Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.
Lalu Yong Ing meninggal.
Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.
Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.
Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.
Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.
Dan itu baru tiga hari pertama.
Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.
Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 018: Enam Juta Rupiah
Keesokan paginya, keluarga Png benar-benar pergi ke kelurahan.
Mereka datang lebih awal, membawa wajah marah, cerita panjang, dan satu kalimat yang diulang berkali-kali: keluarga Lim menghina nama baik keluarga Png.
Margaret datang setengah jam kemudian bersama Marcus.
Marcus semalaman tidak tidur. Matanya merah, rambutnya berantakan, dan setiap kali melihat Margaret, wajahnya makin penuh rasa bersalah.
"Ci Margaret," katanya pelan di depan kantor kelurahan, "kalau nanti mereka minta uang, biar aku yang bayar."
"Memang kamu yang bayar."
Marcus terdiam.
Margaret meliriknya. "Anakmu hampir masuk lubang. Kamu kira cukup bilang terima kasih?"
Marcus menunduk. "Aku tahu."
"Bagus. Nanti di dalam jangan lembek."
Petugas kelurahan yang memediasi adalah lelaki Jawa berusia sekitar empat puluhan. Ia mengenakan kemeja cokelat muda, wajahnya sabar seperti orang yang sudah terlalu sering mendengar tetangga saling menuduh soal batas tembok dan pohon mangga.
Begitu duduk, Papa Peter langsung bicara.
"Bu Lim ini membuat pesta kami hancur. Anak kami dipermalukan. Meja dibalik. Tamu-tamu melihat semua. Sekarang orang sekampung bisa bicara macam-macam."
Mama Peter mengangguk keras. "Saya juga dipermalukan. Dia menuduh anak saya dengan menantu saya sendiri!"
Kakak ipar Peter duduk di sampingnya dengan mata merah. Hari ini bajunya lebih sederhana, tetapi wajah tersinggungnya masih sama tebal.
Margaret menunggu sampai mereka selesai.
Petugas kelurahan menoleh padanya. "Bu Lim, bagaimana tanggapan panjenengan?"
Margaret membuka tas kainnya dan mengeluarkan selembar kertas.
"Ini catatan dari semalam," katanya. "Keluarga Png meminta gaji Angela diserahkan penuh setelah menikah. Uang lamaran juga mau dikelola keluarga Png. Kakak ipar Peter mengakui dia yang mengurus makan, baju, dan uang Peter. Di depan calon istri."
Papa Peter memotong, "Itu urusan keluarga!"
"Betul. Karena itu kami membatalkan pertunangan sebelum Angela menjadi keluarga kalian."
Petugas kelurahan batuk kecil, menahan senyum.
Margaret melanjutkan, "Tentang meja, yang dibalik meja kecil kosong. Piring pecah, kami ganti. Tentang nama baik, justru kami tidak membawa masalah ini ke luar. Kalian yang datang ke kelurahan."
Kakak ipar Peter mendesis, "Kamu licik."
"Aku rapi," kata Margaret.
Marcus hampir menunduk menahan tawa, tetapi segera mengingat ini urusan putrinya dan kembali memasang wajah serius.
Perdebatan berlangsung lama. Keluarga Png menuntut ganti rugi pesta, malu, makanan, dan "masa depan Peter yang rusak". Margaret menolak separuhnya dengan tenang.
"Masa depan laki-laki dewasa tidak rusak hanya karena satu cincin dikembalikan," katanya. "Kalau rusak semudah itu, berarti memang barang murah."
Papa Peter hampir berdiri. Petugas kelurahan segera mengangkat tangan.
"Sudah, sudah. Kita cari jalan tengah."
Jalan tengah itu memakan dua gelas teh, tiga kali napas panjang Marcus, dan satu kali Mama Peter memukul meja dengan sendok stainless yang dibawanya dari restoran semalam sebagai "bukti". Sendok itu kemarin sempat mengenai lengan Margaret saat keributan bubar. Tidak keras, tetapi cukup meninggalkan merah tipis.
Margaret justru menunjuk lengannya.
"Ini juga dihitung, ya. Aku dipukul pakai sendok."
Mama Peter ternganga. "Itu tidak sengaja!"
"Kalau meja pecah bisa dihitung, kulitku juga bisa."
Petugas kelurahan kali ini benar-benar menutup mulut dengan tangan.
Akhirnya disepakati: keluarga Lim mengembalikan uang lamaran Rp 2.800.000 yang sudah diberikan Png, lalu menambah Rp 3.200.000 sebagai ganti biaya pesta dan piring pecah. Total Rp 6.000.000. Setelah itu, kedua keluarga tidak saling menuntut, tidak saling mendatangi, dan pertunangan dianggap batal sepenuhnya.
Marcus membayar dengan tangan gemetar.
Papa Peter menghitung uang itu dua kali, wajahnya masih masam. Peter sendiri tidak banyak bicara. Ia duduk di belakang, wajah kelabu. Ketika Angela disebut, ia hanya menunduk.
Margaret melihatnya dan merasa dingin di dada.
Laki-laki yang tidak berani membela perempuan di meja makan, jangan diharapkan membela perempuan dalam hidup.
Saat keluarga Png keluar dari ruangan, Mama Peter masih ingin menoleh dan memaki. Papa Peter menarik lengannya. Kakak ipar Peter berjalan paling depan, dagunya tinggi, tetapi langkahnya terlalu cepat untuk disebut tenang.
Peter sempat berhenti di ambang pintu.
Ia seperti ingin mengatakan sesuatu.
Margaret hanya menatapnya sampai laki-laki itu menunduk dan pergi.
Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Di depan kantor kelurahan, Marcus menyerahkan amplop kosong bekas uang pada Margaret, lalu mengeluarkan satu amplop lain dari sakunya.
"Ci Margaret, ini Rp 3.200.000," katanya serak. "Uang tambahan tadi. Aku bayar lagi ke Cici. Semalam Cici yang berdiri paling depan, Cici juga yang kena sendok."
Margaret menatap amplop itu.
"Kamu yakin?"
"Kalau bukan Cici, A Cui sudah masuk rumah Png."
Margaret mengambil amplop itu tanpa pura-pura menolak.
"Baik. Aku terima."
Marcus menunduk makin dalam. "Maaf, Ci. Aku jadi ayah terlalu lemah."
"Lemah masih bisa diperbaiki," kata Margaret. "Yang tidak bisa diperbaiki itu pura-pura tidak lihat."
Marcus mengangguk pelan.
Di angkot pulang, Daniel yang sejak tadi diam akhirnya bertanya, "Lenganmu sakit?"
Margaret mengangkat lengan yang merah tipis itu.
"Aku dipukul sendok stainless, cuma dapat Rp 3.200.000. Murah sekali harga tulangku."
Daniel terbatuk.
Oscar, yang ikut menjemput mereka di dekat pasar, langsung berkata, "Mama, kalau begitu nanti jangan pakai sendok stainless. Pakai centong kayu saja, lebih mahal kalau patah."
Margaret menatapnya.
Oscar sadar salah bicara dan pura-pura melihat jalan.
Malam itu, rumah Lim makan daging.
Bukan hanya satu piring. Margaret membeli ayam, daging sapi sedikit, tahu, tempe, dan sayur. Oscar memasak seperti sedang ujian restoran. Kuah kaldu memenuhi rumah. Ama yang biasanya mengomel soal boros pun makan dua potong ayam tanpa banyak komentar.
Margaret meletakkan amplop dari Marcus di tengah meja.
"Mulai besok, setengah bulan kita makan enak. Uang ini bukan uang sial. Ini uang yang menyelamatkan Angela."
Jenny menangis lagi ketika mendengarnya. Angela duduk di samping ibunya, mata masih bengkak, tetapi kali ini ia makan sampai habis.
Vanessa menggigit daging sapi, lalu berkata pelan, "Ternyata putus keluarga bisa bikin lapar."
Tidak ada yang mengejeknya.
Margaret hanya mendorong piring lebih dekat. "Makan. Orang lapar gampang bodoh."
Setelah makan, saat orang-orang mulai membereskan meja, Bella menarik ujung lengan Margaret.
Anak bungsunya jarang meminta perhatian. Karena itu, Margaret langsung menoleh.
"Mama," bisik Bella, "aku di sekolah ada sedikit masalah."
Margaret menatap wajahnya.
Bella menunduk. "Beberapa teman terus menggangguku. Mereka bilang keluarga kita aneh. Mereka juga menyembunyikan bukuku."
Ruang makan yang tadi hangat terasa dingin.
Margaret meletakkan piring di tangannya.
"Siapa nama mereka?"