Moona dan Shiren merupakan kakak adik yang saling menjaga dan menyayangi.
Namun entah mengapa Shiren dengan teganya menjebak adiknya yang bernama Moona melakukan hubungan one night stand dengan calon suaminya sendiri di hari menjelang pernikahan antara Shiren dan Ryan tersebut.
Hingga pernikahan pun berganti mempelai yakni Moona lah yang menggantikan sang kakak untuk bersanding di pelaminan bersama dengan Ryan.
Bagaimana kisah ketiga nya selanjutnya?
Yukk ikuti terus setiap episodenya.
Jangan lupa untuk like, komen dan subscribenya yaa🤗
Terimakasih ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SuperWoman Tidak Menyerah
Pagi hari nya Moona pun nampak sudah menyibukkan diri untuk membersihkan seluruh ruangan tersebut. Hingga mencuci dan mengepel serta memasak seperti layaknya pembantu rumah tangga.
Makanan pun telah tersaji di meja makan dengan harum yang membuat siapa pun yang menciumnya akan merasakan ingin segera mencicipi dan melahap masakan buatan Moona tersebut.
Keahlian yang Moona kuasai tersebut pun hasil dari dirinya belajar dari sang mama. Walaupun berbanding terbalik dengan Shiren yang tidak pernah mau untuk menginjakkan kaki ke dapur apalagi untuk urusan memasak dan bersih-bersih rumah Shiren memang tidak mau.
"Akhirnya selesai juga," ucap Moona dengan mengelap muka nya yang tampak bercucuran oleh keringat tersebut.
Dengan segera Moona pun menuju ke dalam kamarnya dan bersiap untuk menuju ke tempat magang nya. Sedangkan Ryan yang nampak baru mengenakan kemeja dan telah duduk dengan santai dikursi makan dengan air liur yang nampak hampir menetes karena melihat masakan Moona yang nampak begitu menggiurkan.
"Mau kemana kamu?" tanya Ryan dengan wajah datarnya tersebut.
"Mau berangkat magang kak. Moona berangkat dulu ya," ucap Moona dengan berjalan melewati Ryan begitu saja.
"Siapa yang mengizinkan kamu berangkat lebih awal?? Kamu enggak lihat aku yang belum sama sekali menyentuh masakan kamu? Sini kamu! Segera layani dan ambilkan aku makan!" bentak Ryan dengan menatap tajam ke arah Moona.
Moona pun terlihat takut dan terkejut hingga buru-buru mendekat ke arah Ryan serta segera mengambilkan menu sarapan untuk suaminya tersebut.
"Berdirilah dan tunggu hingga aku selesai makan," ucap Ryan dengan melahap masakan Moona dengan segera.
Hingga tak lama kemudian makanan dipiring tersebut pun nampak habis tak bersisa. Ryan pun nampak berdiri.
"Segera bereskan dan temui aku di kamar," ucap Ryan dengan berlalu melewati Moona begitu saja.
Sedangkan Moona kali ini berusaha tegar dan membiasakan diri dengan sikap arogan yang Ryan miliki. Dengan cepat Moona pun membereskan piring-piring kotor dan menuju ke kamar Ryan.
"Kemarilah, pilihkan dasi dengan warna dan motif kesukaan Shiren," ucap Ryan dengan wajah datar menunggu Moona memilihkan dasi untuknya. Pilihan Moona pun jatuh pada warna ungu yang memang merupakan warna kesukaan kakaknya tersebut.
"Pasangkan seolah kamu adalah Shiren yang memasangkan dasi untukku dengan penuh cinta. Ingat untuk sebagai Shiren!" ucap Ryan memberikan kata penekanan untuk istrinya tersebut.
Moona pun segera memasangkan dasi untuk Ryan dengan perlahan namun rapi. Setelah itu Moona pun menepuk-nepuk dada Ryan dengan pelan untuk menyelaraskan antara jas, dasi dan kemeja yang dipakai oleh suaminya tersebut.
"Sudah tampan kak. Kak Shiren pasti sangat menyukai penampilan kakak. Moona sudah boleh berangkat kak?" tanya Moona dengan sangat halus agar tidak menyinggung suami nya yang memiliki temperamen kasar itu.
"Pergilah," jawab Ryan.
Dengan secepat kilat Moona pun segera keluar dari kandang macan tersebut dan mencari taksi yang lewat dan segera menuju ke kantor.
Disepanjang perjalanan menuju ke kantor pun nampak Moona yang tengah melamun. Moona pun nampak memegang erat buku rekening dan ATM yang di berikan oleh Ryan dengan sangat erat.
"Aku harus memindahkan saldo di dalam rekening ini secepatnya ke nomor rekening pribadiku," ucap Moona dengan menahan sesak di dalam dada nya.
Berkali-kali Moona selalu mengirimkan pesan kepada kakaknya tersebut, namun tak kunjung ada balasan sama sekali untuknya dan hanya terlihat di baca saja.
Jauh dari lubuk hatinya yang terdalam, Moona sangat merindukan kakaknya tersebut dan berharap kabarnya pun baik-baik saja. Moona pun telah berusaha menghapus segala praduga jika kakaknya lah yang menjebaknya waktu itu.
"Semoga kak Shiren baik-baik saja dan tidak mengalami nasib yang sama seperti ku," gumam Moona di dalam hati.
Taksi pun telah sampai di depan gedung yang nampak tinggi menjulang tersebut. Dengan segera Moona pun membayar ongkos taksi tersebut dan segera berlari masuk ke dalam lobby kantor yang berpapasan dengan Ryan serta Dryan.
Nampak Dryan pun segera menghadang langkah Moona. "Moona tunggu!" ucap Dryan hingga membuat langkah Moona pun terhenti.
"Iya pak?" ucap Moona dengan memasang wajah senyum dan ramah.
Sedangkan Ryan yang melihat Dryan dan Moona pun merasa jengah dan jengkel. "Dasar wanita murahan dan genit!" gumam Ryan dengan segera melangkah menuju ke arah Moona.
Dengan sengaja Ryan pun melewati Moona dengan menubruk sedikit tubuh Moona hingga terhuyung dan jatuh.
"Ups, sorry sengaja. Makanya kalau lagi cinta-cintaan itu jangan di lorong perusahaan," ucap Ryan dengan tanpa merasa bersalah sama sekali.
Sedangkan Moona pun nampak meringis kesakitan memegang perut dan pantatnya.
Dengan sigap Dryan pun memapah dan mendudukkan tubuh Moona di kursi panjang yang di sediakan di sepanjang lorong tersebut.
"Maafkan kakak ku ya Moona. Apa perlu kita kerumah sakit?" tanya Dryan dengan cemas.
"Tidak apa-apa Pak. Jika bapak tidak ingin saya terlibat masalah lagi maka saya mohon segera menjauhlah dari saya pak," ucap Moona dengan lirih menahan air mata nya agar tidak jatuh.
"Nanti seperti nya perusahaan papa kamu akan melakukan meeting disini. Jika kamu rindu dan ingin bertemu dengan papa kamu nanti aku carikan kesempatan untuk kalian mengobrol," ucap Dryan berusaha memberikan informasi untuk Moona.
Moona pun nampak berfikir dan kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah Pak. Hari ini saya sangat sibuk. Lain waktu saja. Lagian saya juga belum terlalu merindukan papa. Saya undur diri terlebih dahulu. Permisi Pak," ucap Moona dengan segera menjauh dari Dryan.
Moona pun segera melangkah menuju ke arah kamar mandi dan segera menumpahkan air mata nya tersebut. Dirinya pun kembali menangis tergugu.
Siapa yang tidak merindu dan tidak ingin bertemu dengan papa yang sangat ia sayangi tersebut. Moona sangat ingin bertemu. Namun Moona sangat takut jika sang papa pun menyadari ke adaan Moona yang nampak tidak baik-baik saja.
Moona pun terus menangis dengan memukul-mukul kuat dada nya tersebut hingga merasakan sedikit lega.
"Superwoman jangan menyerah!" teriak Moona.
Setelah itu Moona pun segera membasuh wajahnya serta kembali menuju ke dalam ruangan nya dengan menampilkan wajah ceria nya.
"Hai Lily ku sayang," sapa Moona kepada Lily yang sedang melamun tersebut.
Lily pun nampak mendongak dan menatap wajah Moona. "Nanti makan siang bersam ya Moon?" ajak Lily.
"Hadehh, selalu itu yang kamu tanyakan kepada ku. Iya baiklah nanti siang kita ke kantin bersama," jawab Moona dengan tersenyum.
"Nah gitu dong. Dari kemarin kita itu kesepian tau Moon gara-gara kamu enggak mau ikut makan siang. Ditambah Dika yang sangat menyebalkan jika kamu tidak ikut," ucap Lily mengadu.
Sedangkan Moona nampak mengacak rambut Lily dengan samar dan tertawa bersama.