TAMAT
Karna ayah yang sedang sakit-sakitan membuat Putri Mentari harus menikahi seorang duda beranak satu yang merupakan dosen mata kuliah umum di fakultasnya.
"Kamu jangan berharap lebih dengan pernikahan ini! Aku pastikan pernikahan ini tidak bertahan lama!" - TAMA BATARA
"Ya ampun Pak... Jangan galak-galak napa. Entar makin nambah loh keriputannya." - PUTRI MENTARI.
Tama yang masih mencintai mendiang istrinya membuat pernikahan yang dijalani wanita yang akrab dipanggil Tari itu terasa berat.
Tari yang ceria terus berusaha mendapatkan cinta sang suami.
Akankah pernikahan yang berat ini berubah menjadi pernikahan bahagia?
fb : Kacan
=> Mari follow akun Noveltoon Othor Kacan🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
With Fajar
Masalah hidup seperti ombak di tepi pantai, ia akan datang, tapi pada saatnya ia akan pergi. Itu lah yang ada dipikiran Tari. Masalah yang baru saja menimpanya membuat hati dan pikirannya terasa kusut.
Terkadang, untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan diperlukan yang namanya pengorbanan. Dan dalam hal ini, Tari mengorbankan hatinya sendiri untuk apa yang ia inginkan tanpa tahu akan terwujud atau tidak.
Tatapan gadis mungil itu terkunci pada pemandangan indah di depannya, hamparan bunga yang cantik serta rerumputan hijau, sungguh memanjakan matanya. Tidak ada lagi air mata yang mengalir, karna begitu ia menumpahkan semua kesedihannya di sini-- bendungan itu kembali berdiri kokoh sehinggah tak ada setetes bulir bening pun yang mengalir. Hanya sisa isak yang terdengar sesekali dari mulut semerah cherynya.
Saat ini Tari sedang duduk di bangku taman bersama seorang pria yang bernama Fajar. Mereka menikmati pemandangan tanpa ada percakapan di antara keduanya. Pria itu memberi ruang pada gadis idamannya untuk menangkan diri.
Cukup lama mereka berada di The Le Hu Garden. Yaitu wisata taman bunga yang berada di Medan.
"Hei gadis cantik, Ayo kita ke sana!" Pria tampan itu menunjuk danau yang tak jauh dari bangku taman dengan jari telunjuknya.
Tari menoleh ke arah Fajar dengan tersenyum manis, sambil sesekali mengangguk. "Ayo, Kak...."
Pria gagah nan tampan itu kertawa ketika melihat kondisi wajah Tari. Mata sembab dan sedikit merah, serta hidung mungil yang warnanya mirip seperti hidung badut.
"Wajahmu lucu sekali jika tersenyum dalam kondisi muka begini."
"Hiss.... Gak lucu tau gak! Orang lagi sedih malah diketawain. Entar kena karma baru tau rasa!" Cebik Tari menekuk wajahnya.
"Hahaha iya sorry... sorry. Jangan ngambek dong." Tangan Fajar mengacak-acak rambut Tari.
"Dasar nyebelin!!!" Tari berdiri dengan menghentakkan kakinya sebagai tanda protes.
Fajar tidak menghiraukan perilaku Tari yang terlihat kekanak-kanakkan. Karna baginya, tingkah gadis itu sangat lucu dan menggemaskan di matanya. Ia memilih menarik lengan Tari dengan pelan.
"Awh.... Perih!" pekik Tari kesakitan.
Pria itu terkejut kala mendengar aduh kesakitan gadis idamannya. Dengan spontan ia melepaskan genggaman tangannya pada lengan Tari.
Mata pria itu menangkap sesuatu yang mencolok di lengan Tari. Terlihat seperti lecet dan juga kulit yang berwarna kemerahan.
"Siapa yang melakukan ini?!" tanya Fajar dengan geram, gigi yang berderet rapi itu beradu sehingga menimbulkan bunyi gemeletuk.
"Ini kepentok pas di kampus." sahut Tari sedikit gugup.
Dahi pria itu mengernyit, gelagat bohong Tari mudah terbaca oleh matanya. Ia sudah sering menghadapi bermacam tipe-tipe orang dalam dunia bisnisnya, jadi tidak sulit bagi pria itu membaca ekspresi gadis yang sesekali memilin ujung kausnya. Tampak sekali gadis itu gugup dalam menjawab pertanyaan simple Fajar.
"Tari, Kakak tahu kamu berbohong."
"Please jangan tanya soal itu, kepala Tari pusing banget." Lirih gadis itu.
Fajar menghela napasnya, ia tidak ingin memaksa Tari jika gadis itu tidak ingin menjawab, dirinya hanya tak mau membuat Tari merasa tertekan.
"Baiklah, ayo kita obati dulu luka kamu."
Tari menggeleng kuat. Ia menolak untuk diobati, karna luka ini seiring waktu pasti akan sembuh. Tapi, tidak tahu dengan luka yang yang ada di hatinya. Entah butuh waktu berapa lama untuk mengobati goresan-goresan yang menganga ini.
"Kakak tidak menerima penolakan. Kamu tunggu di sini! Kakak ke mobil dulu." Perintah pria itu sebelum meninggalkan Tari.
Setelah tujuh menit berlalu, Fajar berlari kecil mendekati Tari dengan kotak P3K di tangannya.
Pria itu mengobati luka kemerahan pada lengan Tari dengan hati-hati dan penuh kelembutan. Bahkan bibir Fajar meniup-niup kecil ke lengan gadisnya.
Tari yang diperlakukan seperti itu merasa sedikit risih. "Kak, ini udah baikan kok. Gak terasa sakit lagi." Gadis mungil itu menarik lengannya halus.
"Sekarang, kita ke danau ya. Luka kamu juga sudah di obati." Fajar menutupi rasa gugupnya.
Mereka berdua pun beranjak pergi menuju danau yang ada di sana. Terlihat sebuah perahu kosong berada di tepi danau.
"Kita mau naik ini?" tanya Tari. Ia melihat Fajar sudah lebih dulu naik ke atas perahu yang cukup memuat dua sampai tiga orang.
"Iya, sekarang giliran kamu." Fajar menjulurkan tangannya pada Tari.
Gadis itu canggung menyambut uluran tangan pria di hadapannya. Tapi, ia juga segan jika menolak. Jadi, karna tidak ingin membuat Fajar sakit hati, ia pun memilih untuk menyabut uluran pria itu.
Begitu Tari dan Fajar berada di atas perahu. Pria itu mulai menjalankan sampan dengan menggunakan dua papan berbentuk pipih sebagai kendali.
Fajar begitu lincah dalam mendayung perahu yang mereka naiki. Hingga tiba lah mereka di tengah danau.
"Tari...." Panggil Fajar.
Gadis itu menjawab dengan menaikkan kedua alisnya.
"Lihat wajah kamu kakak berasa monyet," ucap Fajar.
"Hahahaa.... Kak Fajar monyet? Maksudnya kakak mirip monyet gitu?" Tari tertawa terbahak-bahak.
Fajar bukannya marah, ia malah tersenyum melihat tawa lepas gadis idamannya. "Kakak berasa monyet-tak undangan kalau lihat kamu."
"Hahaha receh banget sih." Tari tertawa begitu ringannya sepeti tak ada beban.
"Udah merasa lebih baik?" tanya Fajar menatap serius pada gadis itu.
Tari mengangguk seraya tersenyum lebar. gadis mungil yang wajahnya tadi mendung, sekarang berubah cerah. Seperti langit biru terang setelah malam mendung yang gelap.
Setelah menghabiskan waktu di atas perahu, mereka memutuskan untuk segera pulang. Karna hari mulai gelap.
Tari menaiki mobil pria yang hari ini telah menghibur dirinya. Pada awalnya gadis itu menolak untuk di antar pulang ke rumah. Namun, Fajar memaksa untuk ikut bersamanya dengan alasan demi keamanan gadis itu.
Akhirnya Tari hanya bisa pasrah menuruti perkataan Fajar, si pria keras kepala namun baik hati.
***
"Thanks ya, Kak," ucap Tari dengan tulus.
Pria itu hanya membalasnya dengan senyuman yang mampu menghipnotis siapa saja, tapi tidak dengan Tari. Karna tampaknya gadis itu biasa saja saat melihat ukiran senyum di wajah tampan Fajar.
"Bye..... Hati-hati, kak...." Tari melambaikan tangannya.
Mobil pria itu meninggalkan halaman rumah kediaman Batara. Tari berjalan mendekati pagar, seorang satpam membukakan pintu untuknya.
"Non Tari dari mana saja? Dari tadi sudah di cari sama ibu dan bapak, Una juga sedari tadi tidak berhenti menangis mencari Non Tari," ujar satpam itu memberi tahu.
"I-iya Pak, Tari masuk ke dalam dulu ya." Tari membungkukkan tubuhnya.
Hatinya merasa tercubit ketika mendengar sang putri menangis mencari dirinya. Ia segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke pintu utama.
Begitu pintu itu ia buka....
`
`
`
Huhuu othor mau up pagi, tapi separuh tulisan othor gak ke save... Jadi harus nulis ulang😭. Sebel banget.
Jangan lupa likenya ya sayang"nyq akohhh😘
Kalian tim mana? Tama atau Fajar?
mantap kaka pantun nyaaa 👍👍😄