"Aku bukan dalang dari kematian orang tuamu"
Diasuh oleh kedua orang tua orang lain sejak kecil karena kematian orang tuanya, namun anak dari orang tua asuhnya mencintainya sehingga mereka menjadi sepasang kekasih, hubungannya mereka sempurna karena mendapatkan restu dari orang tuanya.
Namun, hal buruk menimpa keluarganya, tiba-tiba seseorang datang ke rumahnya dan membunuh kedua orang tuanya, dan mengatakan kalau ini adalah Siska, salah satu anak angkatnya.
Hal ini membuat Devan (anak kandungnya +kekasih Siska sendiri) menjadi membencinya, sudah berulang kali Siska katakan bulan dia pelakunya namun Devan tak pernah percaya.
Penuh misteri, apakah kebenarannya akan terungkap, siapakah pembunuh yang sebenarnya?
Akankah Devan terlambat?
Mampukah Siska tetap bertahan di sisi Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naaaaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resto
Devan terus mengikuti mobil Alex, dia tidak membiarkan laju mobil itu hilang dari matanya, Devan seperti seorang yang sedang mengejar maling yang mengambil sebongkah berlian, hatinya bimbang tak karuan padahal Alex itu temannya sendiri walaupun Devan tidak tau kalau Alex tidak pernah menganggap nya sebagai teman namun Devan memang sudah merasa tak pernah nyaman saat ada di dekat Alex apalagi saat Alex pergi membawa Siska pergi........
Sementara itu di dalam mobil..........
"Kelihatannya kau sedikit lelah, ada apa?" Tanya Alex yang sedari tadi mencoba mencuri-curi pandang pada Siska, tapi memang benar wajah Siska sedikit pucat dan terlihat lesu.
"Aku tidak apa-apa Alex, aku sungguh" kata Siska karena dirinya tidak mau merepotkan orang lain.
"Kau,yakin? Apa kau sudah sarapan pagi ini?" Alex terus bertanya, karena dia sendiri tau kalau Siska tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku tadi bangun agak kesiangan,jadi aku tidak sempat sarapan"
"Tapi,kamu tidak perlu khawatir aku baik-baik saja kok"
"Nanti aku sarapan di kantor saja" Siska mengatakan yang sebenarnya, akan tetapi dia juga mencoba menjelaskan pada Alex kalau dia baik-baik saja.
"Kalau bangun kesiangan setidaknya sarapan dulu, baru datang ke kantor" Alex menasehati Siska karena bukan masalah baginya jika Siska datang terlambat ke kantor.
"Baiklah, aku tak akan mengulanginya lagi"
"Sekarang kita langsung ke kantor saja ya......." Siska mencoba menawar pada Alex
"Kita akan makan dulu di restoran baru setelah itu kita ke kantor"
"Aku kan sudah bilang nanti sarapannya di kantor saja."
"Aku tidak mau merepotkan mu" kata Siska sambil menatap Alex yang sedang fokus menyetir,Alex hanya menoleh sebentar ke arah Siska lalu kembali melihat ke depan dia menghembuskan nafasnya, lalu meminggirkan mobilnya di salah satu restoran terkenal di kotanya.
"Siska, aku juga belum sarapan" elak Alex, dia hanya berbohong pada Siska.
"Dan aku tidak suka makanan di kantor jadi, kita makan disini dulu"
"Dan ini tidak merepotkan mu sama sekali" Alex menjelaskan pada Siska agar Siska tidak merasa bersalah terus-menerus padanya
"Baiklah, terimakasih Alex"kata Siska tapi sejujurnya dia tidak suka sekali di perlakukan seperti ini oleh orang lain selain Devan, bagaimana pun dia pasti akan merasa sangat berhutang kepada Alex.
Alex lalu turun dari mobilnya dan membuka pintu untuk Siska.
Devan yang melihat Alex menepi , akhirnya ikut menepi juga, dia melihat Alex dan Siska masuk kedalam restoran, akhirnya Devan pun ikut masuk.
Alex menyadari kedatangan Devan, dia sangat senang dapat membuat Devan mengikutinya,
"Ikuti aku terus Dev nanti kau akan melihat hal sesungguhnya sebentar lagi" kata Alex dalam hati lalu dengan sengaja dia memegang tangan Siska dan masuk kedalam, Siska sangat tidak nyaman dengan sifat Alex padanya,ia mencoba melepaskan tangan Alex darinya tapi Alex malah semakin memegangnya erat.
Devan yang melihat itu semakin di buat marah, ingin sekali rasanya memukul Alex saat itu juga tapi apa alasannya melakukan hal itu? Pasti itu akan sangat terlihat konyol apalagi dia sendiri yang telah memutuskan hubungannya dengan Siska.
Devan menginginkan Siska kembali padahal dirinya sendiri yang membuat Siska pergi menjauh darinya.
Sampainya di dalam, Alex dan Siska duduk satu meja dan memesan makanan sementara Devan duduk cukup jauh dari tempat Siska namun masih bisa melihat dengan jelas semua gerak geriknya.