Dipaksa menikah dengan musuh bebuyutannya di kampus karena sebuah perjodohan yang dibuat oleh kedua kakek mereka yang saling bersahabat. Membuat hidup Johan dan Jihan penuh dengan warna.
Bukan warna kebahagiaan namun warna pertengkaran di setiap hari yang mereka lalui bersama. Johan yang memiliki perasaan cinta pada Jihan namun tak bisa mengekspresikannya dengan baik karena sikap kaku, dingin dan isengnya membuat ia selalu bersikap menyebalkan di mata Jihan. Jihan selalu tak pernah tak marah jika bertemu dengan Johan.
Mampukah Johan membuat Jihan jatuh cinta padanya, meski Jihan sudah terlanjur sebal dan benci pada Johan?
Lalu bagaimana kisah rumah tangga tak biasa mereka akibat perjodohan ini?
Yuk simak novel ini hingga akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pak Dosen Cemburu
Menurut. Itulah yang sekarang harus Jihan lakukan saat ini. Keduanya duduk di kursi panjang yang berada di lorong kelasnya.
"Sakit, Sha pelan-pelan."
"Ini udah pelan-pelan cumi."
"Tapi sakit banget."
"Ini mah sakitnya gak seberapa cuy. Lebih sakit lagi malam pertama. Lo bakal ngerasain bagian inti lo dikoyak-koyak sama pisang punya si Joe itu. Hahaha..." Ucap Marisa siang malam menakut-nakuti Jihan mengenai malam pertama.
"Rese lo, nakut-nakutin gue aja. Kaya lo udah pernah aja. Laku aja belum lo!" Seloroh Jihan yang malah memukul lengan Marisa.
"Hahahaha... Gue itu gak buru-buru banget nyari suami cuy. Slowly aja sih cuy. Toh manusia hidup itu sudah di pasang-pasangin. Jadi gue gak perlu takut gak dapat jodoh ya kan? Pasti gue udah ada jodohnya. Tapi sayangnya gue gak tahu siapa jodoh gue, mungkin dia bkumnlahir atau lagi bersemedi di gua si buta dari gua hantu bahahahaha..." timpal Marisa dengan pemikiran yang berujung dengan tawa lebarnya karena mengolok-olok dirinya sendiri.
"Lo tadi sebelum ke kampus, gak lupa minum obat dulu kan Sha?"
"Minum obat? Gue gak sakit Cuy. Alhamdulillah gue sehat ini." Jawab Marisa dengan ekspresi bingung.
"Iya virus sakit batuk pilek mah enggak, tapi lo kayanya kena virus rabies deh. Jadi rada-rada gitu hahaha..."timpal Jihan yang kemudian tertawa lebar. Namun tawa itu terhenti karena rasa sakit pada pipi dan juga bagian rahangnya.
"Si4lan. Bisa ae lo Cuy." Umpat Jihan pada Marisa yang sama sekali tidak tersinggung, seolah saling menghina adalah hal yang biasa dilakukan mereka , hingga mereka sama sekali tak memikirkan bagaimana perasaan perasaan satu sama lain. Tidak ada kata baper di kamus persahabatan mereka.
"Habis dianiaya kayak gini sama Siska. Lo masih berniat kan buat ikut camping? Ini kegiatan camping terakhir kita loh Jie. Karena tahun depan kita bakal sibuk sama skripsi." Tanya Marisa sembari menggenggam kedua tangan Jihan, ia seakan memohon pada Jihan untuk ikut kali ini.
"Lo pengen banget gue ikut ya?" Jihan malah balik bertanya bukannya menjawab pertanyaan Marisa.
"Banget Jie, gue pengen banget punya momen camping bareng lo. Walaupun gue bakal direpotin sama lo nantinya." Jawab Marisa yang kemudian membuat Jihan tersenyum dan kemudian mengangguk.
"Gue akan ikut camping, kalau Johan ngijinin gue. Gue juga udah bilang sama nyokap dan bokap Mereka bilang semua keputusan ada sama Johan. Karena sekarang Johan itu suami gue. Jadi lo harus bantu gue rayu Johan buat ngijinin gue pergi. Selama ini dia selalu ikut kegiatan camping kan?"
"Nggak juga Jie. Dia baru sekali ikut kegiatan camping, itu juga karena dipaksa sama ketua Hima gue. Soalnya kalau dia nggak ikut banyak mahasiswa yang gak mau ikut acara itu. Ibarat kata suami lo itu pemanis waktu itu."
"Sepopuler itu ya suami gue sampai ujungnya gue bonyok kayak gini gara-gara ketampanan dia." Jihan berkata sembari mengabsen seluruh luka diwajahnya satu persatu.
"Ya begitu deh kalau punya suami sepopuler Johan. Makanya dari itu kayaknya gua mendingan mundur deh untuk berjuang dapatin Pak Damian. Kalau dia balik suka sama gue kan repot, bisa jadi gue ngalamin kayak lo. Atau kalau gue berjodoh sama dia sampai nikah nih ,setiap hari gue bakalan nggak tenang takut dia macam-macam sama mahasiswi lain. Gue capek di rumah ngurusin anak-anaknya eh dia lagi enak-enak kan sama mahasiswinya dia di kampus. Hufftt gak kebayang menderitanya." Ucap Marisa dengan pemikirannya yang sudah terlampau jauh.
Ia membicarakan hal yang belum tentu terjadi pada dirinya. Sedangkan Jihan menanggapi pemikiran sahabatnya ini hanya dengan sedikit tersenyum dan manggut-manggut. Dia ingin tertawa lebar namun sudut bibirnya yang sedikit terluka membuatnya sulit untuk tertawa lebar seperti Marisa saat ini.
"PD banget kan gue? Hahaha.... Tertarik sama gue aja enggak tuh Dosen, jangankan tertarik lihat ke arah gue aja nggak. Gue udah mikir sampai situ njirr hahaha.... Please jangan gila dong gue..." Seloroh Marisa saat ia menertawakan dirinya sendiri.
Marisa tidak sadar jika sebenarnya Pak Damian sudah mendengar obrolan mereka sejak tadi, dan mengetahui isi hati mahasiswi yang beberapa menit yang lalu sudah membuatnya terkagum-kagum.
"Kalian tidak masuk? Kenapa masih di sini?" Tegur Pak Damian yang membuat Jihan dan Marisa terkejut, dengan kehadiran dosen tampan itu secara tiba-tiba.
"I-ini mau masuk kok Pak." Jawab Marisa tergagap.
Rasa khawatir dan takut Pak Damian mengetahui apa yang ia bicarakan dengan Jihan, kini menghantui dirinya. Ia malu jika sampai pak Damian mengetahui isi hatinya. Ia takut diolok-olok oleh Pak Damian atau Pak Damian yang akan berubah menjadi sensi karena tidak suka dengan kelancangan dirinya telah berpikir tidak tidak tentang Dosen itu yang tak akan pernah mungkin menjadi suaminya.
Jihan dan Marisa bergegas masuk ke dalam kelas, ketika pak Damian tetap berdiri menatap keduanya yang belum juga beranjak dari kursi yang mereka duduki.
Di sepanjang waktu mata kuliah Pak Damian. Marisa terus saja menundukkan pandangannya ke arah meja. Ia terus aja menutupi rasa malunya. Jika dulu Pak Damian selalu mencuri-curi kesempatan untuk memperhatikan Jihan, kini Pak Damian malah mencuri-curi kesempatan untuk memperhatikan Marisa yang terus membuatnya penasaran tentang mahasiswinya ini.
Di tengah-tengah mata kuliah Pak Damian tiba-tiba kehebohan terjadi saat Johan datang dan membuka pintu kelas dengan kasar.
Brukkk! [Suara pintu terbuka]
"Siang Pak?" Sapa Johan pada Pak Damian dengan nafas yang terengah-engah.
Rupanya suami Jihan ini habis lari maraton demi menghampiri istri tercintanya.
"Siang. Masuklah! Masi ada waktu untuk mengerjakan kuis." Jawab Pak Damian datar.
Hati Pak Damian sedikit tercubit melihat kedatangan Johan yang ia ketahui sedang izin satu minggu tidak masuk kuliah. Karena ada urusan pekerjaan di luar kota.
"Maaf Pak saya datang ke sini bukan untuk mengikuti kuis mata kuliah bapak. Saya ke sini mau jemput istri saya." Sahut Johan yang membuat nafas Pak Damian yang terasa tercekat.
Johan secara blak-blakan, mengklaim Jihan sebagai istrinya. Gerombolan mahasiswi rumpi yang duduk di kursi belakang pun langsung riuh mendengar perkataan Johan.
"Ohh... Saya kira kamu datang jauh-jauh untuk ikut kuis mata kuliah saya." Ujar Pak Damian. Ia berusaha tenang dan menutupi segala rasa yang kini ia rasakan di hatinya, meski kedua tangannya sudah mengepal sempurna.
"Jie, sudah selesai?" Tanya Johan yang sudah ada di depan meja Jihan sembari mengabsen luka lebam di wajah Jihan.
"Belum Joe. Susah." Jawab Jihan manja, ia malah menyenderkan kepalanya di salah satu tangan Johan yang menumpu di mejanya.
"Lo pasti gak belajar." Tebak Johan.
Jihan mengangguk. "Gimana mau belajar gue terus mikirin lo."
"Ya udah. Kerjain sebisa lo. Gue tunggu di depan." Ujar Johan yang kemudian menundukkan tubuhnya ke arah Pak Damian yang sedang remuk hatinya melihat keromantisan sepasang suami istri yang biasanya terlihat seperti Tom and Jerry.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Mampir ya guys...