Rose sangat tidak menyukai aturan serta larangan seorang pengawal pribadinya, tidak hanya itu Rose juga kerap kali keluar dari kesempurnaannya saat bersama sang pengawal.
Wiratama merupakan pria dewasa dengan sejuta pesona, memiliki rahasia juga identitas tersembunyi di balik profesinya sebagai seorang pengawal pribadi.
Siapa yang menyangka jika pengawal itu merupakan pangeran mahkota yang melarikan diri dari negri asalnya?
Setelah identitasnya di ketahui, Wiratama mengajukan sebuah lamaran kepada Tuannya, yang ia tunjukan untuk salah satu putri tuannya.
Siapakah yang di lamar sang pengawal? karna sang Tuan memiliki tiga orang putri. ikutii terus kisah mereka, jangan lupa like, rate bintang lima juga komentar baiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indahnya halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Pangeran!
"Jika saja aku tak menghormati suami serta mertuaku, aku bisa saja mencari tau dalang dari kejadian ini! Aku bahkan tak segan menebas leher dari pelaku kecurangan ini. Siapapun itu! Kalian salah lawan jika mencari urusan denganku!"
Rose tidak memperdulikan rasa sakit yang menyerang di telapak kaki kanannya, bagai mana bisa Rose masih berdiri dengan tegak di saat sebelah kakinya tertancapi oleh pecahan kaca. Tentu saja Rose menahan rasa sakitnya agar dirinya tidak terlihat lemah di hadapan semua orang.
"Ayah, apa kau hanya akan dian ketika menantumu di perlakukan seperti ini?" Pangeran Glan berujar pelan, kesal juga merasa malu karna dirinya merupakan bagian dari penghuni istana.
"Diamlah pangeran Gland, jika raja tak ingin meninjak lanjuti hal ini, aku sendiri yang akan mengusutnya." Tegas Rose, ia tak takut sekalipun ia harus di hadapkan pada para selir sang raja yang merupakan mertuanya sendiri.
"Wahai menantuku, kau tenang saja aku akan menghukum seseorang yang sudah melakukan ini. Maaf karna membuatmu tak nyaman atas penyambutan kami." Raja Zurham meletakan satu tangannya di depan dadanya, ia sungguh menyayangkan juga tak menyangka jika akan terjadi hal memalukan seperti ini.
"Aku menginginkan hal serupa kepada pelaku kecurangan ini!"
"Bagai mana bisa kau menginginkan hal itu? Sebagai hukuman, di istana ini hanya raja, pangeran mahkota juga hakim istana yang berhak memutuskan hukuman kepada seseorang pelaku kejahatan." Irna, istri kedua sang raja yang juga merupakan ibu dari pangeran Gland juga Elenor.
Kasak kusuk mulai terdengar di antara para rakyat yang turut menyambut kedatangan pangeran mahkota juga istrinya.
Sang raja terdiam sejenak, menatap kearah menantunya, nenantu yang begitu pemberani menurutnya, gadis itu bahkan masih bisa mengangkat angkuh dagunya sekalipun sang raja yang merupakan ayah mertuanya tengah menatapnya dengan tatapan penuh maaf.
"Aku sungguh tak perduli putusan hakim, lihat saja! jika pihak istana tidak dapat menindak lanjuti perkara ini, aku sendiri yang akan menghukum orangnya.
Wiratama tak memperdulikan apa yang di katakan Rose, sejak tadi dirinya hanya memperhatikan sebelah kaki sang istri yang justru sudah di genangi oleh darah. Demi apapun Wiratama kesulitan untuk berpura pura acuh mengenai kaki istrinya yang terluka.
"Sudahi bicaramu Tuan putri! Pelakunya akan di hukum, sekarang layani aku!" pongah sekali ucapan pangeran yang satu ini.
Wiratama menggendong Rose ala bridal style, "Ayah aku undur diri." tanpa melakukan apapun lagi Wiratama membawa istrinya ke kamar miliknya yang masih berada di lantai yang sama.
Sebenarnya Wiratama bukan ingin di layani, ia hanya tak sanggup melihat istrinya lebih lama tertekan dan terluka apablagi tepat di hadapannya.
Sepanjang perjalanan menuju kamar darah segar terus menetes dari telapak kaki Rose, mengotori lantai istana yang mewah.
Jika saja Wiratama tak memikirkan harga diri juga martabatnya, ingin rasanya Wiratama menepi dan melutut untuk mengobati luka yang di alami Rose. Tapi Wiratama haruslah berlaku konsisten agar tidak ada seorangpun yang merendahkannya.
Wiratama membuka pintu kamarnya, sangat mewah warna kamar itu di dominasi warna abu abu juga warna putih.
Kamar itu di rias ala pengantin baru. lilin lilin menyala padahal waktu masih siang hari, kelopak bunga mawar berserakan di atas ranjang maupun sepanjang jalan yang mereka lewati.
"Kupikir selama ini hanya om Kudhis yabg memiliki prangai psico, rupanya keluargamu lebih parah. Meski begitu Om Yudhis tak pernah melukai keluarganya sendiri, berbanding terbalik dengan keluargamu." Wiratama bungkam, apa yang di katakan Arumi benar adanya, sehingga dirinya tak memiliki keberanian untuk menyahuti istrinya.
Wiratama meletakan tubuh Rose di atas ranjang kamarnya.
Dengan sangat cekatan juga terlatih Wiratama mengobati luka istrinya dengan sangat hati hati, juga meniumpnya beberapa kali agar istrinya tidak merasakan sakit.
"Maafkan aku, maaf karna sudah mengangguk saat kau bertanya padaku. Jika saja aku tak mengijinkanmu menginjakan kaki indahmu di wadah itu, mungkin kakimu tak akan terluka seperti ini."
Wiratama terus membersihkan luka kaki istrinya, bahkan sesekali pria itu meniupnya dengan hati hati.
"Kupikir kau tak perduli terhadapku." Renggut Rose.
"Itu tak mungkin terjadi."
"Katanya kau menyuruhku untuk melayanimu, tapi mengapa situasinya berubah, Pangeran? Kau justru yang terlihat melayaniku." Sinis Rose dengan raut mengejek.
"Dari kalimatmu aku menangkap kau ingin nafkah bathin dariku." Wiratama membuka dua kancing kemeja teratasnya.
"Tidak Tama, aku hanya bergurau."
"Setiap pernyataan yang sudah kau katakan tak bisa di tarik mundur."
Ini kesempatan bukan? Ketika kaki sang tuan putri terluka, maka akan dengan mudah Wiratama menaklukannya.
"Tidak pangeran!"
dan sampai skr g aku masih menunggunya.
ayolah si lanjut di sini.
di noveltoon
dan aku suka banget dan masih menunggu up nya sampai sekarang. ayoooo thor, walaupun sudah hampir 3 tahun berhenti, gak pa pa deh.sekarang lanjut dong😅😅😅🙏🙏🙏🙏