Pernikahan Keyla dan Edwin yang didasari oleh perjodohan terasa dingin sejak awal. Namun, waktu telah perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di hati Edwin. Tepat saat Keyla merasa pernikahan mereka mulai membaik, badai datang dari masa lalu.
Seorang wanita dari masa lalu Edwin, cinta pertamanya, kembali muncul. Kehadirannya yang tak terduga seketika menggoyahkan hati Edwin yang tadinya sudah mulai mencintai Keyla. Edwin, yang masih menyimpan sisa-sisa perasaan, mulai bimbang antara janji pernikahan dan nostalgia.
Di sisi lain, Keyla tengah berjuang meraih impiannya di dunia modeling, sebuah profesi yang tidak disukai dan dianggap tabu oleh Edwin. Keputusan Keyla untuk tetap mengejar karier ini semakin memperkeruh rumah tangga mereka, membuat Edwin merasa tidak dihargai.
Keyla kini berada di ujung tanduk. Ia harus berjuang mempertahankan suaminya dari bayangan masa lalu yang memikat, sambil berusaha membuktikan bahwa pilihannya sebagai seorang model tidak akan menghancurkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarMaker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab28
Keyla sedari tadi menundukkan kepalanya sejak Edwin berbicara dengannya.
"Key jawab jujur kenapa kamu di Bali?" tanya Edwin.
"Aku ada job disini," ucap Keyla menggenggam erat bajunya. Edwin menghembuskan nafasnya pelan ia mengambil tangan Keyla dan menggenggamnya.
"Edwin aku tau aku salah," ucap Keyla lirih.
Edwin mengecup tangan Keyla singkat.
"Aku juga salah," ucap Edwin menatap Keyla.
Keyla menundukkan kepalanya, setetes demi tetes air matanya jatuh membasahi tangannya. Sebelumnya Keyla tidak serapuh seperti ini tapi entah kenapa setelah bersama Edwin Keyla sering menunjukkan sisi lainnya.
Edwin bergerak maju ia segera membawa Keyla ke dalam pelukannya dan mengusap punggung Keyla yang bergetar.
"Maaf," lirih Keyla mengeratkan pelukannya kepada Edwin.
"Dan aku akan berhenti," ucap Keyla di sela-sela tangisannya.
Edwin terdiam mendengar ucapan Keyla barusan, ada rasa bersalah saat Keyla mengatakan akan berhenti.
"Kamu boleh jadi model aku kasih izin," ucap Edwin tiba-tiba luluh dengan Keyla.
Keyla menghentikan isakannya.
"A..aku nggak akan jadi model lagi," kata Keyla mengalah. Setelah berpikir Keyla tidak ingin hubungannya dengan Edwin merenggang karena ke egoissannya. Keyla tidak mau berpisah dengan cowok itu karena Keyla begitu mencintainya.
"Kenapa?" tanya Edwin lembut.
Keyla tidak menjawab ia malah kembali menangis di pelukan Edwin.
Edwin mengusap punggung Keyla pelan membuat Keyla menjadi lebih tenang.
Sepuluh menit mereka tetap pada posisinya dan Keyla tidak melepaskan pelukan dari Edwin sekalipun.
"Udah malem kita tidur hmm?" tanya Edwin seraya mengecup singkat puncak kepala Keyla.
Keyla mengangguk ia segera melepaskan pelukan Edwin. Edwin menatap mata Keyla yang memerah, rambutnya sudah tidak tertata rapi. Tangannya terulur untuk menyelipkan rambut Keyla yang berantakan.
"Good night," ucap Edwin mencium bibir Keyla singkat karena itu hanya sebuah kecupan bukan ciuman.
Keyla tidak menjawab ia hanya menatap Edwin saja. Edwin yang di tatap pun bertanya.
"Kenapa?" tanya Edwin.
Keyla menggeleng dengan pikiran aneh yang tiba-tiba melintas dalam kepalanya.
"Kamu tidur duluan," ucap Edwin.
Keyla hanya mengangguk dan segera beranjak dari sofa untuk ke ranjang tempat tidur Edwin. Sedangkan Edwin ia pergi ke kamar mandi.
Keyla tidur dengan posisi miring, sebenarnya Keyla tidak tidur ia hanya sekedar memejamkan mata, tidak lama kemudian ranjang bergoyang dan Keyla merasakan pelukan hangat dari Edwin. Keyla reflek membuka matanya dan ternyata kamar dalam keadaan gelap hanya lampu tidur yang menyala.
Bukannya kembali menutup mata Keyla malah menatap lurus kedepan tiba-tiba saja air matanya sudah mengalir. Keyla tidak tau kenapa ia menangis sekarang, intinya ia hanya ingin menangis diam-diam malam ini tanpa sepengetahuan Edwin.
Cukup lama Keyla menangis, ia segera mengusap air matanya dan mencoba memejamkan mata meskipun sebenarnya Keyla tidak bisa tidur tapi setelah lama mencoba untuk tidur tapi Keyla tetap tidak bisa melakukannya yang ada ia malah merasa gelisah.
Keyla membalikkan tubuhnya sehingga ia sekarang bertatapan muka dengan Edwin.
Edwin membuka matanya.
"Kenapa nggak tidur hmm?" tanya Edwin menatap Keyla.
"Boleh aku minta satu hal sama kamu," ucap Keyla.
"Bahkan lebih dari satu aku bolehin, kamu minta apa sayang?" tanya Edwin mengelus pipi Keyla.
"Jangan tinggalin aku apapun yang terjadi," ucap Keyla lirih. Edwin tersenyum tipis ia mengangguk lantas mencium singkat kening Keyla.
"Sekarang kamu tidur oke," kata Edwin.
Keyla mengangguk ia segera memejamkan matanya begitu pula dengan Edwin.
•••
Di pertengahan malam, Keyla terusik dari tidurnya karena ia merasakan sesuatu yang lembab di bibirnya.
Keyla membuka matanya ia terkejut karena melihat Edwin yang tengah mencium bibirnya. Keyla diam ia tidak berani bergerak seinci pun dari tempatnya ia sibuk menatap mata Edwin yang terpejam menikmati aksinya.
Cukup lama Edwin mencium bibir Keyla lembut dan ********** kecil hal itu membuat jantung Keyla berpacu dengan cepat.
Tiba-tiba saja Edwin melepaskan bibirnya dan tanpa sengaja ia menatap mata Keyla yang terbuka.
Bukannya menghentikan kegiatannya, Edwin malah kembali ******* bibir Keyla. Keyla memejamkan matanya dan membalas ciuman Edwin. Edwin yang ciumannya di balas oleh Keyla tersenyum tipis di sela-sela ciumannya.
Edwin melepaskan ciumannya ia berganti mengecup leher Keyla. Keyla menelan salivanya susah payah, apa yang dilakukan Edwin barusan cukup berefek pada ritme jantungnya yang berubah menjadi semakin cepat.
"Aku minta hak aku sebagai suami kamu,"
Dan saat itu juga seluruh aliran darah Keyla terasa berhenti karena ucapan dari Edwin barusan.
Keyla menatap mata Edwin yang tengah menatapnya dengan sungguh-sungguh, entah karena takut atau apa Keyla sampai berdoa.
'Tuhan bolehkan pagi datang lebih cepat Keyla mohon'
"Edwin kamu serius," ucap Keyla berusaha menetralkan kegugupannya.
"Serius, aku rasa kita udah saat nya ngelakuin itu," ucap Edwin.
Keyla terdiam apa yang dikatakan Edwin barusan memang ada benarnya ini sudah saatnya mereka melakukan itu mengingat pernikahan mereka sudah berumur satu tahun. Tidak ada yang perlu di takutkan bukankah ini yang selama ini Keyla tunggu.
Keyla memejamkan matanya kuat-kuat lantas ia menjawab.
"Oke,"
Edwin tersenyum mendengar jawaban Keyla. Keyla menelan salivanya kasar bagaimana mungkin ia bisa segugup ini saat Edwin mencium kembali bibirnya. Awalnya ciuman mereka hanya sebatas bibir tapi sekarang Edwin sudah beralih mencium leher mulusnya dan meninggalkan tanda kepemilikan disana. Tanpa sadar posisi Edwin sekarang sudah berada di atas tubuh Keyla dan kalian tahu apa yang selanjutnya terjadi dengan keduanya tanpa harus di jelaskan cukup mereka berdua dan tuhan yang tahu. Malam ini Keyla sudah menjadi istri sepenuhnya dari seorang Edwin Pradipta Siswanto.
•••
Ke esokan paginya.
Keyla membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa remuk semua dan bagian bawahnya terasa nyeri. Ia melihat Edwin yang ada di sampingnya yang tengah memejamkan mata seketika pipi Keyla memerah saat teringat apa yang di lakukannya semalam dengan Edwin. Hal yang membuatnya merasakan surga dunia.
Keyla mengamati wajah Edwin tangannya tanpa sadar menyusuri setiap lekuk wajah Edwin. Keyla tersenyum tipis melihat wajah Edwin yang sangat tampan dengan kulit kuning langsat, hidung mancung bak perosotan anak TK, matanya hitamnya yang tajam, rahangnya yang tegas, semua terlihat sempurna di mata Keyla. Keyla mengerecutkan bibirnya ketika menyadari bulu mata Edwin lebih lentik darinya.
Keyla menatap bibir Edwin cukup lama dan itu sangat menggoda di tambah lagi dengan kumis tipis yang baru tumbuh.
Cup
Keyla memejamkan matanya ia mencium bibir Edwin tanpa sepengetahuan dari sang pemilik, saat Keyla akan menjauhkan wajahnya tiba-tiba saja Edwin membuka matanya.
Keyla mengumpati dirinya karena kelakuannya barusan kepergok oleh Edwin.
"Udah puas ciumnya?" tanya Edwin menaikkan sebelah alisnya menggoda Keyla.
Pipi Keyla memerah menahan malu dengan cepat Keyla menutup wajahnya dengan selimut. Edwin terkekeh.
"Kenapa di tutup segala?" tanya Edwin berusaha membuka selimut Keyla.
"Jangan di buka," ucap Keyla memegang erat selimutnya.
"Ishhh Edwin aku bilang ja.."
Ucapan Keyla terpotong begitu saja karena Edwin langsung mencium bibir tipis Keyla. Keyla membelalakkan matanya ia mendorong dada Edwin pelan.
"Jangan cium, aku mau mandi," ucap Keyla dengan pipi merahnya. Ia benar-benar sudah merona malu dan jantungnya sudah berdisco di pagi hari.
Edwin terkekeh. "Morning kiss sayang,"
"Aku mau mandi Ed jauh-jauh,", ucap Keyla.
"Masih pagi nggak usah mandi," larang Edwin memeluk Keyla dan menempatkan kepalanya di ceruk leher Keyla.
"Tapi badan aku lengket," ucap Keyla berusaha beralasan agar terlepas dari Edwin.
"Kita tidur sampai jam 9, kalau enggak jangan salahin aku kalau aku minta lagi ke kamu apa yang kita lakuin tadi malem," ucap Edwin. Keyla menelan salivanya kasar bagaimana mungkin ia bisa melakukannya lagi sementara badannya sekarang masih terasa remuk karena ulah suaminya yang terus mengulang adegan panasnya. Pada akhirnya Keyla hanya pasrah membiarkan tubuhnya tetap lengket dan tidur lagi bersama Edwin sampai jam 9.
•••
Sore hari Keyla dan Edwin berjalan-jalan di tepi pantai. Menikmati keindahan pantai Bali. Keyla menggandeng erat tangan Edwin seolah tidak ingin kehilangannya. Angin pantai menerpa rambutnya sehingga membuatnya menjadi berantakan. Edwin merapikan rambut indah milik Keyla lantas Edwin mengecup kening Keyla bertepatan dengan tenggelamnya matahari.
Keyla tersenyum dengan hati berbunga-bunga menikmati suasana romantis yang baru ia dapatkan dari suaminya.
"Terima kasih Key, telah menjadi istriku. Aku mencintaimu lebih dari apapun" ucap Edwin setelah mengecup kening Keyla cukup lama.
Keyla tersenyum lantas mengangguk, "sama-sama Ed. Aku juga mencintaimu"
"I'm promise, kita akan tetap bersama sampai maut memisahkan kita" Ucap Edwin tersenyum lalu memeluk Keyla, sekali lagi dia mengecup kening Keyla. Keyla benar-benar sangat bahagia. Ia tidak akan pernah melupakan momen paling berharga ini sampai kapanpun itu.