NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.

Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.

Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.

Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.

Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?

Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 7 Lambang Kegelapan

Malam itu, Hana tidak langsung melangkah masuk ke dalam ruangan.

Ia berdiri mematung beberapa saat di depan pintu Poskesdes sambil mendekap erat buku catatan medis yang tadi tertinggal di meja kerja. Tatapannya tertuju lurus ke arah pintu kamar mandi yang celah bawahnya masih memancarkan cahaya lampu. Bayangan tato yang sempat dilihatnya beberapa detik lalu terus berputar dan terlintas di benaknya.

'Shadow Crown.'

Ia belum pernah mendengar nama atau frasa itu sebelumnya. Namun entah mengapa, lambang berbentuk mahkota gelap yang dikelilingi sayap bayangan itu memicu perasaan tidak nyaman yang mengganjal di dalam hatinya. Hana menggelengkan kepalanya pelan, berusaha mengusir pikiran buruk. Sebagai seorang dokter, ia tahu tidak seharusnya mencampuri masa lalu pasiennya. Namun sebagai manusia biasa, rasa penasaran itu tetap saja mengusik ketenangannya.

Sementara itu di dalam kamar mandi, Kael masih bersandar kaku pada dinding tembok yang dingin.

Napasnya yang semula memburu perlahan mulai kembali normal. Rasa sakit yang menghantam kepalanya berangsur-angsur mereda, meski kilasan-kilasan gambar yang muncul secara mendadak tadi masih terasa sangat nyata di pelataran otaknya. Gedung mewah yang terbakar hebat, suara rentetan tembakan, orang-orang yang berlari panik, dan suara berat yang menyebut nama Shadow Crown.

Kael memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha keras menangkap kembali potongan ingatan yang sempat melintas itu. Namun, semuanya sudah terlambat. Memori itu menghilang begitu saja, persis seperti butiran pasir pantai yang lolos dari genggaman tangannya.

"Apa sebenarnya hubungan aku dengan semua itu?" gumam Kael pelan pada kesunyian.

Tidak ada jawaban yang terdengar. Hanya ada suara tetesan air dari keran yang jatuh menghantam lantai kamar mandi, memecah keheningan malam.

✨✨✨✨

Keesokan paginya, kehidupan di Desa Sekar kembali berjalan dengan ritme yang biasa.

Anak-anak kecil berlarian riang di jalan setapak yang berdebu. Para nelayan sibuk memperbaiki jaring-jaring mereka yang koyak di tepi pantai, sementara para ibu menjemur ikan asin di halaman rumah panggung mereka. Kael yang kondisi fisiknya sudah jauh lebih sehat akhirnya diperbolehkan keluar dari area Poskesdes untuk sekadar berjalan-jalan menghirup udara segar di sekitar desa.

"Tapi ingat, jangan berjalan terlalu jauh," pesan Hana mengingatkan.

"Aku bukan anak kecil," sahut Kael datar.

"Benar. Tapi kau adalah pasien yang sangat keras kepala," balas Hana sambil tersenyum kecil.

Dalam beberapa hari terakhir, hubungan mereka memang mulai terasa lebih santai dan mencair. Tidak ada lagi kecanggungan atau kekakuan yang berlebihan seperti saat pertama kali Kael tersadar dari komanya.

Matahari kian meninggi, memancarkan sinar hangat yang membakar sisa-sisa embun pagi. Langit biru bersih membentang tanpa awan, menandakan waktu telah bergerak menjelang siang. Udara pesisir mulai terasa hangat dan berembus agak kering ketika Kael berjalan menyusuri tepian pantai.

Di seberang sana, ia melihat beberapa nelayan sedang bersusah payah menarik sebuah perahu kayu yang tersangkut di antara celah bibir karang. Tanpa diminta oleh siapa pun, Kael langsung melangkah lebar menghampiri mereka.

"Biar saya bantu," tawar Kael langsung mengambil posisi di bagian depan perahu.

Dengan bantuan tenaga kekarnya, pekerjaan berat yang seharusnya memakan waktu lama dan menguras energi itu langsung selesai jauh lebih cepat dari dugaan.

"Terima kasih banyak, Kael!" seru salah satu nelayan sambil menyeka keringat di dahinya.

Kael hanya mengangguk pelan sebagai respons. Ia mulai terbiasa dengan keramahan dan ketulusan warga desa ini. Meski begitu, setiap kali melihat mereka tertawa lepas dan saling bercanda, selalu muncul perasaan asing yang aneh di dalam dadanya. Seolah-olah, kehidupan yang damai dan normal seperti ini adalah sesuatu yang belum pernah ia jalani seumur hidupnya.

Sore pun tiba. Semburat jingga mulai melukis langit saat matahari bergerak turun mendekati garis laut. Angin sore berembus lebih sejuk, menerpa pelepah pohon kelapa yang melambai pelan di sepanjang pesisir pantai. Di kejauhan, siluet perahu nelayan mulai bersiap menepi, ditemani suara deburan ombak yang ritmis dan menenangkan hati.

Di teras Poskesdes, Rani datang berkunjung. Seperti biasa, gadis kecil itu membawa beberapa tangkai bunga liar berwarna cerah di tangannya. Begitu melihat Kael sedang duduk santai di kursi teras, wajah Rani langsung berbinar gembira. Gadis kecil itu berlari kecil menghampiri, lalu langsung mengambil tempat duduk di samping Kael tanpa suara.

Rani memang tidak bisa berbicara karena dunia sunyinya. Namun, Kael perlahan mulai memahami bahasa tubuh dan isyarat dari gadis kecil itu. Rani dengan cepat mengeluarkan buku gambar kecilnya, menggoreskan pensil, lalu menunjukkan tulisannya kepada Kael.

Kakak sudah sehat?

Kael membaca tulisan itu dengan saksama.

"Sekitar delapan puluh persen," jawab Kael jujur.

Rani seketika mengerutkan keningnya, tampak bingung dengan jawaban tersebut. Ia kembali menuliskan pertanyaan baru di kertasnya.

Kenapa tidak seratus persen?

"Karena kepalaku masih kosong," sahut Kael sambil tersenyum tipis, meratapi ingatannya yang belum kembali.

Rani menatap wajah Kael selama beberapa saat. Seolah mengerti, ia membalik halaman bukunya lalu menggambar sebuah lingkaran otak berukuran besar dengan banyak tanda tanya di sekitarnya.

Kael tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa kecil melihat kreativitas bocah itu. Itu adalah tawa pertamanya sejak ia kehilangan ingatan, dan hal itu membuat Rani ikut tersenyum puas karena berhasil menghibur Kael.

Di dalam ruangan Poskesdes, Hana sedang sibuk merapikan botol-botol obat di lemari ketika Pak Kades datang berkunjung.

"Dokter Hana," sapa Pak Kades ramah dari ambang pintu.

"Eh, Pak Kades. Silakan masuk, Pak," sahut Hana mempersilakan.

Pak Kades kemudian duduk di kursi kayu. Tatapannya sesekali terlempar ke arah jendela luar, memperhatikan Kael yang sedang membantu warga memperbaiki pagar kayu balai desa yang mulai miring.

"Anak itu memang sepertinya bukan orang biasa, ya?" tanya Pak Kades membuka obrolan.

Hana sempat terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu.

"Tadi pagi saya lihat sendiri dia mengangkat mesin perahu yang rusak sendirian tanpa alat bantu," lanjut Pak Kades lagi dengan nada kagum.

"Benarkah?" tanya Hana, murni terkejut.

"Iya, betul. Lalu kemarin dia juga bisa menahan serangan kerbau mengamuk dengan tangan kosong," Pak Kades mengangguk meyakinkan.

Hana menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. Semakin hari, semakin banyak hal di luar nalar yang sulit dijelaskan mengenai kemampuan fisik Kael.

"Kita lihat saja perkembangannya nanti, Pak," jawab Hana mencoba bersikap netral.

Namun di dalam hatinya yang paling dalam, Hana tahu pasti. Kael menyembunyikan sesuatu yang besar. Atau lebih tepatnya, ada rahasia mengerikan di dalam diri pria itu yang bahkan Kael sendiri belum mengetahuinya.

✨✨✨✨

Malam kini jatuh sepenuhnya, menyelimuti pesisir dalam kegelapan yang pekat. Langit hitam membentang luas, dihiasi taburan bintang yang berpendar samar di samping rembulan yang keperakan. Angin laut bertiup lebih kencang dan dingin, membawa suara deburan ombak malam yang memecah kesunyian pantai.

Kael duduk sendirian di kursi teras Poskesdes yang sepi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama didera kebingungan, ia merasa sedikit tenang malam ini. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Karena ketika tanpa sadar jemari tangannya bergerak menyentuh bagian punggung sebelah kiri—tempat di mana tato itu berada—sebuah kilatan memori masa lalu kembali menghantam benaknya dengan sangat keras.

Kali ini gambaran itu muncul jauh lebih jelas dari sebelum-sebelumnya.

Kilasan tentang seorang pria tua berambut putih yang berdiri tegak di dalam sebuah ruangan besar yang gelap. Di hadapan pria tua itu, ada puluhan orang berpakaian hitam yang berbaris rapi dengan sikap sempurna. Dan di dinding besar yang menjadi latar belakang mereka, terpampang jelas sebuah lambang yang sangat ia kenali: mahkota gelap bersayap hitam.

Shadow Crown.

"Mulai hari ini, kalian bukan lagi manusia biasa. Kalian adalah bayangan yang bekerja di dalam kegelapan," suara pria tua itu menggema berat di dalam ingatan Kael.

Kael tersentak hebat. Matanya langsung terbuka lebar dalam kegelapan teras. Napasnya memburu pendek-pendek dan jantungnya bertalu sangat keras. Meski kilasan memori itu hanya muncul selama beberapa detik, namun dampaknya jauh lebih nyata dibanding sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia tersadar... ia meyakini satu hal dengan sangat pasti. Shadow Crown bukanlah nama kelompok atau organisasi biasa. Kelompok itu jelas pernah menjadi bagian besar dari sejarah hidupnya. Mungkin, bagian masa lalu yang sangat penting sekaligus mematikan.

Kael menatap lurus ke arah lautan lepas yang gelap gulita di kejauhan. Perasaan tidak nyaman yang teramat sangat mulai tumbuh dan merayap di dalam dadanya. Karena semakin banyak potongan ingatan yang berhasil kembali, semakin besar pula rasa takutnya terhadap kenyataan tentang siapa dirinya yang sebenarnya di masa lalu.

Bersambung....

1
falea sezi
Rani g punya ortu kah
Keysa_Bom: ada kak 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!