Dipertemukan secara tidak sengaja dengan mantan suaminya yang dulu pernah disia-siakan lewat anaknya yang ditolong karena masuk got.
Lalu apa yang akan terjadi setelah tragedi masuk got itu? Akankah ada cinta di hati kedua mantan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Akhirnya Hanya di Taman Kota
Kata-kata dasar bodoh yang diucapkan Raka barusan sungguh menyakiti hati Marisa. Terdengar tandas dan menekan. Marisa ingin menangis, tapi dia berusaha untuk bertahan. Marisa menangis di dalam hati. Marisa teringat kembali masa lalu di mana dirinya pernah membantah dan tidak pernah mendengar apa kata Raka. Mungkin saat itu Raka sakit hati atas sikapnya, dan kini Marisa juga sakit hati akan sikap Raka. Impas.
Raka memasuki mobil disusul Marisa yang langsung menuju jok belakang bersama Cila. Tanpa protes, Raka segera menjalankan mobilnya.
"Papa lapar, Cila ingin makan ayam," rengek Cila memelas. Raka memelankan mobilnya, dia seakan berpikir. Marisa menatap Cila yang memegangi perutnya seperti menahan lapar, dia merasa iba dan tidak tega.
"Berhenti sebentar saja Mas di pom bensin, biarkan Cila makan dulu, dia kelihatan lapar," usul Marisa memberanikan diri.
"Ini semua gara-gara kamu, pakai pesan ke Bi Rasmi menyiapkan bekal segala, semua jadi sia-sia. Aku masih sanggup bayar makan di taman wisata tadi kalau aku mau, tapi aku terlanjur kesal karena dirimu yang sok tahu, sok merasa pintar tapi ...."
"Cukup Mas, tidak enak didengar Cila. Iya aku bodoh, tapi jangan hina di depan anakmu, apakah kamu tidak takut Cila meniru sikap kamu?" potong Marisa cepa dengan suara dipelankan. Dia terpaksa menyela ucapan Raka meskipun hatinya masih sakit, sebab di dekat mereka ada sosok anak kecil.
"Cila mau makan, Cila sudah lapar banget atau masih bisa tahan?" tanya Marisa mencoba mengorek keinginan Cila.
"Berhenti dulu di taman kota saja Papa kita makan bekal kita di sana. Cila sudah tidak kuat sudah lapar," ujar Cila mengusulkan. Marisa sepertinya merasa diingatkan oleh Cila, hati kecilnya setuju dengan keinginan Cila.
Tanpa melihat Cila harus merengek lagi, Raka pun mengarahkan mobilnya ke arah taman kota sesuai permintaan Cila. Dan sepertinya ide ke taman kota tidak buruk, Cila memang cerdas punya ide yang bagus padahal usianya baru lima tahun lebih.
"Turunlah," titah Raka setelah berhasil memarkirkan mobilnya di parkiran taman kota. Siang itu taman kota sudah ramai, untuk mencari tempat yang agak sepi sudah tidak mungkin.
Marisa menurunkan Cila dari mobil dan meraih tikar lipat serta satu keranjang buah, sedangkan Raka meraih satu keranjang makanan yang dibawa dari rumah. Marisa berjalan duluan sambil menuntun Cila memasuki taman. Taman memang sudah rame, jadi sulit menemukan tempat yang kosong dan lengang. Namun Marisa tidak putus asa, dia masih berjalan mencari tempat yang sedikit luas untuk menggelar tikarnya.
Dan sepertinya istilah usaha tidak mengkhianati hasil tepat adanya, Marisa menemukan sebuah tempat yang sedikit lengang agak jauh dari bangku-bangku yang berjejer menghadap taman-taman bunga. Tapi tempatnya lumayan tidak terlalu rame. Marisa segera menggelar tikar lipatnya di sana dibentang sisi kiri dan kanannya sehingga rumput tu tertutup tikar. Tidak ada larangan untuk duduk leyeh-leyeh di atas rumput, asal tidak merusak fasilitas taman dan sampah harus dibuang ke tempatnya.
Lima menit kemudian, Raka tiba di sana, di tempat yang digelar tikar oleh Marisa. Nafasnya terdengar sengalannya, seperti lelah. Marisa mengejek dalam hatinya, masa iya seorang lelaki bertubuh kekar atletis berjalan cuma beberapa meter saja ke taman, sudah tersengal nafasnya.
Marisa dengan sigap meraih keranjang makanan yang tadi dibawa Raka. Lalu membukanya dan mengeluarkan alas nasi untuk makan serta piring rotan sebagai alas bawahnya. Marisa menyiapkan dan mengambilkan makanan untuk cila terlebih dahulu yang sudah kelaparan. Seceduk nasi pulen dan ayam ungkeb yang digoreng krispi kesukaan Cila sudah teronggok di atasnya, tidak lupa Marisa membubuhkan juga sayur capcay di atasnya supaya apa yang dimakan Cila tidak terlalu serat.
Setelah menyiapkan makanan dan minumnya milik Cila, kini giliran Raka. Marisa dengan sigap menyiapkan makanan untuk Raka lengkap dengan air minum yang sudah dibawanya dari rumah. Walau hati Marisa masih sedih dan kesal oleh sikap kasar Raka. Namun, Marisa tetap menomor satukan pelayanan sebaik mungkin, dia akan bersabar dan menganggap perlakuan kasar Raka adalah hukuman untuk dirinya atas dosa masa lalu. Selain itu Marisa memang benar-benar mencintai Raka. Untuk itu dia akan berusaha menunjukkan bukti cintanya dengan kesabaran.
"Sudah waktunya mental dan kesabaran aku diasah supaya kuat dan tahan banting, semoga saja kuat supaya dosa aku di masa lalu sedikit terampuni," harapnya dalam hati.
Semua mulai makan tanpa suara, hanya sesekali celotehan Cila yang terdengar, meminta tolong saat tulang ayam ada yang nyangkut di giginya. Tanpa rasa jijik dan risih, Marisa membantu Cila mengeluarkan tulang itu, kemudian menyuwir ayam milik Cila supaya Cila tinggal makan saja.
Tanpa sedikitpun menoleh ke arah Raka, Marisa masih fokus pada makanannya dan Cila. Raka yang melihat interaksi antara Cila dan Marisa, sekilas memang seperti ibu dan anak, kedekatannya tidak diragukan lagi, Marisa juga terlihat sangat tulus dan tidak kaku. Mereka cocok satu sama lain. Sedikit dalam hati Raka mengagumi kelebihan Marisa dalam memperhatikan anaknya. Tapi setelah itu Raka segera menyadarkan dirinya supaya jangan terlena dengan kebaikan kecil Marisa yang Raka anggap hanya sementara.
"Bunda mau ayamnya lagi," pinta Cila menunjuk wadah yang berisi ayam. Marisa meraih lagi satu ayam goreng kesukaan Cila. Ayamnya juga masih banyak dan ini sengaja supaya kalau Cila mau tinggal ambil saja tidak peru beli ayam di tukang jualan yang biasa jual di jalan-jalan itu.
"Papa sudah makannya?" tanya Cila sembari masih mengunyah. Raka mengangguk seraya mengeluarkan sebatang rokok. Raka berdiri dan sedikit menjauh dari mereka berdua untuk merokok. Kini tinggal Marisa dan Cila yang segera menyelesaikan makanannya. Setelah selesai, Marisa kini menyiapkan buah-buahan yang tadi dibawanya sebagai makanan pencuci mulut.
Sebetulnya Marisa tahu adab memakan buah, harusnya buah-buahan itu dimakan terlebih dahulu sebelum makanan berat. Namun, kebiasaan di rumah Raka sepertinya belum bisa dirubah mengikuti sunahnya Rasullulloh. Marisa juga kebawa ikut-ikutan dengan kebiasaan di rumah Raka.
Buah-buahan sudah siap dihidangkan, kini Cila tinggal menikmati buah-buahan yang hampir semua jenisnya kesukaan Cila. Cila memang anak yang sehat dan cerdas. Marisa sangat menyukai Cila karena patuh.
"Sepertinya sifat baik dan kecantikannya menurun dari Mamanya. Aku yakin Mamanya Cila sangat cantik dan baik, itu sebabnya Mas Raka belum bisa melupakan almarhumah istrinya, Mbak Marsila. Betapa aku sangat jauh jika dibandingkan dengan Mamanya Cila," batin Marisa sedih.
"Mbak Sila yang tenang di sana. Insha Allah saya akan berusaha menjadi istri dan Ibu yang baik untuk Cila," harp Marisa dalam hati dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Marisa segera menyeka kaca itu sebelum menjadi bulir bening yang siap jatuh.
"Ehhh, kok ada Cila di sini. Sama siapa sih? Ohhh sama Mama tiri ya?" celoteh seorang perempuan dewasa sekitar umur 30 tiba-tiba mendekati tikar yang ditempati Marisa dan Cila. Raka mendengar celotehan wanita dewasa itu, dia pun segera mendekat ke arah Cila dan Marisa.
"Mardiah!" pekiknya tidak suka.
tak gibengae