Roro Prameswari adalah seorang yang bersekongkol dengan setan dan meminta dukun untuk memberikan susuk kecantikan agar dirinya cantik paripurna dan bisa menggaet pemuda tampan nan mapan yang dia idamkan.
Siapa sangka, dengan usahanya melakukan ritual pemujaan kepada setan, dia bisa memikat suami dari Widuri si Kembang Desa yang selama ini adalah wanita yang menjadi saingannya.
Setelah Roro berhasil menjadi istri kedua dari Galuh Wiguna, istri pertama dari Galuh yang bernama Widuri, sering mengalami perlakuan semena-mena dari Galuh dan ibu mertuanya dan sering mengalami hal-hal mistis yang membuat dirinya bergidik ngeri.
Bagaimana kisah mistis yang dialami Widuri selanjutnya? Yuk intip ke cerita selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Sekti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkunci
Saat hampir petang, Roro, Bu Jumidah dan beberapa warga masih di klinik, pak Darto yang sudah sadar dari masa kritisnya, mulai mengetahui bahwa istrinya yang baru satu bulan lalu dia nikahi kini telah meninggal dunia karena mengalami suatu musibah yang tak disangka-sangka.
Pak Darto mengkambinghitamkan Roro Prameswari sebagai penyebab dari meninggalnya Lasmini istrinya yang cantik jelita. Roro yang berwajah buruk rupa menjadi alasan mengapa pak Darto menyalahkan Roro. Dia tidak sadar, bahwa wanita buruk rupa itu, dahulu adalah wanita simpanan dan wanita pujaan hatinya.
Pak Darto hanya memandang wanita dari rupa dan kemolekan. Mengindahkan sifat dan budi pekerti hingga kini dia mengalami sesuatu musibah yang membuatnya syok berat.
Alat sensitifnya kini tidak sempurna seperti dahulu. Dan dia kini merasakan sakit yang teramat sangat.
"Bu! Rani harus dibakar. Jika tidak dibakar saya yakin kampung kita akan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Parasnya yang buruk rupa itu memang membawa sial. Bu saya harus bangun. Saya ingin melihat istri saya."
Dalam kondisi masih sakit, bukannya bertobat malah menyalahkan Roro yang masih berdiri dan menundukkan kepala karena sedih bercampur kalut. Dia kini, selalu disalah-salahkan. Lalu Roro berlari kecil dan keluar dari ruangan tersebut.
Kini tinggal Bu Jumidah dan Darto.
"Darto. Ingatlah pada Sang Pencipta. Dialah yang memberikan takdir ini kepadamu. Bukan karena Rani. Dia itu hanya wanita biasa yang tidak neko-neko," jawab Bu Jumidah masih menasihati menantunya tersebut.
"Bu. Firasat saya dan istri saya benar, Bu. Rani itu pembawa sial. Tolong bantu saya untuk menemui Lasmini sekarang juga!"
Darto ingin bertemu dengan istrinya yang kini sudah dimakamkan di ruang jenazah milik klinik tersebut.
"Baik. Saya akan memanggil suster. Tunggu sebentar."
Lalu Bu Jumidah memanggil suster untuk memberikan kursi roda untuk diberikan kepada Darto. Tidak lama suster pun datang dengan membawa kursi roda.
Beberapa menit kemudian, Darto sudah berada di kursi roda. Dengan perlahan-lahan, suster itu memasuki kamar jenazah. Bu Jumidah mengikuti suster dan menantunya dari belakang dengan hati berdebar-debar.
Ceklek!
Pintu pun terbuka. Sontak, makam yang tadinya sudah rapi ditutup oleh tanah yang diambil dari halaman belakang klinik, terlihat kini tanahnya longsor dan terlihat lubang jenazah dengan jelas.
"Tolong Dokter! Sa-saya takut!"
Suster itu berlari memanggil dokter dan petugas medis lainnya untuk menyampaikan bahwa makan Lasmini telah terbuka kembali yang membuat suster itu ketakutan.
Di kamar itu, tinggal Bu Jumidah dan Darto yang tercengang melihat pemandangan yang mengejutkan tersebut.
"Darto! Itu makam istri kamu! Tapi kenapa tanah nya longsor? Darto, ayo kita segera keluar. Ini hampir petang."
Bu Jumidah panik dengan keadaan di dalam kamar jenazah yang mencekam. Terdapat beberapa jenazah yang belum dikuburkan membuat suasana lebih mengerikan.
Namun, Darto masih ingin melihat istrinya yang sempat belum dia lihat terakhir saat dia tak sadarkan diri dan mengalami kritis.
Ceklek! Ceklek! Ceklek!
Pintu mendadak terkunci. Dan Bu Jumidah mencoba membuka pintu namun tak bisa.
"Darto! Pintunya terkunci! Kita harus bagaimana ini!"
Tiba-tiba keringat bercucuran membasahi dahinya. Seketika, bulu kuduk Bu Jumidah kini berdiri dan merasakan ketakutan yang teramat sangat. Dia takut lampu akan padam lagi.
"Benarkah itu, Bu?" tanya Darto memastikan.
Seketika, Darto juga merasakan hawa aneh yang membuatnya merinding.
"Tolong! Tolong! Pintunya terkunci. Hik hik hik."
Bu Jumidah menangis karena pintunya tidak bisa dibuka. Dia berteriak dan meminta pertolongan dari orang. Pintu kamar jenazah itu terbuat dari besi yang kokoh sehingga didobrak pun sia-sia. Bu Jumidah lalu berdoa dalam hatinya namun, pintu tetap terkunci rapat. Kini, Bu Jumidah hanya bisa pasrah dan berdoa.
Darto bingung dan kelimpungan. Bisa-bisanya dia nekat pada waktu habis Maghrib masuk ke dalam kamar jenazah.
Tiba-tiba tanah yang menutup jenazah Lasmini mulai surut hingga tampak liang lahat yang dalam sehingga Darto bisa dengan mudah melihat Lasmini yang sudah memakai kain kafan. Namun, dia tidak berani melihat karena ini bukan kejadian wajar. Makam yang tadinya masih tertutup tanah, kini bisa terbuka. Tiba-tiba hawa sangat dingin menyeruak sampai ke persendian tulang-tulang hingga membuat Darto dan Bu Jumidah lemas dan lunglai.
Tiba-tiba suara sinden terngiang-ngiang di telinga mereka disertai bunyi gamelan yang sangat merdu namun terdengar mencekam.
"Kembang olo kembange Lasmini. Kembange olo bakale ngunduh sarine. Tetep waspodo lan eling marang Gusti."
Begitulah bunyi tembang Jawa yang terdengar itu. Alunannya pasti dan terdengar syahdu namun penuh misteri.
"Bu, itu suara apa tadi? Kok menyebut nama Lasmini," tanya Darto sambil menutup mulutnya dengan tangan karena ketakutan.
"Ibu tidak tahu Darto. Ayo kita banyak berdoa saja," jawab Jumidah menasihati menantunya tersebut.
Setelah itu tidak ada suara. Suasana sunyi dan sepi kembali. Tidak ada tanda-tanda orang yang akan menyelematkan mereka.
"Ibu sajalah yang berdoa. Berdoa tidak akan manjur. Itu nasihat kuno yang sia-sia!"
Darto malah menyangkal dari nasihat Bu Jumidah yang kini masih berdiri di ambang pintu.
Tiba-tiba benar adanya. Lampu di ruangan itu mulai padam. Dan terlihat gelap gulita.
"Tolong! Tolong! Di sini gelap!"
Bu Jumidah berkali-kali meminta pertolongan karena gelap. Namun, hanya sahutan suara longlongan hewan yang seakan-akan mereka tahu, bahwa akan ada makhluk halus yang mengintai.
Seketika, sekelabat bayangan putih mulai terlihat.
"Bu. Cepat ke sini. Darto takut!"
Sontak, Kini Darto mulai merinding ketakutan dan reflek dia mengompol di kursi roda karena tidak bisa menahan rasa takutnya.
Beberapa menit kemudian, Darto mulai menoleh ke belakang. Sontak, dia terkejut melihat sosok Dedemit berambut kribo. Dengan mata yang menyala-nyala. Dan kini giginya terlihat hitam dan terdapat taring yang terlihat tajam. Tangannya mengarah ke depan dan terlihat kuku yang sangat tajam.
"Tolong! Ada Dedemit! Jangan ganggu saya. Ayo pergi!"
Darto meminta tolong dengan suara keras dan kencang. Namun, satu orang pun tak ada yang mendengarnya. Di samping kirinya. Bu Jumidah sudah jatuh pingsan.
"Hihihi! Hihihi! Kau harus m*ti! Manusia buruk!"
Terdengar suara Kunti Kribo yang terdengar nyaring dan mengerikan. Dedemit itu semakin mendekati Darto yang semakin ketakutan. Dengan cepat, tangan Darto ditarik kencang oleh Dedemit itu dan dibawa terbang melayang entah ke mana.
"Tolong! Saya diculik Dedemit! Ampuni saya! Ampun!"
Darto di bawa terbang ke suatu tempat dan Darto berteriak kencang meminta tolong. Kini nafasnya tersengal-sengal dan merinding ketakutan. Sudah tidak bisa digambarkan lagi bagaimana perasaannya kini.
Kunti kribo itu membawa Darto di suatu tempat yang luas dan penuh dengan pemakaman.
"Kamu harus m*ti. Hihihi! Hihihi!"
Kunti itu tertawa cekikikan dan terlihat giginya yang hitam dan kemerah-merahan. Dengan taringnya yang terlihat tajam. Sosok Kunti Kribo itu segera mencekik leher Darto dan menghisap d*rah Darto tepat di leher bagian kirinya.
"Arrgh!"
Krek!"
Tragedi yang sangat mengerikan dialami oleh pak Darto akibat perbuatan buruknya.
eh ini tengah malam nemu hantu sungai ...
masuk ahhhh ...