Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membawa Seorang Wanita Ke Rumah
Rani melangkah pelan mendekati ranjang. Suaminya, Arbian, tengah duduk termenung di ujung tempat tidur, wajahnya muram seolah masih menyimpan rasa kesal dari kejadian makan malam yang pada akhirnya berakhir kacau.
Tanpa ragu, Rani melingkarkan lengannya di pinggang sang suami dari depan, lalu menyandarkan kepala di dada bidang Arbian.
Jemarinya yang lentik bermain-main di dada pria itu, gerakannya manja dan penuh perhitungan.
“Pa…” bisiknya dengan nada manja, “jangan dipikirin terlalu dalam, ya. Tadi Papa kan lihat sendiri gimana angkuhnya Kinara. Dia bahkan nggak berinisiatif sedikit pun buat bujuk Renald supaya nggak ninggalin acara makan malam kita.”
Arbian hanya terdiam, tatapannya kosong ke depan. Rani tidak menyerah. Ia mengubah nada suaranya menjadi sedikit memelas, matanya menatap penuh rayuan.
“Pa, menurut Mama… sepertinya Renald itu lebih cocok sama Diana. Kayaknya Renald juga suka sama anak kita itu.”
Arbian menoleh singkat, alisnya berkerut setelah mendengar kalimat sang istri. “Maksud Mama?”
Dengan semangat, Rani menjawab, “Iya, Pa. Menurut Mama mereka berdua itu cocok Pa. Lagian juga anak kita itu cantik luar biasa. Tadi mungkin Renald bersikap dingin gitu bukan nggak tertarik sama Diana, tapi dia cuma mau menghargai keberadaan Kinara di sebelahnya.”
Arbian menghela napas. “Papa tahu Diana cantik. Tapi kalau Mama bilang Renald suka sama dia… rasanya nggak mungkin juga kan? Ingat, Diana sama Bayu sebentar lagi mau tunangan.”
Pelukan Rani terlepas. Ia beralih menggenggam telapak tangan suaminya, lalu menatapnya serius. “Makanya Mama punya rencana. Gimana kalau kita balikin Bayu ke Kinara… dan Renald kita dekatkan dengan Diana.”
Arbian menatap istrinya dalam-dalam. “Mama sadar apa yang baru saja Mama katakan?”
Rani tersenyum samar, lalu kembali membujuk dengan suara lembut penuh keyakinan. “Pa, ini semua demi kebaikan kita. Bayangin, kalau Diana menikah dengan Renald, perusahaan kita bisa melesat jauh. Bahkan mungkin setara, atau suatu hari bisa melampaui perusahaan Renald. Diana itu penurut, gampang diajak kerja sama. Dia anak kesayangan Papa. Pasti dia mau bujuk suaminya agar perusahaan kita dapat keuntungan.”
Ia menghela napas panjang, menatap Arbian dengan sorot penuh kepastian. “Tapi kalau Kinara yang menikah dengan Renald… Mama ragu. Lihat saja sikapnya tadi. Bukannya ngebujuk Renald, dia malah pergi begitu saja. Egois. Padahal ini semua demi perusahaan Papanya juga kan.”
Arbian terdiam lama, lalu akhirnya mengangguk pelan. “Kamu ada benarnya, Ma. Tapi gimana caranya kita mendekatkan mereka berdua? Kinara aja udah nggak tinggal di sini lagi.”
Senyum puas muncul di bibir Rani. “Itu gampang, Pa. Papa cukup bujuk Kinara. Katakan kalau dia harus bantu dekatkan Renald dengan Diana. Kalau dia nggak mau, Papa tinggal bilang aja mau jodohin dia lagi dengan Bayu. Papa tahu sendiri, Kinara sama Bayu kan dulunya sudah ada hubungan.”
Arbian masih ragu. “Apa dengan begitu itu dia mau, Ma?”
“Kalau masih nggak mau, bilang saja kalau Diana jatuh cinta sama Renald. Suruh Kinara mengalah. Bukannya selama ini dia memang selalu harus mengalah demi adiknya? Lagi pula, ini semua demi kebaikan Diana, anak kesayangan Papa. Masa Papa tega lihat hidup Diana nggak terjamin kedepannya?”
Rayuan Rani begitu licin, menusuk tepat ke sisi lemah Arbian: ambisinya untuk perusahaan dan cintanya pada putri bungsunya. Akhirnya, Arbian mengangguk mantap.
“Kamu benar, Ma. Besok Papa akan bicara dengan Kinara. Bayu kita kembalikan pada Kinara, dan Renald… akan kita jodohkan dengan Diana.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, seolah yang sedang dibicarakan hanyalah barang yang bisa dipindah-tangankan, bukan hati dan masa depan dua anak manusia.
Rani tersenyum puas. Dalam benaknya, ia mulai membayangkan betapa mewahnya hidup Diana jika kelak menjadi istri Renald Dirgantara. Dan tentu saja, ia—sebagai ibunda—akan kecipratan manis dari kekayaan menantunya.
Sementara itu, di dalam mobil yang melaju kencang, Kinara akhirnya membuka suara memecah keheningan. “Ren, berhentiin aku di jalan depan aja.”
Renald tetap menatap lurus ke depan, seolah tak mendengar.
“Renald! Aku bilang berhenti. Ini sudah kelewat!” Kinara mulai kesal.
Renald tersenyum tipis, lalu menjawab dengan nada singkat, “Aku minta bayaran.”
Kinara spontan menoleh, wajahnya memerah. Ia sudah bisa menebak apa maksud Renald. Ingin sekali ia membalas ucapan itu, tapi ia tahu percuma.
Renald terlalu keras kepala. Akhirnya ia memilih diam, sibuk menata hati, mencari cara agar bisa segera terbebas dari kontrak gila yang mengikatnya pada pria itu.
Mobil terus melaju, hingga akhirnya memasuki sebuah kawasan perumahan elit bergaya Eropa. Lampu-lampu jalan yang mewah dan taman tertata rapi membuat kawasan itu tampak seperti negeri dongeng.
Kinara ternganga. Astaga… harga satu rumah di sini mungkin sama dengan seumur hidup kerja. Bahkan mungkin butuh tujuh kali reinkarnasi baru bisa lunas, batinnya getir.
Lamunannya buyar ketika suara berat Renald terdengar, penuh ejekan. “Heh, iler kamu itu lap.”
Refleks Kinara mengusap bibirnya, meski jelas tidak ada apa-apa. “Ngaco! Mana ada aku ileran.”
Renald terkekeh, menoleh singkat padanya. “Habisnya dipanggil dari tadi nggak nyaut. Jadi, kamu mau di sini atau ikut aku turun?”
Dengan kesal Kinara menjawab, “Iya, iya… aku ikut turun.”
Ia keluar dari mobil, lalu mengikuti Renald yang berjalan mantap ke arah sebuah rumah megah bak istana. Matanya sibuk meneliti pilar-pilar tinggi, lampu gantung kristal yang terlihat dari jendela, dan taman luas yang dipenuhi bunga impor.
“Jadi begini ya rasanya rumah orang yang sangat-sangat kaya…” gumamnya lirih.
Belum sempat ia berlama-lama, suara riuh langkah kaki terdengar. Beberapa ART rumah tangga bergegas keluar, berbaris rapi menyambut kedatangan tuannya.
Di barisan paling depan berdiri seorang wanita paruh baya dengan sorot mata penuh wibawa—jelas kepala rumah tangga.
“Tuan sudah pulang,” ucapnya dengan senyum penuh hormat.
Renald hanya mengangguk singkat, tak banyak bicara. Namun mata wanita itu—Bu Nini—segera bergeser ke arah Kinara yang berdiri kikuk di belakang.
Seumur hidup mengabdi di rumah ini, baru kali ini ia melihat sang Tuan membawa seorang wanita untuk masuk bersama. Rasa penasaran membuncah di dadanya.
“I-i… ini siapa, Tuan?” tanyanya ragu, tapi tetap penuh sopan santun.
Kinara tersentak, wajahnya memanas. Ia sendiri tidak tahu harus dianggap apa di rumah mewah itu.
Renald menoleh sekilas pada Kinara, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. “Dia? sekretaris ku."
Ucapan singkat itu membuat Kinara hanya tersenyum tipis. Sementara para pembantu saling pandang penuh tanda tanya.
Meskipun Renald hanya memperkenalkan Kinara sebagai sekretaris, tapi tetap saja mereka sedikit terkejut saat melihat tuannya membawa seorang wanita ke rumah.