Diusia ke 18 tahun Abigail telah menjadi seorang pemain cinta yang handal. Saat dirinya akan melakukan pekerjaannya sebagai wanita malam, Abigail dipertemukan dengan salah seorang pria yang lebih layak menjadi ayahnya, namun sang pria merasa tatapan gadis yang ada dihadapannya seperti orang yang dia cintai. Si pria mengurungkan niatnya, karena merasa gadis muda yang berada dihadapannya seperti putrinya. Pria itupun langsung memberikan uang dan menolak untuk berhubungan dengannya. Abigail merasa tersentuh karena si pria yang bernama Javes Frederick itu sangat baik dan memperlakukannya seperti anak perempuannnya.
Disisi lain, Abigail dipertemukan dengan pria yang pernah menggunakan jasanya sebagai wanita malam yaitu seorang pengusaha tampan bernama Oricon yang jatuh cinta padanya. Namun, hubungan mereka mendapatkan rintangan besar karena Oricon telah bertunangan dengan sahabat masa kecilnya Emily. Akankah Abigail dapat bertemu dengan orang tua kandungnya dan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina0505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Selesai
"Tuan, ini sudah bisa dipastikan dari pernyataan yang diberikan tuan Brady kalau pelakunya bukan Abigail dan dapat dipastikan ada orang lain yang berada dibalik ini semua," tukas Harry.
"Hm kau benar Harry,tapi aku masih penasaran siapa wanita itu?" ujar Javes sambil berpikir.
Kedua orang itupun larut dalam pemikiran mereka masing-masing, tiba-tiba Mia menghampiri mereka.
"Tuan, baru saja polisi menelpon katanya mereka telah menemukan pelaku yang sebenarnya dan saat ini mereka sedang dalam perjalanan ke kantor polisi," jelas gadis itu.
*Flashback On*
Siang itu Malvin bersama teamnya telah berhasil melacak keberadaan Joan melalui GPS. Dirinya bersama anggotanya segera menuju ke villa yang dihuni oleh Joan dan Vano.
Salah seorang polisi itu mengetuk pintu villa. Joan dan Vano dari dalam villa itu langsung menuju ke pintu depan. Mereka tidak menyadari kalau yang diluar sana adalah para anggota kepolisian karena Malvin dan teamnya mengenakan pakaian biasa.
"Siapa itu sayang?" tanya Joan yang melihat Vano mengintip dari balik tirai jendela.
"Entahlah, aku tidak mengenal mereka. Apa kita harus membukakan pintu untuk mereka?" Vano merasa ada sesuatu yang aneh.
"Halo ... ada orang dirumah tidak?" Malvin mulai merasa tidak sabaran.
"Sebaiknya kita buka saja, mungkin ada tetangga baru yang butuh bantuan kota,"
Tanpa ragu kedua orang itu membukan pintu villa itu dan betapa terkejutnya mereka kala seseorang diantara mereka menghampiri mereka.
"Maaf kami telah mengganggu aktifitas kalian. Kami dari petugas kepolisian dan kami harus membawa anda berdua ke kantor polisi sekarang juga. Ini surat penangkapannya," Malvin menyerahkan surat penangkapan pada mereka.
Terjebak, kali ini mereka sudah terkepung dan tidak bisa kemana-mana lagi.
"Sial, mengapa polisi ini bisa menemukan keberadaan kami?" gerutu lelaki itu dihatinya sambil mengepalkan tangannya.
"Tidak perlu terkejut seperti itu, kalian pasti bertanya-tanya kan bagaimana bisa kami menemukan villa ini? Padahal tempat ini cukup jauh dari keramaian bukan?" Malvin tersenyum miring melihat wajah panik kedua orang yang berada dihadapannya.
"Bagaimana bisa itu terjadi?" Vano merasa tak percaya, petualangan mereka menjadi secepat ini.
"Tentu saja bisa dan itu sangat mudah, karena kami telah melacak ponsel kalian," jelas Malvin pada keduanya.
"Kalian tidak bisa menangkap tanpa ada bukti," sergah Joan yang mulai panik.
"Hei nona, kau tidak perlu berkilah dengan bukti karena kami sudah mendapatkan bukti rekaman cctv dan sketsa wajah yang mengarahkan semua bukti tertuju pada anda," jelas Bryan salah satu dari anggota Malvin.
Joan tidak dapat berkilah lagi. Dirinya hanya bisa menundukkan kepala. Merasa terancam, Vano yang tidak ingin dipenjara mencoba lari dari tempat itu dengan mendorong Joan kepada para polisi itu dan berusaha kabur.
Joan yang sedang bingung di dorong sekuat itu oleh Vano hilang keseimbangan dan terjatuh ke arah Bryan, dengan sigap lelaki itu memeganginya agar tidak jatuh ke tubuhnya.
"Nona, anda baik-baik saja?" tanyanya sambil memegangi lengan Joan dan wanita itu hanya tertunduk.
"Tuan Vano, bekerjasamalah. Anda tidak bisa melarikan diri dari sini, karena tempat ini telah dikepung," jelas Malvin pada lelako itu, tapi Vano tetap berlari dan mencari tempat bersembunyi.
Tapi Malvin tidak menyerah begitu saja, dengan senjata yang berada ditangannya dia menghadiahkan timah panas ke kaki lelaki itu. Seketika itu juga lelaki rubuh sambil mengerang kesakitan dan darah mengalir dari kakinya.
Anggota polisi yang berada didekatnya segera menghampirinya dan membantunya berdiri kemudian memborgol tangannya. Akhirnya Joan dan Vano tertangkap.
***
*Flash back off*
Saat ini Javes, Harry dan Mia telah berada di kantor polisi.
"Pak polisi apa kami bisa mengetahui pelakunya?"
Javes begitu penasaran dengan wajah wanita yang tega menghabisi nyawa mantan suaminya hanya demi harta.
Malvin memanggil salah satu anggotanya dan menyuruh anggotanya membawakan Joan ke ruang introgasi untuk dipertemukan dengan Javes.
Tidak perlu waktu lama, mereka telah bertemu dari balik kaca. Dapat terlihat dengan jelas wajah wanita itu dari balik kaca tebal sebagai pembatas.
"Ternyata kau orangnya?" Geram Javes menatap wanita itu.
Joan hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia merasa sangat malu dan menyesal saat ini. Wanita itu tidak berani menjawab bahkan untuk menatap netra Javes saja dia tidak berani.
"Aku ingin kalian menghukumnya dengan hukuman yang berat," Javes terlihat sangat murka. Kemudian menjauh dari ruangan itu.
"Ayo kita pergi dari tempat ini sekarang juga," tukasnya pada Mia dan Harry.
Mereka segera meninggalkan kantor polisi.
Javes sangat kesal melihat wanita itu, rasanya ingin sekali dia melenyapkan Joan saat itu juga, tapi dia mengurngkan niatnya. Karena dia ingin proses hukum tetap berjalan dan diberlakukan untuk pelaku kejahatan itu.
***
"Abigail, bangunlah. Ini aku Oricon," lelaki itu membangunkan Abigail yang masih belum sadarkan diri.
Oricon mengusapkan minyak kayu putih ke hidung Abigail perlahan. Abigail yang mulai tersadar mengerjapkan matanya dan membuka matanya perlahan.
Saat pertama kali membuka mata dirinya menatap Oricon berada disisinya sambil menunggunya sadar. Abigail langsung memeluk lelaki itu dengan erat.
Dia begitu histeris dan menangis terisak karena ketakutan.
Abigail masih teringat saat dia diculik oleh Diego dan membuatnya hingga tak sadarkan diri. Oricon yang mengerti dengan keadaan Abigail memeluknya kembali dan mengusap kepalanya pelan.
"Jangan khawatir, aku sudah menghabisinya dan juga anak buahnya, mulai sekarang kau aman bersamaku,"
"Kau menghabisi pria itu?" tatap Abigail padanya.
"Iya, aku tidak ingin siapapun mengganggumu," jelas lelaki itu padanya lagi.
Mendengar penjelasan Oricon, gadis itu tetap memeluk erat Oricon dengan wajahnya ke dada bidang lelaki itu.
Abigail masih menyimpan rasa ketakutan yang berlebihan karena perbuatan Diego yang kasar.
Ditempat lain, Hany tengah memarahi anak buahnya habis-habisan.
"Bodoh!!! Menangkap satu wanita saja tidak bisa, apa kerja kalian hah?!" bentaknya pada anak buahnya sambil memukuli mereka meluapkan emosinya.
"Maafkan kami nyonya, kami tidak menyangka mereka datang dan menghabisi tuan Diego," sesal anak buahnya.
Hany merasa sangat kesal atas kegagalan anak buahnya. Wanita itu melempari barang-barang yang berada didekatmya.
"Awas kau Abigail. Aku tidak akan mengampunimu," omel wanita itu sambil memperhatikan ke arah depan.
Bagaimana tidak marah jika orang yang dicintainya kini telah tiada? dan itu semua karena gadis muda itu. Dirinya benar-benar terpukul atas kepergian Diego untuk selamanya.
Lelaki itu tiada dan tak bersisa sedikitpun bersama orang-orangnya. Kebakaran hebat yang diciptakan Oricon tidak menyisakan sedikitpun bagian tubuh mereka.
Hany hanya bisa menangisi kepergian kekasihnya itu. "Maafkan aku, karena aku memintamu membawa gadis itu kehadapanku, kau harus mengorbankan dirimu sendiri," sesalnya dengan lirih.