Alya Rahmadhani, anak kedua dari keluarga Hasan dan Rahma, menerima perjodohan pilihan Ayahnya. Menggantikan Kakaknya yang bernama Tyas, Karena Ia sudah memiliki calon lebih dulu.
Dimas yang baru menyadari ternyata Anak ke-2 pak Hasan yang akan ia nikahi. Menjadi dilema karena Raka adiknya sudah menyukai lebih dulu sejak awal masuk kuliah. Tetapi Dimas juga sudah mulai suka kepada Alya.
Kini pria yang pernah Alya jumpai saat berada di Jogja beberapa tahun lalu akan menjadi pendampingnya, dan tanpa Alya sadari perlahan ia mulai menyukai Dimas.
Karena belum bisa menerima perjodohan tersebut, Raka lebih memilih ke Kalimantan sesuai permintaan Ayahnya. Mengubur jauh rasa sayang untuk memiliki Alya.
Tetapi takdir berkata lain, ada banyak polemik yang menerjang hubungan mereka.
Akankah Alya menikah dengan Dimas atau Raka akan kembali ke Jakarta menghentikan pernikahan Alya dan Dimas ?
Ikuti novelnya sampai tuntas ya readers, untuk dapat klimaks nya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adhel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raka Dilema
Dimas segera menangkap tangan kanan Alya, beruntung ada batu besar menghalanginya. Alya meringis kesakitan dibagian kakinya, Dimas segera membenarkan posisi Alya untuk duduk. Ada salah satu panitia yang melihat segera menghampiri, lalu memberikan kotak P3K kepada Dimas.
"Minum dulu Al." Dimas segera memberikan botol air minum miliknya.
Gluk .. Glukk ...
"Makasih Kak." Jawab Alya.
"Bagaimana kaki Mu?" Tanya Dimas dengan wajah panik.
Terlihat tubuh Alya kotor dipenuhi debu pasir Mahameru.
"Sedikit sakit Kak, sebentar Aku luruskan dulu." Jawab Alya.
"Arggh .. " Teriak nya.
"Jangan dipaksa Al, kita tidak usah lanjut ya." Titah Dimas.
"Tidak kak, Aku pasti bisa menyelesaikan ini. Sedikit saja istirahat." Jawab Alya.
"Sudahlah Al jangan memaksa, bagaimana kondisi Kaki Mu?" Ucap Dimas.
"Tunggulah beberapa menit Kak. Ku mohon." Alya memasang wajah melasnya.
"Hmm baiklah, keras kepala sekali Kamu." Ucap Dimas dan mengoleskan salep otot dibagian pergelangan Kali kanannya.
Ketika sudah menunggu beberapa menit, Alya mencoba berdiri dan melangkahkan kakinya satu persatu. Berhasil dengan terus maju merayap seperti cicak dilautan pasir. Dimas sempat sedikit tertawa melihat gerakan Alya.
"Maaf ya bos Kami lalai." Ucap salah satu suruhan Dimas mendekatinya.
"Bodoh sekali kalian, untung Saya berada dibawahnya. Jangan sampai kecolongan lagi. Lekas berjalan didekatnya." Jelas Dimas.
"Ba baik bos." Keduanya berjalan mendahului Dimas.
Tepat pukul 7 pagi Alya sudah tiba diatas puncak Mahameru, ada rasa haru dan sedih. Tak terasa Ia meneteskan airmata. Dimas menyadari lalu mendekatinya.
"Jangan bersedih Al, bersyukur Kamu bisa sampai disini." Ucap Dimas.
"Iya kak, terimakasih sudah menemani Ku." Jawab Alya.
"Alya, bolehkan Saya meminta untuk melangsungkan pernikahan Kita dalam waktu dekat ini?" Tanya Dimas meyakinkan.
Alya menoleh kearah Dimas, terpaku akan ucapannya.
"Bagaimana Al? Mau kan?" Tanyanya kembali.
"A aku mau Kak." Jawab Alya dengan terbata-bata.
"Terima kasih Al." Jawab Dimas.
Keduanya hanya bisa saling menatap bahagia, Dimas tidak berani untuk memeluk Alya. Ia ingin memeluknya setelah halal nanti.
"Ya sudah segeralah bergabung dengan teman kampus Mu. Saya menunggu disini." Titah Dimas.
"Baiklah Kak, tunggu sebentar ya. Nanti kita berfoto bersama." Ucap Alya segera bergabung dengan temannya.
Dimas memantau dari kejauhan, tersenyum melihat tawa bahagia dari raut wajah Alya. Rasanya ia sudah tidak sabar lagi untuk segera melangsungkan pernikahan.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Raka baru terbangun dari tidurnya, Ia masih malas untuk melakukan aktifitas kuliah. Rasanya sepi di kampus.
Ting !
Suara pesan dari ponselnya, Ia segera meraih ponsel diatas nakas dan duduk dipinggir kasur.
📱Harun
Woi bangun, hari ini jangan lupa ada kelas pa Bondan pagi. Kita 1 Kelompok buat lanjutin tugasnya.
📱Raka
Iya bawel.
Raka segera meletakkan ponselnya kembali, lalu berjalan menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian Ia telah selesai bersih-bersih. Raka mengenakan kaos oblong hitam sport dengan dilapisi pannel abu-abu, celana jeans dan sepatu snakers putihnya.
"Sempurna!" Ucapnya dipantulan cermin.
Ia teringat siang ini akan bertemu Siska, mau tak mau sekalian pagi ini kekampus untuk melanjutkan tugas nya bersama Harun.
Dimeja makan sudah ada kedua orangtuanya.
"Pagi Mah, Pah." Sapa Raka segera duduk.
"Pagi Ka, kamu hari ini ada kuliah sampai jam berapa?". tanya Subadiyo.
"Siang udah selesai. Ada apa pah?" Tanya Raka kembali.
"Siang ini Kamu temuin Papah dikantor ya. Ada yang mau dibahas." Jelas Subadiyo.
"Tapi siang ini Raka ada janji sama teman." Tolak Raka.
"Batalkan saja dulu, ada yang ingin Papah bahas penting. Ketemu teman Mu kan bisa besok-besoknya." Jelas Subadiyo tidak mau mengalah.
"Baiklah pah." Jawab Raka kesal.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Seluruh peserta dan panitia kini sudah tiba kembali di Kalimati. Semuanya beristirahat, Ada yang memasak, sekedar berbicara melepas lelah. Alya dan Dimas duduk agak berjauhan dari keramain.
"Kaki Mu masih sakit?" Tanya Dimas khawatir.
"Sedikit Kak, tapi tenang saja Aku masih kuat sampai Ranupani." Jelas Alya dengan tersenyum.
(Kamu ini keras kepala sekali, tetapi Saya suka semangat kerja kerasmu. Ini yang membuat saya semakin suka denganmu Alya. Gumam Dimas).
"Alya, Bang Dimas ayok makan siang sama-sama." Teriak Byan.
Keduanya pun berjalan kearah tenda, tempat yang lainnya sudah berkumpul.
"Gue denger dari Patricia Lo sempet jatuh diatas?" Tanya Byan disela-sela makannya.
"Iya Yan, tapi udah enggak apa-apa kok." Bohong Alya.
Ia hanya tidak ingin membuat yang lainnya khawatir, terutama Dimas yang dari tadi memandanginya saja.
"Syukurlah kalau gitu. Rencananya Kami akan 1 malam lagi di Ranukumbolo. Disana acara penutupan sekaligus untaian pesan kesan para anggota baru." jelas Byan.
"Oke Yan, Aku akan ambil video dan gambar disana juga. Tapi setelah itu sepertinya Aku akan turun lebih dulu."
"Baiklah Al. Semoga tugasnya lekas selesai." Ucap Byan.
"Iya. makasih Yan." Jawab Alya.
Alya memutuskan untuk segera turun, Karena khawatir kakinya tidak begitu baik. Dimas yang menyadari perubahan wajah Alya merasa curiga, seperti ada yang disembunyikan dari dirinya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Raka sudah berada dikantor Subadiyo, setelah membatalkan acara siang ini bertemu dengan Siska. Memasuki lobby kantor seluruh karyawan memberikan hormat kepadanya.
Tok .. Tok .. Tok ..
"Masuk Raka." Ucap Subadiyo dari dalam ruangan.
Raka duduk di sofa tamu, Subadiyo berjalan kearahnya dan ikut duduk di sofa bersebrangan.
"Bagaimana kuliah Mu? Masih mendalami dunia menggambar?" Tanya Subadiyo.
"Maksud Papah apa menanyakan itu pada Ku? Langsung bicarakan saja pada intinya." Tegas Raka.
"Tidak pernah berubah Kamu tetap tegas dengan pilihan Mu." Ucap Subadiyo.
"Hhmm". Jawab Raka.
"Begini Raka, papah dan om Alex mempunyai masalah dengan bisnis di Kalimantan. Bisakah kamu handle disana?" Jelas Subadiyo.
"Apa, Kalimantan?" Ucap Raka terkejut.
"Iya Kalimantan. Kuliah Mi ajukan cuti. Minggu depan kamu harus sudah berada disana." Jelas Subadiyo.
"Tidak bisakah Papah membahas ini terlebih dahulu dengan Ku sebelumnya, tidak memutuskan sepihak. Raka bukan kak Dimas yang mau mengikuti saja kemauan Papah. Tapi .." Jelas Raka terpotong.
"Raka cukup ! Kamu ikuti permintaan Papah atau kuliah Mu dan segala Fasilitas Papah cabut." Tegas Subadiyo.
Raka terdiam lalu berdiri dan berjalan keluar meninggalkan Subadiyo diruangan.
"Raka mau kemana? Papah belum selesai bica ..." Ucap Subadiyo terputus.
Bughh !
Suara terdengar seseorang terjatuh, Raka yang baru saja menutup pintu langsung masuk kembali untuk meyakinkan tidak terjadi sesuatu didalam.
"Papah .. Bangun." Ucap Raka sambil memangku tubuh Subadiyo yang jatuh pingsan dilantai.
Raka sudah berada di IGD RS swasta di Jakarta, setelah pingsan di kantor tadi, Subadiyo belum sadarkan diri. Tak lama Dokter yang menangani keluar ruangan.
"Bagaimana kondisi Papah Saya Dok?" Tanya Raka khawatir.
"Papah anda sekarang sudah Kami pindahkan ke ruang rawat inap. Tadi sempat terkena serangan jantung. Sudah lama ini Ia rasakan. Untung saja Kamu cepat membawanya. Silahkan Kamu bisa jenguk di rawat inap. Permisi Saya tinggal dulu jika membutuhkan sesuatu lekas panggil suster ruangan yang berjaga." Jelas Dokter.
(Astaga, sejak kapan Papah menderita jantung. Aku merasa bersalah membuatnya seperti ini. Gumam Raka).
Raka segera menuju ruang rawat inap VIP, melihat kondisi Papahnya terbaring dengan alat bantuan ventilator juga selang infus. Rasa iba menyelimuti, Ia baru tersadar segera menghubungi Mamahnya.
Setelah 1 jam kemudian, Lestari sudah tiba di Rumah Sakit. Ia segera berlari mencari keberadaan suaminya. Setelah mendapatkan kabar dari Raka, Ia panik dan cepat meminta supir pribadi untuk langsung mengantarkan ke Rumah Sakit.
"Raka, bagaimana kondisi Papah?" Tanya Lestari yang baru datang langsung duduk disamping kanan Suaminya.
"Sekarang sudah membaik Mah. Maafkan Raka." Ucapnya.
"Sudahlah nak, ini semua bukan sepenuhnya salah Mu. Sementara ini ikuti saja dulu kemauan Papah. Nanti Mamah akan bicara dan Bantu bujuk Papah Mu." Ucap Lestari dengan tenang.
"Iya Mah. Terimakasih. Raka ijin keluar sebentar ya." Ucap Raka.
"Iya nak." Jawab Lestari.
Setelah menutup pintu, Raka berjalan dikoridor Rumah Sakit tanpa tentu arah. Fikirannya sedang kalut, mungkin ini salah satu cara untuk jauh dari sisi Alya. Jika memang keduanya akan menikah lebih baik Ia pergi jauh dulu. Ketika sudah siap ia akan datang kembali menerima kenyataan ini.
.
.
.
Renata nya Thor