Dalam hati Dewi sudah tidak lagi mengenal nama Arjuna setelah Arjuna tega meninggalkan dirinya untuk di jodohkan dengan wanita lain dan ia sudah menghapus nama itu jauh-jauh dari dasar hatinya yang paling dalam, hingga pada suatu hari takdir mempertemukan mereka kembali dalam suatu meeting perusahaan.
Dewi bekerja di suatu perusahaan di mana salah satu pemegang saham terbesarnya adalah Arjuna mantan suaminya.
Sayangnya Arjuna harus bersaing dengan Satya pimpinan Dewi saat ini dan Satya adalah teman Arjuna.
Bagaimanakah usaha Arjuna untuk kembali merebut hati Dewi....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
Arjuna memperhatikan Satya yang berjalan menyusul Rere yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Sejurus kemudian pandangan Arjuna tertuju pada Dewi yang sedang duduk sambil mengutak-atik ponselnya.
"Kasihan Dewi, dasar Satya brengsek beraninya dia ketemuan sama cewek lain di satu tempat di mana ada Dewi juga di sini."
"Oh ya mas, tadi kan mama pesan minta di belikan brownies ya?" tanya Sarah tiba-tiba pada Arjuna.
"Oh ya, ya udah kalo gitu kamu aja yang belikan browniesnya ya, aku tunggu di sini saja," ucap Arjuna pada Sarah.
"Terus aku naik apa mas?"
"Ini, kamu bawa aja mobilku," ucap Arjuna sambil menyodorkan kontak mobilnya pada Sarah.
"Mmmmm....oke, tapi janji ya mas Arjuna tidak akan menemui Dewi?" kata Sarah sambil mengambil kontak mobil itu.
"Iya," ucap Arjuna.
Kemudian Sarah beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari cafe itu.
Setelah merasa Sarah udah pergi dari cafe itu, Arjuna kemudian berjalan menghampiri Dewi yang sedang duduk sendirian.
"Dewi," sapa Satya pada Dewi.
Dewi mendongakkan kepalanya dan ia sedikit kaget ketika melihat Arjuna sudah duduk di hadapannya.
""Mas Arjuna? ngapain di sini?" tanya Dewi pada Arjuna dengan heran.
"Sejak tadi aku sudah ada di cafe ini bersama sarah tadi."
"Terus sekarang Sarah kemana?" tanya Dewi sambil celingukan.
"Sarah lagi keluar beli brownies pesanan mama."
"Hmmmm..." Dewi menipiskan bibirnya sambil menatap Arjuna.
"Oh ya, Satya ke mana Wi?"
"Pergi ke toilet," jawab Dewi.
"Toilet, apa toilet?" pancing Arjuna pada Dewi.
"Maksudnya?" Dewi balik tanya pada Arjuna.
"Kamu gak curiga kalau Satya itu bukan pergi ke toilet, tapi pergi menemui seseorang," kata Arjuna pada Dewi.
"Kamu ngomong apa sih mas?" ucap Dewi dengan mimik muka tidak suka.
"Satya itu bukan laki-laki yang baik Wi," kata Arjuna sambil menatap Dewi lekat-lekat.
"Maksudmu apa sih mas?" kata Dewi sambil mengernyitkan alisnya menatap Arjuna.
"Masak kamu gak ngerasa Wi, kalau Satya itu sudah sekingkuhin kamu dengan wanita lain," kata Arjuna pada Dewi.
"Aduh mas Arjuna makin lama ngomongnya tambah ngawur, kalau mas Arjuna gak suka sama mas Satya udah gak suka aja gak usah nuduh yang enggak-enggak, sudah sana mas pergi aja aku gak mau denger lagi mas Arjuna ngomong soal mas Satya," Dewi berkata sambil menatap Arjuna dengan tatapan tidak suka.
"Oke Wi, aku cuma ngingetin aja," kemudian Arjuna berlalu dari meja Dewi dan ia berjalan menuju ke taman luar cafe dan setelah tiba di taman, pandangan Arjuna menyapu ke seluruh taman dan pandangannya tertuju pada Satya dan Rere yang sedang duduk berdua di sebuah bangku taman.
Arjuna mengambil tempat duduk yang tersembunyi sambil memperhatikan Satya dan Rere.
"Benar-benar keterlaluan itu si Satya," gumam Arjuna sambil melihat ke arah Satya.
"Sekarang juga kamu harus pergi dari tempat ini Re," kata Satya pada Rere.
"Ngapain aku harus pergi, aku kan juga punya hak untuk datang ke cafe ini," Rere mulai nyolot.
"Masalahnya di sini ada Dewi."
"Dia kan gak tahu siapa aku, kalau kamu gak ngasih tahu statusku pada Dewi."
"Iyya tapi aku minta tolong pergilah dari tempat ini dan jangan sampai kamu merusak acara makan malam ku dengan Dewi."
"Oke, kalau itu maumu Satya, tapi ada satu syarat," kata Rere sambil tersenyum pada Satya.
"Apa?"
"Cium aku dulu sebelum aku pergi dari tempat ini," Rere menatap Satya dengan tersenyum manis.
"Kamu sudah gila!" pekik Satya pada Rere.
"Kalo iya emang kenapa?" Rere balik tanya.
"Gak, aku gak mau lakukan itu," kata Satya dengan geram.
"Oke, kalau kamu gak mau cium aku, aku akan tetap diam di cafe ini atau bahkan......aku akan ikut nimbrung dengan acara makan malam kalian," Rere mengangkat alisnya menatap Satya.
"Kamu memang benar-benar gila," gerutu Satya pada Rere.
"Jadi.....? pilih mana? cium aku atau aku ikut gabung dengan kalian?" Rere tersenyum dengan liciknya.
Dan tidak ada pilihan lain lagi akhirnya Satya menoleh ke kanan dan ke kiri lalu secepat kilat ia mencium kening Rere.
"Nah....gitu dong.....apa susahnya sih......thank you ya sayang, i love you honey.....," ucap Rere sambil berdiri dan pergi meninggalkan Satya.
"Wah..... benar-benar keterlaluan itu si Satya, untung saja aku sudah menyimpan rekaman video waktu Satya mencium perempuan itu," Arjuna menghujat perbuatan Satya yang tadi.
Arjuna berdiri dari tempat duduknya dan hendak beranjak dari tempat itu tapi tiba-tiba Satya menubruknya dari belakang.
"Hei, santai dong ngapain buru-buru gitu sampai nabrak-nabrak segala," kata Arjuna pada Satya.
"Arjuna? apa dia sudah si sini dari tadi? dan....apa dia sudah melihat aku dan Rere tadi di sini? wah kacau ini?" Satya bertanya-tanya sendiri sambil menatap Arjuna.
"Kok malah bengong gitu, heh Satya!" panggil Arjuna pada Satya yang kelihatan bengong.
"Ngapain kamu di sini? atau jangan-jangan kamu sengaja ikutin aku dan Dewi ke cafe ini," Satya menyembunyikan kegalauannya dengan menuduh Arjuna.
"Brengsek kamu ya Satya, harusnya aku yang tanya sama kamu, ngapain kamu di sana berduaan sama perempuan sementara Dewi sedang menunggu kamu di meja sana!" Arjuna mulai naik pitam.
"Bukan urusan kamu!" kata Satya sambil menunjuk dada Arjuna dengan jari telunjuknya.
Dengan cepat Arjuna meraih tangan Satya dan memegangnya dengan sekuat tenaga sambil berkata pada Satya.
"Sekarang menjadi urusanku, karena aku masih peduli pada Dewi dan aku gak mau kamu sakiti Dewi, camkan itu!!" Arjuna menghempaskan tangan Satya begitu saja.
Satya mencibir melihat Arjuna yang berlalu pergi meninggalkan dirinya.