Arsel, pria tampan yang kini menjadi seorang pemimpin di sebuah perusahaan sukses milik keluarganya. Ia adalah pria yang memiliki 1 anak, eits walau pun begitu Arsel bukan duda loh.
Seperti alasan umum, ia terjerumus dalam ruang pertemanan yang salah.
Namun, hidupnya benar benar berubah kala ia dijodohkan oleh sang papa dengan alasan cukup umur. Betapa tidak percayanya, ternyata dirinya dijodohkan oleh wanita yang ditemuinya di toko kue miliknya dengan nama anaknya.
***
Dalam masa perevisian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
[FLASH BACK]
Arsel pulang kerumah dengan keadaan mabuk, dia pulang pukul tiga pagi dimana semua orang sudah terlelap dengan mimpi masing-masing.
Namun, tidak dengan Arin yang terus menunggu Arsel disofa, bahkan tadi dia sempat tertidur sebentar. Bel rumah berbunyi, Arin langsung melihat siapa pelakunya, ia melihat suaminya yang sempoyongan hanya untuk berdiri dari jendela.
Arin langsung bergegas membuka pintu, ia langsung diserang dengan tubuh Arsel yang ambruk ketubuhnya.
"Mas... m-mas kamu m-mabuk!!." Setetes demi setetes air mata Arin keluar dengan lancangnya tanpa disuruh.Ia memopong tubuh Arsel agar duduk disofa dahulu.
'Ugh...Uwek...ugh...uwek." Arsel memuntahkan isi perutnya yang hanya berisi cairan kuning berbau alkohol dan itu dimuntahkan ditubuh Arin. Wanita itu tidak peduli, dia masih terus membopong tubuh Arsel agar sampai disofa.
Bruk
keduanya terjatuh karena Arin yg sudah lelah membopong tubuh tegap Arsel yg berat.
"Mas... mas sadar... aku capek udah gak kuat lagi." Arin terus berusaha membangunkan pria itu sebisa mungkin. Arsel mengerjapkan matanya, dia masih belum sadar.
"Keke... kau Keke kan? Keke aku kangen sama kau. Kau dari mana saja? Aris anak kita udah besar. Keke jangan pergi... Arin?." Arsel terus bergumam tidak karuan. Arin terus menangis deras. Dia tidak menyangka kalau Arsel masih menyimpan perasaan dengan wanita yang dulu dia cintai. Ia mengelap air matanya kasar. Arin berusaha lagi membopong tubuh Arsel hingga sampai disofa, lalu menidurkan pria tersebut. Dia langsung berlari kekamar dan kembali dengan membawa selimut untuk suaminya.
Arin ingin menyelimuti Arsel namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh Arsel kuat membuatnya terjatuh diatas tubuh pria itu. Arin berusaha melepaskan pelukan Arsel untuk kembali ketempat semula.
Bruk
Posisi mereka berubah. Sekarang Arsel yang menindih tubuh Arin dan langsung menyerobot bibir Arin dengan ganas. Sedangkan Arin menangis, dia masih berusaha melepaskan ciuman kasar itu dengan sekuat tenaga. Arin tatkala mendesah dan mengaduh karena perlakukan suaminya yang sedang mabuk.
Setelah terlolos dari Arsel, Arin langsung berlari pergi meninggalkan pria itu disofa sendiri menuju kamar. Sesampainya, ia langsung menuju kamar mandi membersihkan diri dari muntah Arsel.
...***...
Keluarga kecil itu masih terus berdiam diri dengan seorangpun yang tidak ingin memulai obrolan. Arin terus saja diam dan menunduk juga tidak pernah melihat wajah Arsel sedikitpun.
Sedangkan Arsel terus diam, dihatinya sedikit ada rasa bersalah yang mendalam kepada wanita itu. Namun Arsel adalah orang yang gengsian untuk meminta tolong apalagi meminta maaf.
Ia hanya pernah meminta maaf kepada Arin sekali dua kali, namun bahkan kepada orangtuanya saja tidak pernah.
Aris hanya diam, dia tidak tau apa yang terjadi namun memilih diam tidak ingin mencampuri urusan orang dewasa yang masih belum sampai keotaknya.
"Ayo ma pergi." Ajak Aris, Arin hanya mengangguk mengiyakan. Sedangkan Arsel yang melihat itu memberanikan dirinya untuk menawarkan tumpangan.
"Aku antar." Ajak Arsel tulus namun terkesan seperti tidak menginginkan keduanya mengiyakan. Arin menunduk lalu menggeleng pertanda tidak setuju.
"Huh." Arsel lebih memilih menggendong Aris lalu menarik tangan Arin menuju parkiran apartemen.
Arsel meminta supir yang membawa mobil. Mobil itu melaju menuju sekolah yang ditumpangi Aris.
Membutuhkan waktu 30 menit lebih untuk mereka sampai disekolah Aris.
Suasana hening seperti tadi, tidak ada yang ingin memulai pembicaraan. Arsel terus bimbang menentukan apa yang harus dia katakan.
"Ehem... aku-minta maaf." Ucap Arsel kemudian. Arin maupun supir Arsel bingung dengan ucapan pria itu yg langkah.
"Hufh... maaf, tadi malam udah kasar sama kamu." Ujarnya kemudian. Sebenarnya Arin belum sepenuhnya memaafkan namun dia harus bagaimana? Arin hanyalah manusia biasa yang banyak dosa bukan?.
"Oh...."