NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kultivasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: En zz

Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manuisa cacat.

Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.

Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai element api.

Salah satunya adalah kakek Shen yifan.

Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Lembah Kabut Roh - Artefak dan Pelarian

Sementara Shen Yifan melesat menembus kegelapan hutan yang kian pekat diselimuti kabut, di sisi lain tempat itu, Jian Chen dan para murid juniornya tengah terdesak dalam pertarungan hidup dan mati melawan belasan kultivator musuh.

​Jian Chen terdorong mundur satu langkah akibat terhantam gelombang serangan elemen angin.

​"Sialan!" umpat Jian Chen seraya menyeka bercak darah yang meluncur dari sudut bibirnya.

​"Jian Chen, menyerah saja!" seru seseorang yang melayang angkuh di udara, berdiri tegak di atas bilah pedang terbangnya.

​"Orang-orang dari Sekte Pedang Surgawi memang tidak pernah mencerminkan nama besar sekte mereka sendiri!" desis Jian Chen tajam. Ia mengenali sosok itu—si musuh bebuyutannya, Lin Feng.

​"Ayolah, setidaknya jika kau menyerah sekarang, aku akan membiarkan mayatmu tetap utuh," cemooh Lin Feng dengan raut wajah pongah, memandang rendah siapa pun yang berada di bawah tingkatannya.

​Jian Chen menggeram pelan. "Jangan harap! Aku tidak akan membiarkan kalian melintasi batas ini sebelum Nona Bingxue berhasil mengamankan artefak itu!"

​"Teruslah bermimpi! Pemimpin kami yang akan membawa keluar artefak tersebut!" balas Lin Feng sinis.

​(Nona Bingxue, cepatlah keluar dan dapatkan artefaknya!) batin Jian Chen cemas seraya melirik sekilas ke arah mulut gua di belakangnya.

​"Karena kalian berasal dari sekte kecil, kami akan memberi sedikit penghormatan pada mayat kalian!" ujar Lin Feng dingin seraya mengangkat pedangnya perlahan.

​Aura kebiruan seketika menjalar di sepanjang bilah pedang tersebut, memicu penurunan suhu yang drastis di sekelilingnya. Rumput di bawah kakinya membeku seketika, sementara udara bergetar hebat akibat pendar hawa dingin yang menusuk.

​"Tebasan Pembeku Langit!"

​Satu tebasan dilepaskan. Puluhan bilah energi es berwarna biru muda berbentuk sabit melesat cepat ke arah para murid junior yang berada di belakang Jian Chen.

​Wajah para murid itu seketika pucat pasi.

​"Gawat!"

​Mereka buru-buru mengangkat senjata demi menahan gempuran. Aura biru itu memancarkan hawa dingin yang menggerogoti tulang; bunga-bunga es bermekaran sepanjang lintasan tebasan, menyelimuti kawasan hutan dengan lapisan embun beku tipis.

​"Aaaargh!"

​"L-Lin Feng terlalu kuat..."

​Lin Feng menatap mereka dengan senyum meremehkan. "Hanya sampah-sampah seperti ini yang kalian bawa ke Lembah Kabut Roh?" Tatapannya kemudian tertuju lurus pada Jian Chen. "Sudah selesai bermain-mainnya?"

​Jian Chen tidak menjawab. Ia perlahan memejamkan kedua matanya.

​Energi spiritual di dalam dantian-nya berputar liar. Pendar cahaya keemasan muncul perlahan dari kedua telapak tangannya—memancarkan rasa hangat namun sarat akan tekanan yang teramat berat. Dedaunan di sekitarnya bergetar pelan, sementara angin yang semula berembus kencang mendadak hening.

​Saat Jian Chen kembali membuka mata, sepasang pupilnya memantulkan cahaya keemasan yang berkilau.

​"Kalau begitu..." desisnya lirih, "...aku juga tidak akan menahan diri lagi!"

​Kedua telapak tangannya didorong kuat ke depan. Di belakang tubuhnya, sebuah bayangan telapak tangan raksasa berwarna emas terbentuk mendominasi udara, memancarkan aura suci yang seketika mengikis tekanan pedang es milik Lin Feng.

​Ekspresi Lin Feng yang semula santai berubah serius. "Hmph! Jadi kau akhirnya mengeluarkan teknik andalanmu?"

​Pedang Lin Feng kembali membeku, terbalut aura biru yang kian pekat. "Ayo, Jian Chen! Biarkan aku melihat apakah Telapak Tangan Penekan Langit milikmu masih layak disebut sebagai teknik terkuat!"

​Suhu udara mendadak merosot drastis. Bunga es mekar di sepanjang bilah pedangnya, sementara lapisan es tebal merambat di atas tanah.

​"Seni Pedang Es: Tebasan Pembeku Langit!"

​Satu tebasan dahsyat dilepaskan bersamaan dengan teriakan Jian Chen, "Cahaya Ilahi: Telapak Tangan Penekan Langit!"

​Dua jurus tingkat tinggi melesat dan bertabrakan secara langsung di udara!

"BOM!!!" ​Cahaya keemasan dan aura es biru muda berbenturan dahsyat. Energi emas berusaha menekan hawa dingin, sementara energi es mencoba membekukan ruang di sekitarnya. Dua kekuatan yang saling bertolak belakang itu saling menggerus hingga akhirnya meledak, menciptakan gelombang kejut luar biasa yang menyapu seluruh kawasan.

​Permukaan tanah berguncang hebat. Ledakan susulan membuat tanah retak bagaikan jaring laba-laba. Kabut pekat yang menyelimuti lembah sempat terhempas dan tersingkap sesaat, memperlihatkan langit sebelum akhirnya tertutup kembali oleh uap putih.

​Para kultivator yang menyaksikan pertarungan tersebut buru-buru mundur puluhan meter dengan wajah penuh kekaguman dan ketakutan.

​"Mengerikan..."

​"Ini benar-benar pertarungan antar-jenius!"

​Tak lama kemudian, dua sosok yang bertarung itu terpental secara bersamaan.

​Jian Chen terdorong puluhan meter ke belakang. Kedua kakinya menyeret tanah hingga menciptakan Parit panjang. Begitu berhasil menahan tumpuan tubuhnya, wajahnya mendadak pucat pasi.

"Uhuk!" ​Seteguk darah segar menyembur dari mulutnya. Napasnya terengah-engah, sementara kedua telapak tangannya bergetar hebat akibat benturan energi barusan. Meski begitu, sorot matanya tetap tajam menatap ke depan.

​Di sisi lain, Lin Feng tidak mengalami nasib yang lebih baik. Tubuhnya terlempar menghantam beberapa batang pohon besar hingga tumbang beruntun sebelum ia berhasil menstabilkan posisi di udara.

​Jubah mewahnya robek di banyak tempat. Luka sayatan memenuhi lengan, bahu, hingga dadanya, sementara darah segar menetes pelan dari ujung pedang.

​Lin Feng mengusap darah di sudut bibirnya, menatap Jian Chen dengan raut wajah yang jauh lebih waspada. "Aku meremehkanmu..."

​Jian Chen menarik napas panjang seraya menyeka bibirnya. "Kau juga lebih kuat dari yang kubayangkan."

​Sesaat, suasana menjadi hening. Tak seorang pun berani bergerak; para kultivator yang menyaksikan pertarungan itu hanya bisa menelan ludah. Mereka tidak menyangka dua jenius generasi muda tersebut sanggup bertarung hingga sama-sama menderita luka dalam yang parah.

​"Oh? Kalian sedang bertarung, ya?" Tiba-tiba, sebuah suara tenang terdengar dari arah mulut gua di belakang Jian Chen.

​"Suara itu... Bukankah itu suara Senior dari Sekte Pedang Surgawi?!" seru para anggota Sekte Pedang Surgawi penuh harapan, mengira senior mereka telah berhasil merebut artefak tingkat empat tersebut. Wajah Lin Feng pun sempat menyunggingkan senyum kemenangan.

​Namun, harapan mereka mendadak sirna, berganti dengan kejutan dan ketakutan yang teramat sangat.

​Dua orang keluar dari dalam gua. Salah satunya tampak tidak berdaya, diseret begitu saja oleh seorang wanita cantik bergaun ungu.

​"Nona Bingxue!" seru Jian Chen lega.

​"Jian Chen? Kenapa kau sampai babak belur begitu?" Nangong Bingxue memiringkan kepalanya, tampak bingung.

​"A-Sebelum itu... Dia kenapa?" tanya Jian Chen seraya menunjuk ke arah sosok yang terbungkus penuh oleh kristal spiritual berwarna putih kebiruan.

​"Dia? Oh, pemimpin ekspedisi Sekte Pedang Surgawi," jawab Nangong Bingxue datar, seolah-olah hal itu bukanlah masalah besar.

​Melihat kenyataan pahit di depannya, Lin Feng merasakan ketakutan yang luar biasa. Pemimpin sekaligus senior terkuat dari sektenya telah tumbang dengan sangat mudah!

​Jian Chen tertawa kecil seraya menggelengkan kepala. "Ada-ada saja..."

​Tatapan mata Nangong Bingxue yang bening perlahan menyapu seluruh area pertempuran. Matanya terhenti pada beberapa murid sektenya yang tergeletak di tanah dengan luka-luka membeku. Alisnya sedikit berkerut.

​Ia menghela napas lirih. "Kalian benar-benar membuat keributan."

​Suasana seketika menjadi hening mencekam. Entah mengapa, nada suara yang begitu tenang itu justru membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

​Lin Feng menggertakkan giginya. "Hmph! Jangan berlagak tenang! Meskipun Senior kami kalah, apa kau pikir kau bisa menghadapi kami semua sendirian?!"

​Nangong Bingxue bahkan tidak sudi memandangnya. Ia hanya mengangkat tangan kanannya perlahan, mengalirkan energi spiritual yang sangat murni dari ujung jemarinya.

​Namun, energi tersebut tidak seperti energi spiritual biasa. Butiran-butiran cahaya putih kebiruan bermunculan di udara, memadat menjadi serpihan-serpihan kristal bening yang memancarkan kilau lembut.

​Udara di sekitar mereka mendadak terasa teramat berat.

​"Dominasi Kristal."

​Suara Bingxue terdengar amat pelan. Dalam sekejap, ribuan serpihan kristal spiritual memenuhi seluruh kawasan.

​"Gawat! Semua orang, mundur!" teriak Lin Feng panik.

​Namun, semuanya sudah terlambat. Serpihan kristal melesat ke segala arah tanpa suara. Kristal-kristal itu tidak menusuk tubuh, melainkan menempel pada kaki, lengan, dan bahu mereka. Kristal putih kebiruan tersebut mulai merambat dan menjalar dengan kecepatan yang mencengangkan.

​"A-apa ini?!"

​"Kenapa tidak bisa dilepaskan?!"

​"Aaargh!"

​Dalam beberapa tarikan napas, tubuh para murid Sekte Pedang Surgawi satu per satu terbungkus kristal, berubah menjadi patung-patung kristal bening yang membeku di tempat. Kesadaran mereka masih ada dan mata mereka terbuka lebar, tetapi tak satu pun jari mereka yang bisa digerakkan.

​Lin Feng mengerahkan seluruh energi spiritualnya hingga urat-urat di lehernya menonjol tajam. "HANCUR!"

​Lin Feng meledakkan energi spiritualnya. Namun, kristal putih kebiruan yang mengurung tubuhnya hanya memunculkan retakan kecil sebelum akhirnya pulih kembali dalam sekejap.

​"K-kenapa bisa begitu...?" Sorot mata Lin Feng dipenuhi ketidakpercayaan.

​Nangong Bingxue akhirnya menoleh padanya dengan tatapan dingin. "Jangan khawatir. Aku hanya membekukan tubuh kalian. Jika aku berniat membunuh... kalian semua sudah hancur menjadi serpihan sejak tadi."

​Keheningan total menyelimuti area pertempuran. Para murid junior yang sekelompok dengan Jian Chen hanya bisa menelan ludah menyaksikan kehebatan tersebut.

​"Nona Bing, seperti biasa... kau sungguh luar biasa," puji Jian Chen sambil tersenyum kecut.

​"Hah..." Nangong Bingxue menghela napas panjang. "Aku sedikit kesal. Junior yang dititipkan Guru kepadaku malah sampai terluka."

​"Lalu, bagaimana dengan artefaknya? Apa sudah berhasil didapatkan?" tanya Jian Chen.

​"Aman!" Nangong Bingxue tertawa kecil. Ia mengedipkan sebelah matanya, lalu mengacungkan ibu jari dengan senyum puas. "Ayo kita tinggalkan lembah ini. Ekspedisi kita sudah selesai, dan sepertinya para junior kita sudah mendapatkan banyak pengalaman berharga, bukan?"

​Nangong Bingxue melirik ke arah para murid junior yang mengangguk cepat tanpa berani membantah.

​"Tapi, bagaimana dengan mereka?" Jian Chen menunjuk ke arah belasan orang yang terperangkap dalam kristal.

​"Santai saja. Dalam waktu satu hari, kristal itu akan hancur dengan sendirinya, haha!" Nangong Bingxue melangkah pergi sambil tertawa santai.

​Jian Chen hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah lakunya.

......................

​Sementara itu, di bagian lain lembah, Shen Yifan terus melaju menghindari kejaran orang-orang dari Keluarga Luo. Ia bergerak lincah menembus pepohonan rapat, secara konstan menghindari tebasan dan serangan energi yang mengincar kepalanya dari udara.

​"Sialan! Pergerakan bocah itu cepat sekali!" umpat salah seorang pengejar dengan napas terengah-engah.

1
obeng min
mantap
sitanggang
hadeuhhh lemah bgt🙄
obeng min
lanjut💪💪💪💪💪
obeng min
💪💪💪👍👍👍👍
obeng min
upnya lama
obeng min
👍👍👍👍💪
obeng min
lanjut 💪💪💪💪💪
obeng min
manatap perbanyak upnya 🤣🤣💪💪👍👍👍
Jhon Saanz
up bang
obeng min
josss👍👍👍👍👍
Andi Akhasay: Liat ceritaku kak
total 1 replies
obeng min
lanjut👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!