Sequel Mantan Tercinta, biar gak bingung, boleh baca Mantan Tercinta.
Season satu (Sudah tamat di bab 50)
Suci khaidar mengejar cinta laki-laki dewasa yaitu Fery Irawan yang pernah menjadi calon suami sepupunya Anggun.
Awalnya Fery irawan menerima cinta Suci hanya untuk menghilangkan rasa traumanya, namun karena kebersamaan yang mereka jalani, benar-benar membuat Fery mencintai Suci.
Namun sayang disaat keduanya sudah sama-sama saling mencintai, takdir memisahkan dan mempermainkan CINTA SUCI FERY.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Masih bisakah CINTA SUCI FERY bersatu?
Peringatan!! Banyak bersabar ya!
Season dua
Pertemuan di malam pertama dengan orang asing di malam itu, membuat Dinda kehilangan kesuciannya, laki-laki yang sudah punya istri itu merenggut kehormatannya dengan paksa.
Kenyataan pahit itu mengubah hidupnya, ternyata benih itu tumbuh di dalam rahimnya. Apa yang terjadi selanjutnya? Mungkinkah Dinda rela menjadi istri kedua Lucas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSF 27
Jangan lupa like ya sayang akoh✌
Jangan lupa siapkan Tisu
Jangan lupa like, komen, rate5 ya☺
****
Seorang perawat keluar dan memandang heran kepada kedua wanita ini.
"Satu orang keluarga boleh masuk untuk menjenguk pasien, "ucapnya, Tasya dan Suci saling melihat, "tentukan siapa yang masuk ke dalam, dan ingat waktunya cukup terbatas," ucapnya dan ia kembali masuk ke ruang ICU.
Tasya berjalan mendahului Suci, tapi langkah kakinya terhenti karena Suci menarik tangnnya.
"Ijinkan aku masuk, Mbak ... Aku mohon, Mbak...."
Tasya tampak berpikir, ia menarik tangannya dan menyilangkan di depan dada, lama ia melihat Suci, biasanya Nyonya Farida yang masuk ke dalam, tapi hari ini adalah kesempatan emas untuknya.
"Kau mau masuk ke dalam untuk mengganggunya lagi?" Tanya Tasya, dan Suci nampak terkejut dengan tuduhan Tasya.
"Tapi Mbak----
"Sudah diputuskan siapa yang akan masuk?" Suster memotong ucapan Suci.
"Saya yang masuk, Suster." Tasya menjawab dengan cepat, tapi tetap menatap Suci.
"Tolong, Mbak ... sekali ini saja. Biarkan aku masuk, Mbak," Suci kembali memohon, ia menjatuhkan harga dirinya demi bertemu dan melihat kondisi Fery, ia menggenggam erat tangan Tasya.
"Baiklah... tapi berjanjilah, setelah ini kau harus pergi jauh dari kehidupan Fery, dengan begitu Fery pasti tidak akan menolak untuk menikahiku, dan jangan pernah lagi hadir atau muncul di hadapannya lagi, biarkan Fery menjadi ayah dari anakku ini, biarkan dia bertanggung jawab!" Seru Tasya.
"Mbak...."
"Tentukan pilihanmu sekarang!"
Bahkan untuk berpikir pun, Suci tidak punya waktu, mana yang harus dipilihnya? Pergi jauh? Apakah dia sanggup? Tapi rasa rindu ini memaksanya untuk masuk dan melihat kondisi Fery.
"Baiklah ... aku janji! Setelah ini aku akan pergi jauh," jawab Suci dengan pasti. Tasya tersenyum, kemudian ia menjauhi pintu dan membiarkan Suci melewatinya.
Setelah melewati prosedur kesehatan dengan mensterilkan diri, Suci mulai memasuki ruangan ini, dan ia disambut aroma obat yang cukup menyengat, hal yang pertama kali dilihatnya adalah tubuh lemah tak berdaya yang masih terbaring di tempat tidur pasien.
Suci berusaha menahan tangisannya, dua orang suster yang berjaga juga ikut memahami perasaan Suci, mereka duduk tidak jauh dari tempat tidur pasien. Suci sudah mulai berdiri di samping Fery yang masih memejamkan mata.
Lama Suci memandang wajah pucat Fery, dari ujung rambut, sampai ujung kaki, tidak luput dari pantauannya, tubuh tegap yang pernah menggendongnya dulu, kini terlihat menyusut.
"Boleh saya bicara," tanya Suci kepada suster yang berjaga.
"Silahkan, dalam beberapa kasus, terkadang suara keluarga bisa memulihkan kesadaran pasien, selama ini Nyonya Farida juga melakukan hal yang sama, tapi hasilnya masih sama saja, dan tidak ada salahnya kalau sekarang Ibu mau mencobanya."
"Terima kasih Suater," Suci sudah mulai lebih dekat dengan Fery, ingin rasanya ia memeluk laki-laki yang sudah lama dirindukannya ini.
"Kak ... kak! Aku mohon maafkan aku, kak. Maafkan semua ucapanku yang sudah menyakiti kakak, tolong maafkan aku." ucap Suci yang sudah menangis, ia menyesal mengingat pertemuan terakhir mereka, di mana saat itu Fery tampak sangat kecewa kepadanya.
"Kak, bagai mana mungkin aku bosan menunggu? Aku bahkan sudah sabar dan tetap setia mencintai kakak selama bertahun-tahun lamanya, bagai mana bisa cintaku ini hilang hanya karena kesalahan yang tidak sengaja kakak lakukan? Bagai mana mungkin, Kak? Aku masih mencintai kakak, sangat, dulu, sekarang, besok dan nanti, aku sangat mencintai kakak."
Tit....Tit....Tit.....
Peralatan monitoring mulai bekerja, garis-garis di layarnya juga bergerak sesuai irama detak jantung Fery, kedua Suster tampak terkejut, salah satunya menekan tombol untuk memanggil dokter.
"Suster ada apa? Apa semua baik-baik saja?" Tanya Suci yang juga ikut panik melihat Suster mengecek kondisi Fery.
"Terus ajak bicara, sepertinya pasien mendengar dan merespon Anda." Suster menjawab dengan cepat, saat itu detak jantung Fery kembali melemah.
Suci menghapus air matanya, ia tersenyum dan menggenggam erat tangan Fery, dan kembali bersuara.
"Kak, bangun! Sayangku bangun, aku kangen, kak, kapan kita bisa bertengkar lagi? Kapan aku bisa naik ke punggung kakak lagi? Kapan aku bisa dengar kata cinta dari bibir kakak lagi? Sayangku bangun! Aku mohon jangan seperti ini..." Suci mencium seluruh wajah Fery, bahkan ia mengecup singkat bibir pucat Fery, dan ia mengabaikan suster.
Tit......Tit....Tit.......Tit....Tit.....
Jantung Fery hampir berdetak normal, beberapa dokter ahli mulai masuk untuk melihat kondisi pasien."
"Teruslah bicara!" Perintah Dokter, yang saat itu menempelkan alat di dada.
"Kak bangun, semua menunggu kakak. Mama sangat merindukan Kakak, jangan buat Mama sedih, Kak." Tangan Fery sudah mulai bergerak.
"Kak, maafkan aku, tolong maafkan aku."
Jari-jari Fery merespon dengan baik, detak jantungnya juga berangsur normal.
"Kak, aku juga sudah memaafkan kakak, semua ini salahku, aku yang salah."
Kelopak mata Fery sudah mulai bergerak.
"Kak, aku mencintai kakak, sampai kapan pun, cintaku tidak akan pernah berubah, Kak."
Kelopak mata itu hampir terbuka.
"Sayangku Fery, aku sangat mencintaimu."
Saat itu Suci melihat kelopak mata Fery sudah mulai terbuka, tapi tiba-tiba saja, Tasya datang menariknya sampai Suci melepaskan tangan Fery.
"Mbak...?"
"Kamu harus pergi sekarang!" Perintah Tasya mengejutkan Suci, kenapa disaat seperti ini Tasya mengusirnya?"
"Tapi, Mbak ak----
"Kau harus menepati janjimu, pergilah sejauh mungkin, jangan pernah datang lagi."
"Mbak ak---
"Kau sudah berjanji kepada anakku, biarkan anakku punya seorang ayah, pergilah sekarang!"
Suci sudah mulai menangis, Tasya yang tidak perduli mulai mendorongnya sampai keluar dan Tasya kembali menutup pintu dari dalam. Disaat yang bersamaan, Fery mulai membuka kedua matanya.
"Suci..." lirih Fery.
Selama dua minggu tidak sadarkan diri, hari ini Fery membuka mata untuk yang pertama kali, dan kata yang terucap bibirnya adalah nama Suci, ia merasa seperti mendengar suara Suci, Fery merasa seperti merasakan kehadiran Suci yang seakan memanggil bahkan menciumnya.
Fery berusaha menggerakkan tubuhnya yang kaku, pertama ia menoleh, namun sayang Fery berakhir kecewa, bukan Suci yang menunggu dan tersenyum kepadanya, melainkan Tasya.
"Su-suci..." lirih Fery menatap Tasya.
"Dia ... Suci tidak ada di sini!" Jawab Tasya yang sengaja berbohong, ia merasa lega karena Fery tidak sempat menyadari kehadiran Suci.
Fery memejamkan mata, tanpa terasa keluar air mata dari kedua sudut matanya.
Tanpa Fery sadari, tepat dibalik pintu tempatnya dirawat, Suci masih menangis tersedu.
"Maafkan aku, kak. Ternyata takdir tidak akan pernah menyatukan cinta kita, dan terima kasih untuk semuanya, terima kasih karena kakak sudah membalas cintaku, aku harap kakak hidup bahagia dengan Tasya dan juga anak yang ada di dalam kandunganya, aku mencintai kakak."
Suci tidak tahan lagi, ia pasrah, rela dan ikhlas pergi meninggalkan Fery dan berharap Fery bahagia hidup dengan Tasya.
***
Banyak bawang gaesss✌✌
Suci sama fery ntar bikin anak sendiri aja 😝
Ngeselin ah