NovelToon NovelToon
My Arrogant Prince

My Arrogant Prince

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Poligami / Berondong
Popularitas:308.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wardah Rose

Tidur Pangeran Rayyan Muhannad Arnauth tak akan pernah nyenyak jika ia tak bisa mendapatkan seorang wanita yang menghantui mimpinya tiap malam. Bagaimanapun caranya ia harus bisa menjadikan wanita itu sebagai salah satu selirnya.

Selir? Bilqist sangat membenci status itu. Dia merasa tak jauh beda dengan wanita simpanan yang tak mempunyai status dan dihargai hanya bila tubuhnya mampu menjadi pemuas napsu sang pangeran.

Sampai tulang belulangnya mengering di gurun pasir pun Bilqist rela. Asalkan dia tidak akan pernah menjadi selir Rayyan Muhannad Arnauth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Not) Husband Material

“Gila aja aku mau diajak nikah sama orang arogan kayak gitu,” kata Bilqist kepada adiknya.

Mereka sedang melakukan video call setelah Bilqist bangun sore itu. Di Indonesia, Chrystal dan Dania sedang berada di rumah orangtua mereka. Daniella yang mengantuk berpamitan kepada Bilqist. Bilqist kemudian membuat gerakan seperti memberikan ciuman pada kamera laptop Al. Mereka mendapatkan akses internet karena Al bisa membobol password WiFi rumah sakit.

“Sweet dream, Elle,” ucap Bilqist.

Daniella mengangguk dan tersenyum. “Good night, Aunt Bee.”

Setelah Chrystal mengantar putrinya ke kamar, mereka melanjutkan obrolan kembali.

“Eh, tapi dia ganteng banget, loh kak. Brondong lagi,” kata Dania.

Gwen yang waktu itu menyisir rambut Bilqist tertawa mendengar kata-kata anaknya yang paling bontot.

Bilqist menghela napas lalu berkata pada Dania. “Dee, kita di sini mau ngobrolin soal menikah. Bukan cowok buat dikecengin, ngerti? Laki-laki itu harus bertanggungjawab, pemikirannya dewasa, dan menganggap kita partner hidupnya yang bisa berbagi pemikiran, suka dan duka. Bukan sekedar tampangnya doang, Dee.”

Dania mengangkat tangannya. “Oke oke aku paham. Jadi Kakak gak ngelihat Husband Material di diri Rayyan?”

“Iya. Mungkin bagi orang lain, sih ‘husband material' banget. Kan dia udah terbukti punya istri tiga ...,” Kedua adiknya mengangguk. “tapi aku gak menemukan apa yang aku cari di diri Rayyan. Dia terlalu arogan. Meskipun aku tahu kalau umur tak berpengaruh pada tingkat kedewasaan seseorang, tapi aku rasa Rayyan terlalu muda dan pemikirannya kurang dewasa.”

“Oke done,” kata Gwen ketika sudah selesai mengikat rambut Bilqist. Sore itu Bilqist ingin tak memakai kerudung. Gerah harus tiap saat pakai kerudung. Dia harus selalu memakainya meskipun terpaksa, karena Rayyan selalu datang ‘bertamu’ ke kamarnya. Gwen membuat ikatan ponny tayl agak tinggi sehingga leher Bilqist terasa lebih sejuk.

“Terus gimana kalau udah selesai masa ta’aruf dan ternyata kakak jatuh cinta padanya?” tanya Dania, membuat semua terkejut. “Eh kenapa, kok ekspresi kalian seperti itu? Wajar dong pertanyaan aku?”

Bilqist mengerutkan dahinya. “Kita, kan gak tahu soal hati. Bisa saja Allah yang membalik hati Kakak jadi cinta sama dia. Apa Kakak mau nikah sama dia dan jadi istri ke empat?” ulang Dania.

Bilqist tak bisa menjawabnya.

“Sudah sudah. Kita ganti topik lain aja,” kata Gwen.

---------

Dokter Aisyah datang untuk mengganti perban Bilqist. Namun, Gwen yang ingin melakukannya. Dokter Aisyah mempersilakan Gwen yang menggantikan perban Bilqist setelah Gwen mengatakan kalau dia dokter juga. Spesialis jantung, lebih tepatnya. Selama proses mengganti perban, Gwen melihat ada luka-luka yang sangat dalam dan pasti meninggalkan bekas. Dia langsung menanyakan kepada Aisyah apakah ada obat penghilang bekas luka di rumah sakitnya?

Dokter Aisyah menyebutkan beberapa merk, tapi yang dicari Gwen dan Bilqist tidak ada. Gwen bertanya ke Aisyah mungkin ada rumah sakit lain yang menyediakan obat itu, tapi dia bilang kalau bahkan dia baru pertama kali dengar nama obatnya. “Sebaiknya kamu minta kirim obat itu, Bee. Ini lukanya dalem banget,” kata Gwen. “Obat itu diekspor ke Turki juga, kan?”

“Iya, yang paling dekat dari sini di Turki,” jawab Bilqist. Setelah Gwen selesai mengganti perban, Bilqist kemudian mengirim email kepada salah satu perusahaan obat di Turki untuk order krim penghilang luka itu. “Pesan berapa, Mom?”

“Seribu, deh,” jawab Gwen.

“Oke.” Bilqist kemudian menunjukkan email yang ia tulis kepada Gwen, dan dokter Aisyah yang masih berdiri di sebelah Gwen juga bisa membaca. Aisyah membelalakkan matanya. “Itu, seribu? Saya tidak salah baca?”

“Iya, itu benar,” kata Bilqist.

“Kenapa order sebanyak itu?”

“Karena kalau pesan sedikit tidak bisa karena mereka perusahaan besar. Lagipula sisanya, kan bisa disumbangkan ke beberapa rumah sakit di Julunda. Obat yang kalian pakai itu sudah lama. Ada yang lebih baru dan bekerja lebih cepat dengan hasil yang bagus,” terang Bilqist.

“Putri saya dokter bedah, dia paham soal krim sejenis ini,” Gwen menambahkan. Aisyah terlihat terkejut. “Ah maaf, saya kira Dokter sudah tahu,” kata Gwen.

Tadi siang sewaktu Rayyan meminta Dokter Aisyah mengantarkan Bilqist berkeliling, tak ada yang bilang kalau Bilqist adalah dokter spesialis bedah. Pantas saja dia terlihat sangat antusias mengamati para dokter yang sedang bekerja.

“Oke itu email-nya udah benar,” kata Gwen. Bilqist segera mengirimkannya.

Aisyah yang penasaran, segera berkata, ”Maaf kalau saya terdengar lancang, tapi saya ingin bertanya.”

“Silakan,” jawab Gwen.

“Kalian dari kerajaan mana?” tanya Aisyah.

Baik Bilqist dan Gwen pun tak paham apa yang dimaksud Aisyah. “Kerajaan apa maksudnya?” tanya Gwen.

“Sewaktu Princess Bilqist pertama kali dibawa ke sini, Pangeran Rayyan bilang kalau putri Anda adalah seorang yang dari keluarga kerajaan, jadi saya panggil dia Princess Bilqist. Tapi saat kalian berkirim surat tadi tak ada logo kerajaan pada surat itu.”

Gwen tersenyum lebar kepada Bilqist dengan memperlihatkan gigi-giginya yang putih dan terawat. “Dia bilang gitu mungkin karena anggap kamu calon bininya sejak pertama ketemu,” kata Gwen pada putrinya.

Bilqist tersipu, tapi dia berhasil mengatasinya secepat mungkin.

“Kami tidak berasal dari keluarga kerajaan. Mungkin dia berkata begitu karena putri saya terlihat seperti seorang putri kerajaan,” jawab Gwen pada Aisyah.

Aisyah tidak puas dengan jawaban Gwen, tapi dia mengangguk. Alasan Gwen masuk akal. Meskipun bukan putri dari suatu kerajaan manapun, wajah Bilqist sangat cantik, kulitnya sangat sehat dan terawat kalau bukan karena luka cambuk itu. Ditambah lagi sekarang mereka menunjukkan bukti kekayaan mereka tanpa bersikap menyombongkan diri. Aisyah tahu harga tiap tube krim penghilang luka, dan yang mereka order adalah produk terbaru otomatis harganya lebih mahal dan mereka order seribu tube tanpa pikir panjang. Seperti halnya beli jajanan di pinggir jalan.

“Emailnya langsung dibalas, loh,” kata Bilqist ketika mendengar bunyi notifikasi dan membuka email-nya.

“Mungkin karena jumlahnya itu, jadi mereka tanggapi dengan sangat serius,” jawab Gwen.

“Krimnya datang dua hari lagi,” kata Bilqist.

“Mungkin juga karena Mom yang order. Soalnya tadi aku pakai email dan nomer rekening yayasan.”

“Mungkin juga,” Gwen mengangguk. “Syukurlah kalau cuma dua hari.”

“Maaf, apa saya bisa bertemu dengan direktur rumah sakit ini?” tanya Gwen pada dokter Aisyah.

Aisyah tampak berpikir, “Saya kurang paham, tapi Ibu bisa coba hubungi ke sekretarisnya dulu.”

“Apa Anda bisa mengantar saya?”

“Tentu saja,” jawab Aisyah.

Gwen kemudian berpamitan kepada Bilqist. Ia harus melaporkan tentang permintaan pengiriman krim obat tadi kepada direktur rumah sakit Jabal Ali. Bilqist kemudian mengembalikan laptop kepada Al yang sedang duduk di sofa.

“Nih,” kata Al sambil menyodorkan sebuah kotak.

“Apa ini?”

“Hape.”

“Wah, makasih Al. Kamu kok tahu aku butuh Hp,” jawab Bilqist sambil tersenyum riang.

Bilqist cepat-cepat membuka kotak itu. “Tapi itu bahasanya Arab semua pengaturannya. Kalau yang bisa bahasa macam-macam memang ga ada. Ikut peraturan pemerintah katanya. Tapi gak masalah, sih. Udah kusetting pakai qwerty keyboard-nya. Kalau hapal user interface-nya ya app ya gak masalah juga, tetap nyaman dipakai.”

Bilqist kemudian membuka fitur-fitur ponsel itu. “Iya sih, bahasanya aja ganti. Isinya sama, kok. Thanks yaa.”

“No problem.”

“Eh IRIS-nya pakai bahasa Arab juga?”

“Iya. Belum kuubah. Agak rumit kalau itu, butuh waktu lama.”

“Gak masalah, sih. Kita mungkin di sini Cuma sampai masalah imigrasi selesai.”

Bilqist segera mengembalikan kontak yang tersimpan di akunnya. Orang pertama yang ia hubungi adalah Andrew. Dia ingin tahu bagaimana kabarnya.

1
Dewi Djordan
bakal di up g nih atau selesai sampai dsini ?( nanya dgn nada lembut)
Dewi Djordan
bggussssss
Mey Kusrini
hadeeeh
Mey Kusrini
saya suka Al bobol wifi
Mey Kusrini
salam saya pembaca baru pengen langsung skiming aza
Mey Kusrini
ga sabar mau melihat matanya😂
Mey Kusrini
Luar biasa
Erni Fitriana
keren👍🏾
buna
muhannad tuh apa😭
Eskael Evol
keren banget
Eskael Evol
keren thor syukron doa nya🙏
Nuning Setiyawati
ini gak ada ending nya ya thor
novi taurusita
selalu setia menanti kak
Dian Kartika Dewi
hai author. sehat2 ya . kapan lanjut cerita. udah lama nungguin lanjutannya. semoga segera update ya.
bank sha one
aku nunggu up nya othor tayangkuuuh
Babo Saram
ini tidak ada kelanjutan'a ya?
Dewi Djordan
cerita yang sangat menarik,alur y bagus,, tapi sayang up y lamaaa bangetttt,rasanya udah 1 tahun lebih nunggu
Fitri Octawaty
jangan lama lama lanjitin cerita,aku penasan ini🤔🤔🤔
Verdut Ndut
thor kpn up lg suwiii nya torrr 😩😩😩
novi taurusita
karyanya yang bagus sekali, suka dengan tokoh dan alurnya. tak bosan-bosannya untuk melihat up selanjutnya. semangat kakak semoga sehat selalu😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!