Setelah mengantri untuk membeli game Yuto malah mengalami insiden terjebak di dalamnya, bersama 3.000 pemain lainnya mereka harus bisa menaklukkan lantai terakhir dan mengalahkan sosok yang menyebut dirinya seorang dewi.
Ini bukan permainan dimana kematian bukan segalanya, walau demikian ada pembayaran yang harus diterima pemain saat HP mereka menyentuh angka nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 : Hati Kesatria
Kesatria dibentuk untuk menjunjung keadilan, meski ini semua hanyalah permainan kami tetap memegang norma-norma di dunia nyata pada umumnya, orang jahat harus dihukum begitulah fraksi kesatria ini dibentuk.
Sebelumnya fraksi ini dipimpin oleh seorang NPC, tidak ada yang salah dengan itu hanya saja setelah fraksi ini semakin besar munculah peraturan aneh yang membuat semua orang harus membayar pajak. Setelah diselidiki NPC tersebut menggunakan uang tersebut untuk berfoya-foya dan juga menindas orang lemah.
Aku sendiri yang menghabisi NPC tersebut hingga pada akhirnya aku sendiri yang mengambil alih kesatria sampai sekarang, mengingat kepribadian NPC itu yang telah berubah aku selalu berfikir apa seseorang berada di baliknya.
Menyadari tatapanku Alberto tertawa.
"Kau sudah menyadarinya, NPC itu hanyalah sebuah alat yang aku gunakan untuk menjadi penguasa dunia ini dan harus kau tahu beginilah cara aku melakukannya."
Alberto mengambil sebuah kristal hitam dari penyimpannya dan bersamaan itu para penduduk kota yang entah darimana bermunculan, semuanya adalah NPC yang jelas telah dikendalikannya.
"Item pengendali pikiran," kataku menebak.
"Benar, sayangnya item ini hanya berpengaruh pada NPC saja padahal akan lebih mudah untuk mengendalikan player lain."
Berbeda dengan para pemain, NPC yang mati tidak akan bisa dibangkitkan lagi, tidak seperti game sebelumnya mereka memiliki kesadarannya sendiri hingga aku tidak akan mungkin bisa menghabisinya.
"Kenapa Alice, kau tidak bisa menghabisi mereka, sama seperti kau yang membunuh pemimpin sebelumnya kau harusnya sanggup melakukannya."
Aku terus menghindari setiap serangan penduduk tersebut sembari melumpuhkan mereka dengan tendangan serta gagang pedangku. Alberto tertawa tapi hanya sesaat sebelum senyumannya lenyap. Kristal yang di pegangnya hancur oleh sebuah panah yang tiba-tiba saja meluncur padanya.
Aku mengalihkan pandangan ke atas reruntuhan dan melihat bahwa Rebecca dan Yuto ada di sana menonton.
"Kami datang untuk membantu," kata Yuto ringan dengan gayanya yang biasanya.
"Kalian? Jadi si penembak jitu telah dikalahkan."
"Sekarang adalah giliranmu," ucap Rebecca melesatkan lebih banyak panah. Panah tersebut terhenti oleh sebuah pelindung cahaya yang muncul di tubuhnya.
Alberto memegangi wajahnya.
"Kalian benar-benar mengganggu saja."
Alberto mengayunkan pedangnya dan sebuah tebasan cahaya keemasan meluncur ke arah keduanya. Mereka bisa menghindarinya dengan melompat sebelum berdiri di dekatku.
"Bagaimana dengan penyusupan ke markas mereka?" aku bertanya.
"Lupakan saja, lebih baik kita bertarung bersama di sini... anggota partyku pasti bisa melakukannya."
Rebecca mendesah pelan.
"Siapa duga ternyata pemimpin dari PK itu adalah seorang kesatria, benar-benar rute yang klasik."
"Lebih dari itu, kemungkinan dia seorang yang memiliki job khusus," atas pernyataan Yuto, Alberto tertawa.
Dia pemimpinnya sementara penembak jitu merupakan kaki tangannya, sekarang semuanya masuk akal, dia hanya ingin mendominasi dunia game ini untuk dirinya sendiri.
"Alberto, apa jobmu sesungguhnya?"
"Kau ingin tahu, sayangnya jobku bukan hanya satu melainkan tiga."
Memiliki job lebih dari satu.
"Jangan salah paham ini buka sub job yang kalian gunakan, ini benar-benar job khusus.. pertama aku menggunakan job Paladin, Sage serta terakhir adalah Tamer."
"Paladin adalah job suci setingkat dengan Arc Priest, Sage merupakan job penyihir tingkat atas tapi kenapa Tamer?"
"Karena aku rasa Tamer juga bukan sesuatu yang bisa diremehkan," balas Yuto padaku.
Dari atas langit sebuah raungan seekor naga terdengar. NPC yang sebelumnya tidak sadarkan diri mulai bangun dan segera berlarian untuk meloloskan diri.
"Dia pasti antagonis yang dibuat dewi secara khusus, pasti itu," kata Yuto demikian.