NovelToon NovelToon
HOPE

HOPE

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:157.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Kecelakaan mengerikan membuat Sakalingga Ibra lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.

Sebagai terapis andal, Jenaka Tatjana yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi pria itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Lingga yang penuh amarah, perlahan-lahan pesona Jenaka mulai membuat Lingga membuka diri.

Namun, ketika Lingga menyatakan cinta, akankah Jenaka percaya itu bukan sekadar rasa terima kasih dari sang pasien kepada terapisnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Keesokan harinya, tanpa sepengrtahuan Lingga, Jenaka mulai menyiapkan keperluan untuk menangani pasien berikutnya. Ia akan memberikan waktu kepada diri sendiri untuk memulihkan diri dari rasa sakit karena harus meninggalkan Lingga, waktu untuk membiasakan diri terbangun tanpa tahu Linggaa ada di kamar sebelah. 'Aku akan mulai pasien berikutnya pada akhir Januari,' gumam Jenaka. Lingga akan mulai bekerja lagi setelah satu Januari, dan Jenaka mungkin sudah pergi sekitar saat itu.

Karena sekarang sudah menggenggam keberhasilan, Lingga memaksa diri lebih keras lagi. Jenaka menyerah untuk mengekang energi Lingga, ia memperhatikan Lingga memaksa diri berjalan sepanjang palang, bersimbah peluh, tak henti mengumpat untuk menawar rasa sakit dan rasa letihnya. Kalau Lingga sudah terlalu lelah sesi latihan, di lanjutkan denga Jenaka memijat tubuhnya yang pegal, membawanya ke kolam renang, lalu memijatnya lagi. Jenaka mengawasi menu makan Lingga lebih ketat dari sebelumnya karena saat ini pria itu sangat membutuhkan nutrisi tambahan.

Akhirnya tiba di hari Lingga meninggalkan kursi rodanya, Jenaka membawakan alat bantu berjalan, penyangga berkaki empat mirip kurungan yang menyediakan keseimbangan dan kekokohan yang Lingga butuhkan, dan kegembiraan bisa ke sana kemari dengan kemampuan sendiri begitu meluap pada diri Lingga, ia sangat senang bisa berjalan dalam gerakan lambat dan menahankan ototnya yang tegang.

Linggaa tidak pernah lagi membahas Mentari yang tiba-tiba tidak lagi datang ke rumahnya saat makan malam, ia mulai mengerti bahwa dirinya tidak perlu mencampuri urusah rumah tangga adiknya.

Rani dengan cepat menyesuaikan jenis menu dan porsi makanan yang dia masak, ia mulai masak dengan porsi yang sedikit, dan menu makan malam ringan. Rani juga menata ruang makan dengan sangat indah, di lengkapi dengan lilin dan sebotol anggur. Suasana intim itu menjadi satu tombak yang menikam jantung Jenaka, ia berpikir jika Lingga sanggup menahan rasa sakit karena terapi yang ia jalani, maka ia pun juga harus sanggup menahan luka hari karena akan berpisah dengan Lingga. Jenaka merasa waktu bergulir begitu cepat hingga rasanya ia seperti menggenggam bayangan.

Pada akhir pekan Jenaka menyetir mobil Lingga menuju kediaman Mentari untuk makan malam, ia mematuhi semua petunjuk jalan yang arahkan oleh Lingga. Lingga terlihat sangat senang karna ini adalah kali pertamanya ia berpergian setelah ia keluar dari rumah sakit karena kecelakaan yang menimpanya.

“Kapan aku bisa menyetir lagi?” tanya Lingga tiba-tiba.

“Setelah refleksmu cukup cepat. Tidak lama lagi,” janji Jenaka sambil fokus pada jalanan yang ada di hadapannya. Ia jarang menyetir jadi ia harus berkonsentrasi. Jenaka terlonjak ketika tangan Lingga memegang lututnya, lalu merayap naik di balik rok untuk menepuk pahanya.

“Minggu depan kita mulai berlatih,” ucap Lingga. “Kita akan pergi ke kebun teh, jauh dari keramaian kota.”

“Ya, baiklah,” sahut Jenaka, suaranya tegang karena tangan hangat Lingga masih berada di kakinya. Lingga menyentuhnya terus-menerus, membanjirinya dengan ciuman dan tepukan, tapi rasanya tangan Lingga lebih intim ketika Jenaka memakai rok.

Bibir Lingga tersenyum. “Aku suka short dressmu itu,” ucapnya.

Jenaka melemparkan lirikan resah ke arah Lingga, tentu saja Lingga menyukai semua short dress dan rok mini yang Jenaka pakai, dia adalah tipe pria yang mengagumi kaki wanita.

Lingga bergeser mendekat dan menunduk untuk menghirup wangi parfum yang Jenaka kenakan. Napas hangat pria itu membelai lehernya sesaat sebelum bibir Lingga menekan lekukan lembut leher Jenaka. Secara bersamaan tangannya merayap makin ke atas, dan mobil meliuk-liuk genting sebelum akhirnya Jenaka berhasil membuatnya berjalan lurus kembali.

“Lingga hentikan!” bentaknya dengan kemarahan mendidih sambil mendorong tangan Lingga meski tanpa hasil. “Kau membuatku gugup, aku tidak terlalu mahir mengemudi.”

“Kalau begitu, pegang setir dengan dua tangan,” Lingga menyarankan sambil tertawa.

“Lingga, hentikan! Aku bukan boneka yang bisa kau permainankan,” teriak Jenaka ketika jemari Lingga mulai mengelus pahanya naik-turun.

“Aku tidak sedang bermain,” gumam Lingga. Jemarinya membuat gerakan melingkar yang mengarah semakin ke atas.

Dengan putus asa Jenaka melepaskan tangan dari setir dan menggenggam pergelangan tangan Lingga dengan dua tangan. Mobil oleng ke samping, dan akhirnya Lingga menarik tangan sambil mengumpat, meraih setir dan membuat mobil kembali berjalan lurus. “Mungkin sebaiknya aku belajar menyetir sekarang saja,” ucapnya dengan kesal.

“Kau jalan kaki saja ke rumah Mentari!” teriak Jenaka dengan wajah merah padam.

Lingga menyandarkan kepalanya ke bangku dan tertawa. “Hei nona, memangnya kau tahu jalan?" ejeknya.

“Kalau begitu hentikan tanganmu, berhenti bermain-main di kakiku!!” suara Jenaka terdengar tajam.

Lingga tersenyum manis kepada Jenaka, senyum yang membuat jantung wanita itu seolah berhenti berdetak. “Nona, kau begitu menggemaskan jadi sulit rasanya untuk tidak menggagumu."

“Bagaimana kalau kau mulai bekerja lagi besok? Agar tidak menggangguku lagi.” desak Jenaka, putus asa.

“Besok weekend, tidak ada pekerjaan yang bisa kulakukan.”

“Kalau begitu aku akan memberimu pekerjaan,” gerutu Jenaka.

“ Pekerjaan apa?”

“Memunguti gigimu dari trotoar,” sahut Jenaka.

Lingga melemparkan dua tangan ke atas dengan ekspresi pura-pura takut. “Baiklah, baiklah. Aku akan bersikap manis, karena setelah memunguti gigi di trotoar kau pasti akan menyuruhku tidur tanpa memberiku makan malam. Tapi aku tidak terlalu keberatan karena kau selalu masuk untuk menyelimutiku, dan aku bisa melihatmu memakai baju tidur yang tipis dan menerawang..... Rumah Mentari ada di belokan selanjutnya." Lingga mengucapkan kalimat terakhir ketika Jenaka membuka mulut untuk mendampratnya lagi, dan ia membelokkan mobil sesuai dengan pentunjuk Lingga.

Saat Jenaka turun dari mobil dan berjalan memutar untuk membantu Lingga yang berkutat dengan alat bantu berjalan, Mentari dan Dante keluar untuk menyambut mereka.

Tangga depan pada kediaman Mentari menjadi masalah untuk Lingga, tapi Lingga berhasil mengatasinya. Mentari mengamati dengan cemas, tapi tidak berlari untuk menolong kakaknya, wanita itu tetap berdiri di sebelah Dante, memeluk lengannya. Sementara Jenaka menjaga jarak selangkah di belakang Linggaa, masih dalam jarak yang memungkinkan ia menangkap Lingga jika pria itu terhuyung. Lingga menoleh ke belakang kepadanya dan menyeringai. “Tidak sesulit itu," ucapnya menenangkan Jenaka.

Makan malam berlangsung dengan santai dan hangat, setelah itu Linggaa dan Dante beranjak pergi untuk membicarakan bisnis, sementara Jenaka membantu Mentari membersihkan meja.

Sebetulnya Mentari mempekerjakan beberapa asisten rumah tangga dan juru masak, namun ia meliburkan semua pekerjanya. “Aku ingin berdua saja di rumah bersama Dante,” ucap Mentari sambil tertawa kecil.

“Apakah misi pencairan hati Dante berjalan mulus?” tanya Jenaka.

“Kadang-kadang.” Mentari tertawa. “Kadang-kadang aku… ehm, berhasil meruntuhkan pertahanannya. Tapi setelah itu dia kembali bersikap dingin kepadaku. Tapi kurasa aku akan memenangkan perang ini, Dante sudah tahu aku tidak lagi mengunjungi kakakku setiap hari.”

“Apakah dia menanyakan itu padamu?”

“Tidak, Tapi hampir setiap siang dia meneleponku untuk menanyakan hal-hal sepele, seolah mengecek keberadaanku.”

Mereka bertukar cerita tentang kekeraskepalaan kaum pria secara umum sembari membersihkan dapur. Setelah selesai Jenaka dan Mentari keluar dari dapur, mereka melihat dua pria itu masih terlibat percakapan serius tentang perusahaan.

Keduanya berjalan menujunruang keluarga dan menyalakan televisi yang menayangkan dua tim sepak bola saling serang. Sepuluh menit kemudian dua pria itu menyudahi perbincangan pekerjaan mereka dan duduk di sebelah pasangan masing-masing.

Jenakaa menyukai sepak bola, jadi ia tidak keberatan menonton pertandingan, dan rupanya Mentari memiliki kegemaran yang sama. Mulanya Jenaka tidak menaruh perhatian pada tangan yang menyentuh bahunya dan bersandar santai sehingga jemari itu menyentuh lehernya, namun lambat laun sentuhan itu semakin mantap, bergerak-gerak, dan memberi tekanan. Tanpa Jenaka sadar ia sudah menyandarkan kepala di lekukan tangan Lingga, bersandar di dada pria itu, sementara Lingga menahannya kuat.

"Nontonlah dengan nyaman," bisik Lingga, ia memeluk Jenaka lebih erat lagi.

Kehangatan tubuh Lingga mulai membuat Jenaka santai, ia berpikir jika Lingga tidak akan berulah di rumah adiknya, jadi Jenaka bebas menikmati sensasi kehangatan, membiarkan dirinya tenggelam dalam wangi kulit Lingga yang memabukkan. Tak lama lagi ia hanya memiliki kenangan tentang Lingga untuk ia bongkar dan nikmati.

1
RithaMartinE
luar biasa
Ersa
yakin aka selesai malam ini??
Ersa
jgn terus bermonolog dg pikiran & asumsi mu sendiri Jee, bicarakan saja dg lingga
Ersa
melting aku Bang
Ersa
jian ngeyel mrengkel tenan Jenaka ki🤲🏻
Ersa
jantung & hatiku berasa gak aman🤭
Ersa
cinta at first sight 🥰
Ersa
ya Allah aku sempet feeling klo mrk menikah krn kasus rudap*ksa Aya Selama menikah cakra merudap*ksa Jenaka
Ersa
lingga jadi ahli Terapi meraba🤣
Ersa
typo ya 🤭
Ersa
Jee...Sayang... aahh meleleh..
Ersa
simbiolisme mutualisme sama2 saling menguntungkan... jenaka perlahan sembuh dari trauma dekat dg lelaki ,lingga sembuh dari kelumpuhan
Ersa
Modus🤣
Ersa
usil apa medium tuh😁
Ersa
🤣
Ersa
jenaja butuh Terapi mental & sentuhan ketulusan hati
Ersa
atokah mrk menikah krn kejadian rudap*aksa
Ersa
🥰🥰
Ersa
cakra mantan Suami Jenaka ?? rudap*ksa??..🤔
Ersa
lalu bgmn saat menikah dg cakra, apakah tdk pernah disentuh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!