ksatria yang akan saling beradu.
"Mulai...!"
Kuda kedua Ksatria itu mulai berlari mendekati masing-masing. Masing-masing Ksatria mengangkat tombak mereka setinggi dada untuk menjatuhkan satu sama lain.
Jarak mereka semakin dekat, para penonton terlihat menahan nafas mereka menanti kedua Ksatria saling bertukar serangan. Jarak kedua Ksatria tinggal 10 meter lagi... 5 meter lagi... dan ...
- Brak!
Theodor terjatuh, Ksatria tanpa tuan itu berhasil mendaratkan serangan padanya.
"Yeahh!"
"Hebat sekali!"
"Ksatria misterius itu tak terkalahkan!"
Sorak sorai para penonton menggema memuji Keahlian Jousting Ksatria tak bertuan itu. Dia berhasil lolos ke final mengalahkan ksatria-ksatria terkenal yang ada di negeri ini.
"Luar biasa teknik yang ditampilkan oleh Ksatria tanpa tuan ini!" seru Sang Promotor, membuat suasana arena semakin meriah. "Tetapi, apakah Sang Ksatria misterius ini dapat mengalahkan talenta muda kebanggan negeri kita—Pangeran Wilhelm di final?"
Setelah ini, pertandingan final akan dimulai antara Sang Ksatria misterius dengan Pangeran Wilhelm. Adelia yang berada di sebuah platform yang dikhususkan untuk tamu bangsawan sedang berdebar-debar melihat Ksatria pilihannya sudah mencapai tahap akhir pertandingan.
"Apakah benar dia yang ada dibalik baju zirah itu?" gumam Adelia.
"Ada apa, Adelia?" tanya Count Wagner yang berada di sampingnya.
"Ah, tidak apa-apa, Tuan," ucap Adelia terkejut mendengar suara Tuannya. "Hanya saja, para ksatria itu terlihat sangat keren."
Count Wagner kemudian tertawa mendengar kata-kata Adelia. "Jika aku beberapa tahun lebih muda, aku akan ikut kompetisi dan membuatmu terkesan, Adelia."
Tidak lama kemudian, pertandingan final dimulai. Kedua Ksatria sudah bersiap pada sudutnya masing-masing.
"Pertandingan final pada turnamen ini akan segera dimulai!" seru Sang Promotor yang disambut oleh sorak sorai para penonton. "Di sudut kiri kita adalah Pangeran Wilhelm—Ksatria Muda berbakat kebanggaan Negeri kita akan ditantang oleh Ksatria tak bertuan yang ada di sudut kanan!"
"Kalahkan dia, Pangeran!"
"Aku bertaruh untukmu, Pangeran!"
Para penonton berharap Sang Pangeran dapat menjatuhkan Ksatria tidak dikenal ini.
Wasit sudah memasuki lapangan, dia kemudian berdiri di tengah-tengah jalur Jousting.
"Kalian berdua sudah siap?" tanya Sang Wasit kepada kedua Ksatria.
Kedua Ksatria mengangguk, tanda mereka sudah bersedia untuk bertarung.
"Bersedia ... "
Sang Wasit memulai aba-aba, kedua Ksatria terlihat memantapkan fokus mereka ke depan. Kini tidak ada suara penonton sama sekali karena mereka fokus pada semua pergerakan kedua Ksatria.
"Siap ... "
Jantung Adelia berdegup lebih cepat dari biasanya meskipun bukan dia yang bertanding.
"Mulai ... !"
Kedua Ksatria mulai memecut tali kuda mereka.
Mereka mulai melesat dan memposisikan tombak mereka masing-masing.
Para penonton menahan nafas melihat adegan yang akan terjadi ini. Para tamu bangsawan berdiri untuk melihat lebih jelas jalannya pertandingan.
Jarak antara kedua Ksatria mulai mendekat ...
20 Meter ...
10 Meter ...
5 Meter ...
Dan ...
- Brak!
Tombak Sang Pangeran patah mengenai tangan Ksatria tak bertuan itu. Dia hampir terjatuh dari kudanya setelah terkena hantaman keras barusan.
Adelia menjerit panik, para penonton mulai bersorak dan menggaungkan nama Sang Pangeran.
"Ya! Itulah Pangeran kami!"
"Kebanggaan Negeri kita memang tidak ada duanya!"
Akan tetapi, pertandingan belum berakhir hingga salah satu dari kedua Ksatria ada yang jatuh dari kudanya. Mereka mengambil tombak kedua lalu kembali ke posisi masing-masing.
Kedua ksatria kembali bersiap.
"Mulai!"
Setelah mendengar perintah wasit, keduanya kembali melesat menuju satu sama lain. Terlihat pegangan tangan pada Ksatria dengan zirah mawar ungu itu terlihat tidak lebih kuat dari biasanya.
Sepertinya, serangan yang diterimanya barusan sedikit mencederai tangannya itu.
- Brak!
Kedua Ksatria saling bertemu, kali ini serangan mereka berdua berhasil mendarat ke targetnya masing-masing. Akan tetapi, kedua Ksatria itu masih belum terjatuh.
"Penentuan terakhir!" seru Sang Wasit.
Setelah ini adalah Jousting yang terakhir, salah satu tombak ksatria yang mengenai lawannya akan memenangkan pertandingan ini.
Sebelum ke posisi masing-masing, Pangeran Wilhelm membuka helmnya. Terlihat wajah mudanya yang tampan dan gagah itu, membuat para wanita menjerit terpesona.
"Siapa namamu, Wahai Ksatria tak bertuan?" tanya Pangeran Wilhelm pada musuhnya itu. "Baru kali ini aku bertemu lawan yang tangguh sepertimu."
Sang Ksatria berzirah Mawar Ungu berbalik lalu berkata, "Namaku Duncan, Ksatria dari Kerajaan Juteland," bohongnya.
Reinhard sedikit memberatkan suaranya saat berbicara agar tidak dikenali oleh kakaknya itu.
"Baiklah, mari kita bertarung secara terhormat, Duncan," kata Pangeran Wilhelm yang menawarkan jabat tangan.
Reinhard mengangguk lalu meraih tangan Kakaknya itu.
Kedua Ksatria kemudian kembali ke posisinya masing-masing. Para penonton terlihat tegang, Adelia terlihat sedang berdoa, dan para tamu Bangsawan juga Count Wagner mulai berdiri untuk fokus melihat siapa yang akan memenangkan pertandingan final ini.
Wasit sudah berada di tengah lintasan Jousting, dia kemudian maju ke depan untuk memberi aba-aba.
"Bersedia ... "
Kedua Ksatria menahan masing-masing tombaknya dengan kuat, terlihat Reinhard sudah kesulitan untuk mengangkat tombaknya yang berat itu.
"Siap ... "
Angin berhembus di dalam arena Jousting, membuat suasana di dalam sini lebih tegang dari biasanya.
"Mulai ... !"
Masing-masing kuda ksatria itu mulai berlari ketika penunggangnya memecutkan tali kekang mereka. Kedua Ksatria kembali mengangkat tombaknya lebih tinggi agar dapat mengenai lawannya lebih mudah.
Jarak diantara mereka semakin dekat ...
- Brak!
Suara hantaman terdengar keras di dalam arena. Terlihat seorang ksatria terjatuh dari kudanya hingga tak sadarkan diri akibat kerasnya hantaman tombak ke bagian kepala.
Hening pun tercipta, mulut beberapa dari penonton terlihat ternganga melihat kejadian ini. Bahkan Sang Promotor yang harus mengumumkan pemenang terlambat untuk bicara karena terkejut.
"Pe-pemenangnya adalah Knight of Purple Rose!"
Setelah mendengar Sang Promotor mengumumkan pemenangnya, suara tepuk tangan mulai terdengar di seluruh area arena.
Reinhard kemudian mengitari arena sebelum berkuda menuju sebuah tiang yang terdapat sebuah bunga tergantung di ujungnya.
"Saatnya Sang Champion memberikan bunga kecantikan kepada gadis beruntung yang menjadi pilihannya!" seru Sang Promotor.
Tradisi bunga kecantikan ini sudah ada sebelum Kekaisaran terbentuk. Dahulu kala, tersebar sebuah cerita tentang seorang Ksatria yang menyelamatkan seorang putri paling cantik dari penjara seekor naga.
Setelah Ksatria itu berhasil menyelamatkan Sang Putri, mereka berdua kembali bersama dengan menunggang kuda. Sang Putri saat itu terlihat mengenakan mahkota bunga yang diberikan oleh Sang Ksatria.
Untuk itu, acara ini adalah sebagai pengingat telah berakhirnya perjuangan dan penyambutan Sang Pahlawan dan Sang Putri kembali ke negeri mereka.
Reinhard kemudian mengambil mahkota bunga itu dengan tombaknya. Dia lalu membawa kudanya menghampiri Platform, tempat dimana para Bangsawan beserta keluarga mereka berada.
Penonton mulai saling berbisik tentang siapa dari putri dari keluarga bangsawan itu yang akan dipilih oleh Sang Champion.
Namun para orang yang hadir di arena kembali terdiam, itu karena bunga mahkota yang dibawa Reinhard sekarang berada tepat di hadapan seorang Maid.
Wajah Adelia terlihat gugup, jantung berdebar dengan sangat kencang karena seluruh pandangan manusia yang hadir di arena sekarang tertuju padanya.
Reinhard kemudian mengangguk kepada Adelia, memberinya keberanian untuk mengambil mahkota bunga itu.
Gadis berumur 15 tahun itu berjalan menghampiri ujung tombak yang dibawa Reinhard lalu mengambil mahkota bunga tersebut. Dia memasangnya di kepala lalu berjalan menghampiri kuda Sang Ksatria.
Reinhard kemudian membantu Adelia naik ke kudanya, mereka berdua mulai berkuda mengelilingi arena disambut tepuk tangan penonton.
"Hey, bukankah itu seorang Maid dari kediaman Count Wagner?"
"Kau benar, seragam Maid yang dikenakan gadis itu adalah milik kediaman Count Wagner."
"Aku tidak tahu Sang Count memiliki Maid secantik ini!?"
Hari itu adalah hari terbaik yang pernah Adelia rasakan selama hidup di dunia ini. Berkuda dengan Ksatria gagah berani dan dipuji oleh seluruh penonton yang hadir bagaikan seorang Putri dari negeri dongeng.
***
Malam harinya di kediaman Count Wagner, para tamu bangsawan sedang makan siang sambil membicarakan Turnamen Jousting pagi tadi. Mereka bertanya-tanya siapa Ksatria Misterius yang dapat mengalahkan Sang Pangeran dan mengintrogasi Count Wagner tentang Maid Cantik yang menjadi Putri kecantikan pada turnamen itu.
Di sisi lain, Adelia saat ini sedang berada di taman bersama Reinhard, mereka sedang berbincang mengenai kejadian pagi tadi di arena.
"Ka-kau, darimana kau bisa berkuda sehebat itu, Reinhard!?" tanya Adelia yang tidak menyangka pria yang baru saja ia kenal kemarin dapat memenangkan turnamen Jousting yang diikuti oleh ksatria-ksatria hebat.
"Ahahaha, aku hanya beruntung kemarin," kata Reinhard merendah. "Keluargaku memiliki peternakan kuda tidak jauh dari rumah kami. Aku selalu berkuda di sekitar rumah jika sudah selesai bekerja."
Mendengar alasan Reinhard, wajah Adelia terlihat curiga. "Hey Reinhard, apa kau adalah Pangeran Reinhard von Salian?"
"Bukan," kata Reinhard dengan wajah datar dan tanpa jeda. "Mengapa kau sangat penasaran dengan latar belakangku?" tanya Reinhard terlihat bad mood.
Sebenarnya Reinhard tidak ingin Adelia mengetahui identitas aslinya karena takut Maid itu akan memperlakukan Reinhard secara berbeda.
"Ughhh ... Maafkan aku," kata Adelia terlihat menyesal. "Aku hanya ingin lebih tahu tentangmu, Reinhard."
"Begitu, kah?" gumam Sang Pangeran. "Kalau begitu, aku akan sering kemari untuk menemuimu, Adelia."
"Janji?" Adelia mengacungkan jari kelingkingnya pada Reinhard.
"Janji ... " Reinhard kemudian mengalungkan jari kelingkingnya dengan jari Adelia.
Setelah momen ini, Pangeran Reinhard sering pergi ke Kota Yeren untuk mengunjungi Adelia. Mereka dari waktu ke waktu semakin dekat hingga akhirnya saling menyatakan perasaan mereka masing-masing.
Bagi keduanya, pertemuan saat itu bagaikan takdir yang akan membawa mereka ke kehidupan bahagia. Akan tetapi, hari bahagia tidak selalu datang. Sebuah berita buruk sampai ke telinga Adelia bahwa ibunya sedang dalam keadaan kritis.
Dia membutuhkan uang yang sangat banyak untuk menyelamatkan ibunya. Akan tetapi, uang yang dimilikinya masih belum cukup untuk biaya pengobatan. Adelia mulai putus asa, dia ingin menceritakan ini pada Reinhard untuk meminta bantuan, namun Sang Pangeran belum kunjung untuk menemuinya.
"Ughhh ... Mengapa dia tidak pernah memberitahuku bagaimana cara untuk menghubunginya? Aku memerlukan bantuannya untuk mengobati ibuku."
Saat ini Adelia sedang kebingungan untuk mendapatkan tambahan biaya untuk Ibunya yang bisa meninggal kapan saja dalam waktu dekat ini.
"Adelia, ada masalah apa?" Sebas Sang Ketua Pelayan kediaman Count Wagner menghampirinya. "Kau terlihat pucat seperti itu."
"Aku memerlukan biaya pengobatan untuk ibuku," jawab Adelia dengan nada suara yang terdengar putus asa. "Tuan Sebas, apakah Anda bisa menolongku?"
Sang Ketua Pelayan kemudian mengelus-elus janggutnya terlihat seperti sedang berpikir.
"Adelia, kau tahu kan Count Wagner masih belum mau menikah di usianya yang sudah setua ini?" ucap Sebas dengan serius. "Beliau juga terlihat menyukaimu, Adelia. Kau tahu maksudku, bukan?"
Mendengar hal ini, Adelia mulai berkeringat dingin karena paham tahu arah dari pembicaraan Sebas. "Tapi Tuan Sebas, aku hanyalah rakyat biasa. Bukankah para bangsawan selalu menikah dengan bangsawan lain?"
"Count Wagner tidak akan mempermasalahkan tentang statusmu," kata Sebas menenangkan Adelia. "Jika kau menikah dengannya, maka Sang Count pasti akan membantu ibumu."
Adelia sedikit tidak yakin, dia ingin membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan Reinhard. Akan tetapi, pria itu sudah beberapa hari tidak mengunjunginya. Adelia berpikir, apa dia harus menunggunya? Sampai kapan? Dia tidak tahu kapan ibunya akan bertahan.
"Tuan Sebas, bisakah kau mengantarku untuk berbicara dengan Count Wagner?" pinta Adelia yang terlihat sudah memantapkan tekadnya.
Pada akhirnya, Adelia memutuskan untuk menikah dengan Count Wagner. Mendengar kabar baik ini, para warga Kota Yeren merayakannya dengan mengadakan festival untuk menyambut kabar bahagia ini.
Akhirnya, Tuan kesayangan mereka itu menikah dan keturunan keluarga Wihelbach akan terus berlanjut.
***
Satu bulan setelah pernikahan Adelia dengan Count Wagner, Reinhard akhirnya dapat pergi ke Kota Yeren untuk menemui Adelia. Akan tetapi, dia terkejut setelah mendengar kabar dari wanita yang ia cinta bahwa dirinya telah menikah dengan pria lain.
"Mengapa kau melakukan ini Adelia?" tanya Reinhard, terlihat dia sedang menahan tangis yang kapan saja bisa pecah.
"Maafkan aku Reinhard," kata Adelia yang sambil menangis. "Aku tidak punya pilihan lain, kondisi ibuku susah sangat memburuku."
Reinhard terdiam, mencoba memahami keadaan Adelia saat itu. "Lalu, bagaimana dengan hubungan kita? Apakah harus berakhir seperti ini?" tanya Reinhard seraya memegang tangan Sang Kekasih.
"Aku ... Masih mencintaimu, Reinhard sungguh," kata Adelia yang menyandarkan kepalanya pada dada Sang Pangeran. "Mengapa hal ini harus terjadi?"
"Adelia ... Tidak ada wanita lain yang dapat menggantikanmu dalam hidupku," ucap Reinhard yang menyentuh dagu Adelia.
Mereka kemudian saling melampiaskan kerinduan dengan saling berbagi kehangatan tubuh mereka. Pohon-pohon dan burung-burung yang ada di sana menjadi saksi bisu dari aksi menggairahkan mereka berdua.
"Aku akan tetap mengunjungimu, Adelia ... "
Adelia hanya mengangguk karena memiliki rasa yang sama seperti Sang Pangeran. Dia tidak ingin berpisah dengan pria yang sangat ia cintai itu.
***
7 Bulan kemudian, hari dimana Arthur lahir ...
"Terus ... Dorong, Lady Adelia."
Di salah satu kamar kediaman Count Wagner, seorang bidan tengah melakukan prosesi kelahiran bayi yang sedang dikandung Adelia. Sedangkan Count Wagner dan Sebas tengah menunggu kabar dari dalam dengan wajah penuh cemas.
Tidak lama kemudian, mereka berdua mendengar sebuah suara tangisan bayi. Ekspresi Count Wagner kini berubah sangat senang lalu bergegas masuk ke kamar dimana Adelia berada.
Akan tetapi, Sang Bidan yang sedang menggendong bayi tersebut nampak memiliki wajah yang kurang senang.
"Ada apa, Judith?" tanya Sang Count kepada Sang Bidan. "Anakku baik-baik saja bukan?"
Sang Bidan hanya berjalan menghampiri Count Wagner lalu memperlihatkan seorang bayi berambut pirang tengah tertidur di pangkuannya.
"Rambut pirang ... ?"
Count Wagner terlihat shock dan hampir terjatuh, Sebas lalu bergegas untuk menahannya lalu mendudukan Sang Count di sebuah kursi.
"Apa maksudnya ini, Judith?" tanya Sang Count yang masih Denial terhadap realita yang ada.
"Kau sudah mengetahuinya sendiri, Tuan," jawab Sang Bidan kembali memperlihatkan bayi itu. "Rambut pirang, berbeda dengan Anda dan Lady Adelia yang menandakan ... Ini bukanlah putramu, Count Wagner."
Count Wagner kemudian melihat Istrinya yang terlihat sedang terlelap karena kelelahan setelah melakukan proses melahirkan. Ekspresi wajahnya terlihat campur aduk karena mengalami kejadian yang buruk ini.
"Adelia ... "
***
Beberapa jam kemudian, Count Wagner dan Sebas sedang berada di ruangan kerja Sang Count untuk mendiskusikan masalah yang barus saja muncul ini di keluarganya.
"Count Wagner, apa yang harus kita lakukan terhadap anak itu dan Lady Adelia?" tanya Sebas yang terlihat menahan amarah karena seseorang telah melukai dan mempermalukan keluarga Wihelbach yang ia layani.
"Sebas ... Manusia tidak mengingat darah," kata Sang Count. "Tetapi mereka hanya mengingat nama."
Mendengar kata-kata Sang Count, mata Sebas terbuka lebar karena terkejut. "Co-count, maksud Anda—"
"Ya, aku akan menerima anak tersebut jika dia memang pantas sebagai ahli waris keluargaku."