"Nyatanya, semua tak seindah kelihatannya"
Binar Latisha Orzia
"Kamu rapuh, aku tahu itu. Aku akan menjadi perekat hidupmu"
Awan Buana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juanda Afipasari Silaen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nadir ~ 1 Menit
Sebegitu rumitnya kah mencari jawaban soal perasaan yang sebenarnya tak tau maksud dan tujuan?
Awan duduk memandang lurus kearah depan, menatap ibu kantin yang tengah memasak.
Sejak tadi, pikiran Awan terus dikelilingi oleh Binar, bagaimana keadaan Binar sekarang? Apa Binar baik baik saja? Binar udah siuman atau belum?
Pertanyaan demi pertanyaan bersemayang dikepala Awan, membuat Awan menjadi pusing memikirkannya.
Awan mengacak kepalanya frustrasi.
"Kenapa lo?" tanya Rian.
"Kesambet? " tanya Agam.
Mereka berdua sama sama memerhatikan Awan membuat Awan jadi salah tingkah, "Ha, apanya?" ucap Awan kikuk.
"Sakit lo Wan? " Agam mulai memegang kening Awan, kemudian tangannya diletakan dipantatnya. "Sama kok," lirih Agam membuat Awan menendak kaki Agam.
"Auu sakit tau,"
"Bodok." ketus Awan.
Rian yang disebelah Agam malah tertawa melihatnya Agam yang tengah meringis kesakitan.
Sekarang pandangan Rian beralih kearah Awan, melihat Awan yang tampaknya seperti ada beban, "Lo kenapa Wan? tagihan listrik melonjak? atau bi Ima naksir lo lagi? " ucap Rian, Awan tidak memperdulikannya, dia hanya menatap lurus kedepan.
Rian yang tak mendapat jawaban, mendengus pelan, "Udah berapa lama sih temanan sama kita? masih aja main sembunyi sembunyian gini," lirih Rian sambil menyedot minuman yang ada dihadapannya.
Awan melirik kearahnya, begitu juga Agam, Rian sekarang tampak serius, jarang jarang dia seperti ini.
"Kenapa sih Awan zeyeng? ada apa gerangan? why muka lo kayak baju emak gue kalau belum mandi, lusu amat." ucap Agam dengan nada manja.
"Binar masuk rumah sakit."
Depp
Sekarang Rian dan Agam menatap Awan penuh tanda tanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan Awan san Binar? mengapa Awan tau kalau Binar sakit? apa Awan benar benar suka dengan Binar?.
Agam menatap Awan sedikit tajam, Agam suka dengan Binar tapi dia pernah bilang, dia akan nyerah jika Awan suka dengan Binar.
Agam menarik nafas pelan, ditepisnya semua pikiran negatif untuk Awan.
"Lo tau dari mana?" tanya Agam.
"Semalam gue kerumah sakit, nemuin dia."
"Oooh," ucap Agam santai.
"Jadi itu alasan lo semalam bolos?" tanya Rian.
"Iya."
"Lo suka Binar? " tanya Agam, seketika Awan terbungkam. Otaknya seolah berhenti berfikir, hatinya tidak bisa menjawab pertanyaan sulit itu.
"Lo suka kan sama Binar? " tanya Agam lagi ulang.
Awan masih tak menjawab, dirinya merasakan bahwa situasi kali ini menjadi sangat serius sekali, jika ia salah jawab, maka akan terjadi masalah dikemudian hari.
Agam tertawa kecil membuat Awan yang terdiam menatap kearahnya, "Gue tau, lo gak bakalan bisa jawab. Jangan plinplan soal perasaan, lo harus tentuin mulai dari sekarang." ucap Agam kemudian pergi meninggalkan Rian dan Awan disana.
Rian terpelongo melihat kepergian Agam, sejak ia kenal Agam, jarang sekali Agam berbicara seserius itu? apa otaknya sudah di perbaiki?
Awan merunduk, pikiran dan hatinya campur aduk antara jawaban iya atau tidak, antara benar benar cinta atau hanya sekedar iba saja.
Sebegitu rumitnya kah mencari jawaban soal perasaan yang sebenarnya tak tau maksud dan tujuan?
*****
Sepanjang jam pelajaran Agam diam tak menyauti Awan ataupun Rian.
Rian yang duduk disebelahnya pun merasakan aneh dari Agam, biasanya jam pelajaran Buk Siti guru bahasa inggris menjadi hal paling favorit mereka, karena mereka bisa menggoda ibu yang masih dikatakan muda itu dan mengulur waktu untuk tidak belajar.
Rian menatap kearah Agam sambil berdesis memanggilnya, tapi Agam sama sekali tidak menoleh atau menyauti Rian.
Rian menoleh kebelakang, kearah Awan. "Psstt," Awan melihat kearah Rian.
"Ni, teman lo, ngambek," bisik Rian, Awan melihat kearah Agam sejenak lalu memalingkan wajahnya kearah buku dihadapannya.
Rian melotot melihat respon Awan, dasar temannya ini, tidak perdulian sekali.
Setelah belajar dengan serius tidak seperti biasanya, ada uluran waktu buat tidak belajar.
Akhirnya jam pelajaran Buk Siti pun berakhir dan itu juga menjadi pelajaran terakhir buat mereka dalam hari ini.
"Baiklah, karna bel pulang sudah berbunyi, kalian semua boleh pulang, jangan lupa belajar dirumah. Ibu keluar duluan." ucap Bu Siti kemudian berlalu dari kelas.
Agam memasuki buku bukunya kedalam tas, sementara Awan langsung menyelonong pergi begitu saja dari sana, Rian menatap Awan yang pergi begitu saja.
"Wihh main tinggal aja tuh anak, liat teman lo," ucap Rian pada Agam.
Agam masih memasuki buku bukunya lalu menutup tasnya dan pergi begitu saja tanpa menjawab ucapan Rian.
Rian terpelongo di buatnya.
"Astaga, gue ditinggalin? sendirian? dasar teman l****t."
*
Awan mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit, seperti yang ia ucapkan semalam, ia ingin bertemu dengan Binar lagi, hatinya terus mengajak dirinya.
Di perjalan Awan tersenyum penuh, hatinya berdebar ingin bertemu Binar, setiap detik jika bersama Binar rasanya hatinya selalu tenang.
Ditengah perjalanan, Awan melihat dari kacas spionnya, ada mobil yang mengikutinya dari belakang, mobil Agam.
Awan memperlambat kecepatan mobilnya membuat mobil Agam berhenti didepan mobil Awam, menghadangnya.
Agam turun dari mobil begitu pula dengan Awan, belum sempat Awan bersuara, Agam sudah menarik baju Awan.
"Gue ikut jenguk Binar."
*
"Ngapain kalian kesini? " tanya Friska sambil menatap kedua pria dihadapannya ini dengan tatapan curiga.
"Jenguk Binar tante," ucap Awan dan Agam serentak.
"Kalian siapanya Binar?"
"Teman sekelas tante," jawab mereka berdua serentak lagi.
Friska memicingkan matanya, menatap mereka berdua. Sekarang pandangannya beralih ke Agam, anak mana lagi ini?
"Kalian berdua suka Binar? "
"Iya."
"Enggak."
Jawab Agam dan Awan berlawanan.
Awan memelototi Agam, "Maksudnya enggak tante, " ucap Agam.
Friska mangut mangut, dia paham sekarang, dua pria yang dihadapannya ini tengah dimabuk cinta oleh Binar.
Friska baru tau bahwa anak itu bisa membuat kedua pria di hadapannya ini menyukainya.
"Kalian pergilah pulang, saya tidak mengizinkan kalian masuk." usir Friska.
Agam dan Awan melotot mendengarnya, apa mereka diusir terang terangan?
"Ta tapi tante, kami mau ketemu Binar, mau liat kondisi nya." ucap Agam.
"Baiklah, tapi hanya 3 menit."
Lagi lagi Agam dan Awan melotot dibuatnya, "Tiga menit?" Awan terkejut.
"Oooh kebanyakan yah? satu menit."
"Ehh, kok jadi kurang tante, yaudah tiga menit aja, " ucap Agam.
"Satu menit atau tidak sama sekali," ucap Friska.
Agam dan Awan sekarang saling tatap tatapan, hanya satu menit?
Agam menghela nafas, Awan juga, mereka mengangguk, "Yaudah tante satu menit," ucap Awan.
Kemudian Friska membawa mereka berdua masuk kedalam ruangan Binar, Agam yang baru melihat kondisi Binar langsung terkejut.
Agam langsung dengan cepat mendekati Binar dan berdiri disampingnya, Awan tak mau kalah, Awan juga mendekati Bianr dan berdiri disisi lainnya.
Agam menatap Binar sedu, matanya sekarang menjadi panas, "Lo Kenapa Nar? " lirih Agam dramatis.
"Empat puluh detik lagi," ucap Friska, Agam menatap kearah Friska melotot.
"Mamake, dihitung beneran." lirih Agam.
Awan menatap Binar sambil mengusap lembut rambutnya, sekarang tangan Awan beralih menggenggam jemari Binar, Agam melihat aksi Awan, begitu juga dengan Friska.
Friska melihatnya tidak suka, "Offside, anda melewati batas, silahkan keluar."
"What? "
Friska menarik Agam dan Awan keluar dari ruangan itu, Agam yang belum sempat membuat adegan dramatis dengan Binar merasa kecewa.
Salam dari author police lgi hate you🤭
Nextnya ditunggu di karyaku sudah UP,
- Psychopath And Me
- Not Until
#salam dari police l hate you kk🙏