NovelToon NovelToon
Penyesalan Yang Terlambat

Penyesalan Yang Terlambat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Amak Mpis

"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."

"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."

Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecurigaan Hexa terhadap Rio.

Bintang sekarang sudah sampai dirumah sakit dan sedang ditangani dokter, Black masih ditenangkan Sandra, dia juga sudah menelepon Alvin untuk datang karena dia tak bisa menenangkan Black. 

Tak lama Melisa dan Doni datang setelah mengetahui Bintang mengalami kecelakaan, tapi setelah sampai, perasaan mereka lebih sakit melihat Black yang menangis. 

“Black,” panggil Melisa sambil memegang pundak Black. 

Black memeluk Melisa yang ada disebelahnya. “Maaf tante, harusnya Bintang gak nolong saya, harusnya saya yang ketabrak, harusnya Bintang sekarang masih bisa pulang ke rumah tante, maafin saya.”

Melisa melepas pelukan Black dan jongkok di depan Black yang sekarang sedang duduk. “Jangan ngomong kaya gitu, ini sudah takdirnya Bintang, kalau sampai Bintang gagal menolong kamu malah dia yang akan menyesal, jangan ngomong kaya gitu, kita do'akan supaya Bintang bisa selamat ya, kasihan anak kamu kalau kamu nangis terus.” Melisa mencoba menenangkan Black yang terus menangis. 

“Tante, bisa saya titip Black sebentar, saya mau beli makan buat Black dulu, dari tadi dia belum makan, kalau sudah kaya gini biasanya dia gak kepikiran mau makan, saya tadi juga sudah sempat telepon Kak Alvin, nanti dia akan datang.”

“Iya, kamu tenang saja biar saya yang jagain Black. Kamu beli makan buat kamu juga.”

“Saya sudah makan tante, saya pergi dulu.” Sandra pergi setelah mendapat anggukan dari Melisa. 

‘Black, apa saya salah jika berfikir kamu masih mencintai Bintang dengan reaksi kamu seperti ini?’ tanya Melisa dalam hati. 

Alvin juga tak kunjung sampai karena dia terjebak macet di jalan, jadi Black hanya bisa bersandar pada Melisa. 

Tak lama dokter keluar dengan expresi yang sudah sangat tak bisa dijelaskan lagi. Doni berdiri dan menghampiri dokter. “Gimana keadaan anak saya dok?”

“Keadaan anak bapak cukup parah dan sekarang kami butuh persetujuan keluarga untuk tindakan operasi,” Jawab dokter sambil menyerahkan selembar kertas yang langsung ditanda tangani dokter. 

“Lakukan yang terbaik buat anak saya dok!”

“Kita akan melakukan yang terbaik buat anak bapak, sebentar lagi kita akan memindahkan anak bapak ke ruang operasi.”

“Baik, dok.” Dokter kembali masuk dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk operasi Bintang. 

“Om, maaf,” Ucap Black setelah Doni menghampiri mereka. Melisa dan Black memang tidak ikut berdiri karena Melisa tahu kalau kaki Black sudah tidak sanggup untuk berdiri. 

“Ini bukan salah kamu, kamu tenang saja, Bintang itu kuat, dia pasti selamat, dan kamu do'akan semoga oprasi Bintang berhasil.”

“Pasti, om.”

Tak lama Bintang dipindahkan ke ruang operasi dan mereka semua ikut berjalan di belakang Bankar yang membawa Bintang. Tepat saat Black berdiri, Alvin datang dan menghampiri Black yang sudah oleng. 

“Black, lo gak apa-apa?” Tanya Alvin sambil memegangi badan Black yang sudah hampir jatuh. 

“Gue gak apa-apa, nanti lo kasih tahu Sandra kalau kita pindah ke depan ruang operasi ya.”

“Gue udah suruh Sandra pulang, dia titip makanan buat lo, di butik lagi ada pelanggan datang dan hanya Sandra yang bisa gantiin lo.”

“Ada masalah?” Mereka berbicara sambil jalan, masih dengan posisi Alvin yang memapah Black. 

“Gak ada, hanya ada pelanggan yang mau memesan gaun saja.”

Mereka sampai di depan ruang operasi dan ketegangan terjadi lagi disana, mereka menunggu setiap detik dengan perasaan yang sudah sangat gak karuan, mereka tegang dan gelisah. 

Black menyenderkan kepalanya di pundak Alvin, dia lelah dengan tangisnya, dia bingung dengan hatinya, dia juga menolak makanan yang Alvin berikan. 

“Black, makan ya! Tadi kata Dirga lo belum makan hanya makan ice cream doang, ada kejadian di resto sebelum lo makan, sekarang makan dulu ya, kasihan baby lo.” 

Black tak menjawab, matanya sudah terpejam, badannya lemas. “Black, Black bangun, lo jangan gini Black, gue mohon bangun.” Alvin menepuk pelan pipi Black yang sekarang sudah tak sadarkan diri. 

Melisa dan Doni juga ikut panik melihat Black yang sudah tak sadarkan diri. “Suster, tolong!” Panggil Doni pada seorang suster yang lewat dan setelah suster itu menoleh, melihat ada seseorang yang sedang pingsan, dia berlari mengambil bankar dan kembali ke depan ruang operasi untuk kemudian membawa Black ke ruang pemeriksaan. 

“Biar saya yang menemani Black, kalian disini saja menunggu Bintang.” Alvin pergi bersama suster tanpa ada halangan dari Melisa maupun Doni karena mereka sadar jika Alvin bukan orang yang akan mengijinkan mereka untuk ikut meskipun mereka juga ikut khawatir dengan keadaan Black. 

“Kita do'akan dari sini saja, ma. Alvin bukan orang yang bisa kita lawan.” Melisa mengangguk dan kembali fokus dengan Bintang. 

Satu jam berlalu, dua jam berlalu, tiga jam berlalu, dan akhirnya lampu ruang operasi mati yang menandakan operasi sudah selesai. Dokter keluar dengan senyum yang membuat Melisa dan Doni juga ikut sedikit lega. 

“Gimana dok?”

“Operasinya berjalan lancar, tapi untuk sekarang pasien belum sadar, tapi kondisinya sudah stabil, sebentar lagi kita akan pindahkan ke ruang rawat, silahkan kalian urus administrasinya dulu.”

“Baik, dok. Terima kasih.” Dokter mengangguk dan kembali masuk ke ruang operasi. 

“Papa urus administrasi dulu, mama tunggu disini, sebentar lagi Hexa sama Rio sampai, mereka sudah dijalan.”

“Iya, pa.” Belum sempat Doni pergi, Hexa dan Rio sudah sampai di depan ruang operasi. 

“Papa disini saja, administrasi sudah diurus sama kak Rio,” Ucap Hexa. 

“Iya, papa tenang saja, semua sudah Rio urus, nanti Bintang bisa ditempatkan di ruang VVIP.”

Doni mengangguk. “Gimana keadaan Bintang, pa?” tanya Hexa. 

“Bintang belum sadar tapi kondisinya sudah stabil dan operasinya juga berjalan lancar.”

“Syukur deh, mama tenang saja, Bintang pasti selamat,” Tenang Hexa saat melihat mamanya tampak sangat gelisah. 

“Mama bukan mikirin Bintang, mama takut sama kondisi Black, gimana keadaannya sekarang?”

“Black? Apa Black juga ikut ketabrak? Bukannya Bintang kecelakaan karena nolong Black? Bintang gagal?” Tanya Rio yang ikut panik tapi Hexa malah melihat ada hal yang Rio tutupi dibalik sorot matanya. 

“Bintang berhasil menyelamatkan Black, Black juga tadi sudah ikut mengantar Bintang kesini tapi setelah sampai di depan ruangan ini, Black pingsan dan sekarang lagi ditangani dokter juga di ruangan lain.”

“Mungkin Black syok, keadaan Black sekarang bukan keadaan dia dulu yang sangat kuat, dia sedang membawa nyawa anaknya yang ada di kandungannya, tapi Hexa yakin Black akan baik-baik saja.”

“Oh iya Luna sekarang gimana? Apa dia sudah ditangkap?” Tanya Rio mencoba mengalihkan perhatian Hexa yang menatapnya dengan tatapan curiga. 

“Gue sudah menghubungi polisi tapi sampai sekarang polisi belum bisa menemukan Luna, polisi hanya menemukan mobil yang Luna kendarai sudah berada di jurang tanpa ada Luna disana.”

“Apa Luna mau mengecoh polisi dengan menerjunkan mobilnya ke jurang agar menghapus bukti?”

“Kalau kemungkinan yang polisi fikir memang seperti itu pa, tapi Hexa merasa ini bukan hal sesimpel itu.”

Pandangan mereka semua beralih menatap Hexa yang kembali menatap serius ke arah mereka. 

“Kakek Ares?” Tanya Rio. 

“Ide Nenek Ayu yang dilaksanakan kakek Ares, disempurnakan Alvin dan dialihkan sama Dirga.”

“Dirga kembali?” Tanya Rio yang kembali memancing tatapan curiga dari Hexa. 

“Lo kenal Dirga, kak?”

Rio diam, dia bingung harus menjawab apa. Kalau dia menjawab kenal pasti akan ada banyak pertanyaan yang Hexa berikan tapi jika dia bilang tidak kenal pertanyaannya barusan menunjukkan kalau dia kenal. 

“Lo kenapa diam, kak? Lo menyembunyikan sesuatu?”

“Gue pernah kerja sama dengan Dirga dan gue mendapatkan kerja sama itu lewat Rain, dibilang kenal banget ya gak cuma gue sekedar tau karena dia client gue.”

“Yakin gak ada yang lo tutupi?”

“Gak ada, lo detective harusnya lo akan tahu kalau gue bohong atau tidak.”

‘Iya, dan gue sekarang tahu kalau lo lagi bohong,’ batin Hexa. 

BERSAMBUNG. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!