Misteri kasus orang hilang sejak tahun 1986 hingga 2017 membuat semua orang menjadi takut, bahkan pihak berwajib pun tidak bisa melakukan banyak hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HousingAmoeba45, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28: Perintah
Duduk sendirian di kursi bersama makanan yang dimakan di meja bundar kantin, Raezha hanya ditemani beberapa orang yang datang ke kantin untuk sarapan disertai suara kuali dan alat masak dari dapur. Raezha melihat ponselnya, jam menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh tujuh menit. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, melanjutkan sarapan paginya.
Usai sarapan, Raezha berjalan di koridor fasilitas BARUNO dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam dua saku celananya. Kakinya terus melangkah membawa dirinya berkeliling di dalam fasilitas bawah tanah BARUNO. Melewati setiap kelokan koridor dan tiap-tiap ruangan kamar dari personil, agen, dan peneliti BARUNO yang ada di sana, ia menuruni anak tangga masuk lebih dalam ke bagian terbawah dari fasilitas tersebut. Tempat di mana anomali paling berbahaya di kurung, seperti penjara bawah tanah dengan keamanan super ketat dan hanya peneliti dan agen BARUNO yang boleh masuk jika mereka memiliki kartu akses khusus yang biasanya dimiliki oleh peneliti dan agen dengan pangkat tinggi, setara mayor.
Raezha menghentikan langkahnya sebelum masuk lebih dalam, ia hanya memandang dari kejauhan dan dapat melihat dua personil prajurit berjaga di koridor jalan masuk ke sel anomali. Raezha tahu dirinya tidak akan diizinkan untuk lebih dalam tanpa adanya kartu akses.
Berbalik badan dan mulai melangkahkan kaki lagi, Raezha menaiki setiap anak tangga yang ia lewati tadi berjalan menjauh dari tempat sepi kayak film horor itu. Masih dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana, penjelajahannya di fasilitas tempat ia bekerja masih berlanjut. Dirinya masih penasaran dengan fasilitas BARUNO, yang ia tahu sebelumnya hanyalah secara hierarki BARUNO di atas dari Polri dan di bawah dari TNI. Namun ini adalah kali pertama baginya bisa melihat tempat kerja BARUNO dan bahkan menjadi bagian dari mereka. Meskipun dirinya masih heran mengapa dan bagaimana orang dengan nilai ijazah pas-pasan ditambah tidak spesial hampir dalam bidang apapun justru bisa bekerja untuk BARUNO bahkan melalui panggilan khusus.
Banyak pertanyaan di benak Raezha yang belum terjawab, ia cuma bisa terus berjuang mencari dan menunggu sampai jawaban itu datang untuk menjawab kegelisahannya.
Suara langkah sepatu menggema di sepanjang koridor saat ia berjalan di atas lantai keramik putih. Raezha melewati jalan empat persimpangan. Tetapi, ia melihat seseorang yang sangat familiar di jalan kiri persimpangan sedang membicarakan sesuatu.
Raezha berjalan mundur lalu mengintip dari balik dinding. Orang familiar tersebut adalah Herlambang yang sedang berbicara dengan rekannya di koridor, Raezha benar-benar penasaran mereka bahas apa, jadi ia terus mengintip meski ia tidak bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas. Raezha memperhatikan seorang pria yang sama tingginya dengan Herlambang, tetapi tubuhnya agak lebih ramping dari Herlambang. Itu adalah pria yang berbicara dengan Herlambang saat ini.
Tak lama kemudian rekan Herlambang pergi meninggalkannya sambil melambaikan tangan sebelum pergi menjauh. Perbincangan mereka selesai, rasa penasaran Raezha kini hanya berisikan dugaan kalau yang dibahas Herlambang dengan rekannya hanyalah sekadar basa-basi untuk saling menyapa, apalagi sekarang masih pagi.
Tidak ada lagi yang bisa dilihat oleh Raezha selain koridor panjang nan kosong. Raezha berdiri kemudian membalikkan badannya untuk pergi di situ, tetapi ia malah dikejutkan kehadiran Herlambang yang tiba-tiba ada di depannya tepat setelah ia membalikkan badan.
Raezha terkejut sampai jatuh terduduk melihat sosok tinggi dan besar Herlambang. “Datang dari mana?! Kok udah di belakang?!” Tanyanya dengan nada tinggi masih terkejut seperti jantungnya sudah mau copot.
“Ya dari belakang, kan di sana masih ada jalan tembusan yang mengarah ke sini.” Jawab Herlambang seolah tanpa rasa bersalah setelah membuat seseorang hampir terkena “serangan jantung” dan masih sempat tertawa pula. Herlambang mengulurkan tangannya, membantu Raezha untuk berdiri.
Menyambut uluran tangan Herlambang, Raezha berdiri dari posisi duduk. Jantungnya masih berdebar cepat, ia berusaha menenangkan diri dan menstabilkan detak jantungnya.
Raezha menggelengkan kepala, tidak menyangka dirinya akan dikejutkan dari belakang secara tak terduga. Ternyata Si Herlambang sudah berada di belakang Raezha saat ia masih memperhatikan koridor kosong setelah perginya Herlambang dan rekannya itu.
“Kamu udah tau belum dengan misi baru kita?” Tanya Herlambang mencoba mengalihkan topik perbincangan mereka ke misi baru mereka.
Raezha yang sudah sepenuhnya berdiri justru kebingungan misi baru apa yang akan mereka jalani. “Hah? Emang apa misinya?” Tanya balik Raezha kebingungan. Kemudian ia teringat untuk mengecek ponsel kerjanya. Ya, ada pesan terenkripsi terkirim ke ponsel kerja Raezha dan pesan itu berasal dari Pusat Komando BARUNO Kalimantan. Terakhir, pesan itu dikirim pada pukul tujuh lewat empat puluh lima menit pagi hari ini lima belas menit dikirim setelah Si Raezha sarapan pagi.
Hampir semua agen yang bekerja di BARUNO akan mendapatkan ponsel kerja khusus untuk membantu para agen mendapatkan informasi secara cepat, mengirim sinyal, dan hal-hal digital lain serta pesan yang dikirim langsung terenkripsi sehingga sulit diretas oleh hacker. Secara bentuk, ponsel kerja tersebut tidak jauh berbeda dengan ponsel pintar pada umumnya. Yang sangat berbeda adalah fungsi di dalamnya serta tampilannya yang dibuat sangat sederhana tanpa ada banyak desain mencolok. Utamakan fungsi, bukan gengsi.
Sementara isi pesan yang diterima Raezha melalui ponsel kerjanya adalah perintah misi atau tugas mereka selanjutnya, yakni investigasi pada lokasi tambang yang sudah ditinggalkan atau terbengkalai. “Oh…, ya…. Aku nggak ngecek kalau ada pesan dari Pusat Komando, soalnya tadi sibuk jalan-jalan keliling di sekitar sini.” Ucapnya agak merasa canggung sehabis membaca isi pesan dari ponsel kerjanya.
“Sekarang kamu udah tau, bentar lagi Nita bakal datang ke sini.” Ucap Herlambang tak mempermasalahkan Raezha yang lupa untuk mengecek perintah misi baru mereka. Lagipula mereka sudah bertemu dan hanya perlu menunggu kehadiran Nita.
Terdengar suara langkah sepatu dari kejauhan koridor, sosok wanita menggunakan seragam kerja agen BARUNO. Itu Nita. “Jadi kita mau langsung otw ke sana?” Tanya Nita seraya menghampiri Raezha dan Herlambang.
“Santai aja dulu, masih jam sembilan juga, kita ke sana pas jam sepuluh aja.” Seringainya santai sambil bersandar di dinding beton mengkilap.
“Sayang banget misi kita kali ini nggak di pantai.” Kata Raezha kecewa dengan nada pelan.
Herlambang melihat kekecewaan Raezha karena mereka tidak bisa melakukan investigasi terkait Crimson Eclipse. “Ya kalau pun misi kita ada di pantai, memangnya ada jaminan kalau mereka bakal benar-benar ada di sana?” Tanya Herlambang sinis disertai alis terangkat.
Raezha tidak bisa menolak pertanyaan sinis tersebut dan hanya dapat menerima serta menjalani misi mereka saat ini.
“Tapi semoga aja lokasi misi kita setidak-tidaknya ada petunjuk.” Harap Nita, sangat mengingikan jawaban dari sebuah misteri.
“Ya semoga aja sih.” Kata Herlambang pelan dan penuh harapan.
Herlambang melihat jam tangannya, jarum kecil pada jam tangan tersebut menunjukkan pukul Sembilan sedangkan jarum panjangnya menunjukkan menit empat puluh tiga. Ia beranjak dari sandarannya, Raezha dan Nita mengikuti Herlambang dari belakang. Mereka menuju ke mobil SUV mereka.
Sesampainya di depan mobil SUV yang masih terparkir di depan fasilitas, satu per satu mereka masuk ke dalam mobil. Posisi mereka masih sama seperti saat mereka pulang dari misi sebelumnya. Herlambang jelas duduk di depan kanan sebagai pengemudi, Raezha duduk tepat di belakang Herlambang, sedangkan Nita duduk di kursi kiri atau samping Raezha.
Mesin mobil dinyalakan, roda berputar perlahan lalu semakin cepat seiring pedal gas diinjak dan gigi diganti menyesuaikan kecepatan.
Seperti biasa, jalanan yang mereka lalui sangat menyedihkan dan penuh lubang. Paling tidak jalanan tanah yang dilalui tidak becek dan lembek akibat hujan. Bakal merepotkan kalau sampai-sampai mobil mereka terjebak di lubang atau kolam mini di jalan.
Pepohonan tinggi sudah makin jarang, seiring mereka meninggalkan fasilitas BARUNO. Jalan aspal mulai terlihat dan ban mobil mereka menginjak aspal abu-abu, perjalanan mereka menjadi lebih tenang tanpa ada banyak guncangan kayak gempa.
Dari jauh mereka bisa melihat beberapa bangunan dan rumah yang tambah banyak, mereka tiba di jalan raya, Namun, mobil mereka berhenti di depan sebuah warung kecil. Cukup rapi dan bersih untuk sebuah warung, meski isinya dipadati oleh kebutuhan sehari-hari dan jajanan.
Herlambang mematikan mesin mobil, ia melihat pantulan Raezha dan Nita melalui cermin di atas kaca depan mobil lalu menanyai mereka. “Aku mau beli air minum, kalian mau nitip nggak?” Tawarnya sambil melihat mereka melalui cermin.
“Nggak, aku bawa makanan sendiri.” Tolak Nita halus.
“Aku titip teh botol dan tiga bungkus cokelat, ini duitnya,” Raezha menerima tawaran Herlambang dan menitipkan uang lima puluh ribunya ke Herlambang.
Tangan Herlambang mengambil uang lima puluh ribu dari Raezha. “Itu doang?” Tanya Herlambang lagi.
“Itu aja.” Jawab Raezha singkat.
“Oke.” Herlambang keluar dari mobil, berjalan masuk ke dalam warung.
Raezha menoleh ke wajah Nita. “Jadi kamu bawa tas untuk bekal? Kirain cuma bawa alat-alat khusus doang.” Celetuk Raezha.
“Lagi pengen makan masakan sendiri aja sih, bosen makan makanan dari kantin.” Balas Nita dengan nada lembut.
Raezha memiringkan kepalanya dan mengernyitkan dahinya. “Bentar, jadi pas sarapan tadi kamu ada di dapur kantin?” Tanya Raezha.
“Ya aku di dapur, dan aku tau kamu lagi makan di meja pinggir samping dinding.” Kata Nita
Kepala Raezha bersandar di kepalan tangannya usai mendengar jawaban Nita. “Pantesan kamu nggak keliatan tadi pagi.” Celetuknya lagi, pertanyaannya barusan benar rupanya.
Setelah menunggu Herlambang sebentar, ia kembali ke dalam mobil bersama sekantong berisikan sebotol air mineral, sebotol teh, dan tiga bungkus cokelat di tangannya. “Nih teh botol dengan cokelat.” Ucap Herlambang memberikan titipan Raezha kepadanya. Herlambang merobek segel botol airnya lalu melepas tutup botol dan meminum air di dalamnya.
Tangan Raezha mengambil barang titipannya dari kantong plastik, Raezha secara baik hati dermawan memberikan dua bungkus cokelat ke Nita dan Herlambang. Masing-masing mendapatkan satu bungkus cokelat.
“Oh, makasih banyak.” Kata Nita dengan tulus dibarengi senyum manisnya mengambil sebungkus cokelat dari tangan Raezha, sama halnya dengan Herlambang.
Selesai dengan urusan di warung, mereka melanjutkan perjalanan menuju lokasi investigasi mereka, yakni tambang terbengkalai nan tua.