Bagaimana jadinya jika dijodohkan dengan ketua osis yang selalu menghukum mu disekolah? Konyol? Yah tentu saja!
Itulah yang terjadi dengan gadis bernama Bianca Dealova Christabel. Dijodohkan dengan ketos yang minim ekspresi. Hemat dalam mengeluarkan kalimat. Agam Ezekiel Arbyshaka, the king disekolah SMA Garuda.
Namun, siapa sangka dibalik cover kalem, dingin nan bijaksana, tersimpan sebuah sisi liar yang baru diketahui oleh Bianca setelah menikah dengannya.
"Dasar ketos nyebelin!"
"Shit! I'm addicted to that girl's lips."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rsawty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cari angin dimalam hari
Hari demi hari berlalu, Agam yang sedari awal sudah menyadari perasaannya pada Bianca memperlakukan gadis itu dengan baik walau rada-rada bikin Bianca naik darah.
Dan untuk Bianca, gadis itu sudah mulai menerima dan tak lagi menjaga jarak pada Agam walaupun belum sepenuhnya menyadari perasaannya terhadap lelaki itu.
Dua remaja yang masih duduk di bangku SMA itu saling melengkapi kelebihan dan kekurangan masing-masing dengan sikap juga karakter yang bertolak belakang. Setiap hari yang mereka lewati lebih berwarna dari hari-hari sebelumnya walau dibumbui oleh percekcokan-percekcokan kecil. Sebab sikap dingin juga cuek dari Agam itu yang membuat Bianca selalu merasa kesal pada lelaki itu, hingga kadang mereka akan bertengkar sampai berkelahi.
Tiga hari menjelang pernikahan mereka. Masalah persiapan tempat pelaksanaan pesta juga dekorasi, semua telah diurus oleh Rendra juga Alena. Dan Agam, beberapa hari ini ia memperlancar hafalan kalimat janji sakral yang akan diucapkannya pada penghulu nanti, agar saat itu tiba, ia tak akan tersendat-sendat dalam mengucapkannya.
Malam ini Agam dan Bianca sedang berada diatas motor menikmati malam di ibu kota. Angin berhembus cukup kencang menerpa permukaan wajah mereka sebab tak menggunakan helm. Motor itu melaju membela lautan kendaraan di jalanan.
Sengaja tak menggunakan helm karena ingin menikmati angin tanpa penghalang, memang niatan mereka dari awal keluar untuk memakan angin ralat mencari angin.
Tangan Bianca melambai-lambai diudara menikmati semilir angin yang membuat rambut terurainya berterbangan. Mulutnya terbuka membiarkan angin masuk kedalam mulutnya. "Aaaaaa"
Agam memukul paha samping Bianca lantaran anak itu terlihat seperti orang gila. "Diem!"
Mulut Bianca terkatup dan mencebikkan bibirnya kesal.
Motor Agam berhenti saat lampu merah. Merasa gabut, Bianca menghitung detik demi detik berlalu menunggu lampu merah itu sampai berpindah hijau. "1 2 3 4 5--"
Agam geleng-geleng kepala. "Mending lo ngitung berapa jam berapa menit dan berapa detik lagi waktu pernikahan kita, dari pada ngitung gituan gak penting amat."
Padahal baru beberapa hari yang lalu tanpa sadar mereka menggunakan aku-kamu dan sekarang kembali lagi kesemula, seperti biasa lo-gue. Mungkin karena sudah nyaman dengan sebutan itu. Keduanya akan menggunakan panggilan aku-kamu ketika sedang serius dan dalam romantic mode.
Bianca menye-menye menirukan omongan Agam. "Minding li ngiting biripi Jim biripi menit dan biripi ditik ligi wikti pirnikihin kiti. Alahh bacot!"
"Kualat lo ya niru omongan suami."
"Serah gue!"
Agam menghembuskan napas sabar.
Sabar Agam sabar suami sabar jatah lancar!
Lantas, Agam meraih kedua tangan Bianca untuk melingkarkan kepinggangnya. "Pegangan."
Begitu lampu kembali ke hijau, Agam melajukan kembali motornya. Bianca mencebikan bibir lalu mencubit kecil pinggang Agam "Modus!"
Agam sedikit meringis dengan rasa sakit sekaligus geli akibat dari cubitan Bianca. "Sakit Bi."
"Gitu doang sakit, lemah!"
Tak ada tanggapan. Akhirnya mereka berdua saling diam dengan pikiran masing-masing. Sungguh, Bianca tak tahan jika hanya diam beberapa detik. Mulutnya ingin terus mengoceh.
Jadinya, ia mencari pertanyaan-pertanyaan random untuk dijadikan bahan obrolan. "Kakak punya mantan berapa?"
"Hm."
"Cinta pertama?"
"Hm"
"Mantan terindah?"
"Hm"
"First kiss?"
"Hm"
Mulai lagi gagunya. Bianca memutar bola matanya kesal. Saat Agam kembali mode dinginnya, jangan harap akan ada obrolan lagi. Percuma juga ia mencari-cari topik jika sudah seperti ini, respon dari Agam akan membuatnya ingin membuang cowok itu kelaut, tapi sayangnya ia calon suami yang tampan akan sangat rugi jika dibuang.
Beberapa detik kemudian bau sedap jagung bakar tercium di indera penciuman Bianca, ia mengendus-endus layaknya anjing mencari asal bau enak tersebut. Tepat ditepi jalan sebelah kanan depan sana, terlihat stand makanan pedagang jagung bakar.
Bianca mengguncang-guncang bahu Agam hingga kepala motornya oleng tak tentu arah. "Mau jagung bakar!"
"Iya-iya! santai napa!"
Motor itu berhenti tepat ditepi jalan dekat penjual jagung bakar tersebut.
Bianca bergegas turun dari motor dan mendekat ke penjual jagung bakar tersebut. "Pak! jagung bakarnya tiga!" Bianca mengacungkan tiga jarinya.
"Wokee!" tukang penjual itu mengipasi jagung yang tengah dipanggang.
"Lah kok tiga? gue gak mau ya!" seloroh Agam mendekati Bianca.
"Emang yang bilang itu buat lo siapa Idihh? itukan buat gue semua! kalo mau beli sendiri!" sewot Bianca memutar bola matanya malas.
Agam menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kirain."
Sambil menunggu jagung matang, Bianca menendang-nendang kecil betis Agam. Semula hanya pelan, tapi lama kelamaannya semakin kencang membuat cowok itu jadi jengkel. "Dosa ya lo nendang-nendang suami!"
"Calon!" Bianca menendang kuat dibagian lutut sampai membuat Agam menekuk kan lututnya sambil meringis, memegangi lututnya yang terasa ngilu.
"Gila ya! kaki lo kecil-kecil sakit banget nendangnya njirr!"
Bianca menggeplak bibir Agam. "Omongannya dijaga! gak boleh ngomong kasar, anjing!"
Lah?
"Itu lo barusan ngomong kasar juga!"
"Suka-suka gue!"
"Gue ngomong kasar gak boleh, giliran dia, bilangnya, siki-siki gii." gerutu Agam kesal.
Bianca mendengarnya. Ia menjijitkan kaki meraih kepala Agam lalu diacak-acaknya rambut lelaki itu sebab gemas.
"Hubungan kalian baik ya." celetuk sang penjual menyodorkan tiga jagung yang sudah matang. Dengan sedikit repot Bianca menyautnya menggunakan sebelah tangan.
"Emang bapak tahu apa hubungan saya sama cowok ini?" Bianca menunjuk Agam disampingnya.
"Pacaran kan?"
"Salah! dia ini sopir saya pak!"
Mata Agam membulat mendengar ucapan Bianca. "Sopir apaan! pak! jangan percaya! dia yang pembantu saya!"
"Hehh apaan lo!"
"Apa lo! dosa ya lo ngakuin suami sendiri sebagai sopir!"
"Lo juga dosa ya ngakuin istri sendiri sebagai pembantu!" Bianca mengangkat dagunya.
Agam bungkam, menahan napasnya sebab terlampau sebal. Jemarinya ia remas menahan kekesalannya pada Bianca.
Author POV: Saran untuk laki-laki se-world, ketika kalian sedang adu mulut dengan perempuan, usahakan harus mengalah jika ingin masalah cepat selesai. Jika tidak, masalah itu tak akan kelar sampai nanti. Terimakasih.
"Apa?!" tantang Bianca menggigit jagung bakarnya kasar.
Agam menghela napas kasar. "Serah lu dah!" akhirnya Agam memilih mengalah. Tiap bertengkar mulut dengan Bianca ia tak akan menang. Namanya betina.
Lelaki itu duduk disalah satu kursi yang tersedia di ikuti Bianca duduk tepat didepannya.
Dua perempuan berjalan menghampiri mereka dengan saling menyikut. "Gih, lo yang tanya."
"Kok gue sih?"
"Kan lo yang naksir!" salah satunya mendorong temannya kedekat Agam. Cowok itu tak peduli, dia hanya meliriknya sekilas kemudian kembali memperhatikan Bianca yang tengah memakan jagung.
Perempuan itu menyodorkan handphone-nya membuat Agam mengangkat sebelah alisnya heran. "Kenapa?"
"I-itu. Boleh aku minta wa kamu?"
"Diplaystore!" Cetus Agam.
"M-maksudnya nomor wa kamu."
Agam menghela napas. "Tanya ke istri gue." ujarnya menunjuk Bianca dengan dagu.
"Dia istri kamu?"
Melihat tanggapan Agam yang mengangguk singkat, perempuan itu mengusap tengkuk kaku. "M-maaf ya! Aku kira adik kamu."
Setelah mengatakan itu, akhirnya cewek itu kembali menghampiri temannya.
"Gimana-gimana dapet gak wa nya?" tanyanya mendapat gelengan kecewa dari sang empu. "Udah punya istri, tuh." tunjuknya pada Bianca.
Perempuan itu menepuk bahu temannya untuk menyemangati. "Masih banyak yang lain kok!"
Tatapan Bianca mengarah pada figur dua cewek tersebut. "Kakak Gay ya?"
"Gue normal!"
"Kalo normal kok nolak cewek secantik tadi sih?"
"Gak tertarik!"
Bianca manggut-manggut. Standar gadis yang disukai Agam sangat tinggi. Perempuan tadi saja yang terlihat sangat cantik dimata Bianca masih juga tak membuat Agam tertarik. Apalah daya ia yang cantiknya hanya dibawah standar? itu hanya akan dianggap Agam butiran debu, pikirnya.
"Mau?" Bianca menyodorkan jagung ke depan mulut Agam.
Agam menggeleng singkat.
"Dikit aja cobain, enak banget loh."
Tangan Agam terulur mengusap noda saos di tepi bibir Bianca. "Udah, makan aja."
Agam memperhatikan lekat Bianca yang menyantap jagung bakar begitu lahapnya sampai belepotan. "Segitu sukanya ya? mau beli sekalian dengan gerobaknya? gue yang beliin deh."
"Gak ih! ntar gue jadi gendut lagi! lo mau nanti punya istri gendut?!"
Agam menepuk pucuk kepala Bianca. "Gapapa. Malah enakkan di gue tiap malam meluk benda empuk."
"Idihh itu namanya modus!"
Agam terkekeh kecil.
Dua kali sudah Bianca melihat ketawa itu. Ia takjup melihat betapa sempurnanya ciptaan tuhan didepannya ini apalagi jika lelaki ini memang ditakdirkan untuknya. Bukan maen. Bianca sempat berpikir, kebaikan apa yang ia lakukan sampai tuhan menurunkan lelaki yang begitu sempurna untuknya?
Bianca menopang dagunya dengan sebelah tangan menatap Agam begitu lekat.
"Kak, kayanya ketawa lo jadi candu gue deh." ujarnya santai berhasil membuat Agam mematung. Guratan panas menjalar kepipinya. Jantungnya berdetak begitu cepat sampai terasa meronta-ronta ingin keluar dari tempatnya.
Agam berdiri dari duduknya sambil membuang muka menyembunyikan rona di pipinya. "Ayo pulang."
"Ntar kak habisin satu lagi nih."
Diam tak menanggapi, tak lupa Agam membayar jagung bakar pada penjual terlebih dahulu, lalu berjalan menuju motornya dan menaikinya. "Cepetan! gue tinggal nangis lo!"
"E-eh jangan dong!"
Tak ingin di tinggal, cepat-cepat Bianca beranjak, berjalan sedikit berlari ke arah motor Agam kemudian naik dibelakang lelaki itu.
"Berangkat!" Bianca mengangkat kepalan tangannya diudara.
***
Tapi cuma itu yang bisa ngilangin rasa gabut kalo ngga pas lagi sendirian pasti gitu biar ngga terlalu bosen dan bingung mau ngapain jadi ya gitu 😂😭
bagus awal akhir kok jd
1-BIANCA YG SUDAH BERSUAMI,TAPI MASIH BERHUBUNGAN DENGAN LELAKI LAIN, APAPUN ALASANNYA TETAP AJA GAK DIBENARKAN..
2-AGAM SEBAGAI SUAMI TAPI KAYAK PECUNDANG,DAN GAK TEGAS, BISA2 MEMBIARKAN ISTERI NYA DIDEKATIN LELAKI LAIN, DENGAN ALASAN TERLALU BUCIN KE BIA..Ckkk jadi kecewa deh,maaf ya thor..🙏🙏