NovelToon NovelToon
Koh, Ini Salah

Koh, Ini Salah

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.

Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."

Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.

Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.

Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.

Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.

Empat tahun kemudian, badai datang lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Sekolah

Pertanyaan Chisen malam itu membuat Erlyn berdiri kaku di ambang dapur hampir lima detik.

"Haus," jawabnya akhirnya.

Chisen tidak bertanya lagi. Ia hanya mengambil satu gelas bersih dari rak atas, mengisinya dari dispenser, lalu meletakkannya di meja marmer. Gerakannya tenang, seolah mereka memang sudah terbiasa bertemu tengah malam dalam rumah yang gelap.

Erlyn berjalan masuk, mengambil gelas itu dengan kedua tangan. "Terima kasih."

"Lampu dapur ada di sebelah kanan."

"Aku tahu."

Chisen melirik dinding di sisi kirinya, tempat saklar berada.

Erlyn mengikuti pandangannya, lalu pura-pura minum agar tidak perlu mengakui bahwa ia salah arah. Dari sudut matanya, ia melihat Chisen seperti hampir tersenyum. Hampir. Atau mungkin hanya bayangan lampu kulkas yang menipu.

Itu percakapan terpanjang mereka selama tiga hari pertama di Jalan Kenanga.

Setelah itu, hidup baru Erlyn bergerak dengan cara yang rapi tetapi membuatnya lelah. Pagi sarapan di meja panjang. Siang mengurus berkas sekolah. Sore menemani Mama menata dapur agar tidak terlihat terlalu menganggur. Malam mencoba menghafal suara-suara rumah: langkah orang rumah di koridor, pintu loteng yang sesekali terbuka, mobil Om Changli pulang, dan denting sendok Chisen ketika ia turun makan.

Seminggu kemudian, Erlyn mulai sekolah.

Seragam putih abu-abunya masih baru. Roknya disetrika terlalu lurus oleh Mama. Sepatu hitamnya sudah digosok sampai mengilap, tetapi Erlyn tetap merasa semua orang akan tahu ia murid pindahan hanya dari cara ia berdiri.

Di meja makan, Jing berkali-kali merapikan kerahnya.

"Kalau ada yang tanya, jawab baik-baik. Kalau ada pelajaran yang belum cocok, bilang Mama. Nanti kita cari les."

"Ma, aku cuma sekolah, bukan pergi perang."

"Sekolah baru juga bisa seperti perang."

Erlyn menatap Mama.

Jing sadar ucapannya terlalu jujur, lalu tersenyum kecil. "Maksud Mama, kamu pasti bisa."

Om Changli menurunkan cangkir kopinya. "Hari ini biar Chisen yang antar. Sekolah kalian searah."

Sendok Erlyn berhenti di atas piring.

Di ujung meja, Chisen juga mengangkat mata.

"Saya masuk lebih pagi," katanya.

"Kalau berangkat sekarang, tidak terlambat," jawab Om Changli.

Chisen menatap jam dinding, lalu kembali makan. "Terserah Papa."

Terserah Papa berarti ia tidak setuju, tetapi terlalu malas berdebat.

Erlyn tiba-tiba ingin bilang ia bisa naik taksi online. Namun Mama sudah terlihat lega, dan Om Changli sudah memanggil orang rumah untuk mengambil tas Erlyn. Jadi ia hanya menelan protes bersama suapan terakhir nasi goreng.

Mobil Chisen berwarna hitam, bersih, dan wangi kulit. Erlyn duduk di kursi penumpang dengan ransel di pangkuan. Ia tidak tahu harus meletakkan tangan di mana. Kalau memegang ransel, ia terlihat gugup. Kalau meletakkannya di paha, ia tetap gugup.

Chisen menyalakan mesin.

Tidak ada musik.

Beberapa menit pertama, yang terdengar hanya suara AC dan jalan Surabaya yang mulai ramai. Motor bergerak di samping mobil. Pedagang bubur ayam membuka lapak. Anak-anak berseragam putih abu-abu berjalan berkelompok di trotoar, tertawa seolah masuk sekolah baru bukan hal yang menakutkan.

Erlyn menatap keluar jendela.

"Sekolahmu jam tujuh?" tanya Chisen.

"Iya."

"Kalau pulang?"

"Tergantung jadwal."

"Kirim ke Mama. Biar dijemput sopir."

Erlyn menoleh. "Aku bisa pulang sendiri."

"Surabaya bukan Belitung."

Kalimat itu pendek, tetapi cukup untuk membuat Erlyn menggigit bibir.

"Aku tahu."

Chisen tidak menjawab. Tangannya di setir tenang, jari-jarinya panjang, ada bekas cat tipis di dekat kuku ibu jari. Erlyn memperhatikan itu tanpa sadar, lalu cepat-cepat memalingkan wajah.

Mereka berhenti di lampu merah.

Chisen tiba-tiba berkata, "Di sekolah, jangan bilang ke siapa pun kita tinggal serumah."

Erlyn menoleh perlahan. "Kenapa?"

Lampu merah memantul di kaca depan, membuat wajah Chisen tampak lebih dingin.

"Orang suka bicara."

"Kita tidak melakukan apa-apa."

"Justru karena tidak melakukan apa-apa, jangan beri mereka bahan."

Erlyn menatapnya. Ada sesuatu yang kecil dan tajam menyentuh dadanya. Ia mengerti maksudnya. Ia bukan anak bodoh. Ibu mereka menikah, mereka tidak sedarah, tetapi tinggal serumah. Di mulut orang lain, fakta biasa bisa berubah menjadi cerita kotor.

Tetap saja, kalimat itu terdengar seperti ia adalah sesuatu yang harus disembunyikan.

"Koh malu?"

Untuk pertama kalinya sejak mobil bergerak, Chisen menoleh penuh ke arahnya.

"Bukan."

"Lalu?"

Lampu berubah hijau. Mobil di belakang membunyikan klakson. Chisen kembali menatap jalan dan menjalankan mobil.

"Aku tidak mau kamu repot."

Erlyn tertawa pendek. "Aku belum masuk sekolah saja sudah dianggap bakal repot."

"Bukan begitu."

"Lalu begitu apa?"

Chisen diam.

Diamnya membuat Erlyn semakin kesal. Di Belitung, kalau orang tidak suka, mereka mengatakannya. Kalau orang marah, mereka bicara keras. Di rumah baru ini, semua orang memakai kalimat pendek lalu membiarkan sisanya menjadi tebakan.

Mobil berhenti di seberang gerbang sekolah Erlyn.

Halaman depan sudah ramai. Murid-murid turun dari mobil, motor, dan angkot. Beberapa siswa menoleh ke arah mobil Chisen, mungkin karena mobil itu terlalu bersih, mungkin karena wajah Chisen terlalu mencolok, atau mungkin karena Erlyn turun dari kursi penumpang dengan gerakan kaku.

Erlyn membuka pintu, lalu berhenti sebentar.

"Kalau ada yang tanya, aku harus bilang apa?"

Chisen menatapnya dari balik kemudi. "Bilang dijemput keluarga."

"Keluarga siapa?"

"Keluargamu."

Jawaban itu seharusnya membuatnya lebih baik. Anehnya, dada Erlyn malah terasa semakin sesak.

Ia mengangguk, turun dari mobil, dan menutup pintu pelan. Sebelum berjalan ke gerbang, ia menunduk sedikit ke jendela yang masih terbuka.

"Terima kasih, Koh."

Chisen hanya mengangguk.

Mobil itu pergi beberapa detik kemudian, menyatu dengan arus jalan pagi. Erlyn berdiri di tepi gerbang, merapikan tali ranselnya, lalu masuk ke sekolah barunya dengan perasaan seperti baru saja diturunkan di panggung.

Di ruang tata usaha, ia menyerahkan berkas pindahan sambil menjawab pertanyaan seorang staf tentang alamat baru, nomor ponsel Mama, dan sekolah asalnya.

"Dari Belitung, ya?" staf itu bertanya.

Erlyn mengangguk.

Seorang murid yang sedang mengurus surat izin di kursi sebelah langsung melirik. Tatapannya tidak jahat, tetapi cukup lama untuk membuat Erlyn sadar bahwa kata Belitung di sekolah ini terdengar seperti label yang ditempel di dahinya.

Ketika wali kelas membawanya ke ruang kelas, suara murid-murid yang semula ramai turun satu tingkat. Erlyn berdiri di depan papan tulis, memperkenalkan diri dengan kalimat yang sudah ia latih sejak pagi.

"Nama saya Tan Erlyn. Saya pindahan dari Belitung."

Beberapa siswa berbisik. Ada yang menatap sepatunya. Ada yang menatap rambutnya. Ada yang menatap jendela, pura-pura tidak peduli. Erlyn memilih bangku kosong di baris tengah dan duduk dengan punggung tegak.

Ia berhasil tidak terlihat takut.

Setidaknya menurutnya begitu.

Ia tidak tahu bahwa dari bawah pohon di dekat parkiran, seorang siswi sudah mengangkat ponsel.

Kamera menangkap mobil hitam itu, wajah Chisen yang samar di balik kaca, dan Erlyn yang baru saja turun.

Beberapa menit kemudian, sebuah Instagram story muncul.

Anak baru. Diantar cowok keren pakai mobil mahal. Kakak atau pacar?

1
May Maya
baru mampir Thor semoga cerita nya bgus n GK berhenti d tngh jln
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!