Berharap bisa lari dari kenyataan yang ada, namun justru membuat Killa terjatuh ke dalam kejadian yang tidak pernah dia duga dan itu membuatnya sangat terpukul.
Hubungan yang tidak pernah dia ingat dengan seorang pria bule, membuat Killa memilih untuk pergi sejauh mungkin. Hingga Killa memilih kembali dengan membawa seorang anak laki-laki berusia lima tahun.
Killa pikir, setelah dirinya pergi lama meninggalkan negaranya, dia akan kembali dengan tenang dan memulai hidup baru bersama putranya. Akan tetapi, ternyata tidak segampang itu. Dia dipertemukan kembali dengan seorang pria yang wajahnya masih melekat di ingatan Killa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 28. Ngambek
Bab. 28
Killa tidak mau menjawab. Wanita itu lebih memilih untuk mendorong Vano dan menyuruhnya keluar dari ruangannya. Ia belum siap memberitahukan kepada Gara, jika sudah menemukan ayah kandungnya.
"Lebih baik kamu keluar sekarang. Kita nggak kenal sebelumnya dan anggap kejadian yang pernah terjadi di antara kita itu sebuah kecelakaan," ujar Killa di saat mendorong tubuh Vano.
Sebenarnya Vano bisa saja berbuat seenaknya sendiri seperti ia memperlakukan wanita lain. Namun, yang lebih penting bagi Vano sekarang ini ialah mengambil hati Killa. Ia tidak mau membuat wanita itu membenci dirinya.
"Setidaknya berikan aku nomor ponselmu dulu, Killa," pinta Vano sebelum keluar dari ruangan Killa.
"Nggak perlu!" Tolak Killa dengan tegas.
Ketegasan Killa yang seperti itu justru terlihat menarik di mata Vano. Sebelum ini belum ada wanita yang menolak dirinya. Namun wanita ini benar-benar berbeda. Sungguh, tidak rugi jika selama ini ia menunggu dan mencari keberadaan Killa. Benar-benar wanita yang langka.
Sementara itu Killa terus mendorong Vano hingga pria itu berada di luar ruangannya. Dengan segera Killa menutup pintu ruangannya tetapi ditahan oleh Vano.
"Kalau begitu, aku aka ke sini setiap hati," beritahu Vano mengenai rencananya ke depan.
Hal itu membuat Killa merotasi bola matanya. Dia benar-benar geram pada pria yang satu ini.
"Kamu mengerti tidak dengan apa yang kukatakan?" tanya Killa menahan rasa kesalnya.
Sedangkan Vano menggeleng, seolah tidak ada yang salah. "Enggak."
Kali ini Killa benar-benar habis kesabaran yang ia miliki.
"Ooommm! Jangan bercanda! Bisa gila aku lama-lama ngobrol sama kamu!"
Tidak mau berurusan dengan Vano lagi, sekuat tenaga dan gerakan yang cepat Killa menutup pintunya dengan sangat kasar. Menciptakan bunyi dentuman yang begitu keras.
Vano terkekeh dengan sikap Killa yang ternyata bisa barbar juga. Dia tidak menyangka, jika gadis yang dulunya lembut, bahkan pada saat ia mendengar tentang Killa dari Tisha, namun ternyata sekarang berubah menjadi bringas seperti ini.
"Menarik," gumamnya sembari terkekeh kecil.
Kemudian Vano memutuskan untuk pergi dari butik Killa. Karena ada hal yang harus segera ia urus. Seperti kepindahan kantornya. Tentu saja Vano tidak menyerah mengenai Killa.
"Segera siapkan rapat di cabang Malang sini," ujar Vano memberi perintah pada seseorang yang berbicara dengannya lewat telepon.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Vano langsung mematikan ponselnya untuk kemudian menyalakan mesin. Mrlajukannya menuju kantor yang berada tidak jauh dari butik Killa. Dia akan menggelar rapat dadakan. Jelas saja hal itu akan merepotkan asisten pribadinya yang dia tinggal begitu saja di Surabaya.
Vano tidak memperdulikan hal itu. Pun kalau nanti Kenzo akan mengomelinya dengan berbagai bahasa, Vano tidak peduli. Yang terpenting baginya sekarang ialah, ia bisa tinggal di dekat Killa tanpa melupakan tanggung jawabnya akan perusahaan keluarganya yang berada di Indonesia.
***
Dengan cepat Killa berganti pakaian dan membenarkan make upnya. Ia tidak ingin kena omel putranya jika melihat dirinya tidak memakai make seperti tadi. Sebab Gara ingin melihat Killa tetap terlihat cantik di setiap waktunya. Kemudian Killa langsung berangkat menjemput putranya. Ia sangat merindukan Gara. Padahal baru kurang lebih tiga hari ia tidak bertemu dengannya.
Sesampainya di sekolah Gara, Killa disuguhi wajah jutek putranya. Anak kecil berusia lima tahun tersebut sedang melipat tangannya di depan dada, dengan bibir yang cemberut.
"Kenapa lama banget, Mommy!" Protes Gara langsung sebelum Killa memeluk dirinya.
Anak laki-laki itu tidak mau disentuh oleh Killa. Dia sangat kesal sekali dengan mommy-nya.
"Maafkan Mommy, Boy. Mommy nggak tau kalau ternyata tiga hari di sananya. Maafin Mommy, ya?" killa berusaha membujuk putranya yang sedang merajuk. Sebab ketika ia pamit, Killa berkata akan pergi selama dua hari. Namun ternyata memakan waktu tiga hari di sana.
"Nggak dimaafkan!" Tandas Gara.
Anak itu benar-benar marah pada Killa. Bahkan sampai memalingkan wajahnya dan seolah tidak mau melihat ke arah mommy-nya.
Killa tersenyum melihat tingkah putranya yang sangat menggemaskan tersebut. Kemudian ia berjongkok tepat di depan Gara. Memegang kedua bahu anak itu, untuk kemudia memeluknya.
"Tapi Mommy kanget banget sama kamu, Boy," ujar Killa. Mengabaikan wajah cemberut dari Gara.
Killa mengusap punggung Gara, menenangkan hati anaknya agar tidak marah lagi padanya.
"Mommy janji deh, besok Mommy ajak kamu ke taman. Gimana? Kita main seharian," bujuk Killa lagi.
Di mana tawaran itu sangat menarik Gara dengar. Kebetulan juga, semenjak pindah ke kota ini mereka belum pernah main di taman dan lebihnya lagi akan seharian. Kebetulan juga besok sekolah libur.
"Janji?"
Raut muka Gara seketika berubah. Mendengar akan diajak main di taman, tentu saja Gara tidak akan menolak dan merasa sangat senang sekali.
Killa mengangguk. "Janji." Yakinnya.