"Maaf, aku mundur."
"Maksudmu?"
"Kita akhiri hubungan ini. Terima kasih untuk semuanya, Pak Riko."
Rencana lamaran gagal seketika. Hubungan yang baru seumur jagung pun kandas dalam sekejap. Riko tak paham. Ia sampai beberapa kali menanyakan keputusan Lily.
Lantas, bagaimana kelanjutan cerita mereka? Akankah tali yang sudah putus bisa disambung kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi liwet
~Seberat apa pun ujianmu. Jangan pernah tinggalkan shalat.~
🌀🌀🌀🌀🌀🌀
🌀🌀🌀🌀
🌀🌀
Awan gelap menggantung tanda hujan akan menyapa bumi malam ini. Riki dan Riko sampai di rumah dengan selamat setelah azan Isya berkumandang. Dua lelaki itu memilih langsung melaksanakan salat Isya lebih dahulu sebelum menikmati waktu bersama keluarga.
Riki turun ke lantai bawah lebih dahulu. Perutnya mulai bernyanyi riang. Ia harus sesegera mungkin membungkamnya agar tak terus menerus berisik.
"Ma, masak apa?" tanyanya ketika melihat mamanya sedang berjibaku di dapur.
Dira menoleh ke belakang, mengukir senyum. Wajahnya masih cantik dengan kulit putih tanpa noda sedikit pun. "Masak nasi liwet." Ia kembali pokus pada aktivitas.
Mendengar itu Riki meloncat kegirangan. Salah satu menu yang selalu ia santap ketika main ke rumah Amalia.
"Harumnya." Hidung Riki begitu tajam.
"Loh, Riko ke mana?" Dira bertanya tanpa memandangi wajah Riki.
"Bambang …? Paling lagi ngerem," jawab Riki sekenanya.
Dibanding Riko, Riki memang sangat santai dalam berbicara dengan Dira. Bukan artinya dia tak menghormati orang tua. Hanya saja … lelaki itu memang selalu menyikapi sesuatu dengan tenang dan tak terlalu larut memikirkan.
Dira mengambil napas beberapa detik, lalu berujar kembali, "Memangnya kenapa?"
Toples kripuk di meja makan menyita perhatian Riki. Dengan santainya laki-laki itu membuka perlahan, mengambil satu krupuk dan menggigitnya sekali. "Biasa, Ma, persoalan anak muda."
Dira tertarik. "Persoalan anak muda gimana?"
"Ya, gitu, putus cinta." Riki sengaja sedikit menekan saat mengatakan kata putus cinta. Entah apa maksudnya? Namun, ia hanya mengatakan yang sebenarnya.
Dira menghentikan tangan kanan yang sedang menggoreng ikan asin. Pikirannya terbang mengudara membawanya flasback ke kejadian di supermarket. Mungkinkah?
"Lily, minta akhiri hubungan mereka lagi. Si Bambang kayaknya enggak terima. Riki, juga enggak paham sama mereka. Tarik ulur mulu. Udah kayak main layangan, Ma."
Dira hening. Beberapa detik selanjutnya Dika datang dari luar sembari mengucapkan salam. "As'salamualaikum." Langkahnya pelan, tetapi pasti untuk pergi ke dapur.
"Wa'alaikum salam," jawab Riki dan Dira bersamaan.
Dira segera mematikan kompor. Menyimpan ikan asin tadi ke meja makan, lalu sesegera mungkin meraih tangan Dika dan menciumnya. "Mas, udah pulang?"
"Iya. Tadi Pak RT ngajak ngobrol dulu," jawab Dika. Matanya memperhatikan Riki yang santai memakan krupuk, sedangkan matanya menulusuri ruangan dan tak menemukan keberadaan Riko. "Loh, Riko mana? Belum pulang?"
"Masih di kamarnya, Mas," sahut Dira. "Aku panggilkan sebentar." Dira melangkah keluar dapur, sedangkan Dika menyimpan peci di dekat meja kecil, kemudian duduk di kursi makan.
"Persiapan pernikahanmu bagaimana, Nak?" tanya Dika pada Riki.
Riki baru saja menghabiskan tiga kerupuk udang. "Alhamdulillah, semua sudah rampung, Pa. In syaa Allah, sekitar tiga mingguan lagi."
"Semoga acaranya berjalan lancar. Papa, udah pengen nimbang cucu."
Riki yang sedang meneguk air putih pun langsung tersedak. "Papa, ini, Riki baru aja mau rencana nikah. Udah dipalak cucu aja. Kalau bisa bikin dari tepung terigu, Riki bikinin sekarung."
Dika tertawa kencang. Ia bersyukur memiliki keluarga yang bahagia.
Sementara itu Dira baru saja sampai di depan pintu kamar Riko. Tangannya hendak mengetuk, tetapi nyatanya Riko lebih dahulu keluar.
"Mama," panggil Riko dengan senyuman manis. Tak ada yang berubah. Lelaki itu tetap menebarkan keindahan di antara reruntuhan hati. "Tumben ke kamar. Ada apa, Ma?"
Dira mengurai senyum. "Mama, mau ngajak makan. Riki sama Papa udah ada di meja makan."
Riko berjalan selangkah keluar kamar, menutup pintu dengan hati-hati. "Mama, masak apa malam ini?"
"Nasi liwet."
"Pasti enak."
Dira mengangguk.
Riko menggandengan tangan mamanya seraya berkata, "Ayo, kita makan. Riko, selalu rindu masakan Mama."
Dira kembali tersenyum. Mereka berbalik badan, dan menyejajarkan langkah bersama.
Sebelumnya di kamar, Riko berusaha menegarkan hati. Ia selalu mengusahakan agar tak membawa masalah dari luar ke dalam rumah. Apa lagi sampai mengganggu waktu bersama keluarga.
🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈
nikah kq dibuat mainan
begitu sih etikanya
semangat dan sukses trs untuk karya" nya yg lain 💪💪💪💗