Kisah seorang gadis miskin yang slalu terlihat ceria, tegar dan tak pernah goyah dalam menghadapi masalah hidupnya.
Namun siapa sangka, dibalik sifatnya itu, dia menyimpan semua kerapuhan dan kesedihan dalam dirinya.
Keadaan hidupnya yang slalu berada dalam kesulitan, menuntutnya menikah dengan seorang Pria yang tidak mencintainya sama sekali. Sehingga, dia harus merasakan perihnya luka dihati yang slalu di simpan rapi dalam senyuman indahnya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya🤔...
Apakah dia akan bertahan atau malah pergi dari maslah hidupnya??
Mari kita langsung aja caapcuuus kepoin ke isi Novel😊
Happy Reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelita Abadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
"Echem ...." Deheman suara briton mengagetkan bu Dewi dan Dea.
"Nak Zico ...." Bu Dewi berdiri dari duduknya.
"Beruang Kutub ...?" Dea berdiri mengikuti ibunya.
"Beruang Kutub?" Bu Dewi melirik Dea minta penjelasan.
"Aa ... mm" Dea menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Itu panggilan khusus istri ku buat aku, bu. Katanya biar gak ada yang sama panggilannya dengan orang lain. iya kan, sayang." Zico merangkul Dea kedalam pulakannya.
"Hok oh ...." Dea mengangguk cepat.
Mendengar perkataan Zico, membuat Dea teringat sewaktu menelpon terakhir kalinya dengan Deon. Kata-katanya hampir persis sama dengan yang Zico ucapkan Sewaktu itu Deon meminta Dea memberikan panggilan khusus untuk nya.
"Sayang, Kenapa bengong?" tanya Zico yang tetap memeluk pinggang Dea.
"Nggak apa-apa," jawab Dea lesu.
"Deon? siapa dia? apa Dea lagi mikirin Dia?" pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam hati Zico.
"Aah .... kenapa aku harus mikirin itu, terserh dia mau apa, itu bukan urusan ku," ucap Zico dalam hati.
"Sayang, kita pulang ke apartemen sekarang, ya!" ucap Zico yang hanya di balas anggukan oleh Dea.
"Kenapa buru-buru, nak? tanya bu Dewi.
"Apa Zico mendengar semua pembicaraan ku tadi dengan Dea? batin Bu dewi.
"Aku ada urusan mendadak, Bu. next time kita mampir lagi kesini," jawab Zico.
"Oo .... ya udah, hati-hati di jalan, Ibu tunggu kehadiran kalian kembali," ucap bu Dewi.
"Dea ambil barang-barang Dea di dalam Dulu," ucap Dea berlalu pergi dan di susul Zico.
Zico mempercepat langkahnya mengikuti Dea yang berlari seperti anak kecil. Zico mengikuti Dea sampai kamar. Sesampainya di kamar, Dea langsung meraba-raba bagian bawah meja rias nya.
"Kamu ngapain di situ?" tanya Zico yang melihat Dea seperti sedang mencari sesuatu.
"Nggak apa-apa." Dea berdiri tak semangat.
"Udah siap semua yang akan kamu bawa?" tanya Zico basa basi.
"Udah," jawab Dea singkat sambil menarik kopernya.
"Sini," ucap Zico.
Zico mengambil koper dari tangan Dea dengan kasar. kali ini, Dea tidak membantah apalagi membalas perbuatan kasar Zico.
"Tumben dia hanya diam," batin Zico.
Zico berjalan cepat dan di ikuti pula oleh Dea dengan langkah lebih cepat dari belakang Zico. Tiba-tiba Zico berhenti, membuat Dea yang lagi tidak berkonsentrasi menabrak punggung Zico.
"Kamu itu kalau jalan pakai mata, nggak sih?" Zico menarik keras lengan Dea.
"Nggak, aku jalan nggak pakai mata. Tapi, pakai kaki," jawab Dea judes tapi, Dea tidak membalas perbuatan kasar Zico seperti biasanya.
Dea menarik tangannya dari cekalan Zico dan mengalungkannya ke lengan kekar milik Zico.
"Jalan! kita harus berpura-pura seperti ini kan?" ucap Dea sambil berjalan sedikit menyeret Zico.
Zico tak bisa membantah ucapan Dea karna memang itu permintaannya kepada Dea, supaya mereka harus berpura-pura romantis di hadapan orang tua mereka.
"Bu, Dea pamit, ya." Dea menyalami ibu nya.
"Iya, nak. Jadilah istri yang taat pada suami." Bu Dewi memeluk anaknya.
"Zico, pamit bawa Dea ya, Bu." Zico juga menyalami mertuanya.
"Iya, nak. Ibu titip Dea, jaga Dia seperti ibu menjaganya. Jangan sakiti dia, jika, Dea tersakiti itu artinya kamu juga sedang menyakiti, ibu," ucap bu Dewi yang langsung membuat Zico tertegun mendengar ucapannya.
"Iya, bu ...." jawab Zico kikuk.
Zico dan Dea berjalan berdampingan keluar rumah menuju mobil Zico, dengan posisi Dea trrus mengalungkan tangannya di lengan Zico.
Zico memasukkan koper Dea di kursi penumpang belakang, setelah itu Zico cepat-cepat membukakan pintu mobil untuk Dea. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa, mereka bagaikan sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara. Siapapun yang melihat adegan ini, tidak akan ada yang menyangka jika jarak di antara mereka sangatlah runyam.
"Daah, ibu." Dea melbaikan tangannya.
"Hati-hati di jalan ya, nak!" Bu Dewi juga melambaikan tangannya.
Di dalam mobil, Dea hanya diam melihat jalan yang mereka lalui lewat kaca samping Dea duduk. Zico pun hanya diam dan fokus mengemudi.
Ponsel Zico berdering memecah kesunyian di antara mereka. Dea sempat melihat sekilas ke arah ponsel Zico yang di letakkan di atas dashboard mobilnya. Tapi, Dea tak melihat pasti siapa nama yang tertera sedang memanggil di sana.
Zico menepikan mobil nya dan melihat siapa yang menelponnya.
E is Calling....
Orang yang lagi menelpon Zico hanya di namai dengan satu abdjat saja oleh Zico.
Call On....
"Hallo," ucap Zico.
" ...." suara dari seberang sana tak terdengar oleh Dea.
"Cancel ...! aku tidak butuh lagi." Zico mematikan panggilannya tanpa aba-aba.
"Kamu, sudah baca surat perjanjiannya?" tanya Zico tanpa menoleh ke arah Dea.
"Belum." Dea tetap fokus melihat keluar dan hanya menjawab singkat pertanyaan Zico.
"Baca sekarang!" titah Zico.
Dea tak menjawab, tak menghiraukan ucapan Zico. Sehingga,membuat Zico geram melihat tinggah Dea yang seakan mengacuhkannya.
Zico menambah kecepatan mobilnya dan menginjak rem mendadak membuat Dea terhuyung kedepan.
"Kamu mau membunuh ku? bisa-bisa aku kena serangan jantung akibat ulah mu yang main rem mendadak gitu? celoteh Dea kesal.
"Kamu punya telinga?" Zico bertanya balik tanpa menanggapi celotehan Dea.
"Kenapa harus bertanya? kamu bisa melihat sendiri, aku punya telinga apa tidak? kamu kan punya mata," Dea kembali melihat keluar kaca di sampingnya.
"Heh." Zico menarik kasar tubuh Dea agar menghadap ke arahnya.
"Baca surat perjanjian itu, sekarang!" Zico meninggikan suaranya.
"Nanti, ku baca," jawab Dea kembali ke posisi awal.
"Bukannya tadi, kamu sudah janji akan membaca di dalam mobil? Zico mengingatkan janji Dea.
"Iya, tadi aku janji buat baca dalam mobil. aku belum pikun," jawab Dea.
"Terus, kenapa kamu nggak menepati janji yang keluar dari mulut mu sendiri? sindir Zico.
"Nanti, setelah sampai apartemen, aku benaran baca. Sekarang, aku lagi tidak mood." Dea merebahkan punggungnya ke sandaran kursi mobil.
"Terserah, Dosa tanggung sendiri!" Zico kembali menginjak gas untuk melajukan kembali mobilnya.
"Emang, kamu mau untuk ikut menanggung dosa ku?" Dea menarik ujung bibirnya
Zico tak menjawab omongan Dea, Dia terus menambah kecepatan laju mobil sport keluaran terbaru miliknya sampai batas maksimal.
"Beruang kutub, kamu sudah gila?" Dea menoleh kesamping melihat Zico
"Zico ... Stop!" Dea berteriak ketakutan namun, tidak di hiraukan oleh Zico yang terus melajukan mobil tanpa menurunkan sedikitpun kecepatannya.
"Ibu ... Dea, belum mau mati, hiks hiks hiks." Dea mejamkan matanya sambil menangis.
"Ibu, hiks hiks hiks. Jemput Dea, bu!" Dea terus menangis ketakutan.
Mendengar Dea yang terus menangis ketakutan, hati Zico melunak dari emosinya. Zico melirik ke arah Dea dengan kaki yang masih menginjak gas. Saat Zico kembali melihat ke depan, Zico kaget dan kehilangan kendali.
Ciiiit ... Brugh ....
Kira-kira, begitulah bunyi Rem mobil yang di injak mendadak dan mobil Zico menabrak sesuatu di depan sana.
...*...
...*...
...*...
...*...
...Bersambung...
mudah mudahan doen berhasil yah main tembak tembakan sama Dea.
mampir yuk di novelku
Love In Underground
jng lupa mampir lagi kelapak ku say🤗