"Mungkin aku memang pemain wanita, tapi aku tidak akan menelantarkanmu karena kamu sedang mengandung anakku." Adrian.
"Jika aku tidak mengandung anakmu, apakah kamu tetap akan bertanggung jawab padaku?" Amira.
Sebuah kecerobohan yang dilakukan Amira membuatnya harus kehilangan kesuciannya dan mengandung benih dari Adrian, pria yang terkenal dengan julukan casanova. Amira harus menjadi selir rahasia dari Adrian sampai ia melahirkan bayinya.
Follow ig : Siran_rhmwtii6
facebook : Siran Ran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semburan
Aku Kembali 😂😂😂
Episode 50 tamat, ya?! Mumet betul author 😂 **Paling gak bisa bikin novel episodenya sampai ratusan, serasa lagi Rodi, alias kerja paksa. Kedepannya mau buka proyek baru lagi, doakan ya semoga author sehat, rezekinya lancar, kuotanya banyak, hpnya gak rudet. Ikuti author pindah bawa naskah baru ya nanti, ke PF hitam yang sama gratisnya, kalo diterima itu juga. Doakan saja intinya yang terbaik buat author. Author doakan juga kalian sehat-sehat dan rezekinya lancar jaya. Aamiin...
Jangan lupa tap love/favorit, like, komen, vote, boleh kasih bunga/kopi juga.
Selamat membaca...
🌸💮🌼**
Keduanya sudah berada dalam pesawat, setelah mendengar bahwa Adrian mencari Tasya ke Portugal, Mira mengerti bahwa ada masalah besar dalam hubungan keduanya yang bersangkutan dengan kepergian ibu Adrian.
Selama dalam pesawat Mira tak berani berucap sepatah katapun, mengingat posisinya yang hanya sebagai wanita simpanan Adrian, salah satu wanita simpanannya.
Mereka sampai setelah perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan di dalam pesawat, keduanya sampai pada pukul 3 dini hari, tentunya di jam yang seperti itu seharusnya orang tengah tertidur lelap.
Mira menguap beberapa kali, membuat Adrian yang kini menyetir mobil sewaannya merasa iba.
*Seharusnya aku tidak membawa wanita hamil untuk urusanku ini. Tapi mau bagaimana lagi, aku butuh teman untuk hidupku.
Aku harus menjadikan Mira teman hidupku, meskipun aku tidak mencintainya*.
Mobil berhenti mendadak di depan sebuah hotel, Mira merasa bingung karena jelas tujuannya bukan hotel.
"Kenapa berhenti disini?" tanyanya dengan nada suara lelah dan mengantuk.
"Perjalanan masih sangat jauh, kau harus istirahat,"
Deg...
Mira merasa diperhatikan oleh Adrian, ia merasa Adrian mulai berbeda. Meski sikap menyebalkan dan dinginnya masih sedikit bisa ia rasakan. Namun nyatanya, kepergian sang ibu berhasil membongkar sisi lembut dan rapuh Adrian Widiatama sang CEO yang dikenal dan terkenal sebagai seorang pemain wanita tersebut.
Kini mereka berada dalam 1 kamar hotel, dengan Mira yang sudah tidur nyenyak atas perintah Adrian setelah keduanya mengisi perut mereka lebih dulu.
Pagi telah menyapa dengan cuaca yang begitu cerah, bahkan sinar matahari telah menembus hotel tempat Adrian dan Mira kini bernaung. Keduanya sudah bersiap dengan penampilan rapi untuk melanjutkan pencarian Tasya di kota yang cukup luas tersebut.
Adrian sudah bersiap di dalam mobil yang semalam menjemputnya, mobil itu merupakan mobil dari rumah perkebunan milik Adrian.
"Apa kau yakin kita akan menemukan Tasya disini?" Mira bertanya dengan wajah ragu.
Mana mungkin ia akan mengelilingi seantero portugal untuk mencari tasya, pikirnya.
"Diamlah!" ketus Adrian terlihat tidak suka pertanyaan yang Mira lontarkan.
Mira hanya cemberut, menyandarkan punggungnya ke jok mobil.
Setengah perjalanan dalam waktu memakan hampir 3 jam mereka lalui, Mira merasa bokongnya begitu panas sejak tadi duduk di mobil. Ia ingin protes, tapi rasa takut mengalahkannya tatkala melihat mimik wajah Adrian yang tidak bersahabat.
"Mau bilang apa? Cepat katakan!" Adrian menyadari Mira yang sejak tadi melirik-lirik padanya.
"Emm, tidak," ucap Mira sembari memandang lurus ke depan.
Ia tidak sanggup jika berpandangan dengan Adrian dengan mata menawannya itu. Mata yang selalu mengunci pandangan lawan bicaranya.
"Mira!" Adrian mengeluarkan suara yang cukup menggelegar.
"Tolong berhenti sebentar, ya? Aku lelah." Ucap Mira diiringi senyum yang dimanis-maniskan.
Adrian menghentikan mobilnya di pinggir sebuah restaurant, ia turun tanpa mengajak Mira. Lalu tak lama kembali dengan sebuah kotak berisi makanan.
"Kamu lapar? Makanlah!" perintah Adrian.
Mira membuka kotak itu, matanya sungguh merasa asing dengan bentuk makanan di dalam kotak itu. Bahkan penciumannya sama sekali tidak bisa bekerja sama dengan perut Mira yang merasa lapar.
Rasa mual mulai menguasai Mira, ia merasa tidak tahan dan ingin memuntahkan isi perutnya.
"Kau itu kenapa? Apa tidak enak badan?" Adrian meraba kening Mira, ia terheran-heran saat tidak merasakan panas di kening Mira.
"Tuan, sebenarnya aku..."
Huek...
Mira menyembur Adrian, membuat Adrian langsung membuka pintu mobil dan keluar.
"Kau ini, sialan!" makinya sambil membuka jas yang terkena semburan muntahan Mira.
Mira masih sibuk mengeluarkan isi perutnya pada kotak makanan yang diberikan Adrian.
"Ma-maaf, Tuan! Aku merasa mual dengan makanan ini." Mira turun dari mobil, membuka sweater yang dikenakannya dan membersihkan pakaian Adrian yang hampir semua terkena muntahannya.
"Haish! Sekarang aku harus memutar balik perjalanan untuk kembali ke hotel!" Adrian menggerutu sambil memercikan air dari keran wastafel depan restaurant itu untuk membersihkan muntahan Mira.
Mira menundukan kepalanya, merasa bersalah atas apa yang terjadi.
Ia mengangkat kepalanya ketika Adrian ingin memasuki mobil, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang sangat ia butuhkan saat ini.
"Tuan, kita ke sana saja!" tanpa menunggu jawaban setuju Adrian, ia menarik tangannya menuju butik di samping restaurant.
Keduanya selesai mengganti pakaian. Kini tujuan Adrian ke sebuah perusahaan rental mobil untuk menyewa salah satu mobil.
"Mobil yang itu saja, Tuan!" Mira menunjuk mobil warna merah di ujung.
"Diam!" ketus Adrian dengan lirikan tajam.
"Jika bukan karena kau, maka aku tidak perlu menyewa mobil disini. Sungguh sangat memalukan, seorang Adrian yang pemilik dan CEO dari perusahaan besar berlibur dengan mobil sewaan." Adrian berkata dengan lirikan tajam pada Mira.
Tentu saja Mira kembali merasa bersalah, ia merutuki kebodohannya sendiri.
Bagaimana bisa aku muntah tadi?
"Sudah, ayo masuk!" Adrian membuka pintu mobil untuk Mira. Sementara dirinya belum ikut masuk ke dalam mobil, malah melangkah menuju ruang staf penyewaan mobil tersebut.
Setelah itu Adrian kembali dengan 1 pack plastik berwarna hitam di tangannya.
"Ambilah!" ucapnya ketika sudah memasuki mobil dan duduk di kursi pengemudi.
"Untuk apa ini?" Mira mempertanyakan plastik hitam yang dilempar Adrian pada pangkuannya.
"Jika kau muntah lagi, maka tidak akan menyemburku!"
Mira ingin tergelak, akan tetapi ia merasa malu sekaligus dipermalukan dengan ucapan Adrian yang ditujukan padanya.
Haish, menyebalkan!
Setengah perjalanan lagi telah selesai, keduanya sampai di ujung jalan besar rumah kebun milik Adrian. Kini hanya beberapa puluh meter lagi yang harus mereka tempuh secara manual atau berjalan kaki.
Tak sedikit Mira mengeluh jalannya rusak, bahkan ia seringkali tersandung bebatuan. Adrian juga tak pernah melepaskan tangan Mira, takut sewaktu-waktu terjatuh dan terjadi sesuatu pada anaknya.
"Stop! Stop!" seru Mira menghentikan langkah Adrian.
"Apalagi?!" Adrian berkata dengan ketus.
"Ini jalanan atau tebing? Bahkan tebing tidak serusak ini jalurnya!"
Tak disangka, Adrian melah memalingkan wajahnya dan menarik Mira untuk berjalan kembali.
Jalanan rusak sudah mereka lalui, hingga keduanya sudah memasuki pagar rumah kebun. Mira tercengang, ia tak bisa menganggap rumah tersebut sebagai rumah kebun.
Kenyataan yang dilihatnya adalah rumah dengan halaman yang cukup luas dipenuhi berbagai kebun dengan tumbuhan sayuran serta buah-buahan menghiasinya. Tak lupa, desain rumah yang sangat indah dan jarang ditemukan di tanah airnya.
Tok tok tok!
Pandangan Mira teralihkan pada sosok yang kini mengetuk pintu dengan lembut. Lalu kesabaran si pengetuk pintu itu mulai hilang tatkala tak ada yang membukanya.
Tok tok tok!
"Buka pintunya! Atau aku akan mendobraknya!" teriakan Adrian yang sudah dirundung emosi.
Ceklek
"Hai, ada..."
Bersambung...
apa bedanya dengan Adrian yang celup sana sini, alias Casanova 🤦🏻♀️
g punya kaca X Adrian 🤣🤣🤣🤣
mira.....liat apa an?????