Faras, seorang aktor terkenal, mendapati kabar jika dirinya adalah seorang pria penyuka sesama jenis.
Ingin menampik berita bohong tersebut dan untuk menjaga image sebagai aktor, Faras pun memaksa ART nya yang bernama Talita untuk mau menjadi pacar.
Akankah sandiwara Faras dan Talita akan berjalan mulus? Ataukah akan terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tria Sulistia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Diam
Ingin maju salah, mau mundur pun salah. Seperti itulah posisi Talita saat ini. Dia ingin maju memperjuangkan cintanya pada Faras, nampaknya hal tersebut tidak mungkin.
Statusnya sebagai ART, membuat Talita pesimis. Terlebih ada wanita lain yang lebih berkelas juga mengharapkan cinta dari Faras. Sedangkan untuk mundur, memilih pergi dan melupakan cintanya pun sulit untuk dilakukan.
Faras seolah selalu menahan Talita untuk tidak pergi darinya. Entah apa mau pria itu. Maka yang bisa dilakukan Talita hanya diam di tempat. Tidak maju juga tidak mundur.
Begitu pula pada hari ini. Hari ke dua Faras berada di rumah sakit. Dia bersikeras pada dokter untuk mengizinkan mereka berdua pulang ke rumah.
"Mana hp kamu?"
Talita sedikit tersentak dari lamunannya begitu Faras bertanya sambil menyodorkan satu tangan. Mereka masih berada di rumah sakit, masih menunggu izin dari dokter.
"Buat apa, Mas?"
"Ck, mana?" ucap Faras mengulang pertanyaannya dengan penuh penekanan.
Tak punya pilihan lain, Talita pun merogoh isi tasnya dan menyerahkan ponsel kepada Faras. Lalu Faras menyerahkan lagi kepada Priya dan memberi perintah pada laki-laki gemulai itu.
Talita mengalihkan pandangan ke jendela rumah sakit. Dia tak mau ambil pusing dengan apa yang tengah terjadi. Mau diambil lagi ponsel itu pun, Talita tidak akan protes. Dia diam begitu pula selama mereka berada di dalam perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh Novi yang berjalan tergopoh-gopoh dari arah dapur dengan masih menggunakan celemek. Setelah mendapat kabar jika Faras dan Talita akan pulang dari rumah sakit, seketika Novi berinisiatif memasak makanan yang banyak.
"Faras, Talita, makan dulu yu! Makanan di rumah sakit pasti itu itu aja kan? Mami sudah masak banyak nih spesial buat kalian."
"Aku nggak ditawarin, Tante?"
Merasa energinya terkuras mengurus administrasi rumah sakit, Priya sudah tidak kuasa menahan lapar. Bayangan akan ayam goreng juga nasi hangat yang ditambah sambel terasi sudah memenuhi benak Priya hingga tak sadar air liur menetes di ujung bibir.
"Tawarin nggak, ya?" ledek Novi berpura-pura berpikir.
"Ayo, lah, Tante. Masa tega sama aku. Aku sudah kurus kering begini, Tan," Priya merengek sambil mengusap perutnya yang buncit.
"Lah badan segede toren air dibilang kurus kering, terus badan aku sama Talita disebuah apa? Mie lidi?" seloroh Melani yang mendadak muncul lalu merangkul bahu Talita.
Gelak tawa seketika pecah di kerumunan lima orang itu. Namun, ketika melirik pada Talita, Faras menyadari jika gadis itu tertawa tidak selepas biasanya.
Benaknya menjadi bertanya-tanya ada apa gerangan. Talita tampak murung dan tidak ceria sejak masih berada di rumah sakit.
"Ya, sudah. Yuk makan deh. Tante kasihan sama Priya yang badannya kurus kering," ucap Novi dengan sedikit penekanan saat menyebutkan kurus kering sebagai sindiran pada Priya.
Di antara mereka berlima, Priya yang paling semangat makan. Dia mengambil nasi beserta lauk banyak-banyak ke atas piring hingga menggunung.
Sekali lagi Faras mencuri pandang ke arah Talita yang mana gadis itu hanya makan sangat sedikit dan tampak melamun.
"Kok makannya sedikit banget, Ta? Kenapa? Lagi nggak enak badan?"
Pertanyaan yang ingin disampaikan Faras, rupanya sudah diwakilkan oleh Novi yang juga diam-diam memperhatikan porsi makanan di piring Talita.
"Iya, Ta. Wajah kamu juga terlihat pucat," Melani yang duduk di sebelah Talita juga ikut menimpali. "Kalau kamu masih lemas, tidur aja di kamar."
Novi mengangguk setuju dengan ucapan Melani. "Iya, bener, Ta. Kamu mending istirahat di kamar. Kamu nggak perlu pikirin urusan cuci piring. Biar sama Mbak Sari aja."
Sudah beberapa bulan tinggal bersama Talita, membuat Novi hafal sifat gadis itu yang kadang sungkan jika meninggalkan piring kotor setelah makan.
"Maaf ya, Tante. Aku duluan ke kamar," kata Talita seraya mendorong kursi ke belakang dan hendak berdiri.
Novi mengangguk lalu menoleh ke arah Faras. "Far, tolong anterin Talita ke kamar! Sebagai pacar, kamu harus perhatian dong."
"Memang jarak dari sini ke kamar Talita sudah seperti jarak bumi ke bulan ya, Mi? Harus pakai dianterin segela." Faras mengambil sepotong daging lalu menguyangnya. "Nggak mau, ah."
"Nggak perlu dianter kok, Tante. Aku bisa jalan sendiri. Permisi," ucap Talita dengan penuh senyuman, sebelum akhirnya melangkah pergi.
Selepas Talita tak terlihat dari ruang makan, Novi segera melirik tajam pada Faras. "Kalian lagi kenapa sih? Lagi marahan?"
"Enggak," sahut Faras enteng.
"Terus kenapa sikap kalian dingin begitu?"
"Aku nggak bersikap dingin ke Talita, Mi. Tapi Talita yang memang sejak tadi diam seribu bahasa?" Faras meneguk air putih untuk mengakhiri acara makan bersama. Tak lupa dia mengelap mulut dengan tisu lalu menoleh pada Priya. "Priyatno, jangan lupa habis ini kamu langsung kerjakan apa yang aku perintahkan tadi!"
Mulut Priya yang sudah menganga, siap melahap sepotong paha ayam, mendadak berhenti untuk menjawab, "Iya, Mas Faras. Sabar sedikit ya. Lagi enak-enaknya makan ini."
"Kak Faras, tunggu!"
Melani berteriak, menyudahi makannya lalu segera berlari menyusul Faras yang hendak meninggalkan ruang makan. Begitu sampai di samping Faras, Melani menyambar lengan kakaknya dan menariknya menuju taman belakang.
Faras mengerutkan wajah heran. Meski dia tidak menolak Melani menyeret seenaknya saja.
"Ada apa sih, Mel?" tanya Faras menunjukan raut sedikit sebal. "Kalau mau minta uang jajan, tinggal bilang. Nggak perlu sembunyi-sembunyi begini."
"Ih, siapa juga yang mau uang jajan?" Melani memanyunkan bibirnya. Tidak terima seolah Faras menganggapnya adik yang matre.
"Oh, jadi kamu nggak mau uang?"
"Iya, mau sih. Tapi bukan itu alasan aku bawa Kakak ke sini."
Faras menyilang kan tangan di depan dada seraya menatap Melani dengan menyipitkan mata curiga.
"Terus?"
"Itu Talita kenapa? Kok jadi murung gitu?"
Faras mengangkat bahu, berlagak tak peduli. "Ya, mana aku tahu. Memang aku pacarnya."
"Kan Kak Faras memang pacarnya Talita?" Ledek Melani dengan sedikit mengulum senyum.
Faras berdecak lalu menoyor kepala Melani. "Pacar bohongan, Mel."
"Ya tetep saja pacar nanya, Kak," kata Melani balas menoyor kepala Faras. "Kakak tanya dong! Kenapa? Ada apa? Begitu sebagai pacar yang baik tuh."
Faras kembali berdecak dan menatap sinis adiknya yang senang ikut campur urusan orang. "Mulai berani ngatur-atur kamu ya? Mau kamu nggak aku kasih uang jajan?"
Berbeda dengan Talita, Melani tidak mempan jika hanya diancam tidak diberikan uang. Dia masih bisa merengek meminta sejumlah uang pada Danaldi atau Novi.
Justru saat ini Melani tersenyum memperhatikan raut muka Faras yang sedang menatap kosong ke seberang halaman.
"Sepertinya Kak Faras sudah mulai nyaman sama Talita ya?"
Tebakan Melani memang benar adanya. Namun begitu, Faras masih enggan untuk mengaku.
"Enggak juga," sahut Faras enteng.
Melani semakin melebarkan senyum dengan manik mata yang tak lepas memperhatikan sang kakak. "Buktinya Kak Faras nggak menyudahi sandiwara Kakak sama Talita. Padahal orang-orang sudah nggak gosipin Kakak homo. Bahkan sudah dilupakan orang, mungkin. Hati-hati, Kak. Nanti jadi cinta beneran lho."
Detik berikutnya, Melani melangkah melintasi halaman, meninggalkan Faras yang sendirian dengan kebingungannya.
"Masa iya sih, aku jatuh cinta ke Talita."