Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.
Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.
----------------------------
"Siapa ayah dari bayimu?"
"Itu bukan urusan Dokter."
"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."
Anisa hanya tersenyum getir.
"Maaf. Saya menolaknya."
-----------------------
Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Sebenarnya (3)
BUGH!
Satu hantaman bogem mentah dilayangkan Rendra pada pria di depannya.
"Siapa kamu sebenarnya hah? Apa yang kamu inginkan dari Raisa?"
Pria yang baru saja dihantam Rendra berusaha bangkit dan menyeka bibirnya yang sedikit sobek.
"Kukira pria hebat dan sibuk sepertimu tidak akan mengurusi hal receh seperti ini."
"Aku tahu semua akal busukmu, Rahwono!" Rendra masih berapi-api untuk menghajar pria yang tak lain adalah Raya.
Namun, kali ini Raya tidak membiarkan Rendra kembali memukulnya. Ia menahan tangan Rendra yang sudah terangkat ke udara.
"Apa maumu sebenarnya?" geram Rendra.
"Kamu sendiri? Apa maumu sebenarnya?"
Rendra melepaskan cekalan Raya. "Pergi selamanya dari hidup Raisa. Kamu adalah racun dalam hidupnya. Berpura-pura menjadi pria lembek tapi ternyata ...." Rendra memandang remeh penampilan Raya. Memang saat ini Raya tidak berpenampilan seperti biasanya. Dia menampilkan jiwa pria yang sebenarnya.
"Baiklah. Aku akan pergi dari hidup Raisa. Kuharap kamu tidak akan meninggalkan Raisa jika mengetahui rahasia besar yang dia simpan di belakangmu."
Rendra menarik kerah kaus Raya. "Brengsek! Jangan memfitnah istriku! Kamu sudah melecehkannya dan sekarang kamu ingin membuatku membencinya? Tidak akan. Aku sangat mencintai Raisa, makanya aku ingin parasit seperti kamu menghilang dari hidupnya." Rendra menghempas tubuh Raya kemudian pergi begitu saja.
Raya membenahi kembali penampilannya. Ia sedang enak-enak istirahat di apartemennya, eh malah diberi kejutan dengan kedatangan Rendra. "Dasar brengsek! Kita lihat saja secinta apa kamu dengan Raisa." Raya menyeringai.
*
*
*
TING TONG
Suara bel menggema di rumah besar itu. Seorang asisten rumah tangga segera berlari kecil menuju ke pintu utama.
"Siapa yang datang, Pak?" ART itu bertanya pada pak satpam yang menekan bel.
"Bukan siapa-siapa, Bik. Cuma tukang kurir paket. Ini ada paket untuk Pak Rendra."
"Oh, sini paketnya." Si ART menerima paket dari pak satpam.
"Siapa yang datang, Bik?" Rindi datang bertanya pada Bibik.
"Ini Nyonya, ada paket untuk Pak Rendra." Si Bibik menunjukkan sebuah kotak pada Rindi.
"Oh, ya sudah Bibik langsung taruh saja di ruang kerja Rendra ya."
"Baik, Nyonya. Permisi." Si Bibik dengan sopan membungkuk dan berjalan melewati Rindi.
Wanita paruh baya itu membenahi penampilannya karena akan menjemput Reynald ke sekolah.
"Kamu masih mengurus anak mereka?" Suara berat dan hentakan tongkat kayu membuat Rindi berhenti melangkah.
"Pah, Reynald adalah cucuku. Apa salahnya kalau aku membantu Raisa mengurus Reynald? Lagi pula kalau sepenuhnya diserahkan pada pengasuh, aku takut dia kenapa-napa lagi."
Raka memalingkan wajah dan berjalan menuju taman belakang hingga membuat Rindi kesal.
"Ish, menyebalkan sekali kakek tua itu. Harusnya dia dulu saja yang pergi ketimbang Mas Rama." Rindi menghentakkan kaki kesal kemudian berjalan keluar rumah.
"Pak, siapkan mobil! Saya mau jemput Reynald," titahnya pada pak sopir yang selalu standby di pos jaga.
*
*
*
Malam hari usai makan malam, Rendra menuju ke ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa pekerjaan. Rendra mengusap kasar wajahnya saat mengingat perbuatannya pada Raya beberapa hari lalu.
"Semoga saja pria lembek itu benar-benar pergi dari hidup Raisa."
Saat ini Raisa sedang liburan bersama Reynald dan Rindi karena Raka terus menyindir Raisa yang katanya lebih mementingkan karirnya dari pada putranya sendiri.
Rendra memesankan tiket perjalanan ke luar negeri agar Raisa bisa healing sejenak dan menjauh dari Raya.
Awalnya Raisa ingin tetap mengajak Raya, tapi karena Rindi juga tidak setuju dengan kehadiran orang lain di liburan mereka, akhirnya Raisa mengalah.
Rendra duduk di depan laptop dan akan mulai bekerja. Namun, ingatannya tertuju pada kejadian yang membuatnya harus memberi pelajaran pada Raya.
Rendra sengaja mengawasi gerak gerik Raya karena desakan dari Rindi yang masih menduga jika mungkin saja ada hubungan lebih antara Raisa dan Raya. Ternyata firasat Rindi ada benarnya juga. Bukan Raisa yang bermain api lebih dulu melainkan Raya. Pria gemulai itu diam-diam terobsesi pada Raisa. Rendra mendapat rekaman video dari orang kepercayaannya saat dengan penuh hasrat Raya mencium bibir Raisa saat wanita itu tengah tertidur. Rendra sangat tahu seperti apa istrinya kalau sudah lelah dan terlelap. Raisa tidak akan mudah terganggu oleh apapun.
"Dasar bencong mesum! Aku tidak akan membiarkan kamu mendekati istriku lagi!" tekad Rendra dengan menggebu.
Rendra mengatur napasnya yang naik turun karena mengingat hal tak menyenangkan itu. Dia sengaja tidak memberitahu Raisa karena tahu istrinya tidak akan percaya begitu saja padanya.
Saat ingin kembali fokus pada pekerjaan, mata Rendra menangkap sebuah kotak yang ada di atas meja.
"Hmm? Ada paket? Dari siapa?"
Rendra mengambil kotak persegi panjang itu dan membukanya. Hanya ada dua lembar kertas di dalam sana.
"Siapa yang mengirimnya?" Rendra mengambil kertas itu dan membacanya.
Mata Rendra memerah dengan tangan terkepal setelah membaca apa yang tertulis di sana.
"Apa-apaan ini? Jadi, selama ini Raisa membohongiku? Dia ternyata mandul dan ... tidak bisa memiliki anak."
Dua lembar surat itu adalah hasil laboratorium pemeriksaan rahim Raisa dan surat perjanjian Raisa dengan Anisa. Selama ini Rendra hanya percaya pada Raisa dan mempercayakan semua pada wanita itu karena Rendra sangat mencintainya. Ia bahagia karena Raisa bisa membawanya jadi penguasa di dunia bisnis dengan melahirkan Reynald meski bukan dari rahimnya. Namun ternyata ... Reynald bukanlah darah daging Raisa melainkan milik Anisa.
Rendra menutup mulutnya tak percaya. Selama ini banyak sekali kebohongan diantara mereka.
"Jadi, Reynald adalah anakku dan Anisa. Gadis itu ... dimana dia sekarang?" gumam Rendra dengan wajah penuh seringai misterius.
*
*
*
"Sayang, aku pulang!" Raisa berseru saat memasuki kamarnya dengan Rendra.
"Mas? Kamu dimana?" Raisa mencari keberadaan Rendra. Ia baru saja tiba dari liburan dan ingin bertemu Rendra karena rindu.
"Mas?" Raisa tersenyum saat melihat Rendra baru keluar dari walk in closet dalam keadaan sudah rapi.
"Aku kangen kamu, Mas." Raisa langsung memeluk Rendra.
Namun, Rendra menepis tangan Raisa pelan.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Raisa bingung.
"Aku kenapa? Kamu yang kenapa?" Rendra mengambil dua lembar kertas yang diterimanya beberapa waktu lalu dan melemparnya ke wajah Raisa.
"Jadi, selama ini kamu menyembunyikan ini, hah?" murka Rendra.
Raisa mengambil salah satu kertas dan membaca sekilas. Wajahnya pucat pasi karena rahasianya telah terbongkar.
"Mas, tu-tunggu dulu. Aku bisa jelasin semuanya."
"Mau jelasin apa? Disitu tertera jelas kalau kamu itu mandul. Kamu sengaja memanfaatkan Anisa bukan hanya untuk jadi ibu pengganti, tapi kamu menggunakan benih milik dia juga untuk bisa jadi seorang ibu." Rendra mengusak kasar rambutnya.
"Pantas saja kamu gak pernah tulus sayang sama Reynald. Karena kamu bukan ibunya!"
"Aku melakukan semua ini demi kamu, Mas! Demi kamu agar kamu mendapatkan tahta tertinggi di keluarga ini. Apa ini cara Mas membalas budi padaku? Kenapa mempermasalahkan hal kecil seperti ini?" Raisa tak mau kalah.
Rendra malah tertawa. Ia tatap istrinya dengan alis menukik tajam. Mengingat apa yang dilakukan Raya pada Raisa, Rendra jadi berpikir apa saja sebenarnya yang mereka berdua lakukan di belakang Rendra? Mungkin saja Raisa sudah mengkhianatinya kan? Benar apa kata ibunya, kodrat Raya tetaplah pria meski dia berakting seperti pria gemulai dan tak menyukai wanita.
"Aku jijik melihatmu."
"Apa?" Raisa tak percaya jika pria yang amat dicintainya tega mengatakan hal seperti itu padanya. Pria yang sudah membuatnya melakukan segala cara bahkan membayar banyak uang demi bisa mewujudkan impian Rendra, kini pria itu bahkan menatapnya dengan enggan.
"Mas, kamu itu kenapa sih? Aku sudah mewujudkan impian kamu untuk mendapatkan semuanya, Mas. Aku yang gak bisa punya anak ini melakukan semuanya agar kamu memiliki keturunan meski lewat perempuan lain. Apa kamu tahu gimana perasaan aku saat lihat kamu menikah dengan perempuan lain? Aku sakit! Tapi aku menahannya karena aku cinta sama kamu." Raisa meluapkan emosi dalam dirinya.
Rendra masih menatap dingin. "Tetap saja kamu itu bukan ibu kandungnya Reynald."
DEG!
Kaki Raisa lemas. Tubuhnya luruh ke lantai. Selama lima tahun ini dia menyayangi Reynald meski anak itu bukan darah dagingnya.
"Aku sudah mengurus semuanya. Jangan membuat keributan atau kamu akan tahu akibatnya." Rendra melempar sebuah map ke lantai.
Raisa tidak perlu membukanya karena ia tahu isi di dalam map itu. Surat perceraian. Ya, Rendra yang sangat ia cintai akan menceraikannya. Tangis Raisa pecah menatap map berwarna coklat itu.
Malam ini, sungguh akhir yang tak terduga bagi Raisa. Harusnya sejak awal Raisa tahu saat penjemputan di bandara tadi, Rindi dan Reynald dibawa dengan mobil yang berbeda dengannya. Entah dimana mereka sekarang. Rumah besar ini juga terasa sunyi karena Raka tidak akan ikut campur dengan urusan Rendra.
Setelah beberapa saat, Raisa bangkit dan bermaksud bicara dengan Rendra. Ia tidak mau pernikahannya dengan Rendra berakhir seperti ini.
"Mas! Mas Rendra!" Raisa mengejar Rendra yang hendak pergi. "Mas, tunggu! Aku gak mau bercerai. Enggak sampai kapanpun." Raisa memegangi tangan Rendra diiringi isakan tangis.
Lagi, Rendra menepis tangan Raisa. Tidak kasar tapi dengan tatapan intimidasi yang tajam.
"Sandiwaramu sebagai ibu Reynald sudah berakhir. Sekarang jalanilah kehidupanmu dengan sesuka hati."
Raisa berdiri mematung menatap kepergian Rendra dari rumah besar itu. Air matanya terus mengalir tanpa henti.
Raisa sendiri. Rendra meninggalkannya. Namun, Raisa ingat ada satu orang yang tidak akan pernah meninggalkannya. Raya. Raisa akan menemui pria itu.
daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸