Sinopsis
Pernah tidak kepikiran kalau saja kalian punya ilmu yang tiada tanding di alam lain? Ya... kita mungkin tidak pernah kepikiran sampai ke sana, tapi ini beda dengan yang di alami oleh Tan Xiao Yi. Di kehidupannya saat ini dia adalah seorang ibu rumah tangga dengan 3 orang anak dan sebagai istri dari seorang pengusaha yang cukup sukses.
Hingga suatu ketika pada saat malam tiba, dia langsung pindah ke dimensi alam lain yaitu era 700 masehi masa Dinasti Tang. Disanalah dia memasuki ke dalam tubuh seorang gadis cantik bernama Yiyi.
Bagaimana kehidupan dia disana sebagai Yiyi? Apakah dia bisa kembali ke alam nyatanya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerajaan Yu di wilayah selatan 2
Perkumpulan makan malam yang sederhana. Kami dalam satu ruangan saling memperkenalkan diri satu sama lain. Hanya beberapa pangeran atau pejabat tinggi yang membawa pasangannya.
"Mohon perhatiannya sebentar!" seru pangeran Yu Tian. "Adikku Liu Shi ingin memberikan sebuah pertunjukkan ringan sebagai hadiah penyambutan untuk para tamu. Adik, silahkan!"
Liu Shi memberi hormat pada para tamu dan kemudian dengan gaya anggunnya dia menari dengan lincah sambil diiringi musik. Kecantikkannya banyak dilirik para pangeran muda yang hadir. Dalam irama lagu yang beritme cepat dipadukan dengan suara drum yang terbuat dari kulit binatang membuat Liu Shi terlihat seperti orang yang berbeda. Matanya menatap tajam bagai mata elang ke arah Mo Yan. Firasatku langsung tidak enak dan berkata kalau dia mempunyai niat yang tidak baik. Mo Yan membalas tatapan tajam Liu Shi.
"Yiyi, kepalaku agak sakit. Lebih baik kita kembali ke kamar sekarang," katanya yang tiba-tiba pusing tidak tertahankan.
"Ada apa, pangeran?" tanya Ling Zhe cemas melihat Mo Yan seperti kesakitan.
"Ling Zhe, tolong bantu papah dia kembali ke kamar!" pintaku pada Ling Zhe. Ling Zhe langsung memapahnya meninggalkan acara makan malam yang belum selesai.
Setelah Liu Shi menyelesaikan tariannya, aku menghadap ke pangeran Yu Tian untuk pamit.
"Hormat pada pangeran, hamba dan pangeran ke-3 kembali ke kamar kami lebih awal, karena beliau sedang tidak enak badan," kataku sambil memberi hormat.
"Apakah dia sedang sakit? Bukankah barusan dia baik-baik saja?" tanya pangeran Yu Tian penasaran.
"Nona, apakah anda adalah istri dari pangeran Mo Yan?" tanya salah satu pangeran yang hadir.
"Pangeran Wang Chan, beliau adalah istri dari pangeran Mo Yan. Kau jangan macam-macam!" jawab pangeran Yu Tian sambil memberi peringatan.
"Ternyata istri pangeran Mo Yan sangat cantik dan anggun. Andai saja nona bukan istri pangeran Mo Yan, aku pasti akan menjadikanmu permaisuriku," timpal pangeran yang lainnya.
"Tapi sekarang kau telah kalah cepat," timpal pangeran lainnya lagi dengan nada bercanda.
"Terima kasih atas sanjungannya kepada para tamu. Hamba pamit undur diri dahulu, karena suami hamba membutuhkan hamba di sana," ucapku seraya memberi hormat kepada para tamu.
"Baiklah, nona Yi. Kau boleh pergi sekarang!" kata pangeran Yu Tian mempersilahkan.
Aku mundur tiga langkah sebagai rasa hormatku dan kemudian berbalik badan meninggalkan tempat tersebut menuju ke kamarku. Tidak begitu jauh dari kamar kami, aku mendengar suara Mo Yan yang berteriak keras dari dalam kamar. Sesampainya di depan kamar dengan pintu yang sedikit terbuka, aku melihat beberapa barang berhamburan di lantai.
Dengan rasa penasaran terhadap sikap Mo Yan yang aneh, aku menghampiri Ling Zhe. "Ling Zhe, ada apa dengannya? Kenapa jadi seperti ini?"
"Maaf selir Yi, hamba juga tidak tahu apa yang sudah terjadi dengannya, karena setelah sampai di kamar dia terus meronta kesakitan di bagian kepalanya," jawab Ling Zhe yang masih waspada.
"Yang Mulia, ada apa denganmu?" tanyaku semakin cemas sambil meraba bagian kepalanya yang menurutnya sakit.
"Jangan mendekat! Jangan mendekat!" teriaknya kesakitan.
"Ruyi, tutup rapat pintunya!" pintaku.
Ruyi sudah menutup rapat pintunya dan kami berempat di dalam kamar kebingungan entah harus berbuat apa agar Mo Yan lebih tenang.
"AAAAaaaaarrghhh......" teriaknya dengan nada panjang sambil memegang kepalanya dengan sekuat tenaga. Dalam hitungan detik, rambutnya berubah menjadi putih semua dan sorot matanya jadi berbeda, seperti bukan Mo Yan yang kukenal.
"Pangeran!" seru Ling Zhe dan Ruyi berbarengan.
Mo Yan berhenti dari rasa sakitnya. Dengan cepat dia menoleh ke arah kami bertiga. "Kalian siapa?"
'Ada apa dengannya? Kenapa dia lupa pada kami?' tanyaku dalam hati.
"Pangeran, apakah pangeran lupa dengan hamba?" tanya Ling Zhe khawatir.
Mo Yan menghampiri ke arah kami. Dia melihat kami satu persatu dengan teliti. "Kamu siapa? Kenapa kamu seperti penjaga saja? Apakah aku telah berbuat jahat padamu?" tanyanya pada Ling Zhe.
"Hamba, Ling Zhe. Apakah pangeran benar-benar tidak bisa mengingatku?" tanyanya panik.
Mo Yan tidak menjawab pertanyaannya, dan berlalu ke hadapan Ruyi tapi hanya melihat sebentar kemudian pergi melewatinya. Terakhir, dia menatapku sambil mengelilingiku.
"Kamu cantik sekali, nona. Kamu siapa?" tanyanya padaku.
"Rupanya anda telah hilang ingatan. Apakah ini lelucon yang lucu bagimu?" tanyaku dengan perasaan sedikit kesal namun penasaran padanya. Kesal karena dia melupakanku begitu saja dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau ingin menggodaku ya?" tanyanya seraya memainkan tali pinggang hanfuku yang panjang.
Aku menghentakkan tangannya karena tidak suka akan ketidaksopanannya.
"Pangeran, dia adalah selir Yi. Apakah anda juga melupakannya?" kata Ling Zhe berusaha mengingatkan.
"Aku tidak tertarik padamu," katanya pelan di hadapanku dengan angkuh.
Aku menatapnya tajam. 'Apa-apaan ini?' tanyaku dalam hati.
"Ruyi, kita inap di penginapan saja malam ini. Ling Zhe, aku akan inap di penginapan bersama Ruyi. Kau urus saja tuanmu!" pintaku dengan gaya angkuhku.
"Ta... tapi... Selir Yi, anda tidak boleh pergi begitu saja," ucap Ling Zhe yang entah harus berpihak pada siapa.
"Biarkan dia pergi!" titah Mo Yan. "AAaaarrghhh...." teriaknya lagi sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit kembali. "Yiyi, jangan pergi!" serunya lagi dengan nada sedih.
"Hah? Bukankah tadi kau yang menyuruhku pergi?" tanyaku bingung akan sikapnya yang aneh.
"Aaaaarrrghh..... ini sangat sakit sekali Yiyi. Kepalaku entah kenapa sesakit ini. Tolong jangan tinggalkan aku!" pintanya sambil berlutut memohon di depanku.
"Yang Mulia, jangan begini! Ayo, bangunlah! Aku janji tidak akan meninggalkanmu," kataku sambil membantunya berdiri, tapi dia langsung jatuh pingsan.
"Pangeran!!!" Ling Zhe yang khawatir dengan sigap menggendong Mo Yan ke atas ranjang.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Bukankah dia sehat-sehat saja? Kenapa setelah Liu Shi menari, dia langsung sakit kepala?" tanyaku bingung.
"Hamba juga tidak tahu apa yang sedang terjadi," jawab Ling Zhe yang kelihatan putus asa.
"Nyonya, kalau menurut hamba, Yang Mulia pasti kena jampi-jampi," terka Ruyi.
"Jampi-jampi?" tanyaku penasaran.
"Kau jangan sembarangan bicara, Ruyi!" timpal Ling Zhe.
"Kau harus percaya padaku, karena kakekku pernah tinggal di wilayah selatan. Menurut kakekku, di wilayah selatan banyak sekali orang-orang yang memiliki ilmu hitam. Bahkan, nenekku saja meninggal karena jampi-jampi. Gejalanya persis seperti Yang Mulia rasakan saat ini," jelas Ruyi.
"Apakah benar begitu?" tanyaku.
"Hamba jamin kalau informasi yang hamba berikan adalah benar, nyonya. Jika hamba salah, mohon nyonya menghukum hamba," katanya sambil berlutut di depanku.
"Bangunlah, Ruyi!" Aku berusaha membantunya berdiri. "Aku percaya padamu," kataku sambil tersenyum padanya. "Sekarang saatnya kita berpikir untuk membantu Yang Mulia agar dapat kembali lagi seperti semula," kataku sambil mencoba memikirkan jalan keluarnya.
Suasana menjadi hening sesaat. Masing-masing dari kami berusaha cari tahu tentang cara mengatasi jampi-jampi yang seperti di ceritakan oleh Ruyi.
"Selir Yi, hamba baru ingat kalau pangeran punya teman yang mengerti cara melepas diri dari jeratan ilmu hitam," ucap Ling Zhe tiba-tiba.
"Benarkah? Siapa? Apakah aku mengenalnya juga?" tanyaku penasaran.
"Mungkin anda mengenalnya, tapi dia tinggal di wilayah tengah. Bagaimana kalau hamba mencarinya? Selir Yi dan Ruyi tetap menjaga pangeran di sini."
"Baiklah, Ling Zhe. Aku akan menjaganya dengan baik di sini. Kau cepatlah kembali dan harus jaga dirimu dengan baik juga!"
"Kalau begitu, hamba pergi dulu," pamit Ling Zhe yang seketika menghilang dengan ilmu seribu bayangannya.
Aku merasa agak sedikit lega mendengar ada jalan keluarnya. 'Setidaknya Mo Yan harus kembali ke istana kerajaan Lim dengan kondisi seperti sebelumnya. Jika seperti ini, maka akan sangat membuat kaisar dan permaisuri khawatir,' ucapku dalam hati.
Bukan nya cpet2 slesaiin misi, emang ga mikir ninggalin suami n anak2 di dunia modern
Makasih banyak ya buat support mu pada karya ku! ❤️🤗😘