"Dua jiwa bersimpul merah.
Tujuh kehidupan dan tujuh kematian.
Bencana, hanya dapat dihentikan oleh sang pengelana."
Dari tiupan angin yang mengumandangkan laguan dari sang takdir, dari tempat terdalam dimana kegelapan terlelap, sepasang tangan yang terikat benang mera menggenggam sepetak cahaya. Dari tempat paling tidak terduga, sang pengelana akan datang untuk membawa sang cahaya, dan bersama melampaui batas dari keabadian sang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilleMoone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 | Aku Adalah Penyihir
Ketika Kalara dengan tenang menikmati makanannya dan sesekali mengobrol bersama Lupar dan Kal.
"Apakah pedang yang digunakan saat pertandingan pedang itu dibuat disini?" tanya Kalara.
Kal bereaksi, "Tentu saja. Tuan Topeng Bambu adalah pria tua yang menciptakan pedang-pedang dengan kualitas yang sangat luar biasa. Pedang itu tidak mudah patah, ringan, mudah diayunkan dan nyaman digunakan."
"Tuan Topeng Bambu? Nama yang lucu," puji Kalara.
"Itu karena dia selalu memakai topeng bambu dalam hidupnya. Entah kenapa, mungkin karena dia sangat jelek." Balas Emer.
"Tutup mulutmu dan makan!" sentak Lupar pada Emer yang kedapatan menghina seseorang.
Lupar meraih beberapa potong daging dan menaruhnya dipiring Kalara, "Rumor yang beredar mengatakan jika dia adalah ahli pembuat senjata yang melegenda. Tapi entah alasan apa dia memilih tinggal dikota yang terisolasi dari dunia luar ini."
"Pria tua itu selalu mengatakan jika senjata adalah diri kita sendiri. Dan sejak dulu, itu tertanam sampai sekarang. Dan orang-orang menganggap senjata adalah bagian dari tubuhnya. Itu sebenarnya bagus, tapi terlepas dari kemungkinan lainnya, sebagai Tuan Kota aku harus menjaga keamanan semua orang yang dibekali dengan senjata." Kata Lupar berkeluh kesah.
Kalara menutup bibirnya dengan tangan. Bibir itu melengkung dan nyaris menyemburkan kekehan mendengar keluhan Lupar.
Kal menenangkan Lupar, "Tenang sayang. Yang penting mereka menggunakan senjata pada tempatnya. Seperti berburu dan memasak.
"Memasak saja!" tukas Lupar.
Telinganya menangkap jeritan dari luar rumah Lupar. Ketika ia bereaksi, ia melihat tiga orang didepannya bangkit berdiri dan dengan cepat Lupar meraih lentera dari atas meja dan menyalakannya dan membawanya berlari keluar menuju arah jeritan. Ketika jeritan berasal dari sebuah jalanan, beberapa orang juga keluar dengan entera dan obor ditangan masing-masing.
Kalara mengernyitkan dahinya.
Di depan sana nampak beberapa bayangan hitam melayang beberapa centimeter diatas tanah dan menyerang beberapa orang. Ketika samar melihat cahaya, sosok mereka bergerak mundur perlahan, namun tak menyiratkan ketakutan.
"Tangkap mereka dan bawa ke klinik!" Lupar menyuruh orang-orang yang memegang lentera untuk melangkah maju dan menghalau bayangan.
Sementara sisanya nampak bergegas membawa lentera maju kedepan menghalau bayangan. Ketika bayangan bereaksi, hembusan angin yang sangat kuat memadamkan lentera-lentera. Membuat tempat itu dilingkupi kegelapan dan hanya ada samar cahaya bulan yang memancarkan cahaya remang.
"Ah! Lenteranya padam!"
"Gawat! Ini mati!"
"Semuanya jangan panik dan tetap tenang! Emer, Zora, Cavita, Excav, cepat ambil pematik api!" Kata Lupar menginterupsi.
Emer dengan larinya berlari dan kembali dalam hitungan menit. Namun selama itu pula, tak ada apapun yang didapati diluar sana. Hanya samar-samar suara orang yang saling berbisik dan sahutan suara orang bernapas dengan cemas. Namun, sama sekali tak ada suara mereka, ... para bayangan.
Tidak ada disana, tidak memiliki aura keberadaan sama sekali.
"Kemana mereka pergi?"
Bahkan ketika lentera kembali menyala, hanya ada jejak kekosongan didepan mereka. Tanpa ada sisa bayangan. Kalara dibelakang kerumunan menatap dengan tatapan tenang.
Kalara menoleh kebelakang, "Dimana dia?"
...⭐...
Emer memongkar laci meja dan menemukan pemantik api didalam laci. Mengambilnya, Emer hendak pergi ketika menyadari, diruangan remang cahaya itu, ada sesuatu yang nampak mengawasinya. Ketika ia berbalik, beberapa bayangan nampak melesat kearahnya. Emer yang terkejut refleks bergerak menghindari serangan bayangan hitam itu, hingga dirinya nyaris menghantam meja.
Para bayangan itu memiliki tinggi sekitar tiga meter dengan nampak seperti memakai jubah hitam semi transparan yang pada bagian ujungnya seperti tercabik-cabik. Mata bayangan itu berwarna hijau yang menunjukkan kebencian dan perasaan buruk lainnya. Dan kuku-kuku jari kulit hitam sekelam bayangan itu tajam dan runcing. Dipastikan dapat mengoyak kulit dalam sekali tembusan.
"Ugh!" Emer kembali menghindari serangan, dan mencoba membalas dengan melempar barang terdekat.
Namun semuanya hancur dengan tepisan bayangan. "Sialan!"
Kali ini, nampaknya Emer kurang beruntung. Ketika ia mencoba melarikan diri dari kejaran bayangan, ia terkena serangan dipunggungnya dan membuatnya terjungkal ditanah. Mendesis! Sakit luar biasa dirasakannya dipunggungnya.
Darah dengan cepat mengotori pakaian Emer dan anak itu mendesis kesakitan sembari mencoba bangkit.
Suara samar terdengar. Itu suara bayangan, terdengar seperti hembusan angin yang membawa ketegangan yang mencekam dan berbahaya. Ketika bayangan mencoba menyergap Emer, sebuah cahaya memendar dan membuat bayangan itu terpental dan menabrak dinding. Emer terkejut dan menoleh dengan cepat ketika melihat samar dinding semi transparan seolah melindunginya. Detik berikutnya dia tertegun ketika melihat Kalara tersenyum tenang kepadanya dengan cahaya keemasan memendar dari cincin dijari manisnya.
Ketika ia bergerak bangkit berdiri, Kalara memegang lengannya. "Tenang saja, aku akan melindungimu~"
Emer kembali tertegun. Terlebih saat kehangatan melingkupi tubuhnya. Dari kaki hingga ujung kepala. Bahkan yang lebih menakjubkan, lukanya sama sekali tak terasa sakit dan bahkan telah menghilang. Menyisakan pakaiannya yang dipenuhi darah.
"Pe-penyihir!" batin Emer terkejut.
Kalara memandang kearah bayangan yang bergerak waspada kepadanya. Melangkah keluar dari dinding pelindung, Kalara mengangkat tangan kananannya dan mengeluarkan bola api berukuran kecil diujung jari telunjuknya, dan meluncurkannya dengan arah zigzag kekanan, kekiri, keatas dan kebawah sebelum menembus satu bayangan yang mencoba menepisnya. Seketika, bayangan itu terbakar menjadi abu dan lenyap.
Melihat itu Emer terpukau sekaligus terkejut.
Bayangan lain melesat dan menggerakkan cakar liar untuk menyerang Kalara, namun Kalara bisa menghindarinya, meskipun lengannya nampak sedikit terkena goresan cakar tajam bayangan.
"Ka—kau baik?" tanya Emer.
Kalara mengangguk, "Tidak apa."
Kalara mengangkat cincin dimensinya dan menyedot bayangan-bayangan itu kedalamnya. Bahkan, mereka tak sampai bisa mengelak. Detik berikutnya, cahaya keemasan memendar dan meliuk. Melewati celah pintu dan bergerak lembut dengan cepat, melewati pepohonan yang rimbun, melewati sungai, melewati perbukitan dan bangunan-bangunan tua dan berakhir membentuk lingkaran penuh untuk mengelilingi Kota Gibo.
Ketika lingkaran itu nampak berputar searah jarum jam layaknya roda, dari dalam tanah muncul kecambah kecil yang perlahan tumbuh membesar dan meninggi. Menumbuhkan tanaman bunga berwarna emas yang indah dan berkelopak seperti bintang.
Bunga itu memancarkan cahaya yang samar dan aroma yang sama samarnya, dan hanya yang memiliki indra penciuman yang tajam yang dapat menemukan bau harum dibunga-bunga itu.
Kalara menoleh dan menatap keluar jendela, menatap jalanan kosong disana.
"B—Bagaimana kau—" Pertanyaan Emer tercekat ditenggorokannya.
"Hm?"
Emer kembali menggerakkan bibirnya, "Apa kau penyihir?"
Kalara menggelengkan kepalanya, "Hanya kebetulan bisa menggunakan sihir. Orang bisa dinyatakan menjadi penyihir jika memiliki token pnyihir. Tapi aku belum memilikinya."
Dan malam itu, Emer hanya bisa merapatkan bibirnya daam kebisuan. Sementara Kalara nampak menggulung senyuman tenang dengan mata yang melengkung hangat.
...🌙...
Ketika Kalara menapakkan kakinya melewati bangunan-bangunan tanpa suara, udara malam terasa dingin. Namun, entah mengapa memancarkan aura nyaman. Mata birunya bergerilya dengan tenang dan menemukan sudut-sudut tempat dan bangunan yang sama sekali tak berubah.
Dua tahun lamanya. Dan tempat ini banyak berubah.
"Tuan Topeng Bambu." Gumamnya pelan saat maniknya menangkap sebuah bangunan yang ada seberang jalan.
Bangunan itu nampak cukup tua dan tidak terlalu besar. Diatasnya, ada sebuah papan bertuliskan Topeng Bambu, sebuah toko senjata. Dan toko pembuatan senjata. Dengan gerakan halus, jemarinya mengetuk pintu dengan pelan.
"Siapa?"
Suara didalam menyahut. Ketika derap langkah kaki samar terdengar, Kalara telah memasang senyuman diwajah cantiknya.
Pria tua bertopeng bambu yang membukakan pintu nampak menegang sesaat. Sepasang mata hitam dari lubang topeng itu menatap Kalara dengan sedikit menyusut. Ketika hendak berbicara dengan keras, ia terinterupsi dengan Kalara yang menempelkan jari telunjuknya kebibirnya. Menandakan jika dirinya tidak boleh berteriak menyerukan namanya.
Pria itu menatap sekelilingnya, "Masuklah kedalam."
"Luar biasa. Ini mutiara roh air yang sangat berkualitas. Kau yakin mempercayakan barang seberharga ini padaku?" tanya pria tua itu pada Kalara.
Kalara mengangguk, "Tentu. Tuan Topeng Bambu adalah kepercayaan paman Kal jadi, saya percaya."
"Baiklah, dimana senjatamu?"
Kalara menggerakkan pelan tangan kirinya. Cahaya memenar perlahan dan memunculkan bilah panjang bercahaya keemasan sesaat sebelum menampilkan sebuah tombak indah berwarna semi transparan seperti kaca. Tombak itu sepanjang 2 meter dengan ujung berbilah tajam. Dibawah bilah tajam terdapat 1 cincin pipih yang terjajar rapi dan nampak berputar-putar ketika tombak bergerak maupun diam. Cincin itu tidak bersentuhan dengan tongkat tombak, itu melayang sendiri.
Sebuah lonceng bulu berwarna transparan diikat dicincin itu. Ketika cincin berputar, lonceng dengan benang tipis itu ikut bergerak memutar. Dan ketika dihentakkan, itu berbunyi cukup nyaring, halus dan merdu. Tidak berisik.
Disepanjang bilah pegangan tombak, ada uliran seperti sulur daun namun berbahan sama seperti tombak yang membuat pola abstrak yang indah.
Pupil pria itu menyusut dan bereaksi, "Itu, ..."
Malam perlahan-lahan menyusut. Ketika Kalara menaiki bola hitamnya dan melewati sebuah bangunan, ia mengangkat tangan kirinya dan tersenyum dengan wajah manis.
"Sekarang aku adalah penyihir." Gumamnya pelan.
...🌙...
Cahaya merambat, melewati angin dan jendela. Menembus jendela, cahaya itu berputar diatas seseorang yang tengah bergelung diatas ranjang yang hangat dengan tenang. Ketika cahaya memendar samar ditangan sosok itu, setangkai bunga bintang berwarna semi transparan tercengkram ditangannya. Menyisakan jejak mendalam dalam setangkai bunga.
Ketika terbangun, Emer mendapati dirinya memegang erat sebuah bunga. Bunga yang akrab dan menjadi satu-satunya hal baik dalam hidupnya.
"Kak Kala."
gak ketebak