Juara 🥉 Event Air Mata Pernikahan S3
Ainsley dan Charlie adalah sepasang suami istri yang juga anggota FBI. Mereka bertugas menggagalkan penyelundupan narkotika di pelabuhan New York yang dilakukan oleh mafia bernama John Wilson.
Tapi rencana mereka di ketahui oleh musuh sehingga terjadi baku tembak antara kedua kubu.
John Wilson berhasil kabur, tapi Charlie tidak membiarkannya begitu saja. Dia mengejar John hingga terjadi kecelakaan tragis yang menewaskan Charlie.
Ainsley terpuruk dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari FBI. Dia terus mencari keberadaan suaminya karena dia tidak percaya suaminya meninggal jika belum melihat jasadnya. Bahkan dia berencana untuk balas dendam.
Tapi beberapa bulan kemudian saat dia berlibur, dia bertemu dengan pria yang mirip dengan suaminya. Tapi sayangnya, pria itu bernama Michael dan mempunyai tunangan.
Siapakah Michael sebenarnya? Dan apakah Ainsley bisa membalaskan dendam kematian suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Anggap Aku Adalah Charlie
Ainsley menghentikan mobilnya di bukit. Dia segera melepas seatbelt nya dan turun dari mobil untuk menghubungi Clara.
"Bagaimana?" tanya Ainsley setelah Clara mengangkat sambungan telepon darinya
Clara yang saat itu sedang membahas sebuah kasus dengan rekannya, berbicara dengan Ainsley di telepon dengan nada pelan tanpa melepas pandangannya pada Henry yang berdiri tidak jauh darinya.
"Sepertinya terjadi sesuatu. Dari tadi dia terus memperhatikan ponselnya. Dan sekarang dia terlihat kesal." seru Clara
Ainsley tersenyum sinis dan berkata, "dia pasti kecewa karena gagal membunuhku dan Michael."
"WHAT??" pekik Clara keras. Dia melihat sekitarnya dan membungkuk meminta maaf karena teriakkan nya membuat semua orang terkejut dan menatap dirinya. Dia memilih kembali ke ruangannya agar lebih leluasa berbicara dengan Ainsley.
"Ceritakan padaku!! Apa yang terjadi?" tanya Clara
Ainsley menceritakan semuanya jika dia dan Michael diserang oleh anak buah John saat berkunjung ke apartemennya untuk mencari petunjuk. Mereka beruntung karena bisa lolos dari maut dan saat ini beristirahat sejenak di bukit yang sepi.
"Oh my God!! Aku tidak menyangka kau akan mengalami hal seperti itu Ainsley. Pantas saja kau tidak mengangkat telepon dariku. Tapi kau dan Mr. Walker baik-baik saja, bukan?"
"Yeah.. Aku baik-baik saja. Tapi..." Ainsley menoleh, menatap Michael yang terdiam sambil memejamkan matanya di dalam mobil. "Sepertinya Michael masih syok dengan apa yang baru saja dia hadapi. Apalagi tadi dia sempat merasa sakit di kepalanya saat berhasil membunuh musuh." seru Ainsley. Dia memejamkan matanya sejenak dan menghela nafas panjang. "Aku sempat berpikir ingatannya sudah kembali karena keberaniannya yang melawan musuh. Tapi ternyata...."
"Jangan sedih Ainsley !! Semua itu butuh proses. Anggap saja semua ini kembali seperti awal pertama kau bertemu dengan Mr. Walker. Buat dia jatuh cinta padamu seperti dulu." kekeh Clara
Ainsley tersenyum. Ya, mungkin dia bisa melakukannya jika saja tidak ada Daisy di samping Michael . Namun yang ia lihat, Michael sangat mencintai Daisy. Jadi dia tidak yakin bisa membuat Michael jatuh cinta padanya.
"O iya Ainsley . Aku sudah melakukan apa yang kau katakan. Dan sepertinya Henry tidak mempunyai komplotan di sini. Dari tadi dia terlihat menyendiri sambil menatap ponselnya." ucap Clara
"Apa kau yakin?" tanya Ainsley
"100% yakin." jawab Clara tegas
"Kalau begitu, mintalah bantuan yang lain untuk mencari bukti pengkhianatan yang Henry lakukan." perintah Ainsley
"Baik Mrs. Walker."
Ainsley berdecak pelan dan mematikan sambungan teleponnya. Dia kembali masuk ke mobil untuk memastikan keadaan Michael. "Kau tidak apa-apa Mich?" tanya Ainsley
"Aku baik-baik saja. Hanya saja Kepala ku sedikit pusing." seru Michael
"Apa sakit? Kau membawa obatmu? Atau kita ke dokter saja." ucap Ainsley khawatir
Michael tersenyum dan berkata, "aku pusing bukan karena sakit di kepalaku kambuh. Tapi karena kau mengendarai mobil dengan begitu cepat." kekeh Michael
Ainsley berdecak kesal dan memalingkan wajahnya. Dia mengira jika kepala Michael sakit karena kambuh. Tapi ternyata karena dirinya mengendarai mobil dengan cepat. Ya mau bagaimana lagi? Ainsley sangat takut anak buah John berhasil mengejar mereka. Sekarang saja Ainsley masih merasa was-was, takut sewaktu-waktu musuh mengetahui keberadaan mereka.
"Kau marah ya?" goda Michael
"Aku benar-benar khawatir padamu, tapi kau justru menggodaku." gerutu Ainsley
Michael kembali terkekeh. Dia menggenggam tangan Ainsley dan berkata, "maaf Ainsley, bukan maksudku untuk menggoda mu. Tapi yang aku katakan itu benar." Ainsley melotot kan kedua matanya yang membuat Michael kembali terkekeh. Rasanya sangat menyenangkan bisa menggoda Ainsley. Namun wajah Michael tiba-tiba berubah dan ia kembali berkata, "Maaf, aku hanya bisa menyusahkan mu. Harusnya aku tetap di rumah saja. Jadi kau tidak perlu membahayakan dirimu untuk melindungi ku." sesal Michael
"Apa yang kau katakan, Mich? Justru karena dirimu, aku selamat. Jika kau tidak datang tepat waktu, aku pasti sudah mati."
"Tapi tetap.saja, aku hanya menyusahkan mu saat mencoba lari dari mereka." lirih Michael
Ainsley menggenggam tangan Michael dan berkata, "mereka mengincar nyawamu karena kau adalah Charlie. Jadi dimanapun kau berada, mereka akan datang untuk membunuhmu. Untuk itu jangan merasa jika kau menyusahkan ku karena aku sangat mencintai Charlie dan aku tidak ingin kehilangan dia lagi. Jadi...." Ainsley menjeda ucapannya sejenak dan menghela nafas perlahan, "Ijinkan aku melindungi mu walaupun nyawaku taruhannya."
Deg
Michael tidak tahu harus berkata apa. Tapi dia bisa melihat ketulusan di mata Ainsley. Hah.. Betapa beruntungnya pria yang bernama Charlie itu karena di cintai wanita seperti Ainsley.
"Kau tidak perlu melakukan hal itu padaku, Ainsley. Aku bukan Charlie." seru Michael
Ainsley mengepalkan tangannya erat. Dia sangat ingin mengatakan jika Michael adalah Charlie yang sedang hilang ingatan. Dan selama ini Daisy sudah menipunya. Memang benar, Daisy menyelamatkannya saat kecelakaan. Tapi wanita itu memalsukan identitas Charlie hanya karena dia hilang ingatan dengan memberinya nama Michael, tunangannya yang meninggal karena kecelakaan mobil.
"Bolehkah... " Ainsley menunduk memejamkan matanya, menahan air mata yang mulai menetes. "Bolehkah aku menganggap dirimu adalah Charlie ku?"
Michael tertegun melihat Ainsley menangis di depannya. Kedua tangannya mengepal erat. Rasanya dia ingin merengkuh wanita itu kedalam pelukannya. Namun dia mencoba menahan diri. Apalagi ada cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Ainsley, aku..."
"Maaf." sela Ainsley. Dia menghapus air matanya dan menatap Michael. "Tidak seharusnya aku seperti ini. Aku terbawa emosi saja. Jadi kau tidak perlu menganggapnya serius." Ainsley mencoba tersenyum. Namun hal itu justru membuat hati Michael merasa sakit. Dan saat Ainsley hendak keluar dari mobil, Michael menarik tangan Ainsley dan mendaratkan bibirnya di bibir wanita itu.
Ainsley terkejut saat Michael tiba-tiba menciumnya. Dia hanya terdiam sampai Michael melepaskan ciuman mereka. "Kau boleh menganggap aku adalah Charlie." ucapnya dengan nafas memburu.
Pandangan mereka bertemu. Michael meraih tubuh Ainsley dan mengangkatnya untuk duduk di pangkuannya. Dia menarik tengkuk wanita itu dan mencium bibirnya dengan mesra. Michael mengakses setiap rongga mulut Ainsley. Mereka saling bertukar Saliva dengan lidah yang saling membelit satu sama lain. Mereka seolah menyalurkan kerinduan yang teramat mendalam lewat ciuman yang mereka lakukan.
Cukup lama mereka berciuman. Sampai Ainsley memberi kode pada Michael untuk mengakhirinya karena wanita itu kehabisan oksigen.
Michael menempelkan keningnya dengan kening Ainsley. Mereka berlomba-lomba meraup udara di sekitar mereka dan tersenyum setelah menyadari apa yang telah mereka lakukan. Tapi kemudian, Michael kembali mengecup bibir Ainsley berulang kali dan berakhir dengan ciuman panas yang membuatnya tidak ingin berhenti melakukannya.
kerennnnn