NovelToon NovelToon
The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Poligami
Popularitas:280.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Sebutir Debu

Setiap insan yang menikah tentu ingin Bahagia. Tetapi tidak dengan Sekar. Gadis itu saat baru menikah dengan Guntur, ia sudah harus menjatuhkan air mata. Karena dijodohkan oleh guru. Tak ada niat untuk menikahi alumni pondok pesantren yang diasuh Gus Furqon tetapi mau tidak mau, Guntur menikahi gadis bernama Sekar. Pernikahan itu diawali tanpa rasa Cinta pada Sekar. Namun Sekar memberikan cinta yang begitu tulus. Hati Guntur pun mencair, ia mencintai Sekar.

Sekar mampu menjadi perempuan yang dicintai suaminya. Saat air mata baru saja mengering karena sang suami sudah mencintai dirinya, cobaan kembali datang. Mertua Sekar merasa risau karena Guntur tak kunjung memiliki anak.

“Bapak mau kamu menceraikan Sekar. Atau jika tidak, Sekar harus mengizinkan kamu menikah lagi dengan Arumi! Titik! Tidak ada tapi-tapi!” Bentak Pak Suryo pada anak Sulungnya.

Cerita ini hanya khayalan Author, jika ada kesamaan tokoh, kejadian itu hanya kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Bertemu Umi Laila

Kali Bening adalah sebuah pesantren yang cukup banyak mencetak generasi ulama yang santun dan beberapa alumni nya bahkan tidak hanya menjadi ustad atau memiliki pesantren tetapi ada yang menjadi politikus, polisi, bidan. Aku bisa tahu itu, kala terkahir aku melihat di halaman medsos Ning Ayra dan ke empat anak Kyai Rohim. Di laman itu tampak banyak para alumni Kali Bening menjadi inspirasi bagi para pencari ilmu di Kali Bening. Termasuk aku, aku yang hanya ibu rumah tangga. Jika aku tidak bisa menjadi apa-apa di masyarakat. Paling tidak aku akan menjadi istri yang baik, anak dan menantu yang baik serta warga negara indonesia yang baik.

Itu yang di tanamkan oleh Umi Laila dan para pengasuh pondok pesantren Kali Bening, untuk menjadi pribadi yang menebar manfaat dimana pun kami berada, bukan menjadi apa kami. Tapi apa manfaat yang bisa kami berikan untuk orang-orang disekitar kami atau masyarakat. Termasuk diriku, saat ini mungkin aku hanya ibu rumah tangga. Tapi aku punya banyak rahasia para ibu-ibu tetangga yang mungkin butuh tong sampah. Aku mungkin bukan kyai, tapi aku membutkikan pada diri ku sendiri bahwa ilmu yang selama ini diberikan guru ku bermanfaat untuk masa depan ku, dalam berumah tangga, bermasyarakat. Salah satu pesan Umi Siti kala aku akan boyong sesaat sebelum ijab qobul dengan mas Guntur.

“Nduk, kamu harus tetap ngaji yang walau nanti tidak mondok, dan harus mengajarkan ilmu yang telah didapat kepada lingkungan kita sekitar. Dengan cara yang santun, selalu jaga hati dari niat yang mengotori niat itu sendiri.” Kenang Ku saat kami sedang menunggu Umi Laila.

Aku dan mas Guntur dudu di ruangan dimana di gunakan untuk menyambut tamu di ndalem Umi Laila. Ah, aku bahkan deg deg kan saat ini. Karena aku jarang duduk dekat apalagi mengobrol dengan Nyai Laila atau biasa kami panggil Umi Laila. Saat sosok yang meminta aku dan mas Guntur untuk singgah ke ndalem nya, aku tak berani menatap wajah Umi Laila.

“Wah wonten dhayoh tebih rupinipun , pangapunten Umi kala-wau kedah ngater besan umi.” Ucap Umi Laila pada kami. Aku mengangguk pelan.

{Wah ada tamu jauh rupanya, maaf umi tadi harus mengantar besan Umi.}

“Nggih, mboten punapa-punapa Mi.” Jawab ku.

{Ya, tidak apa-apa Mi.}

Umi Laila menurunkan satu cangkir the dan kopi dari nampan yang di bawa santrinya, ah aku jadi ingat kisah ku dulu saat pertama menjadi abdi ndalem. Mulai dari cangkir di nampan yang akan berbunyi saat aku bawa. Belum lagi saat akan menyerahkan ke tamu, tangan ku bergetar. Sarung yang terpijak saat aku berjalan mundur. Ah kenangan lucu bersama sahabat ku Zhafirah kala itu, kini aku rindu saat-saat dimana dulu merasa begitu lelah karena mengaji dan mengabdi. Tapi nyatanya kini aku merasakan semua itu menjadi senjata andalan ku di Sumatera. Karena semua keahlian ku untuk menjadi perempuan yang cak cek, perempuan yang tegar, perempuan yang harus kuat hatinya kini betul-betul di minta untuk dibuktikan kala menjadi istri mas Guntur.

“Kados puniki Sekar, Umi pireng njenengan manggen wonten Sumatera wonten tlatah sisi kidulipun . punapa caket kalih pesantren Safna? pengasuhipun Gus Damar lan Umi Ayu.” Tanya Umi Laila pada ku.

{Begini Sekar, Umi dengar kamu tinggal di Sumatera di wilayah bagian selatannya. Apakah dekat dengan pesantren Safna? Pengasuhnya Gus Damar dan Umi Ayu,}

Aku mengangguk cepat, “Nggih Umi. Caket. Sawentawis 500 meter saking griyo.” Jawab ku Cepat.

“Masyaallah….” Ucap Umi Laila seraya mengusap lengan ku. Aku bahkan merinding, hampir menangis. Apa yang membuat Umi Laila mendekat bahkan mengusap lengan ku. Seoarng Bu Nyai yang terkenal dengan kesabaran dalam mendidik dan membimbing para santrinya dari dahulu sampai sekarang Kali Bening memiliki banyak santri.

Tampak suara tawa Kyai Rohim terdengar dari tempat ia duduk. Mas Guntur daritadi sepatah kata pun tak mengucapkan apapun, mungkin ia sama dengan diriku. Tak berani berbicara, karena kami santri walau pun kami sudah tidak lagi mondok.

“Alhamdulilah… Nak Guntur, Sekar. Umi Ayu puniku sampun kita anggep kados lare piyambak. Piyambakipun rumiyin inggih punika santri pertami kita. Sampun tresna sanget Umi Laila puniki kalih Umi Ayu, nanging ketingalipun Ayu kepanggih dereng keturutan. Lan kala-wingi saged kontak ing w@ tembungipun ing sumatera. kepanggih kalih furqon ingkang sanjang wonten santri saking sumatera, umi kajeng sanget dugi mriko lan kajeng nyukani kejutan. Nanging nggih kita atur jadwal rumiyin,Nggih?” Jelas Kyai Rohim pada kami.

{Alhamdulilah… Nak Guntur, Sekar. Umi Ayu itu sudah kami anggap seperti anak sendiri. Dia dulu adalah santri pertama kami. Sudah rindu sekali Umi Laila ini dengan Ayu, namun tampaknya ingin bertemu belum keturutan. Dan kemarin bisa kontak di W@ katanya di Sumatera. Ketemu dengan Furqon yang bilang ada santri dari Sumatera, Umi ingin sekali berkunjung ke sana dan ingin memberikan kejutan. Tapi ya kita atur jadwal dulu.}

“Menawi Umii sanjang ajeng mriko , pesantrenipun enggal ajeng ngadeg. Kuwatos Ayu ajeng ribet amargi nyiapaken sedayanipun, Umi kajeng sanget kepanggih kalih Ayu. Rencana mangke wekdal wonten jadwal dhateng Sumatera, Umi nedha rencangan sampeyan kangge pethuk Umi, dados supados Ayu mboten ngertos Umi ajeng mriko.” UCap Umi Laila.

{Kalau Umi Bilang akan kesana, pesantrennya baru mau berdiri. Khawatir Ayu akan repot karena menyiapkan semuanya, Umi Ingin sekali bertemu dengan Ayu. Rencana nanti saat ada jadwal ke Sumatera, Umi minta bantuan kalian untuk jemput Umi, jadi agar Ayu tidak tahu Umi akan kesana.}

Aku menganggukan kepala, entahlah bibir ini susah sekali mengeluarkan kalimat. Aku betul-betul tak percaya ternyata Umi Ayu yang selama ini sering mengisi majelis dan mendirikan pesantren di desa kami ternyata santri pertama Kali Bening.

‘Pantas saja, aku merasakan sosok Umi Laila bahkan seperti ada pada Umi Ayu. Tapi beliau tidak pernah mengatakan jika alumni Kali Bening.’ Batin ku.

Aku pun memberikan nomor ponsel ku kepada Umi Laila. Bahkan saat akan berpamitan kami diberikan dua plastik putih. Beliau menitipkan satu untuk Umi Ayu, dan satu untuk diriku. Dan kami sedikit tertegun kala Kyai Rohim merangkul Mas Guntur saat berada di teras ndalemnya.

“Kang, titip Ayu dan Gus Damar, Nggih.” Ucap Kyai Rohim.

Aku melihat Umi Laila menoleh kearah Kyai Rohim. Ia pun melakukan hal yang sama. Saat aku mencium punggung tangan Umi Laila untuk pamit. Satu kalimat yang sama membuat aku heran.

“Umi titip Ayu, Nggeh. Bantu dakwah Umi Ayu teng mriko….” Ucap Umi Laila menahan tangan ku dan menepuk punggung tangan ku. Sedikit terbata-bata  aku menjawab permintaan Umi Laila.

“Ing-Nggih Umi. In-Syaallah….” Jawab ku masih menunduk dan terbata-bata.

1
-Hn-
kak. apa kabar. sehat kan? sdh 1 tahun lebih tdk ada up. kami merindukan kisah kisah dr kak sebutir debu
NaNa
Luar biasa
Rita Yulianingtyas
udah hampir 1 th kok ga ada lanjutannya thor?
Komariah Komariah
assalamualaikum kak kapan lagi up nya
lama bingit/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Heart//Heart//Heart//Heart/
solihin 78
Masya Allah sebuah kesetiaan seorang suami terhadap istri nya
solihin 78
umi ayu bukan umi Siti
Arda Pratama
ini ada lanjutannya apa tidak sih thor lama amat upnya
Tantina Wyvaldia
Ma syaa Allah, ternyata bunda ada hubungan dengan Lirboyo, Assalamu'alaikum bunda
Tantina Wyvaldia
Luar biasa
Komariah Komariah
assalamualaikum

kakak ko lama banget up nya
sy tunggu udah berapa bulan ga up LG
apakah kakak sedang sibuk
hingga belum bisa up

semoga kakak sehat selalu ya

sy tunggu ya kak
terima kasih

wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Zachary
Luar biasa
Harsilia Devi
kak kok gak up" lagi😭😭😭
Komariah Komariah
assalamualaikum

kapan up lg kakak
sy kangen bacanya
kalo baca ini jadi inget diri sendiri
yg persis kaya mba Sekar
Maz Andy'ne Yulixah
MasyaAllah,selalu istiqomah dan sabar ya Mas Guntur,jadi Kades emang gak mudah😇

Lanjut njeh kak,oh iya Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin kak😊🙏
Yus Warkop
kapan up , kapan up srmoga author sehat drlalu dan kmbali update
Komariah Komariah
bagus banget
cerita kehidupan sehari-hari
memberikan contoh sabar dan penuh pengertian, keikhlasan,dan banyak lg ilmu pikih nya,
pokoknya siiiip deh kayanya
Komariah Komariah
assalamualaikum
kak lama sekali update nya yg baru
sampai jenuh menunggu
karyamu selalu di nanti di hati
War Dani
uda beda alam kaliiiii .......!
rahmilah rahmi
sekian lama aku menunggu,,kehadiran karyamu,,update lah,,update mu ku tunggu/Doubt/
Waty Umi hafidzah
Baguus 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!