Andi dan Intan adalah dua kakak beradik yang terlahir dari keluarga sederhana. Andi umur 5 tahun dan Intan adiknya umur 3 tahun. Bapaknya meninggal karena serangan jantung, sedangkan mamaknya menikah lagi dengan seorang pria duda.
Mereka (Andi dan Intan) harus berjuang sendiri tanpa kedua orang tua, hingga menjadi pengemis dan pengamen untuk bertahan hidup. Akan tetapi, Andi dan Intan berpisah karena suatu kecelakaan di sebuah lampu merah.
Bagaimana kisah selanjutnya tentang kedua kakak beradik ini? Ikuti kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tampan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28: Berkunjung Ke Panti Asuhan
Seorang pria yang sudah beristri dan sudah beberapa tahun menikah tetapi belum dikaruniai anak pernah bermimpi dan di dalam mimpinya ada seorang pria tua berkata, "Bagaimana kalian menjadi orang tua sedangkan ada anak yang butuh perhatian, bantuan, dan kasih sayang orang tua tidak pernah kalian kunjungi? Juga, kamu tidak pernah mengunjungi orangtuamu!"
Pria itu langsung teringat dengan "Panti Asuhan", lalu merembukkan kepada istrinya.
"Ma, sepertinya kita harus ke panti asuhan berkunjung, setelah itu baru ke tempat orangtuaku. Memang, sudah hampir 6 tahun semenjak kita suami-istri belum pernah pulang ke tempat orangtuaku," kata pria itu kepada istrinya.
"Padahal aku ingin buat acara dan mengundang teman-teman kerjaku untuk makan bersama di rumah ini, Pa," kata istrinya.
"Sudahlah Ma, yang lebih membutuhkan dulu kita perhatikan. Teman-temanmu kan sudah bekerja bahkan kehidupan mereka sudah terbilang layak, nanti kalau ada rezeki lagi bolehlah kita undang teman-temanmu," kata pria itu.
Hati istrinya tertegun karena suaminya (pria itu) bisa tiba-tiba teringat dengan panti asuhan.
"Iya, Pa," jawab istrinya.
"Ya sudah, ayo bergegas," kata pria itu. Mereka pun bergegas dan pria itu mengeluarkan motor yang masih terparkir dalam rumah.
Setelah istrinya naik, pria itu menghidupkan motor lalu melajukannya. Ya, tentunya tidak lupa memakai helm demi keselamatan.
Dalam perjalanan, mereka sambil mencari panti asuhan dengan menoleh kiri dan kanan. Kemudian, pria itu membelokkan stang motornya ke sebuah toko penjual sembako (grosir/kelontong). Mereka mampir untuk membeli, beberapa: goni beras, mie instan, telur, minyak, gula putih, dan jajanan.
"Pak, dimana ada panti asuhan ya?" tanya pria itu kepada pemilik toko.
"Oh, di depan itu ada Pak. Tidak berapa jauh lagi dari sini," jawab pemilik toko sambil menunjuk.
"Terima kasih, Pak," balas pria itu.
Setelah membayar, pria itu menyusun sembako di depan motor yang dibantu pemilik toko dan sebagian dipangku dan ditenteng istrinya, lalu melanjutkan perjalanan.
Hanya beberapa menit perjalanan dari toko, pria itu melihat sebuah pamflet yang bertuliskan "Panti Asuhan Kasih Bunda". Mereka pun mampir ke panti asuhan tersebut.
Baru mereka memasuki halaman panti asuhan, salah seorang anak yang bermain di halaman berlari menuju ruangan.
"Bunda, ada tamu datang!" kata anak itu sambil berteriak.
Semua anak-anak di panti asuhan termasuk Andi dan Indah langsung datang menghampiri, lalu memeluk pria itu dan istrinya yang sudah turun dari motor.
"Anak-anak, bantu Bapaknya dan Ibunya mengangkat! perintah Bunda Risma yang sudah berdiri di teras bersama Bunda Rita dan Bunda Astri menyambut. Anak-anak pun membantu membawa sembako yang dibawa pria itu bersama istrinya ke dalam ruangan.
Pria itu tertegun dan meneteskan air mata karena anak-anak panti asuhan langsung memeluknya dan melihat mereka masih kecil-kecil. Ya, walaupun ada yang besar seperti Pina.
Pria itu dan istrinya melangkah menuju pintu masuk.
"Selamat datang Pak, Bu, silahkan masuk," sambut Bunda Risma sambil menyalam dan tersenyum.
"Silahkan duduk Pak, Bu," kata Bunda Risma setelah tiba di ruang tamu. Mereka pun duduk di kursi.
"Anak-anak, kumpul yo," panggil Bunda Risma kemudian. Anak-anak pun berdatangan satu per satu dan duduk di lantai yang sudah terbentang tikar. Andi dan Indah duduk bersama dan paling depan.
**
Bunda Astri pergi ke dapur.
"Bi, tolong buatkan minum dan antar ke ruang tamu ya," kata Bunda Astri kepada PRT setelah tiba di dapur.
"Baik, Bun," jawab PRT. Bunda Astri kembali keruang tamu.
**
"Pak, Bu, apa yang dapat kami bantu?" tanya Bunda Risma kepada pria itu dan istrinya.
"Begini Bu, kami sudah berapa tahun menikah tetapi hingga saat ini belum dikaruniai anak. Jadi, kedatangan kami kemari untuk meminta doa Ibu dan anak-anak agar kami Diberi anak. Seperti itulah kira-kira, Bu," jawab pria itu.
"Baiklah Pak, Bu," balas Bunda Risma.
"Anak-anak, kita berdoa ya, agar Bapaknya dan Ibunya diberi Tuhan dedek (anak)," kata Bunda Risma kemudian.
"Iya, Bundaaa....," jawab anak-anak serentak. Mereka pun berdoa bersama yang dipimpin oleh Bunda Risma.
Di saat sedang berdoa, pria itu meneteskan air mata karena mendengar begitu tulusnya anak-anak mendoakan. Dia sesekali menghapus air matanya.
Tidak lama kemudian, kata amin pun terdengar. Semua anak-anak membuka mata.
Pria itu dan istrinya, Bunda Risma, Bunda Rita, dan Bunda Astri lanjut ngobrol-ngobrol.
**
Kemudian, Bi PRT datang dari dapur membawa minuman.
"Pak, Bu, Bun, silahkan diminum," kata Bi PRT setelah meletakkan minuman di atas meja lalu kembali ke dapur.
**
"Silahkan diminum Pak, Bu," kata Bunda Risma menawari.
"Iya, Bu," jawab pria itu dan istrinya.
"Umur-umur berapa tahunlah adik-adik ini, Bu?" tanya pria itu.
"Oh, yang itu umur 12 tahun (Pina)....yang itu umur 5 tahun (Andi), dan yang itu umur 3 tahun (Indah) juga yang paling kecil Pak," jawab Bunda Risma sambil menunjuk setiap anak-anak.
"Oooo," balas pria itu sambil mengangguk. Pria itu menatap wajah anak-anak.
Setelah ngobrol panjang lebar, pria itu melihat Jam yang menempel dipergelangan tangannya.
"Bu, kami permisi dululah Bu," kata pria itu.
"Oh, silahkan Pak," jawab Bunda Risma.
Pria itu beranjak dari tempat duduknya, lalu mengambil sejumlah uang dari dompetnya dan membagikan kepada setiap anak-anak.
"Nah, ini untuk jajan kalian. Jangan nakal, rajin sekolah, dan rajin belajar ya," kata pria itu sambil berpesan. Anak-anak pun menerimanya dengan senang sambil mengucapkan terima kasih dan menyalam.
Lalu, pria itu lanjut menyalam Bunda Risma yang sudah berdiri sambil memberikan sebuah amplop yang sudah dipersiapkan dari rumah.
"Apa ini, Pak? Tidak usah, Pak!" tolak Bunda Risma.
"Bu, kami ikhlas kok. Jangan dilihat besar atau kecil isinya ya Bu, tetapi lihatlah ketulusan kami datang mengunjungi adik-adik ini dan Ibu sekalian," kata pria itu. Bunda Risma pun menerimanya.
"Terima kasih ya, Pak. Jangan segan-segan datang kemari ya Pak, Bu," kata Bunda Risma sambil tersenyum.
"Baik, Bu," jawab pria itu. Dia dan istrinya kemudian melanjutkan menyalam Bunda Rita dan Bunda Astri yang sudah berdiri juga. Kemudian, mereka termasuk semua anak-anak melangkah bersama menuju teras.
Pria itu dan istrinya tetap melangkah menuju motornya yang terparkir. Mereka pun naik dan menghidupkan motor.
"Hati-hati di jalan Pak, Bu, semoga sampai ditujuan dengan selamat," kata Bunda Risma.
Pria itu melajukan motornya dan istrinya yang duduk di belakang melambaikan tangan. Bunda Risma, Bunda Rita, Bunda Astri, dan semua anak-anak melambaikan tangan juga.
BERSAMBUNG..