Slow Up, kalo sabar boleh masukkan ke daftar favorit kalian 😁
Meski sudah di lecehkan dua kali oleh laki-laki lain, Bian Anggara masih tetap menikahi wanita mungil nya!
Kalian yang tidak suka cerita pelecehan, jangan mampir, karena kali ini pemeran utama nya mengalami dua kali pelecehan.
CEO Casanova yang cenderung egois bahkan lebih mengarah ke PSIKOPAT VS CEO perjaka yang sudah matang memiliki sifat bak MALAIKAT.
Action dikit dikit ada tapi tidak banyak, karena lebih banyak romantis nya. Tokohnya di bawah ini.
❤️Bian Anggara, CEO tampan yang hampir berusia 31 tahun tapi masih perjaka, laki-laki itu berniat menyudahi kesendiriannya, setelah melihat gadis cantik yang langsung menempati pikiran dan hatinya.
❤️Qirani Virginia, gadis 16tahun cantik berwajah sedikit bule tinggal di panti asuhan, kecantikan nya mampu menggaet dua CEO tampan sekaligus.
🧡Syahrizal Bramantyo, 23tahun, seorang Casanova ketampanan, rayuan, kekayaan, menjadi magnet bagi lawan jenisnya.
Seperti apa seeehh kisah mereka? Yuk Baca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis amatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Kini wajah tampan Rizal bermuram durja, Qiran terus menerus menjadi bahan pikiran pemuda tampan itu, Lila yang melihatnya mulai tak kuasa menahan tanya yang sedari tadi ia pendam.
"Kamu kenapa Zal? Makanan mu kenapa cuma di acak-acak begitu? Apa tidak enak hm?" Tanya Lila perhatian.
Rizal memaksakan senyum pada calon isterinya "Tidak apa-apa, aku hanya sedang tidak enak badan saja, perut ku juga dari tadi mules, aku ke toilet dulu gak papa kan?" Ujarnya berkilah.
Lila mengangguk "Iya, pergilah, setelah itu antar aku pulang yah, aku sudah tidak nyaman di sini, sepertinya punggung ku sudah ingin di rebahkan." Pintanya.
"Iya, kamu tunggu di sini saja, aku segera kembali, oke!" Ucap Rizal dengan mengelus lembut pipi calon isterinya yang kini tersenyum menatapnya. Kemudian beranjak dari duduk melangkah keluar dari lingkaran VVIP restoran mewah tersebut.
Qiran lah yang pemuda itu cari setelah itu, dan kini pandangannya mulai menyisir seluruh sudut tempat mewah tersebut.
...----------------...
Sementara itu di tempat lain, Qiran tengah mencuci tangan yang beberapa saat lalu di sentuh secara paksa oleh laki-laki dewasa yang tak sopan padanya.
"Kenapa semenjak hari itu, aku merasa tidak nyaman dengan sentuhan orang lain?" Gumamnya dan air mata mengalir di pipi mulusnya tanpa kompromi.
"Qiran!"
Tomi sang supervisor memanggilnya lembut dari belakang tubuhnya, Qiran pun membalikkan badan menghadap ke arah laki-laki berdasi itu.
"Iya Pak!" Qiran berucap sembari mengusap kasar air mata di pipinya.
"Maafkan aku, karena menyuruh mu berjaga di depan, aku tidak tahu kalau ternyata akan ada pelanggan yang kurang ajar padamu!" Ucap Tomi terlihat menyesal.
"Tidak apa-apa Pak, ini bukan salah mu." Sahut Qiran dengan pandangan yang mengarah ke lantai, menunduk.
Hal itu membuat jiwa pelindung seorang Tomi bergejolak, hingga kini tangan laki-laki itu mengelus lembut puncak kepala bawahan cantiknya "Ini memang bukan salah ku, tapi salah Tuhan yang memberi kecantikan seperti ini padamu." Ucapnya.
Bugh!
Satu pukulan mendarat sempurna di wajah supervisor itu, Qiran berteriak histeris menyaksikan kejadian di depan matanya, kemudian berlutut meraih tubuh Tomi yang kini terduduk di lantai "Pak, bapak tidak apa-apa hh?" Tanyanya panik sambil membantu Tomi berdiri kembali.
Dan tatapannya beralih pada laki-laki pemberi bogem mentah itu "Apa apaan kamu hh? Kenapa kamu selalu muncul di mana pun? Belum puas kah kau merusak hidup ku hah?!" Teriaknya pada Syahrizal Bramantyo yang kini menatap tajam ke arah Tomi.
"Kenapa tiba-tiba Tuan memukul ku? Apa salah ku?" Tanya Tomi penasaran sambil menyeka bibir yang sedikit berdarah.
"Jangan pernah berpikir mencari kesempatan untuk menyentuh kekasih ku! Dia hanya milikku!" Ucap Syahrizal tegas.
Tomi menunduk segan, tak menyangka bahwa ternyata seorang pelayan kekasih Tuan muda yang menjadi tamu VVIP nya "Maafkan aku Tuan, aku tidak bermaksud begitu, aku hanya..."
"Kenapa memangnya? Bapak tidak bersalah, dia bukan siapa-siapa ku!" Sergah Qiran ketus menatap Tomi kemudian menatap tajam wajah mantan kekasihnya sambil menunjuk wajah pemuda itu geram "Kau! Berhenti mengganggu ku, atau aku laporkan semua tindakan mu padaku waktu itu ke polisi!" Ancamnya, kemudian melepaskan apron yang melekat di pinggangnya dan membuangnya ke dada bidang Syahrizal Bramantyo yang masih menatapnya nanar penuh sesal.
"Aku berhenti Pak!" Qiran melangkah pergi sambil berkata demikian pada Tomi.
"Sayang!" Lagi-lagi baru melangkahkan kakinya menyusul Qiran, Arga sudah menodongkan tongkat besi kebanggaannya pada wajah tampan Syahrizal Bramantyo.
Arga mengunyah perlahan permen karet di mulutnya sambil menatap tajam CEO muda itu "Sudah ku bilang, jangan coba-coba dekati Nona ku lagi! Atau tongkat ini mematahkan tulang tulang mu!" Ancamnya yang lalu mengayunkan tongkat besi miliknya dan menahannya di udara membuat Rizal memejamkan matanya kuat-kuat, sungguh, aura darah dingin Arga terlalu menakutkan bagi pemuda Casanova itu dan lagi kekuasaan keluarga Bian membuat Rizal tak berani berkutik, tugas Rizal hanya ingin meyakinkan kembali perasaan Qiran, bukan mencari ribut dengan keluarga Bian.
Arga tersenyum miring "Tenang, tenang, selama Tuan tidak mengejar Nona Qiran lagi, aku masih mau melihat mu hidup!" Ucapnya. Kemudian melangkah pergi menuju Qiran yang mungkin sudah keluar dari bangunan mewah itu.
...--------------...
Ternyata di sudut tempat itu ada Lila dan Claudia menyaksikan semua yang terjadi pada Syahrizal Bramantyo, tak sengaja tangan Lila mengepal menahan kekesalan. Jadi ternyata benar dugaannya, ada apa-apa antara calon suaminya dengan pelayan cantik itu.
Claudia pun mengelus lembut punggung Lila mencoba menenangkan "Kau tak apa-apa Lila?" Tanyanya.
Lila menggeleng "Bagaimana aku tidak apa-apa Kak? Calon suamiku baru saja memukul orang karena cemburu dengan seorang pelayan?" Jelasnya lirih.
"Dia memang sangat cantik!" Claudia berucap dengan mata nanar yang entah kemana arah pandangannya. Kosong.
"Dia pantas diperebutkan semua CEO tampan, termasuk kakakmu, yang juga sangat menyukainya!" Tambahnya bernada rendah.
Lila berkerut kening saat mendengar ucapan Claudia ternyata ada berita yang lebih mengagetkan baginya "Apa?" Sentak nya menatap wajah Claudia "Apa Kakak bilang? Kak Bian juga suka padanya? Suka sama pelayan itu?" Cecar nya dan Claudia pun mengangguk.
"Tadi pagi di kantor, Bian mengatakannya padaku, dia bilang sangat menyukainya, dan menyuruhku menolak perjodohan kami." Terang Claudia lagi.
"Lalu? Apa Kakak mau menuruti ucapan Kak Bian? Kau mau menyerahkan Kakak ku pada pelayan miskin itu?" Tanya Lila menatap tajam wajah wanita dewasa itu.
"Entah lah." Claudia berucap sangat pelan seakan pasrah, sejatinya meskipun lahir dari keluarga kaya Claudia bukanlah wanita yang suka menindas orang lain, dan itu yang membuat Bian betah berlama-lama berteman dengannya.
...-------------...
Di kursi taman yang tak jauh dari restoran tersebut Qiran duduk, tangannya memukuli bagian atas dadanya mencoba mengurangi rasa sakit yang dirasakan saat ini, Namun ternyata rasa sakit itu terus menyeruak di dalam sana.
"Hiks hiks!" Isak nya. Dan tak lama kemudian suara langkah kaki besar Arga menghentak di taman itu "Nona!" Panggil nya dengan senggal senggal napas nya, setelah lari.
Kemudian Arga duduk di sebelah wanita mungil itu dengan kedua kaki yang di luruskan ke depan "Menangis lah." Ucapnya, pandangannya mengarah pada rembulan malam yang hanya separuh.
Qiran sempat menoleh sekilas ke arah pemuda tampan itu lalu kembali menunduk menatap rumput Jepang di taman tersebut, entah kenapa berada di dalam pengawasan Arga dan Bian membuatnya merasa aman dan nyaman.
"Kadang hidup memang membuat kita muak, tapi percayalah, jika kita ikuti alurnya, bersabar, Tuhan akan memberikan kejutan hebat di depan sana." Ucap Arga lagi. Entah kenapa juga Qiran menjadi seseorang yang sangat penting untuk ia lindungi.
"Nona tahu? Sebelum Tuan Bian mengangkat ku menjadi asisten pribadi nya, aku hanya berandal, preman, tukang palak, yang hina dan dina, lihat lah tangan ku ini." Arga menunjukkan tangan kerasnya pada Qiran "Tangan ini sudah banyak mematahkan tulang tulang manusia." Tambahnya dengan senyum tipisnya seraya mengepal.
"Tapi, si Bos yang dulu aku rampas dompet nya justeru mengangkat derajat ku, dari yang tadinya gembel menjadi pemuda penghuni apartemen." Jelas Arga dengan senyum kilas nya "Siapa yang sangka pemuda penuh dosa seperti ku, Tuhan angkat derajatnya? sekarang kesedihan yang ku rasakan saat di jalanan sudah tak kurasakan lagi setelah bertemu dengan Tuan Bian."
Dan cerita Arga membuat Qiran tertarik untuk mendengarnya lebih jauh lagi "Oya? Jadi begitu kah pertemuan kalian? Mas Arga mencopet dompet Om Bian lalu dia mengangkat mu menjadi asisten?" Tanyanya menatap Arga dari samping yang lalu di jawab dengan anggukan kecil pemuda itu.
"Lalu pekerjaan Mas Arga apa cuma di suruh menguntit ku saja?" Tanya Qiran lagi.
Arga tersenyum "Tentu bukan hanya itu saja, tapi semua yang berhubungan dengan urusan pribadi Bos, aku yang tangani, kecuali pekerjaan kantor, karena aku tidak tahu tentang dunia bisnis, tapi untuk urusan yang lain, aku selalu menjadi tangan kanannya, Nona tahu? bahkan ruangan khusus ku di kantor hanya untuk bermain game saja." Jelasnya.
Qiran terkikik, baru mendengar kisah se ubsurd itu. Cukup lama kedua insan rupawan di taman itu bertukar cerita, dari yang sedih hingga yang terlucu, sampai sampai tawa mereka menggema di antero jagat taman itu.
"Ekm ekm!"
Suara serak khas Bian Anggara mulai terdengar di sekitar sana. Dan keduanya pun menoleh serentak ke arah belakang tubuh mereka.
"Om!"
"Bos!" Sapa mereka bersamaan, keduanya benar-benar tak tahu dari kapan Bian berada di belakang sana.
Bian tak menyahut sepatah katapun malah kini wajah hangatnya berubah sinis, pria dewasa itu lantas berjalan mendekati tubuh Qiran dan menarik pergelangan tangan wanita itu lalu membawanya ke salah satu mobil yang terparkir di halaman restoran mewah tersebut meninggalkan Arga yang kini menatap punggung mereka bingung.
Qiran berkerut kening "Om! Om mau bawa aku kemana hh? Kenapa Mas Arga nya di tinggal?" Tanyanya protes.
Mendengar itu Bian menghentikan langkahnya dan menoleh pada Qiran dengan kerutan di keningnya "Mas? Kamu panggil Arga Mas? Lalu memanggilku Om? Apa itu adil?" Cecar nya membentak. Cemburu, padahal dia sendiri yang menitipkan Qiran pada asisten gantengnya tapi dia pula yang posesif.
"Memangnya kenapa?" Tanya Qiran enteng lagi pula Bian juga bukan siapa-siapa nya apa haknya cemburu seperti itu? pikirnya.
"Kan Om lebih tua darinya dia lebih muda dari mu!" Jelasnya dengan bibir yang mengerucut.
"Lagian kenapa Om tidak suka aku panggil Om? Padahal seharusnya anggap saja itu panggilan kasih sayangku padamu!" Ucap Qiran lagi asal saja, yang ternyata berhasil meredupkan tatapan cemburu Bian Anggara. Pria tampan nan dewasa itu tersentuh oleh kata-kata Qirani Virginia barusan.
"Sekarang masuklah aku akan mengantarmu pulang!" Titah Bian seraya membuka pintu mobil miliknya.
...----------------...
Bersambung.... sorry ke putus up lagi hari ini, terimakasih yang masih mengikuti cerita ku.♥️
Kenapa kamu harus kabur.
Semoga Qirani menolak jadi permaisurinya sicasanova itu