( Tahap Revisi)
Apapun yang sudah ditakdirkan untuk datang dalam hidupmu, tidak akan pernah pergi sekeras apapun hatimu membenci.
Taani tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada laki-laki pendiam, kutu buku yang menyebalkan.
laki-laki Sederhana yang selalu dibanggakan oleh Ayahnya.
Karena bagi sang Ayah, tidak ada lagi laki-laki terbaik di seluruh negeri ini selain pilihannya.
Pernikahan yang harus Taani jalani dengan terpaksa. Tanpa ada cinta dihatinya.
Bagi Rizwan, Melihat Taani tersenyum di pagi hari, sudah cukup untuk membuatnya semangat pergi bekerja.
Kemanakah bahtera rumah tangga Rizwan akan berlabuh?
Akan kah semuanya kandas begitu saja?
Karena yang sudah tertulis untukmu, tidak akan pernah ditulis untuk orang lain.
......
selamat membaca 💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzanabuq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu
Malam semakin bergerak, angin malam berhembus pelan menggoyangkan dedaunan dan bunga bunga, deru suara kendaraan masih terdengar dari ujung jalan. Kunang-kunang berterbangan, menambah suasana indah pemandangan malam.
Sudah hampir tengah malam, namun Taani belum bisa terpejam.
pikiran nya masih diliputi rasa bersalah.
Bagaimana tidak, selama beberapa hari ini, hatinya terus bergulat dengan tindakannya.
Apakah dia bahagia selama ini?.
Apakah perasannya terhadap Rizwan bisa dikatakan dengan cinta?.
Kenapa setiap kali bertemu dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu jantung Taani berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya?.
Mengapa?
Taani bukan wanita yang tidak tahu apa apa tentang perasaan.
Karena dia pernah memiliki pacar, Taani pernah jatuh cinta, jatuh, sejatuh jatuhnya.
Tapi mengapa ini lain, perasaan ini begitu berbeda, Taani merasakan kedamaian saat menatap wajah itu.
Apakah benar yang dikatakan Dini, bahwa cinta akan tumbuh seiring waktu berjalan, karena mereka telah cukup lama bersama, hidup di tempat yang sama.
"Eh, sejak kapan dia tahu aku suka banget makan bakso?" Taani mengernyit, bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa mungkin Ayah yang menceritakan semuanya?" Taani berguling, mencari posisi nyaman untuk rebahan. Lampu kamar sudah dimatikan, tersisa cahaya remang dari lampu tidur di sampingnya.
Tapi kenapa dia lucu sekali!!!
Ada apa dengan dadaku?, kenapa aku selalu terlihat malu malu setiap bertemu dengannya?!
Ya Tuhan, tidak ada yang salah kan dengan perasaan ini?
Tidak ada salahnya kan seorang istri mencintai suaminya sendiri?
Aku belum terlambat kan!?
Perasaan haru kembali menyeruak saat bayangan wajah lelah Rizwan sepulang dari bekerja berkelebat di kepalanya.
Hatinya kembali berdesir saat rentetan sikapnya dan perlakuannya selama hidup bersama pria pendiam itu.
"Apa aku terlalu berlebihan?" Taani menangkup bantal guling, mengeratkan pelukannya.
"Tapi, selama ini dia tidak pernah mempermasalahkan tentang semua sikapku!"
"Apa dia mencintaiku?" mengangkat bantal guling, menatapnya dengan lekat, seolah benda yang di dekatnya itu manusia.
Apa dia bahagia hidup dengan ku?
Bagaimana kalau selama ini pria pendiam itu menderita?
Aaaa, buang jauh jauh pertanyaan itu Taani!, saat ini yang terpenting adalah apakah dia bisa tidur dengan bintik bintik di kulitnya?
"Apa dia kesakitan?" huh, Taani menarik nafasnya gusar, sedetik kemudian bangkit dari tempat tidurnya, berjalan menuju pintu kamar, dia ingin memastikan sendiri apakah Rizwan baik baik saja.
Taani mendongakkan wajahnya, menatap ventilasi kamar Rizwan, biasanya jika lampu kamar masih menyala pertanda sang punya kamar masih terjaga.
Aku harus minta maaf karena sudah memarahinya tadi!
Tapi bagaimana cara memulainya??
Ya Tuhan, kenapa aku harus segugup ini!!
Taani mengikat rambutnya asal, berjalan menuju dapur untuk membuatkan susu, biasanya dengan minum susu sebelum tidur bisa membantu mu agar lebih cepat dan nyenyak ketika tidur.
Eh, tapi dia nggak alergi susu kan?
Kenapa merepotkan sekali!!
Dan kenapa dia harus alergi makanan paling enak di negeri ini sih!
Taani masih sibuk mengaduk susu yang sudah dilarutkan. Dia harus mulai belajar memahami Rizwan, baik dari cara hidupnya dan juga sesuatu yang di sukai dan sesuatu yang di hindari nya.
Sejurus kemudian susu yang dibuatkan nya sudah jadi, Taani menaruhnya di atas nampan kecil, kemudian membawa benda itu menuju kamar Rizwan.
Kenapa harus se gugup ini, padahal aku cuma mau minta maaf!!
TOK TOK TOK
Taani mengetuk pintu kamar Rizwan dengan tangan kirinya, sementara tangan yang satunya lagi membawa nampan berisi segelas susu.
"Kak.."
Taani kembali mengetuk pintu karena tidak ada sahutan dari dalam.
"Kak Rizwan, sudah tidur kah?" mencondongkan kepalanya ke depan kayu berbentuk segi empat itu.
Perlahan tangannya menyentuh handle pintu, "Eh, tidak dikunci?" pertanyaan yang keluar dari mulut Taani saat tangannya menekan benda yang digenggaman nya.
Taani perlahan membuka pintu kemudian melangkah masuk.
Suasana kamar lenggang, Taani mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan, mencari keberadaan pria yang sedang kesakitan itu.
Kemudian tatapan nya terhenti pada pintu kamar mandi yang perlahan terbuka. Taani buru buru menutup matanya, takut takut melihat pemandangan yang tidak pantas dilihat olehnya.
"Kak Riz, maaf aku cuma mau nganterin ini doang Kak." Mengangkat nampan yang masih ditangannya, benda itu sedikit bergetar.
"Ha? I-iya An, terimakasih." Rizwan berjalan mengambil nampan yang di sodorkan istrinya.
Dahinya berkerut, menatap Taani yang masih menutup rapat kedua matanya, "An, kenapa?" Rizwan bertanya.
"Pa- pakai baju dulu Kak!" Taani menjawab gugup, semakin memejamkan matanya erat, ketika mendengar suara Rizwan begitu jelas di telinganya.
Apa dia sudah gila, berani sekali bertelanjang di depanku!
Aku ini masih gadis polos tau!
"Maksudnya? ini saya sudah pakai baju, An!"
Eh?
Taani perlahan membuka matanya, wajahnya bersemu merah saat matanya menatap pria jangkung di hadapannya, tinggi badannya hanya sampai pundak Rizwan saja.
Aaaa malu sekali aku!!!
Taani mengira Rizwan tengah mandi dan akan keluar dalam keadaan setengah telanjang, seperti drama yang sering dilihatnya.
Ah, Taani drama terus!!
Lagipula siapa yang mau mandi tengah malam begini!
"Ma- maaf" Taani mengerjap, kemudian mengalihkan pandangannya, menatap keluar jendela.
Melihat wajah istrinya yang merah, tangan Rizwan rasanya gatal ingin mencubit hidung wanita di hadapannya itu. Tapi hanya keinginan, Rizwan belum berani melakukannya.
"Kenapa belum tidur, An?" Rizwan bertanya, mengusir pikiran nya yang selalu berkeinginan untuk menyentuh istrinya itu.
"Nggak." Taani menjawab pendek, kata kata yang sudah dirangkainya buyar, berganti dengan rasa malu yang menyeruak.
Ya Tuhan, mudah mudahan dia tidak tahu pikiran konyolku!!!
"Apa masih sakit?" Taani balik bertanya, "ada sesuatu yang, Kak Rizwan butuhkan?"
Rizwan menggeleng " ini sudah cukup, An." mengangkat gelas di tangannya, "terimakasih ya."
Taani mengangguk, kemudian melangkah menuju pintu kamar, tangannya masih terkepal menahan malu.
"An.."
"Iya?" Taani menjawab tanpa berbalik, masih berdiri membelakangi Rizwan.
"Terimakasih sudah merawat saya, maaf merepotkan, besok saya bisa kembali bekerja, An."
Taani mengangguk, buru buru meninggalkan kamar Rizwan.
Aku malu, aku maluuu!!!
Bersambung.......
sukses
semangat