NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Kursi Yang Bergetar Di Meja Makan Asing

Kursi yang bergetar di meja makan asing menyambut kehadiran Azzam begitu daun pintu depan terbuka lebar memperlihatkan ruang tengah yang diterangi lampu temaram. Ayah kandung Hana berdiri tegak dengan tatapan mata yang menghunjam sedalam lubang penyesalan, memegang sandaran kayu kursi jati kuno milik keluarga mereka. Guncangan kecil pada perabot itu mencerminkan murka yang tertahan, sebuah ledakan emosi seorang kepala keluarga yang mendapati putrinya pulang membawa luka batin. Keheningan fajar merayap masuk lewat celah ventilasi, menambah dingin atmosfer pertemuan antara menantu yang lalai dan mertua yang menuntut pertanggungjawaban.

"Untuk apa kamu datang ke sini setelah membiarkan anakku tersisih di rumahmu sendiri, Azzam?" tanya ayah Hana dengan bariton rendah yang bergetar hebat.

Azzam langsung bersujud di atas ubin teras yang dingin, menundukkan kepalanya hingga menyentuh punggung kakinya sendiri sebagai tanda penyerahan diri yang total. "Saya datang untuk memohon ampun serta menjemput Hana kembali, Ayah, saya mengaku salah karena telah buta terhadap situasi yang sebenarnya."

"Penyesalanmu tidak akan pernah bisa menghapus tetesan air mata yang sudah mengering di sepanjang jalur kereta fajar kemarin," sahut ibu Hana yang mendadak muncul dari balik tirai pembatas ruangan.

Langkah kaki yang lambat terdengar mendekat dari arah tangga lantai dua, mengalihkan perhatian ketiga orang yang sedang terjebak dalam ketegangan ruang tengah. Hana berdiri di sana, mengenakan pakaian sederhana tanpa riasan wajah, namun gurat ketegaran terpancar kuat dari sepasang matanya yang sembap. Tidak ada lagi kepasrahan kaku seorang menantu pesantren yang ketakutan, melainkan sosok wanita kota yang siap mempertahankan kedaulatan martabatnya sendiri. Azzam menatap wajah istrinya dengan segenap kerinduan yang beralih menjadi rasa perih sewaktu menyadari jarak kedekatan mereka kini terhalang oleh benteng trauma.

Sementara itu, di lingkungan kompleks asrama putri yang jauh dari hiruk pikuk kota, Umi Kalsum duduk termenung di depan meja makannya sendiri yang tampak sepi. Cangkir teh yang disiapkan oleh Sarah sudah mendingin tanpa tersentuh sedikit pun sejak kumandang azan subuh berakhir gema. Kepergian Azzam yang nekat mengejar istrinya meninggalkan tamparan keras bagi kewibawaan sang penguasa yayasan di hadapan para santri senior. Keangkuhan silsilah keluarga yang selama ini diagungkan seolah mulai retak, menyisakan kecemasan baru mengenai kelangsungan masa depan dinasti pesantren mereka.

"Mengapa Umi justru membiarkan Azzam pergi begitu saja tanpa menahan kunci kendaraannya semalam?" tanya Sarah dengan nada kecewa yang sulit disembunyikan.

Umi Kalsum memejamkan matanya rapat perlahan, memijat pangkal hidungnya yang terasa linu akibat tekanan pikiran yang datang bertubi tubi. "Anakku tidak pernah menatap ibunya dengan pandangan seberani itu, Sarah, ada sesuatu yang salah dengan cara kita menekan batinnya selama ini."

"Namun jika kita membiarkan Hana menang, maka posisi keluarga kita di depan para wali santri akan menjadi bahan guningan," desak ibu Sarah yang masih bertahan di ruang dalam.

Ambisi duniawi yang dibungkus rapi dengan alasan menjaga nama baik institusi suci kini terasa kian mencekat tenggorokan sang penguasa asrama. Umi Kalsum menyadari bahwa penolakan sepihak yang ia rancang justru menjadi bumerang yang memisahkan dirinya dari putra kandung satu satunya. Namun, ego manusia yang sudah mengakar selama puluhan tahun membuat wanita paruh baya itu enggan menurunkan standar gengsinya di depan publik. Ia memilih untuk menyusun rencana baru, menggunakan jaringan kekerabatan ulama daerah guna menarik kembali Azzam ke dalam lingkaran pengaruh kekuasaannya.

Kembali ke ruang tengah rumah kota, perundingan domestik antara Azzam dan keluarga besar Hana mencapai titik krusial yang menguras seluruh energi spiritual. Ayah Hana menarik sebuah kursi jati lain, mempersilakan menantunya bangkit dari posisi bersujud untuk berbicara sebagai sesama lelaki dewasa.

"Hana sudah menceritakan segala bentuk ujian mengaji rekayasa yang sengaja diatur oleh ibumu untuk mempermalukannya," ucap ayah Hana seraya melipat kedua tangannya di atas meja.

Azzam duduk dengan posisi membungkuk, tidak berani menatap langsung wajah mertuanya yang menuntut penjelasan logis atas segala kezaliman emosional tersebut. "Saya bersumpah demi tuhan bahwa saya akan membawa Hana keluar dari kompleks pesantren dan membangun rumah tangga baru yang mandiri di kota ini."

"Keputusan itu sudah sangat terlambat, Azzam, karena aku sudah menyiapkan berkas gugatan yang akan segera masuk ke pengadilan agama," sela Hana dengan suara yang teramat tenang namun mematikan.

Pernyataan tegas yang meluncur dari bibir Hana seketika membuat jantung sang ustaz muda laksana berhenti berdetak memompa darah ke seluruh tubuh. Azzam memandang istrinya dengan tatapan tidak percaya, mendapati bahwa cinta yang dahulu membara di dalam dada Hana kini telah menjelma menjadi hamparan salju yang dingin. Ayah dan ibu Hana hanya terdiam, memberikan kebebasan penuh kepada putri mereka untuk menentukan jalannya sendiri setelah sepekan hidup dalam penindasan mertua. Keheningan kembali merayap, mengunci ruang tengah tersebut dalam atmosfer kepasrahan yang teramat pekat bagi pihak yang bersalah.

Matahari pagi mulai menyembul dari balik gedung gedung tinggi kota, memancarkan cahaya terang yang menembus kaca jendela ruang tamu tempat mereka bertumpu. Azzam meraih jemari tangan Hana yang terasa dingin, berusaha menyalurkan kehangatan serta ketulusan penyesalan yang tersisa di dalam lubuk hatinya. Namun, dengan gerakan yang teramat halus dan sopan, Hana menarik kembali tangannya, menjauhkan diri dari jangkauan sentuhan lelaki yang pernah gagal menjadi pelindung batinnya. Penolakan fisik itu menjadi penanda bahwa kedekatan mereka secara batiniah telah rusak mendalam, membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk sekadar memulihkan komunikasi.

"Berikan aku waktu satu minggu untuk memikirkan kembali segalanya tanpa ada gangguan dari pihak pesantrenmu," pinta Hana seraya berdiri meninggalkan area meja makan.

Azzam hanya mampu mengangguk pasrah, menerima keputusan tersebut sebagai bentuk kompensasi atas kelalaiannya yang mengunci rapat mulut saat sang istri membutuhkan pembelaan. Ia pamit undur diri kepada kedua mertuanya, melangkah gontai menuju halaman luar di mana kendaraan roda duanya terparkir di bawah pohon mangga. Langkah kakinya terasa sangat berat, memikul beban ketidakpastian masa depan pernikahan yang kini berada di ujung tanduk akibat keangkuhan keluarga sendiri. Sang ustaz muda bertekad untuk kembali ke pesantren hanya untuk mengemas seluruh pakaiannya, membuktikan tindakan nyata bahwa ia siap melepas status kehormatan demi meraih kembali hati Hana.

Sementara itu, di koridor utama asrama putri, desas desus mengenai keretakan rumah tangga sang ustaz muda kian merebak luas di sela sela aktivitas hafalan santri. Sarah berjalan menyusuri selasar dengan wajah tegang, menyadari bahwa rencananya untuk menggeser posisi Hana tidak berjalan semulus yang ia bayangkan sebelumnya. Beberapa pengajar senior mulai menatapnya dengan pandangan penuh selidik, mencium aroma konspirasi yang sengaja ditiupkan oleh pihak keluarga Sarah demi menguasai manajemen yayasan. Situasi internal pesantren kini berubah menjadi sekumpulan sekoci yang siap karam, menanti keputusan akhir dari sang putra mahkota yang sedang berjuang di kota kelahirannya.

Ketika Azzam akhirnya tiba kembali di gerbang pesantren saat matahari tepat berada di atas kepala, ia mendapati sebuah mobil mewah terparkir di depan kediaman ibunya. Langkah kakinya terhenti sewaktu mendengar suara isak tangis dari dalam ruangan serambi utama yang pintunya sengaja dibiarkan terbuka sedikit. Azzam mempercepat langkahnya, mendorong daun pintu kayu jati itu hingga terbuka lebar untuk melihat kekacauan baru apa lagi yang sedang menimpanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!