Chelsea Cellina Stefani adalah seorang gadis cantik dan juga pintar dia adalah sahabat baik Earlyn.
Mereka telah bersahabat semenjak kecil.
Darielle Abrisham Nathaniel atau yang biasa dipanggil Ziel adalah sahabat kecil mereka.
Ketika lulus SMA Ziel melanjutkan kuliah di Harvard University sehingga mereka terpisah selama beberapa tahun. Namun walau begitu mereka masih tetap saling memberi kabar.
Ziel tidak mengetahui bahwa diantara Celline dan Earlyn memendam perasaan yang sama pada orang yang sama. Akankah Ziel memilih salah satu diantara mereka ataukah dia menjatuhkan pilihan pada gadis lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThaRoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Perjanjian
Ziel mengantar Celline pulang kerumah. Sepanjang perjalanan Celline tidak mau membuka mulut. Jika Ziel berbicara dia hanya menjawab ya, tidak ataupun mendehem saja. Akhirnya mobil Ziel sampai didepan gerbang rumah Celline.
Celline segera keluar dari mobil dan hanya melambaikan tangan saja.
"Kamu tidak menyuruhku mampir Line?" Ziel
"Tidak"
"Kenapa?" Ziel
"Aku tidak mau bikin gosip lagi" jawabnya
Ziel tertawa " jadi sudah mulai kapok menulis Line?"
"Tentu saja tidak karena itu hobiku"
"Dasar keras kepala. Jangan lupa mulai besok kamu bekerja di kantorku selama sebulan tanpa ada gaji kalau tidak semua karirmu akan tamat" Ziel
"Iya aku tahu...besok aku datang tepat waktu. Aku akan memilih sendiri devisi yang aku masuki dan pastinya sesuai kapasitas aku" Celline.
"Oke....besok temui Pak Tomi dan katakan padanya devisi yang kamu minta. Aku pulang dulu"
"Hemmm" Celline lalu berbalik badan dan langsung membuka gerbang masuk ke dalam rumahnya.
Rupanya mama dan papanya belum pulang hanya ada Kean dirumah. Dia hanya menyapa Kean sebentar lalu pergi menuju kamarnya untuk menenangkan otaknya yang mendidih itu. Dia membuka dompetnya hanya tinggal dua lembaran merah dan dua lembaran biru selebihnya recehan semua. Bodo amatlah yang penting saat ini dia ingin tidurrrrrr.
Baru beberapa saat matanya terpejam suara bunyi handphone-nya membangunkannya. Dengan malas diraihnya benda pipih berwarna merah itu. Dia segera melihat siapa yang menelponnya.
"Hmmm...iya Da"
"Line....kenapa Pak Eka pulang sendiri?trus gimana jadinya kantor kita?" Hilda nampak sangat penasaran bertanya pada Celline.
"Kantor akan aman Da, tetapi aku yang tidak aman. Darielle menyuruhku bekerja dikantornya selama satu bulan tanpa di gaji"
" Loh kok bisa?" Hilda nampak heran.
"Sebagai ganti rugi dirinya karena aku memuat berita tanpa persetujuan dia. Kalau tidak dia akan menuntutku. Aku tidak ingin masalah ini sampai orang tuaku tahu, makanya aku terima semua permintaan edan dia. Kalau aku menolak dia akan menamatkan karirku dan juga kedua orang tuaku. Rasanya ingin aku cekik dia terus aku lempar ke planet yang paling jauh agar dia tidak nampak lagi dihadapanku"
Hilda tertawa mendengar cerita Celline.
"Si dodol..elo tuh harusnya bersyukur bisa kerja dikantor elit, kenapa juga elo malah marah. Otak loe dimana sih Line?"
"Aku tetap lebih suka dikantor kita walau tidak elit tetapi aku nyaman. Lagipula aku tidak tahu masuk devisi mana terus cara kerjanya gimana. Aku akan bosan seharian terkurung didalam ruangan dan satu lagi aku kerja tanpa digaji alias kerja bakti selama sebulan"
"Hahaha...derita loe itu. Kenapa nggak loe tolak aja permintaan bos edan loe itu. Biarin kita tempuh jalur hukum kan kita punya bukti foto-foto mesra mereka"
"Akan lebih ricuh lagi nantinya dodol. Kamu tahu siapa yang aku hadapi? Orang yang punya duit dan kekuasaan. Ke dua orangtuaku bekerja dikantor orang tuanya dia, sekali sentil maka hancurlah kami. Lagipula aku tidak ingin orangtuaku banyak mengeluarkan uang hanya untuk membayar jasa pengacara yang sudah pastinya aku tetap akan kalah. Karena foto itu bisa menjeratku ke dalam penyebaran konten pornografi" Line
"Aah....iya juga ya susah memang bersinggungan dengan orang kaya. Tapi kan elo pasti kenal dekat dengan dia Line apa mungkin dia tega mau nge-sel elo?"
"Yaealaa...namanya juga orang lagi murka Da, apalagi dia seorang direktur pasti habislah dia di judge oleh masyarakat luas. Belum lagi berita itu akan menjadi kunci utama buat orang-orang yang ingin menjatuhkannya dan merusak reputasi perusahaan grup H. Aahh...ternyata begitu besar dampaknya bagi dia. Aku akui aku salah menulis berita. Aku janji aku akan memulihkan kembali nama baiknya"
"Baik amat loe...dia aja gak pake pikiran buat ngehukum elo. Udah biarin ajalah sesekali kita harus sentil orang kaya"
"Da...gue boleh minjem duit gak ama loe. Akhir bulan gue ganti kalau udah dapat uang bulanan" Celline.
"Eetdahh....nyesel banget gue nelpon elo. Buntut-buntutnya minjem duit. Ngeselin loe tau gak"
"Hahahha" Celline tertawa mendengar runtukkan temannya itu.
"Duit loe lebih banyak dari gue, ngapain loe minjem sama gue cong?"
"Denger ya... Darielle ngajak gue makan siang di restoran mewah bintang lima. Aku pikir aku mau ditraktir sama dia jadilah aku milih menu favorite andalan restoran itu yang paling mahal. Tapi ternyata buntut-buntutnya aku yang disuruh bayar...whuaaaa...dan kamu tau berapa bill-nya? 26,7 juta ....pen nangis aja aku rasanya saat itu. KTP aku buat jaminannya dan besok aku harus bayar sisanya. Kebayang gak tuh uang darimana aku? Rekening aku terkuras habis semua. Besok aku harus nyiapin uang hampir 8 juta. Satu-satunya jalan aku harus gadaikan emas aku Da biar bisa ngelunasin tagihan kemaren"
"Aku tercekik dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Udah ya aku tutup telponnya besok kita lanjut lagi"
"Hahaha...asem kamu...dasar pelit bilang aja gak mau minjemin duit. Awas kamu ya besok-besok jangan kemejaku lagi"
"Wkwkwkw....ngapain gue ke meja loe, pan kantor loe pindah kesana hahaha" Hilda
"Suwek u"
"Kasih rekening loe ntar gue pinjemin duit tapi gak gede gue kan gak punya uang sebanyak elo Line. Gue pinjemin 1 juta aja yak buat loe sebulan...inget harus irit-irit loe, kalau bisa bawa makanan dari rumah gak usah makan diluar lagi" pesan Hilda.
"Iya...iya...mulai besok aku ngebekel deh. Nti aku kirimin norek aku..ya udah ya bye"
"Woy....tunggu dulu, gue yang nelpon loe, gak sudi gue elo yang nutup telpon duluan hahaha....ya udah bye"
Sambil tertawa akhirnya mereka mengakhiri percakapannya. Membayangkan hari esok membuatnya malas bergerak. Di kantornya ada Hilda yang selalu menemaninya dan walaupun Pak Eka galak tetapi dia nyaman kerja disitu.
"Sepertinya aku harus buat surat perjanjian. Kalau tidak dia akan seenaknya saja memerintahku. kira-kira poin apa yang harus aku buat" Celline nampak segera berfikir sambil mencoret-coret di sehelai kertas.
Berhubung bos aku suka mengintimidasi maka aku harus mengajukan beberapa syarat untuk bekerja disana.
Surat Perjanjian
Bebas masuk divisi pilihan sendiri.
Sesuai perjanjian, kontrak kerja hanya berlangsung selama satu bulan dan tidak lebih. Berlaku dari tanggal 14-01-XXXX s/d 14-02-XXXX.
Jam kerja tidak boleh lebih dari 8 jam dan tidak ada jam lembur kerja.
Jika ada jadwal kuliah bisa masuk dan bisa tidak dikarenakan ada beberapa mata kuliah yang jamnya tidak menentu.
Jangan sampai keluarga saya tahu jika saya bekerja disana.Jika sampai mereka tahu maka saya berhak berhenti kerja disana saat itu juga.
Ttd Menyetujui
Celline Darielle A.N
"Yes kelar...gak usah banyak-banyak tuntutannya yang penting kerja selama satu bulan dan tidak boleh lebih dari itu. Ziel ternyata bisa kejam juga sama aku. Liat aja aku akan membalasmu suatu hari nanti Ziel" Celline mengepalkan tangannya.
"Emasku" Celline mencari kotak emasnya dilepitan baju-bajunya.
"Aduh...maafkan aku ma, aku harus gadaikan hadiah darimu ini untuk sementara waktu tapi tenang saja aku akan segera menebusnya.
Celline memasukkan emas itu kedalam plastik dan disimpan didalam tasnya.
*****
Pagi pun tiba hari ini Celline bangun lebih awal hingga membuat Firda terbengong-bengong melihat anak gadisnya itu.
"Kesambet setan mana kamu kak, tumben banget kamu bangun pagi. Biasanya habis sholat subuh kamu molor lagi. Apa ada jadwal kuliah pagi?" Firda
"Aku harus tiba di kantor jam 7.15 mah....ini sudah jam 6 lewat. Berarti aku harus segera berangkat. Tolong siapin bekal makan siang aku mah. Aku gak sempat sarapan dirumah" Celline
"Hah!! mama belum masak sayang, mama cuma bikin sarapan pagi aja. Bawa sarapan pagi kamu aja, nanti siang pesan go food aja kak. Biasanya juga gak pernah ngebekel. Ini tumben-tumbenan minta dibawain bekal"
"Hehehe.....pokoknya aku minta mama tiap pagi masak. Biar aku bisa nyombong sama teman aku mah. Aku bilang mamaku pinter masak dan masakannya enak banget, soalnya mamaku mantan koki di restoran bintang 3" Line segera meminum susunya.
"Hah!!....jangan ngaco kamu kak. Gimana kalau mereka mencela masakan mama?bisa malu mama kak. Belum lagi nanti teman kamu pasti mesen masakan mama gimana kalau tidak sesuai lidah mereka. Duhh.....bisa stress mama kamu nanti" Firda menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Duileeee.....gak seheboh gitu juga kali mah. Jadi aku mesti bilang ke mereka jika mamaku menjual jamu kuat dan peramet wanita gitu?"
"Naahh.....begitu lebih baik...wkwkwkwk" Firda
"Diih....dasar mama" Celline mengambil kotak yang sudah disediakan oleh mamanya itu.
"Isinya apa mah?"
"Nasi goreng sama roti kak. Bawa juga sekalian tuh jus melon tinggal masukin ke gelas toperwer biar gak tumpah-tumpahan"
"Oke mama, aku berangkat...cup" Celline mencium tangan dan pipi mamanya.
"Pake rok dong kak biar feminim. Kamu cantik jika pakai gaun. Tunggu kak ada gosip baru tentang Ziel tuh, tante Alma marah melihat kelakuan Ziel dari kemaren dia gak mau negor Ziel itu gara-gara berita di tabloid X kak. Siapa yang bikin berita itu kak, kamu bukan?"
"Gak tau mah....aku belum baca berita dari kemaren ya sudah aku berangkat dulu bye" Celline segera keluar karena babang goj*knya sudah menunggu diluar.
"Matilah aku jika tidak buru-buru keluar dari rumah. Pasti mama akan menceramahiku ya Tuhan semoga papa lupa dan tidak bertanya tentang berita itu. Apess....apesss kamu Line" ucapnya dalam hati.
"Gedung Grup H ya bang jangan pakai lama saya hampir telat" Celline
"Siap neng" abang goj*k itupun meluncur menuju kantor Grup H.
Sesampainya dikantor semua nampak sepi hanya ada security yang sedang berjaga. Celline segera menghampiri mereka.
"Maaf pak kok sepi ya kantornya padahal sudah jam 7.30" Line
"Kantor buka jam 8 neng, tunggu saja 15 menit lagi pasti satu persatu mereka akan datang" security.
"Baiklah...terima kasih, saya tunggu di lobi saja" Celline segera masuk kedalam gedung dan duduk dibangku dekat resepsionis.Dia segera mengeluarkan handphone-nya dan menulis pesan untuk Ziel.
"Aku sudah dikantor Pak. Katanya jam 7.15 ini sudah jam 7.30 kenapa Bapak belum datang? Tolong ya sebagai direktur baru harus menghargai waktu jangan sampai kalah dengan anak buah" Line
Lima belas menit kemudian Ziel segera membalas pesannya.
"Temui Pak Tomi dan minta jobdesk kamu padanya. Aku sampai kantor jam 9 nanti" Ziel.
"Dasar kecoa, cicak, wedus....nyuruh orang pagi-pagi datang tapi dia sendiri datang sesuka dia" Celline mengomel sendiri. Dia buru-buru menutup wajahnya dengan tasnya saat Yugho melewatinya dan langsung menuju lift memencet tombol angka 32.
"Hadehh.... jangan sampai papa tahu kalau aku disini karena kena masalah. Bisa kepikiran nanti papa, maaf ya papa sayang" Celline memandang papanya dari belakang sampai hilang bayangannya masuk ke dalam lift.
Beberapa karyawan mulai memasuki perkantoran itu. Jam sudah menunjukkan pukul 08: 05 Celline segera bertanya kepada resepsionis ruangan Pak Tomi kepala divisi dikantor itu. Awalnya resepsionis bertanya tentang keperluannya dan sudah punya janji atau belum. Celline segera mengeluarkan kartu Pers-nya dan mengatakan jika mereka sudah janjian terlebih dahulu barulah resepsionis itu segera menghubungi Pak Tomi dan memberitahu keberadaan Celline.
Celline segera menuju ke lantai 30 tempat Kepala Divisi. Pak Tomi segera menyambutnya dan sedikit bertanya tentang Celline. Dia menyarankan Celline masuk Divisi Administrasi bagian Humas. Dengan senang hati Celline menjadi bagian humas. Karena sebagai PR dia akan berhubungan dengan masyarakat luas. Celline memilih masuk ke bagian itu. Pak Tomi mengantar Celline ke ruang kerjanya di lantai 29 dan menunjukkan mejanya.
"Waw....ruang kerja yang sangat nyaman rapi dan elegan. Orang-orangnya berpakaian sangat rapi dan sexy" Celline melihat diri sendiri. Dia memakai setelan jas dan celana panjang. Besok dia harus berpakaian lebih baik lagi. Karena akan berhubungan dengan masyarakat luar maka dia harus menunjukkan kredibilitas perusahaannya dengan cara berpakaiannya.
Banyak diantara mereka yang mulai kasak-kusuk dengan keberadaannya. Namun semua diabaikannya. Dia meminta kepada senior disana cara kerjanya. Pelan namun pasti Celline mulai mempelajari semua arahan yang diberikan kepadanya.
"Drrdtt" bunyi handphone. Dia melihat siapa yang menelponnya. Aahh...ternyata si wedus Ziel yang menelponnya. Dia segera mengangkat telponnya.
"Iya Pak ....ada yang bisa saya bantu?"
"Cepat naik keruanganku di lantai 32"
"Baik Pak" Celline segera mengambil kertasnya sebelum pergi ke ruangan Ziel.
"Kamu mau kemana Line?" tanya senior disana.
"Pak Darielle memanggil saya bu"
"Baiklah...Cepat kembali" Celline menganggukkan kepalanya. Lalu dia keluar menuju lift ke lantai 32. sesampainya disana dia segera bertanya kepada sekretaris yang ada disana ruangan Darielle dengan cepat dia segera menunjukkan ruangannya.
Celline mengetuk pintunya dengan pelan begitu ada perintah dari Ziel dia segera masuk ke dalamnya.
"Duduk" perintahnya.
"Ada apa Pak? aku lagi sibuk dengan jobdesku"
"Kenapa kamu memilih Divisi administrasi?" tanyanya.
" Karena hanya divisi itu yang paling cocok denganku, tidak mungkinkan aku masuk accounting? bisa pada buyar otakku Pak"
Ziel nampak sedang berfikir divisi yang harus Celline masuki.
"Kamu pindah divisi saja Line yang lebih nyaman" Ziel
Namun Celline bersikeras tetap ingin di divisi itu. Akhirnya Ziel mengalah dan membiarkan Celline tetap di divisi pilihannya itu.
"Pak....saya mau bicara sebentar. Tolong ditanda-tangani beberapa permohonan saya. Karena saya kerja gratis disini jadi saya punya hak untuk menentukan keinginan saya" Celline segera mengeluarkan kertas itu dan memberikannya kepada Ziel.
Ziel membaca surat yang diberikan oleh Celline itu dan menatap tidak suka. "Dasar licik" umpat Ziel.
"Pakai materai biar lebih kuat posisimu. Cepat minta materai dibagian accounting habis itu langsung kamu tanda tangan diatas meterai baru aku akan tanda tangan" Ziel.
"Baik Pak" Celline segera keluar dan bertanya kepada sekretaris diluar ruangan accounting karena dia membutuhkan meterai. Setelah selesai prosesnya lalu dia kembali ke ruangan Ziel dan meminta tanda tangannya.
" Kamu sudah tanda tangan?" tanyanya.
"Sudah Pak" jawabnya.
Ziel segera mengambil kertas itu dan menulis satu poin tambahan.
"Pasal 1 owner tidak pernah salah. Jadi wajib tunduk apa kata owner" lalu Ziel menandatangani perjanjian itu.
**********
Duh 1 pasal tetapi memiliki seribu arti🙄.
Bikin Celline pusing saja kamu Ziel.
Hola genks....dua bab jadi satu😂
Jangan lupa like vote n komennya genks
Love you fulllllll😘😘😘
Maaf jika banyak typo genks, cepat-cepat nulisnya😂
i love you papa (waktu papa masih muda 😌)