Seorang mafia yang diberikan tugas oleh ayahnya untuk menculik seorang wanita kaya raya dengan alasan hutang lalu menyuruhnya untuk membunuh wanita itu, tetapi ada yang aneh dari ayahnya karena sebenarnya bukan hanya alasan hutang tetapi ada alasan yang lainnya.
**
“Kenapa kau tidak memberinya kesempatan untuk membayar semua hutang itu?” tanya Lucas karena sangat penasaran dengan alasan big bos.
Tidak terdengar apapun di seberang telpon membuat Lucas menyambung ucapannya. “Dan kenapa kau sangat menginginkan kematian wanita itu? Apa kau ada masalah yang lain?”
Big bos langsung mematikan telpon tanpa menjawab pertanyaan Lucas. “Tentu saja tidak hanya hutang.” Gumamnya sambil menyeringai.
Bagaimana kisah selanjutnya? Jangan lupa ikutin alur ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluar kamar
HAPPY READING!!!
.
.
.
Aaron (Bawahan 1) pun membuka kunci kamar belakang.
“Apa kau yakin ingin mengeluarkan wanita ini?” tanya Darel (Bawahan 2) yang masih dalam kekhawatirannya.
“Biarkan saja lah.”
Klekkk….
Aaron (Bawahan 1) membuka pintu itu, terlihat Clara sedang berdiri tepat di depan sana dengan wajah kesalnya.
Darel (Bawahan 2) mengamati wajah Clara. “Kenapa kau menatap kami seperti itu?”
Clara membuang nafasnya dengan kasar. “Kenapa kalian baru membuka pintunya?” kesalnya. “Kalian pikir tidak capek apa berteriak-teriak.”
Aaron (Bawahan 1) sesaat menoleh Darel (Bawahan) sambil berdehem. “Yang menyuruh mu berteriak siapa?” menaikkan alisnya.
Clara menggelengkan kepala. “Tidak ada, tapi gara-gara kalian aku berteriak.” Tidak mau kalah dengan kedua bawahan Lucas.
“Kenapa kau jadi menyalahkan kami?” Darel (Bawahan 2) dibuat kesal oleh Clara.
“Coba tadi kalian langsung membuka kuncinya, aku tidak mungkin berteriak-teriak.” Menghela nafas. “Kalian juga dari awal pasti mendengar ku berteriak tapi berpura-pura tidak mendengar, ya kan?”
Aaron (Bawahan 1) mendekati Clara. “Memangnya kau siapa jadi menyuruh kami?”
“Penjaga ku.” Tersenyum manis.
“K-kau….” Kedua bawahan mengepalkan satu tangan mereka dengan wajah yang semakin kesal.
“Kenapa kau ingin keluar?” tanya Darel (Bawahan 2).
“Emmmm…. Aku sangat bosan berada di dalam kamar.”
Aaron (Bawahan 1) bingung. “Lalu?”
“Mau pergi kemana kau?” tanya Darel (Bawahan 2) lagi. “Apa kau ingin keluar?” sambungnya.
Clara menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak tidak, aku tidak pergi kemana-mana.” Bantahnya. “Aku hanya ingin menghirup udara di sore hari untuk menghilangkan rasa bosan ku.” Jelasnya. “Apa boleh aku….”
“Bukankah kau sedang sakit? Kenapa kau malah ingin keluar?” Aaron (Bawahan 1) heran dengan Clara karena memang terlihat dari wajahnya masih pucat dan dokter juga menyuruhnya untuk banyak-banyak beristirahat.
“Sungguh aku sangat sangat bosan.”
“Istirahat saja di dalam kamar, kau harus beristirahat.” Sahut Darel (Bawahan 2).
“Boleh ya.” Nyengir. “Aku juga sudah sembuh.”
“Tapi wajah kau masih….”
Clara memutar-mutar badannya didepan kedua bawahan sambil tersenyum. “Lihatlah aku sudah sembuh.”
Aaron (Bawahan 1) memegang kedua bahu Clara agar berhenti berputar. “Apa yang sedang kau lakukan?”
Clara memasang wajah cemberut. “Agar kalian percaya padaku.”
“Tapi…” Ucap Darel (Bawahan 2) terpotong.
Clara mengangkat tangan kanannya lalu menunjukkan jari yang berbentuk V. “Aku hanya sebentar, aku tidak berbohong kepada kalian.” Tersenyum.
“Terserah kau saja lah mau kemana.” Aaron (Bawahan 1) pasrah. “Yang pergi kau ingat! Jangan keluar dari mansion ini.” Tegasnya.
Darel (Bawahan 2) yang mendengar itu langsung menyenggol lengan Aaron (Bawahan 1). “Jangan mencari mati kau, kalau mau mati sendiri saja jangan mengajak ku.” Bisiknya.
“Semoga saja mereka mengizinkan ku, sungguh membosankan jika harus di dalam kamar ini terus-menerus.” Batin Clara.
“Siapa tahu setelah ini dia tidak sakit jadi tidak merepotkan bos lagi.”
Darel (Bawahan 2) terheran-heran dengan Aaron (Bawahan 1). “Apa hubungannya?” bingung.
“Ku rasa tidak ada.” Nyengir. “Aku hanya menebak.”
Darel (Bawahan 2) menatap Clara yang sedang menunduk. “Oke, pastikan kau kembali ke kamar ini sebelum bos Lucas datang.”
Clara yang mendengar itu langsung menatap mereka lalu membungkukkan setengah badannya. “Terima kasih, kalian memang terbaik.” Ingin melangkahkan kaki.
Aaron (Bawahan 1) menahan tangan Clara. “Diluar cuacanya sangat mendung dan juga dingin.” Baru ingat diluar sedang mendung.
“Rintikan hujan juga mulai turun, nanti kau tambah sakit itu akan merepotkan bos Lucas.” Ucap Darel (Bawahan 2).
“Aku sudah tidak kenapa-kenapa, kalian jangan mengkhawatirkan ku.”
“Tunggu sebentar.” Aaron (Bawahan 1) berjalan masuk ke dalam kamar menuju lemari.
...Bersambung.......
Jangan lupa dukung Karya ini agar Author tidak malas melanjutkan ceritanya:)