Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.
Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.
Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.
"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.
Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sambutan yang Dingin, Tatapan yang Salah, dan Senyum yang Menyakitkan
Hari Senin pagi di Sukaasih dimulai dengan langit yang abu-abu terang, menyisakan sisa-sisa embun dingin yang menempel di teras ruko.
Arkan sudah berdiri di depan kantor garasinya sejak pukul tujuh pagi. Dia berpura-pura sibuk mengelap kaca spion pikap hitamnya yang sebenarnya sudah sangat bersih. Namun, matanya berkali-kali melirik ke arah jalan raya, menunggu sebuah taksi atau kendaraan umum yang biasanya membawa Ghea pulang.
Dada Arkan bergemuruh kencang. Ada debaran konyol yang tidak bisa ia kendalikan sejak semalam. Setelah seminggu penuh disiksa oleh rasa sepi dan cemburu yang membakar, hari ini Ghea akhirnya kembali.
Arkan meraba saku celananya, memastikan tangannya tidak gemetar. Di dalam kepalanya, dia sudah merapikan barisan kalimat ejekan yang akan dia lontarkan begitu melihat wajah judes itu turun dari mobil.
“Heh, manja. Akhirnya lo inget jalan pulang juga. Kirain udah lupa bau oli ruko ini karena keseringan tidur di apartemen mewah Kirana.”
Arkan tersenyum tipis, membayangkan bagaimana Ghea akan langsung melotot galak, mencibir kesal, lalu membalas memaki dirinya dengan sebutan "tiang listrik sombong". Saling lempar ejekan itu adalah satu-satunya cara bagi Arkan untuk menyembuhkan rasa rindunya tanpa harus terlihat lemah.
Namun, deru mesin mobil yang teramat halus mendadak memecah sunyinya pagi di halaman ruko.
Senyum tipis di wajah Arkan seketika membeku.
Bukan taksi kuning yang berisik, melainkan sedan hitam metalik mewah milik Rendra yang perlahan berbelok masuk dan berhenti dengan sangat mulus tepat di depan teras Kopi Karsa.
Pintu kemudi terbuka, menampilkan sosok Rendra yang turun dengan setelan kasual rajut hangat berwarna abu-abu gelap yang membuatnya terlihat sangat matang dan menawan. Rendra berjalan memutari kap mobil dengan langkah tegap, lalu membukakan pintu penumpang depan untuk Ghea dengan gerakan yang teramat sopan dan terlatih.
Ghea turun dari mobil dengan wajah yang tampak lelah namun cantik dalam balutan turtleneck rajut tipis berwarna krem.
Saat Ghea berdiri di samping mobil, Rendra tidak langsung melepaskannya. Pria dewasa itu berbalik ke arah kursi belakang, lalu mengeluarkan sebuah boks kayu berukir indah—kotak berisi mesin espresso manual kuningan antik yang sangat berharga—dan menyerahkannya ke tangan Ghea dengan sangat hati-hati.
Rendra menatap wajah Ghea dengan tatapan mata yang teramat teduh dan penuh kasih sayang. Dia mengulurkan tangannya, merapikan kerah baju rajut Ghea yang sedikit terlipat karena embun pagi Sukaasih yang dingin, lalu mengusap puncak kepala Ghea dengan gerakan yang sangat lembut, lama, dan intim.
Ghea tidak menghindar. Dia mendongak, lalu memberikan sebuah senyuman yang teramat manis dan hangat kepada Rendra—sebuah senyuman penuh rasa terima kasih yang mendalam atas segala kebaikan pria itu selama di Kirana.
Dari seberang pagar pembatas kayu yang rendah, Arkan menyaksikan seluruh adegan itu tanpa berkedip.
Dada Arkan mendadak terasa seperti dihantam oleh godam besi tak kasat mata hingga paru-parunya terasa sangat perih dan sulit untuk bernapas. Seluruh barisan kalimat ejekan lucu yang sudah ia susun rapi di kepalanya sejak subuh tadi mendadak runtuh, menguap menjadi abu kepahitan yang teramat menyesakkan.
Melihat bagaimana tangan Rendra mengusap kepala Ghea dengan begitu mesra, dan bagaimana Ghea membalasnya dengan senyuman termanis yang pernah ia miliki, membuat seluruh rasa cemburu, kecewa, dan tidak berdaya kembali berkobar membakar habis seluruh harga diri Arkan sebagai laki-laki.
Gue nungguin lo seminggu penuh kayak orang bodoh, tapi lo pulang dianterin sambil pamer kemesraan di depan mata gue, batin Arkan teramat perih, rahangnya mengeras kencang hingga urat di lehernya menegang hebat.
Rendra melambaikan tangannya ramah sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam sedan hitamnya dan melaju pergi meninggalkan halaman ruko.
Setelah mobil Rendra menghilang di balik belokan jalan, keheningan di halaman ruko Sukaasih terasa jauh lebih pekat dan dingin.
Ghea menghela napas panjang, memeluk kotak kayu antik dari Rendra erat-erat, lalu berbalik untuk berjalan menuju pintu kafenya. Namun, langkah kakinya langsung terhenti kaku ketika matanya menangkap sosok tinggi tegap yang berdiri diam di depan kantor garasi sebelah.
Mata bulat Ghea melebar sesaat. Jantungnya berdegup sangat kencang. Rasa rindu yang luar biasa besar yang selama sebulan ini dia kurung rapat-rapat di Kirana mendadak mendesak ingin keluar saat melihat wajah kaku Arkan kembali berdiri di hadapannya.
Namun, binar bahagia di mata Ghea langsung meredup ketika melihat tatapan mata Arkan.
Mata hitam tajam milik Arkan menatapnya dengan pandangan yang teramat dingin, menusuk, dan dipenuhi oleh kilat kemarahan yang sangat asing di mata Ghea. Tidak ada binar jahil, tidak ada senyum sombong yang biasanya melengkung di bibir cowok itu.
Arkan berjalan mendekati pagar pembatas kayu yang rendah dengan langkah kaku. Tangannya mengepal sangat kuat di dalam saku celana jinsnya.
"Gaya lo emang bener-bener makin elite ya setelah sebulan di kota orang," panggil Arkan dengan suara seraknya yang terdengar sangat dingin dan datar, memotong keheningan di antara mereka.
Ghea tertegun. Gengsi Solaria-nya yang sempat melunak mendadak langsung berontak naik mendengar nada bicara Arkan yang begitu sinis menyambut kepulangannya. Ghea mengeratkan pelukannya pada kotak kayu Rendra, lalu melangkah mendekati pagar dengan wajah judes andalannya.
"Maksud lo apa, tiang listrik?!" ketus Ghea galak, menyembunyikan getaran di suaranya sekuat tenaga. "Baru juga gue nyampe ruko, lo udah mulai ngajak ribut ya!"
Arkan mendengus sinis, matanya melirik tajam ke arah kotak kayu antik di pelukan Ghea dengan tatapan meremehkan.
"Gue gak ngajak ribut. Gue cuma kagum aja sama bakat lo," ejek Arkan dingin, suaranya terdengar sangat tajam menusuk batin Ghea. "Bakat lo buat nyari muka di depan investor kaya lo itu emang luar biasa ya, Ghe. Sebulan di Kirana, lo berhasil pulang bawa barang mewah baru, dapet layanan antar jemput eksklusif, plus bonus elusan sayang di kepala di depan umum. Murahan banget cara lo buat bikin orang kasihan sama mimpi kafe kecil lo ini."
Kata "murahan" yang kembali meluncur dingin dari mulut Arkan seketika menghantam dada Ghea dengan rasa sakit yang luar biasa dahsyat.
Air mata kehangatan dan rindu yang sejak subuh tadi Ghea tahan di pelupis matanya mendadak berubah menjadi air mata rasa sakit yang teramat perih. Ghea meremas kotak kayu di pelukannya hingga jemarinya memutih, menatap mata hitam Arkan dengan pandangan yang bergetar hebat menahan tangis yang hampir meledak.
Gue bela-belain nolak perhiasan dia, gue bela-belain begadang demi ngirim barang pakai truk lo, dan lo menyambut kepulangan gue dengan hinaan sekejam ini, Arkan? batin Ghea teramat pilu, dadanya terasa sangat sesak bagai diremas kuat-kuat.
"Mulut lo... bener-bener gak pernah diajarin sopan santun ya, Arkan Surya!" bisik Ghea dengan suara yang serak dan bergetar hebat karena menahan tangis. "Terserah lo mau ngomong apa! Kak Rendra jauh lebih berkelas, sopan, dan tahu cara menghargai mimpi gue dibanding lo yang kerjaannya cuma bisa ngehina usaha orang lain dari balik garasi kotor lo itu!"
Ghea langsung membalikkan tubuhnya dengan terburu-buru, melangkah lebar menyeberangi teras kafenya, mendorong pintu kaca dengan sangat kasar hingga bel gemerincing di atasnya berbunyi nyaring, lalu membanting pintu itu rapat-rapat dari dalam untuk menyembunyikan tangisnya yang akhirnya pecah juga.
Di seberang pagar, Arkan mematung di tempatnya berdiri ditiup angin pagi Sukaasih yang dingin.
Tangannya yang mengepal di dalam saku celana gemetar sangat hebat karena emosi dan penyesalan yang mendadak runtuh menghimpit seluruh dadanya setelah melihat air mata Ghea yang luruh karena ucapannya sendiri.
Niat awalnya untuk memberikan sambutan ocehan pertengkaran konyol yang biasa mereka lakukan kini resmi berubah menjadi badai pertengkaran nyata yang meninggalkan luka baru yang teramat dalam dan menyakitkan di hati mereka masing-masing, di bawah langit pagi Sukaasih yang perlahan mulai menggelap ditiup angin dingin.