Adeline Zinnia Graham, memilih kuliah di Munich demi mengikuti kekasihnya. Namun, suatu peristiwa membuat Adeline memutuskan berpisah.
Hari hari Adeline kembali diisi dengan kehadiran seorang Reyn Elden Frederick yang merupakan dosen sekaligus anak sahabat ayahnya.
Perlahan tapi pasti, benih cinta itu muncul dan pernikahan keduanya pun terjadi. Kehidupan keduanya sangat bahagia hingga dikaruniai seorang anak. Namun, kehancuran dalam kehidupan Adeline dimulai dari sana, ketika ia harus kehilangan orang yang ia sayangi dan juga kehilangan kepercayaan dirinya.
Mampukah Reyn dan Adeline mempertahankan rumah tangga mereka? atau perpisahan adalah jalan yang terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DASAR PERNIKAHAN
Adeline terus menemani Reyn di rumah sakit. Perlahan namun pasti, Reyn akhirnya pulih. Banyak waktu bersama di rumah sakit, membuat keduanya sering mengobrol dan bertukar pikiran. Mereka membicarakan semua hal, mulai dari awal pertemuan mereka, hingga masalah yang terakhir merek alami.
"Aku tak akan memaksakan padamu lagi untuk menikah, karena aku ingin kamu hanya menjadi milikku. Aku akan egois dan selalu menguntitmu ke mana pun," ucap Adeline.
"Aku akan senang sekali jika kamu melakukan itu," ucap Reyn sambil mencium bibir Adeline.
Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya Reyn dan Adeline pindah ke rumah sendiri. Mereka tak lagi bersama dengan Ethan dan Queen.
Di rumah baru mereka, Adeline menanam berbagai macam bunga. Ia merawat bunga bunga serta belajar memasak sambil menunggu kepulangan Reyn dari universitas.
Selain itu, Adeline juga belajar membuat aksesoris untuk anak anak kecil, berupa pita, gelang, cincin, kalung, dengan berbagai bentuk dan motif. Ia menjualnya secara online.
Dengan bekerja di rumah, meskipun hanya ada dirinya dan pelayan, ia merasa bahagia. Saat bekerja dulu, ia tahu bahwa sedikit banyak lingkungan yang toxic lah yang membuatnya mengambil keputusan gegabah.
Sedang bermain dengan beberapa aksesorisnya, setelah selesai menyiapkan makan siang, terdengar suara deru mobil memasuki pekarangan. Adeline langsung bangkit dari duduknya dan berdiri di dekat pintu. Ia selalu menyambut kedatangan Reyn dengan senyum di wajahnya.
"Halo, sayang. Apa yang kamu kerjakan hari ini?" tanya Reyn sambil mencium kening Adeline.
"Beberapa motif gelang, ada pesanan," jawab Adeline.
"Jangan terlalu lelah, okay."
"Hmm ... Aku tak lelah sama sekali. Oya sayang, maukah kamu menemaniku?" tanya Adeline.
"Menemanimu? Ke mana?
"Ke panti asuhan. Aku sudah membuatkan pernak pernik untuk mereka. Selain itu aku juga sudah mempersiapkan 'goodie bag' dan memesan makanan."
"Tentu saja aku akan menemanimu. Kapan?" tanya Reyn.
"Akhir minggu ini."
"Baiklah, kita akan pergi bersama."
"Terima kasih, sayang," ucap Adeline sambil memeluk suaminya.
Sejak pulang dari rumah sakit, Adeline mencurahkam segala perhatiannya pada Reyn. Mereka juga sepakat untuk mencurahkan perhatian mereka pada anak anak panti asuhan. Setidaknya itu bisa mengobati kerinduan mereka akan anak anak.
*****
Akhir minggu telah datang, Reyn dan Adeline telah bersiap dengan barang barang di dalam mobil mereka yang telah disiapkan oleh Adeline untuk diberikan pada anak anak. Untuk makanan, akan langsung dikirimkan ke lokasi.
Sesampainya di sana, Reyn dan Adeline disambut dengan hangat oleh banyak anak anak. Mereka membantu Reyn dan Adeline menurunkan barang barang, kemudian duduk bersama di taman belakang panti asuhan tersebut.
Reyn dan Adeline bergantian bercerita dan bermain tebak tebakan, serta permainan seru lainnya. Tentu saja semua itu memiliki hadiah yang membuat anak anak panti asuhan itu sangat bersemangat dan penuh dengan senyuman bahagia.
Setelah acara selesai, mereka makan bersama. Suasana makan bersama itu pun dihiasi dengan tawa. Reyn menatap Adeline yang sedang tertawa bersama beberapa anak yang mengelilinginya.
Kamu sangat cantik, sayang. Tersenyumlah terus dan berbahagia. Tuhan memang mengambil Raline dari kita, tapi ia memberikan banyak anak anak yang selalu bahagia dan menyambut kedatanganmu. - batin Reyn tersenyum.
*****
Malam semakin larut, tapi Adeline masih sibuk di depan meja kerjanya. Beberapa bola bola dari ukuran kecil hingga besar ia masukkan ke dalam sebuah tali senar. Setelahnya ia mulai mengambil penjepit alumunium dan menyelesaikan sebuah aksesoris.
"Kami belum selesai, sayang?" tanya Reyn.
"Sudah, besok tinggal kukirimkan."
"Sepertinya pesananmu sangat banyak. Sejak kamu mengatakannya padaku, kamu belum mengirimkannya."
"Ya, memang banyak sekali. Ia meminta lima ratus set karena akan menjadi souvenir pernikahan," jawab Adeline.
"Wow, kamu luar biasa, sayang," puji Reyn.
Adeline tersenyum, "kamu lebih luar biasa karena menjadi pemilik hati sang pembuat aksesoris."
Hal itu membuat Reyn tertawa dan langsung mencium bibir Adeline. Awalnya begitu lembut, tapi lama kelamaan ciuman itu menjadi semakin panas. Mereka pun berakhir di atas tempat tidur, menikmati pergulatan mereka. Saling mengerti satu sama lain dan mencintai dengan tulus menjadi dasar pernikahan mereka, selain kejujuran, kepercayaan, dan kesetiaan.
🧡 🧡 🧡