Gadis berusia 21 tahun itu terduduk lemas dengan luka dibeberapa bagian tubuhnya. Namun, bukannya langsung pergi kerumah sakit, ia malah memilih pergi dan menjauh saja.
Mobil mewah yang baru saja mengalami kecelakaan, tepat sepuluh kilometer dari tempatnya terduduk saat ini. Telah hangus terbakar oleh kobaran api, yang bisa saja ikut menelan dirinya, jika ia tak berusaha menyelamatkan dirinya sendiri tadi.
"Kenapa aku di lupakan? " Ujarnya dengan suara lirih, menyeka air mata yang jatuh dengan sendirinya tanpa diminta lagi. Sambil menatap sebuah mobil pengangkut barang, yang tadi pergi membawa Ibu dan juga saudaranya untuk kerumah sakit.
Siapakah, dia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopita Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Tak Terduga 2
"Katakan! Siapa pemimpin kalian!. Sebelum ada korban lebih banyak lagi" Ancam pria itu kembali, sambil menwtap tajam pada Zein.
"Saya! "
"Hah? "
Dengan lantangnya, Selena menjawab tanpa ada keraguan sama sekali, diwajahnya yang cantik itu. Sontak saja, mempu membuat para anggota, maid, bahkan Han terkejut. Namun, Han mencoba untuk tetap tenang. Tak memperlihatkan kecemasan saat ini.
"Saya, pemimpin mereka semua! " Ujar Selena dengan nada seriusnya. Tapi, tatapan Selena begitu sinis. Dan dingin sekali, sampai-sampai Han, menautkan kedua alisnya bingung. Akan, sikap Selena saat ini yang tak seperti dia biasanya.
Namun, Zein malah menarik sudut bibirnya. Merasa bangga, pada wanita yang ia nikahi itu. Zein melirik Han, yang ia paham. Kalau tangan kanannya itu sedang bingung.
"Bawa wanita itu! " Seru sang pria berbadan paling besar nan kekar tersebut. Menatap Selena dengan tatapan penuh kemurkaan nya.
Zein mulai mendekati Selena. Dengan salah satu tangannya meraih sesuatu, dari balik meja makan sana. DN bertepatan dengan itu juga. Selena, ikut aktif meraih pisau kecil. Yang ia gunakan untuk memotong sandwich nya tadi.
Kretakk!!
"Shiit,,,!? " Umpat pria berbadan besar dan kekar itu. Saat tulang lengannya, di pelintir oleh Han. Dengan hanya satu kali gerakan saja.
Zein mulai menyerang, dengan senjatanya. Begitu pula dengan kepala pelayan. Yang diberikan kode oleh Zein, untuk membawa Selena segera menyingkir dari ruangan tersebut.
"Kalian pikir, akan semudah itu. Membawanya? " Sinis Zein, dengan aura yang tak biasa.
Jika, sebelumnya ia terlihat selengehan. Dan juga penakut. Tapi, saat Selena sudah dibawa menyingkirkan diri. Kini, Zein mulai menunjukkan sisi dirinya yang lain. Bahkan, Han ikut menyeringai. Saat ia melihat pimpinannya sudah kembali dengan jiwa yang sesungguhnya. Ketika, ia melihat Zein dengan gampangnya. Menumbangkan beberapa pria, yang akan menyerang nya dengan senjata tajam.
Tak berselang lama. Para anggota Zein pun berdatangan dari berbagai arah. Dan membuat klannya terjebak sendiri. Sebab, itu semua hanya tahtik. Yang Han mainkan, untuk membuat musuhnya lengah saja. Dengan membiarkan mereka masuk kedalam mension seperti ini.
"Wah, mereka keren sekali" Puji Selena malah tampak seru sendiri, Ketika melihat semua orang sibuk membantai satu sama lainnya.
"Nonya, anda... " Kepala pelayan pun sampai bingung, dengan sikap Selena saat ini. Tapi, ia tak berani protes. Saat Selena malah berhenti di pangkal tangga mension. Menonton adegan gila, yang ada di hadapan mereka sekarang.
"Suamiku, terlihat menawan saat sedang membunuh" Pujinya malah bangga.
"Nyonya, sebaiknya anda,,, "
"Hssstttt!?. Ini masih seru, biarkan aku melihat pertunjukan akhirnya! " Potong Selena meletakkan jari manisnya, tepat didepan bibirnya.
Dahi kepala pelayan mengernyit semakin bingung. Dengan sikap dan tingkah istri majikannya tersebut. Kalau, para maid sedang ketakutan. Dan berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Sementara, Selena malah asyik tetep ingin menonton. Serta, berada di tengah-tengah mereka seperti sekarang ini.
"Sayang!. Potong tangannya! " Seru Selena dengan lantang. Sambil bersorak riang, seolah ia sedang menonton perlombaan tujuh belas agustusan saja. Layaknya di negara Konoha ini.
Han dan Zein saling tatap. Mereka ikut heran, dengan tingkah Selena saat ini. Yang tak ada takut-takutnya sama sekali.
"Tuan, Apa yang anda lakukan?. Kenapa, Selena menjadi,,, "
"Haisss, kau pikir aku tahu?. Aku juga bingung kenapa dia mendadak seperti itu? " Jawab Zein, sambil masih berkelahi dengan para klannya.
"Sebaiknya, anda temani Nyonya Selena saja. Tuan!. Biar ini, kami yang selesaikan dengan segera! " Han memberikan saran nya.
Meskipun, ia sendiri masih kebingungan akan tingkah dan sikap Selena. Tapi, Han tahu Selena tak bisa bela diri. Ataupun menggunakan senjata untuk melindungi diri.
"Ba,,, "
Brukkk! "
Sreettt!
Mata Zein dan Han mendadak membulat sempurna. Menatap kearah Selena dengan tatapan tak berkedip lagi. Di saat, Selena menancapkan pisau kecil. Tepat di urat nadi bagian leher, salah satu pria hitam. Yang mendekat dan akan menyerang nya. Bahkan, kepala pelayan sampai ternganga akan tingkah brutal majikannya saat ini.
"Selena,,, " Zein mendadak panik. Dan berlari ke arah Selena, yang mana wanita itu masih berdiri dengan tenang di tempat semula. Sambil menatap pria hitam utu, yang sudah berlumuran darah.
"Wah, kau belum mati juga"
Sreetttt!?
"Awwww,,,!? Maid yang melihat aksi gila Selena. Yang kembali menancapkan pisau kecil di tangannya. Pada satu mata pria hitam tadi. Sampai menjerit histeris melihat adegan majikan mereka saat ini.
" Stop! " Zein, mencegah gerakan tangan Selena, ketika Selena ingin mengayunkan pisaunya lagi. Kearah sebelah mata, yang sudah berlumuran darah itu.
"Hentikan, sayang!. " Zein membujuk istrinya dengan lembut. Yang ia saja tidak tahu, sama sekali. Jika, Selena akan sekejam itu pada orang yang akan menyakiti nya.
"Wah, wangi darah ini sungguh segar sekali" Ucap Selena dengan senyum sinisnya.
Kepala pelayan dan maid yang melihat itu semua. Hanya bisa bergidik ngeri. Walaupun, mereka tahu. Selama ini kerja dengan pemimpin mafia. Namun, mereka tak pernah terang-terangan membantai manusia tepat di depan mata. Seperti sekarang in. Apalagi, aksi Selena barusan. Sungguh lebih mengerikan lagi.
"Han,,,! " Zein melirik Han, dan memberikan kode nya. Membuat Han langsung mengangguk paham.
Zein pun langsung membimbing istrinya, Untuk segera naik ke atas. Menuju arah kamar mereka, menenangkan Selena. Yang bak singa kelaparan saja. Dengan sadis dan kejam sekali.