NovelToon NovelToon
Baby Berondongku

Baby Berondongku

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Romansa / Berondong / Tamat
Popularitas:195.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aisy Arbia

Abbey Florence, Senior Sekretaris di perusahaan ternama. Usianya tak lagi muda, tetapi dia fokus pada kariernya. Hingga suatu hari teman-teman Senior High School mengadakan reuni. Mereka mengejek Abbey lantaran di usia 36 tahun tak kunjung menikah.

Ejekan demi ejekan dilontarkan. Tidak hanya dari teman-teman, tetapi juga mantan kekasihnya, Thanos Shem yang sudah beristrikan seorang model.

Abbey merasa resah. Sebenarnya dia mau sekali menikah, tetapi loyalitas di perusahaan selalu dipertanyakan. Akhirnya, Abbey memutuskan untuk resign dan menjalani kehidupan barunya. Dia pun mencoba peruntungan untuk menemukan jodohnya. Namun, siapa sangka sosok Rylee Rexton mampu mengobrak-abrik jiwa raganya.

Mampukah Abbey menjalani cinta tidak biasa itu? Akankah Rylee setia mengingat perbedaan usianya jauh sekali?

Yuk, ikuti kisah wanita berumur dan berondong bertato.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisy Arbia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Bertemu Rylee

Rylee benar-benar kalut. Dia tidak bisa mengusahakan apa pun selain pasrah pada takdir. Dia lebih fokus bekerja dan membuat papanya bangga. Cuma itu tujuannya.

Dia bosan di ruangannya. Ini merupakan momen langka saat laki-laki itu menuju ke pantry. Dia lebih suka memerintah orang untuk mengantarkan secangkir kopi dengan sedikit gula. Tidak terlalu manis dan pahit.

"Tuan, mau dibuatkan apa?" tanya office boy.

"Tidak perlu. Aku ingin membuatnya sendiri." Rylee melepaskan jas dan dasinya. Tidak lupa membuka beberapa kancing bajunya sehingga terekspos tatonya.

Dia mengambil cangkir dan tatakannya. Lalu, dia segera mengambil kopi hitam dan sedikit gula dari wadah yang berbeda.

Kalau hanya menyeduh kopi, itu bukan perkara sulit. Tinggal menambahkan air dari dispenser panas kemudian mengaduknya.

Aroma kopi itu menguar ke udara. Indra penciumannya segera menghirup lalu melepaskannya. Sedikit terasa tenang sebelum dia menuju ke sofa yang ada di sana.

"Ah, hidupku seperti kopi ini! Setelah kuhabiskan airnya, tersisa ampasnya saja."

Penyesalan memang datang belakangan. Wanita yang sudah menjadi prioritas hidupnya malah akan dimiliki oleh kakaknya. Apakah itu definisi karma untuknya?

Berniat untuk menikmati kopinya yang sudah setengah dingin, rupanya Philo masuk ke ruangan itu. Tatapannya beradu dengan putranya.

"Kamu di sini rupanya. Pantas saja aku cari di ruanganmu tidak ada."

"Aku hanya sedang menikmati secangkir kopi, Pa. Aku juga tidak kabur dari tanggung jawab, bukan? Aku banyak belajar darimu, Pa. Terima kasih."

Sebenarnya ungkapan terima kasih yang ditunjukkan Rylee seperti sebuah protes. Dia merasa berat kalau menerima kenyataan seperti ini. Dia ingin berteriak lalu melakukan negosiasi untuk mendapatkan kembali haknya menikah dengan Abbey.

"Baguslah. Tunjukkan tanggung jawabmu sebagai laki-laki."

Philo menuju ke meja untuk mengambil cangkir. Dia ingin membuat kopi, tetapi bukan kopi hitam seperti putranya. Dia lebih suka white coffee dengan sedikit gula.

Setelah selesai dengan secangkir kopinya, Philo duduk di sebelah Rylee. Dia mengamati pakaiannya saat ini.

"Lain kali jangan seperti itu. Harga diri pemimpin perusahaan dipertaruhkan."

Cuma itu ucapan Philo. Dia kemudian meneguk kopinya yang masih terlihat panas. Hanya sedikit demi sedikit agar tidak membakar tenggorokannya.

Sementara Abbey baru saja sampai di kamar hotel. Dia merasa rindu pada Helen, Zaylin, dan Thanos. Mungkin lebih kepada Helen. Apa kabar suami brengseknya yang diam-diam berselingkuh dengan Anne?

Abbey tidak tahu kabar mereka. Rasanya ingin pergi ke sana, tetapi dengan siapa? Abbey butuh teman. Sebenarnya satu-satunya orang yang bisa diajak kompromi saat ini adalah Rylee. Terkesan memaksakan, tetapi itu jalan satu-satunya.

"Oke. Mari kita lakukan. Ini bukan dosa besar kalau aku menghubungi Rylee lalu memintanya untuk mengantarkan ke teman-temanku. Setidaknya kami akan saling memaafkan dalam perjalanan nanti. Itu pun kalau dia tidak membenciku dengan cincin sialan ini." Abbey mengangkat tangannya dan memperlihatkan cincin berlian bertengger di sana.

Abbey lupa. Dia merasa menyimpan nomor Rylee, tetapi mengapa di ponselnya tidak ada? Daripada berpikir panjang, Abbey memutuskan untuk menghubungi perusahaan tempat Rylee bekerja saat ini. Tidak sulit menemukan nomornya karena papa pernah bercerita padanya tentang perusahaan yang dipimpin Eric dan om Philo.

"Bisa bicara dengan Tuan Rylee?"

"Maaf, bisa perkenalkan diri Anda terlebih dahulu?"

Abbey bingung. Apakah dia akan menggunakan nama Abbey atau Flo. Sama-sama membuatnya pusing. Namun, setelah beberapa saat berpikir, dia memutuskan untuk menggunakan nama Abbey.

"Katakan Abbey mencarinya."

"Tunggu sebentar, ya. Kami akan menghubungi Tuan Rylee terlebih dahulu."

Ah, persetan dengan apa yang mereka kerjakan sekarang. Setidaknya butuh beberapa menit sampai suara laki-laki itu tersambung dengannya.

Kebetulan Rylee baru saja kembali ke ruangannya. Dia mendengar telepon berbunyi lalu segera mengangkatnya.

"Halo, Tuan. Di line satu ada Nyonya Abbey menunggu Anda. Terima kasih."

Abbey? Rylee mencubit pipinya terlebih dahulu. Seperti sebuah mimpi yang berubah menjadi nyata. Lalu, untuk apa Abbey mencarinya? Sekarang pun dia tidak peduli apa itu kekeluargaan. Penting baginya untuk merespon telepon itu dengan cepat sebelum Abbey mengakhirinya.

"Halo!" Suara berat Rylee akhirnya terdengar di telinga Abbey.

Sejenak wanita itu terdiam. Laki-laki yang dirindukannya cukup dekat dengan telinganya saat ini. Merdu mengusik ketenangan hati.

"Rylee, aku minta maaf harus menghubungimu dengan cara seperti ini. Aku ingin minta tolong padamu."

"Kenapa? Apakah aku penting bagimu?"

Terdengar sekali kalau Rylee sangat kesal. Mungkin karena pertunangan Eric dan Abbey yang dilangsungkan tanpa memandang keberadaan dirinya saat itu. Abbey terdesak. Begitu juga dengan Eric.

"Oke, aku tidak akan berbasa-basi lagi. Kamu adalah orang terpenting yang masuk ke dalam kehidupanku. Sekarang pun aku sedang mengandung anakmu. Tidak masalah kalau kamu masih marah. Hanya saja aku ingin pergi ke tempat Helen, tetapi aku butuh teman. Bisakah kamu menemaniku? Uhm, anggap saja ini adalah awal aku mengidam ingin bertemu denganmu."

Sepenting itukah Rylee bagi Abbey? Mengapa tidak mengajak Eric saja? Itu akan jauh lebih mudah karena kakaknya adalah calon suaminya.

"Tidak! Pergi saja bersama Eric!"

"Rylee, kalau kamu tidak mau datang dalam waktu 10 menit lagi di hotel X, kupastikan kamu hanya akan melihat mayatku!" Ancam Abbey kemudian memutuskan sambungan secara sepihak.

Rylee meletakkan gagang telepon. Dia memikirkan kata-kata mayat. Mungkinkah Abbey akan senekat itu? Sebenarnya ajakannya untuk bertemu teman-temannya masih wajar. Terlebih Rylee mengenal mereka.

Tanpa berpikir panjang, Rylee keluar dari ruangannya. Tidak perlu lagi meminta izin pada Philo atau siapa pun. Kalaupun dia menghilang dari muka bumi ini, siapa yang peduli?

Langkah kaki Rylee terasa berat saat sampai di sebuah hotel. Agak sedikit aneh karena yang dia tahu bahwa Abbey akan menginap di paviliun dekat rumahnya. Sekarang, mendadak berada di hotel ini. Apakah dia sedang bercanda?

"Maaf, bisa diinformasikan kepada Nona Abbey Florence bahwa ada tamu yang sedang menunggunya?"

"Tentu, Tuan. Silakan tunggu sebentar!"

Rylee berharap bahwa ucapan Abbey tidak terbukti. Kalau sampai dia benar-benar bunuh diri, bisa dipastikan kalau dia akan kehilangan semuanya. Wanita yang dicintai berikut buah cinta mereka.

Lima menit berikutnya, Abbey sudah muncul dengan penampilannya. Dia tidak membawa apa pun, tetapi langsung memeluk Rylee. Sungguh ini sikap yang sangat kurang ajar sekali. Bertunangan dengan kakaknya, tetapi masih mau dengan adiknya.

"Tolong, sedikit mundur!" ucap Rylee. Walaupun dirinya ingin melakukan hal yang sama, tetapi tidak akan dilakukan semata-mata di hadapan orang lain.

"Oh, aku minta maaf, Rylee. Kamu sudah mengerti ucapanku, bukan? Aku ingin pergi menemui teman-temanku."

"Tentu, tetapi mari kita pesan tiket pesawat terlebih dahulu. Bukan untuk malam ini. Kurasa semua penerbangan malam ini sudah penuh. Bagaimana kalau besok pagi?"

"Kalau begitu ikutlah ke kamarku!"

"Tidak! Aku akan memesan kamarku sendiri."

Rylee tidak tahan harus berada sekamar dengan Abbey. Solusinya dia hanya akan tidur di kamar lain setelah urusan tiket pesawat selesai.

1
andrana maula
Luar biasa
Adila Ahmad
bgus
Ran Aulia
Luar biasa
Meyke Joyce Rantung
gampang sekali seorang istri di negara X mengucapkan kata cerai kepada suami jika merasa jengkel atau marah kepad suaminya
Meyke Joyce Rantung
waduh...Abbey itu Flo, yang dijodohkan dgn Eric, kakakx Rylle
Bzaa
Si Van PD banget ya 😉
Bzaa
hadir aku tor...
Ainisha_Shanti
Alhamdulillah... happy ending
𝕾𝖊𝖗𝖊𝖓𝖆𝖉𝖊 𝕰𝖚𝖓𝖔𝖎𝖆
Halo pembaca setia Baby Berondongku. Author mau minta saran, dong. Kalau misalnya author bikin karya baru lagi, kira-kira mau dibuatkan apa? Semoga kakak bisa memberikan saran untuk Author yang mulai kehilangan arah ini. terima kasih 🙏🥰
𝕾𝖊𝖗𝖊𝖓𝖆𝖉𝖊 𝕰𝖚𝖓𝖔𝖎𝖆: wah, kayaknya seru ini
total 2 replies
ari sachio
semoga bayinya jd malaikat penolong keluarga.mjd pemersatu keluarga mjd penghancur kerasnya ego mereka.stlh ini smg kehidupn mreka akn lbh baik g ad acara paksa memaksa .saling menghormati d penuh kasih sayang
ari sachio
rylee mengalahlah sedikit turunkan egomu contohlah sedikit sifat kakamu yg selalu bs menyelesaikn masalah tnpa pake urat d otot klo km ign mempertahankan rumah tangga km.
ari sachio
aduhhh kapan kalian berubah sihhh....ego pada digedein.yg tua kek ank kecil yg kecil udh jd org tua tp tetep blm bs bersikap dewasa. g bs ap saling terbuka ,saling memahami,saling percaya,saling menghormati, bukanya slalu menyalahkan d memojokan.
*buat abbey klo memang g ada cinta d g bs memahami d menghormati suami lbh bk cerai.
* buat rylee berubahlah jgn slau emosi yg digedein.krn km akn rugi sendiri akn kehilangan segalany.sdh posisi km di dpn ortu km g ad nilai plusnya trus ank istri akn ikt meninggalkn km. berusahalan bersabar d ushakan setiap ad masalah bicara baik2 dg lawan bicara agr km bs menemukan solusi yg baik.
* buat para ortu.jgnlah selalu mendikte kehidupn ank2 apalagi mereka sdh pya keluarga sndiri biarkan mereka bertanggung jawab dg ms dpn mereka kalian cukup memberikan nasehat yg bijak bila mereka salah d menolong mereka bila mereka punya masalh tnpa menyalahkan, mereka.jgnlah selalu mencampuri apalag mengompori masalah mereka hingga masalah makin parah.
jujur y jika ak jadi rylee klo slalu dibanding2kan dg kakakny d dgr mertuany tdk mengharapkn dia jd mantuny tp lbh ingn kakakny yg jd mantuy jujur pasti kecewa d sakit hati.
seharusnya mertua rylee dan ortu rylee sekali2 bs mendengarkan keluhan dr rylee ap yg dia mau d inginkan bila tak sesuai baru memberi nasehat d masukan yg baik d bijak
Setiaji Muhammad
bagus banget prbinor dan pelakor unjuk taring
Setiaji Muhammad
esmosi aku baca nya jadi baper
Ainisha_Shanti
pasangan dan keluarga ego semua
Setiaji Muhammad
ih ga jelas banget sih padahel kan raile dah mau tanggung jawab yang bener dobg thor jalan ceritanya
Setiaji Muhammad
uh dag dig dug nih ternyta flo itu Abbey
Setiaji Muhammad
gasken hellen jangan kasih kendor van
Rahma
kok ada wanita seperti abbay sih thor,
Setiaji Muhammad
dasar jalang anne dan jaelangkung van
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!