Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.
Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.
Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana berbahaya si pengamen
“Mana Yudha?” tanya Kalila begitu tiba di ruang tamu.
Tiara tampak gelisah.
“Ehm... Mas Yudha masih di kamar.”
Kalila langsung melangkah menuju pintu kamar Yudha.
“Yudha! Bangun! Kamu mau tidur sampai jam berapa?!” serunya sambil menggedor pintu.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Yudha muncul dengan rambut acak-acakan dan wajah kusut. Ia mengusap tengkuknya sambil menguap.
“Apa sih? Aku sudah bangun dari tadi, kok.”
“Kalau sudah bangun, jangan mengurung diri terus di kamar. Keluar. Auntie mau bicara.”
“Ya udah, ngomong aja.”
“Auntie juga mau ngomong sama Tiara.”
Yudha mendengus pelan. Dengan langkah malas, ia berjalan menuju ruang tamu lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Meski sudah duduk di hadapan Kalila, jemarinya tetap sibuk memainkan game di ponsel.
“Taruh handphone-nya!” tegur Kalila dengan suara tegas.
Yudha menghembuskan napas kesal. Ia menghentikan permainannya, lalu meletakkan ponsel di atas meja.
“Sebenarnya Auntie mau ngomong apa, sih?”
Kalila menatap Yudha dan Tiara bergantian. Tatapannya tajam, menyiratkan kekecewaan yang begitu dalam.
“Barusan ayah kalian cerita kalau kalian sengaja merencanakan menjebak Mbak Kinanti. Apa itu benar?”
“Kalau iya, kenapa?” sahut Yudha dingin. Tak sedikit pun rasa bersalah terlihat di wajahnya.
“Kalian berdua benar-benar nggak tahu diri!” serunya dengan nada meninggi.
Namun, reaksi kedua remaja itu justru membuatnya semakin kecewa. Yudha tetap bersandar santai di sofa. Sementara Tiara memutar bola matanya, lalu memonyongkan bibir ke kanan dan ke kiri dengan wajah penuh rasa tidak suka.
“Justru dia yang nggak tahu diri,” balas Yudha sinis. “Dia itu cuma yatim piatu nggak jelas yang tiba-tiba datang ke rumah ini buat merebut posisi Ibu.”
“Iya,” sahut Tiara cepat. “Dia pasti cuma mau hidup enak.”
Kalila memejamkan mata sejenak, berusaha meredam amarahnya.
Saat kembali membuka mata, sorotnya dipenuhi rasa kecewa.
“Mbak Kinanti menikah dengan ayah kalian bukan karena mengincar harta.
Dia hanya menjalankan wasiat terakhir almarhumah ibu kalian.”
Yudha dan Tiara tetap diam.
“Mbak Kinanti itu perempuan yang cerdas. Sebelum menikah, dia sudah punya pekerjaan yang bagus dan penghasilan sendiri.”
Kalila menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
“Dia sebenarnya bisa tetap bekerja dan menyerahkan urusan rumah kepada asisten atau perawat. Tapi demi kalian, dia memilih berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga.”
Tatapannya tak lepas dari kedua keponakannya.
“Setiap hari dia memasak untuk kalian, mencuci pakaian kalian, menyetrika baju kalian, menyiapkan semua kebutuhan kalian, bahkan memperlakukan kalian seperti anak kandungnya sendiri.”
Suara Kalila mulai bergetar menahan emosi.
“Lalu, balasan yang dia terima justru kebencian, hinaan, dan fitnah dari anak-anak yang selama ini dia sayangi.”
“Dia sendiri yang memilih pergi. Ayah juga nggak pernah menahannya,” ujar Tiara enteng.
“Lalu apa kalian tahu kenapa Mbak Kinanti memilih pergi?” Kalila menatap keduanya bergantian. “Bukan karena dia kalah. Sama sekali bukan. Dia pergi karena sadar, kalau terus bertahan di rumah ini, kalian justru akan semakin membencinya dan semakin sulit diarahkan. Dia nggak mau sesuatu yang buruk terjadi pada kalian.”
Kalila menghembuskan napas pelan sebelum melanjutkan.
“Coba pikirkan baik-baik. Apa artinya itu? Artinya, dia benar-benar menyayangi kalian.”
Namun, ucapan itu seolah hanya masuk telinga kanan lalu keluar dari telinga kiri. Wajah Yudha tetap dingin, sementara Tiara malah mendecak pelan dengan raut tak peduli.
Kesabaran Kalila pun mulai menipis.
“Baiklah. Auntie mau lihat, sampai kapan kalian bisa hidup tanpa Mbak Kinanti.”
Tiara hanya memutar bola mata dengan wajah jengkel, seolah tak menganggap ancaman itu berarti.
“Auntie pulang dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab keduanya hampir bersamaan.
Kalila melangkah keluar menuju teras. Baru saja hendak menuruni anak tangga, ia mendapati Ozi berdiri di dekat pintu. Raut wajah pria itu tampak muram.
“Jadi... Bu Keenan pergi dari rumah ini?” tanyanya.
Kalila mengernyit.
“Maaf, Mbak. Tadi saya nggak sengaja dengar obrolan kalian waktu mau kasih tahu kalau halaman belakang sudah selesai saya bersihkan.”
Kalila menghela nafas panjang.
“Iya, Bang. Mbak Kinanti memilih pergi. Sekarang dia tinggal di kamar kos lamanya bersama Daffa.”
Ozi menggeleng pelan.
“Bu Kinanti itu orang baik. Saya benar-benar nggak paham kenapa kedua anak itu selalu membencinya.”
“Saya juga ingin tahu, berapa lama mereka bisa bertahan tanpa bantuan Mbak Kinanti,” gumam Kalila sambil melirik ke arah pintu rumah yang baru saja dilewatinya.
“Oh ya, Mbak Kalila mau pulang, ya?”
“Iya.”
“Rumah Mbak di mana?”
“Di Perumahan Puri Emas.”
“Kalau begitu, bareng saya saja. Kebetulan searah.”
Kalila tersenyum tipis.
“Serius? Nggak ngerepotin nih?”
“Nggak, dong. Berat badan Mbak paling juga nggak lebih berat dari satu sak semen.” Ozi terkekeh.
“Bang Ozi tahu saja kalau berat badan saya cuma empat puluh lima kilo.”
“Ya sudah, mari.”
Tak lama kemudian, keduanya berboncengan sepeda motor meninggalkan rumah Keenan.
****
Di terminal bus yang ramai, Tyo menghampiri Ucok yang sedang sibuk memasang senar gitar.
“Bayar utang lo!” serunya sambil menepuk keras punggung Ucok.
Ucok sontak terkejut. Tangannya terpeleset hingga senar gitar yang sedang dipasangnya putus.
“Ah, sial! Putus, kan, senarnya!” gerutunya kesal.
Tyo menyeringai canggung.
“Maaf, Bro. Gue nggak tahu lo lagi benerin gitar.”
Tanpa sungkan, Tyo menjatuhkan diri duduk di samping Ucok.
“Komisi lo sudah cair, kan? Mana, bayar utang lo.”
Ucok mendecak pelan.
“Belum.”
“Ah, bohong, lo.”
“Demi apa pun, gue belum nerima duitnya. Gue sudah nagih berkali-kali, tapi susah dihubungi. Nomor gue malah diblokir.”
“Lo tahu rumahnya 'kan? Datengin saja.”
Ucok menggeleng.
“Nggak semudah itu, Bambang. Apalagi... gue gagal menjalankan tugas.”
“Gagal gimana?”
“Sebelum gue sempat beraksi, anak kecil di rumah itu keburu memergoki gue. Ya sudah, gue langsung cabut.”
Tyo mendengus.
“Pantesan aja Yudha nggak mau bayar.”
Ucok menyeringai tipis.
“Tapi gue masih punya kartu As si Yudha. Gue bakal manfaatin bocah itu untuk mendapatkan uang yang jumlahnya lebih banyak.”
“Perlu bantuan gue nggak?” tanya Tyo.
Ucok memberi isyarat agar Tyo mendekat. Setelah memastikan tak ada orang yang memperhatikan, ia membisikkan rencananya.
“Hah? Serius?” Mata Tyo membelalak.
Ucok mengangguk.
“Iya. Namanya Tiara. Cewek itu cantik banget... kayak bidadari.”
“Terus rencana lo apa?”
“Kayaknya Yudha nggak mempan kalau pakai cara halus. Jadi gue terpaksa pakai cara kasar. Gue mau lo bantu gue culik gadis itu.”
Tyo langsung menggeleng.
“Nggak! Gue nggak berani!”
“Tenang aja. Gue bakal minta tebusan yang besar ke orang tuanya Yudha. Nanti hasilnya kita bagi dua.”
Ucapan itu membuat Tyo terdiam. Sebagai tukang ojek yang penghasilannya pas-pasan, bayangan uang jutaan rupiah seketika memenuhi kepalanya. Dengan uang sebanyak itu, ia bahkan bisa membeli sepeda motor baru.
“Gimana?” desak Ucok. “Mau atau nggak?”
“Ehm... oke deh. Gue mau.”
Ucok tersenyum puas.
“Besok pagi kita mulai memantau lokasi.”
Belum sempat percakapan berlanjut, suara seorang perempuan yang berjualan di sekitar terminal memanggil.
“Bang Tyo! Ada penumpang, nih!”
“Siap!” sahut Tyo. Ia berdiri, menepuk bahu Ucok, lalu bergegas menghampiri penumpangnya.
Ucok memandangi kepergian Tyo dengan senyum tipis yang menyimpan niat buruk. Dalam benaknya, penculikan Tiara bukan sekadar cara membalas Yudha yang ingkar membayar upah. Ia juga menyimpan obsesi yang kelam terhadap gadis itu, sesuatu yang membuat rencananya menjadi jauh lebih berbahaya.
Mahesa hemmmm ada something ini