NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Sangat Cocok

Dua hari berlalu begitu cepat, membawa hari pernikahan Nara dan Zaid tinggal menghitung jam.

Suasana sibuk dan tegang mulai memenuhi pikiran Nara, terlebih situasi hubungannya dengan Zaid memang terikat oleh garis takdir yang serba mendadak.

Pagi itu, suasana kantor divisi desain di tempat Nara bekerja tampak seperti biasa. Suara ketikan papan tombol dan denting cangkir kopi meramaikan ruangan.

Nara melangkah menuju ruangan manajernya untuk menyerahkan formulir cuti menikah selama satu minggu ke depan.

Begitu keluar dari ruangan atasan dengan dokumen cuti yang sudah ditandatangani, beberapa rekan kerja dekatnya. Rika dan Siska, langsung menghadangnya di dekat meja kerja dengan senyum menggoda.

"Wah, calon pengantin akhirnya resmi cuti juga!" seru Rika setengah berbisik namun penuh semangat. "Tapi Ra, jujur ya, kamu kok tenang-tenang saja? Bahkan surat undangan buat kita-kita di kantor sama sekali belum dibagikan. Kamu sengaja mau merahasiakan pernikahan kamu, ya?"

Siska ikut menyenggol lengan Nara pelan. "Iya nih, Nara. Padahal kita kan sudah satu tim hampir dua tahun. Masa teman seuangan sendiri tidak diundang di hari bahagiamu?"

Nara tertegun. Rasa canggung yang teramat sangat mendadak merayapi dadanya. Pernikahan ini awalnya dirancang sangat tertutup, hanya syukuran sederhana di rumahnya bersama keluarga inti atas kesepakatan bersama.

Ia sama sekali tidak berniat mengumbar acara ini, apalagi mengingat alurnya yang terlampau rumit.

Namun menatap mata rekan-rekannya yang penuh antusiasme dan ketulusan, Nara merasa tidak tega jika harus berbohong atau terkesan menyembunyikan kebahagiaan.

"Maaf ya, bukannya mau merahasiakan," ujar Nara lambat-lambat, mencoba mengatur nada suaranya agar terdengar sealami mungkin.

"Acaranya memang digelar sangat mendadak dan sederhana. Hanya syukuran kecil-kecilan di rumahku..."

Nara merogoh tas kerjanya, mengambil beberapa lembar undangan fisik terbatas yang sempat dicetak sang bunda dua hari lalu. Mau tak mau, ia menyodorkan undangan tersebut kepada Rika dan Siska.

"Kalau kalian tidak keberatan dan ada waktu luang lusa, aku akan sangat senang kalau kalian bisa datang."

Rika dengan cepat menyambar undangan berdesain simpel namun elegan itu. "Pasti datanglah! Kita kan mau lihat..."

Kalimat Rika mendadak terhenti saat matanya membaca deretan huruf emas yang terukir di dalam undangan tersebut.

Dahinya berkerut heran, lalu ia menatap Siska yang juga ikut mengintip dari samping bahunya.

Kaynara Rahardja & Zaid Albani Mahendra

Siska membelalakkan mata, refleks menatap Nara dengan raut bingung yang tak bisa disembunyikan.

"Ra... ini tidak salah cetak, kan? Zaid Albani Mahendra? Bukannya..." Siska menggantung kalimatnya, tidak berani menyebut nama Devino secara gamblang, mengingat seluruh kantor tahu betul Nara sudah bertahun-tahun menjalin hubungan dengan pria bernama Devino Nugraha Wijaya.

Suasana di pojok ruangan itu mendadak hening dan terasa canggung. Nara bisa merasakan tatapan bertanya-tanya dari kedua rekannya yang menuntut penjelasan.

Nara menghembuskan napas pelan, mengulas senyum tipis yang sarat akan kepasrahan. Ia tidak mungkin menjelaskan keretakan hubungannya dengan Devino, apalagi insiden pemukulan mengerikan di taman bermain dua hari lalu.

"Itu tidak salah cetak," potong Nara halus sebelum spekulasi mereka liar kemana-mana. "Ada banyak hal yang terjadi... dan takdir membawa jalan yang berbeda dari apa yang pernah kita rencanakan."

Nara menatap kedua temannya dengan tulus, memotong niat Rika yang hendak bertanya lebih jauh.

"Aku tidak bisa cerita banyak hal, tapi yang jelas... Zaid adalah pria yang akan menjadi pendamping hidupku. Aku cuma minta doa terbaik dari kalian, dan semoga lusa kalian bisa sempat mampir ke rumah.

Melihat gurat lelah dan kesungguhan di mata Nara, Rika dan Siska saling pandang. Mereka memilih menahan rasa penasaran mereka demi menghargai privasi sahabat kerjanya.

"Tentu saja, Ra," sahut Rika lembut seraya menggenggam jemari Nara. "Apapun yang terjadi, kita mendoakan yang terbaik buat kamu. Lusa kita pasti datang ke rumahmu."

"Terima kasih ya..." jawab Nara lega, meski di dalam lubuk hatinya, rasa gelisah menjelang hari perkawinannya dengan Zaid justru makin membumbung tinggi.

.

.

.

Sore itu, gumpalan awan mendung mulai menggelayuti langit ibu kota saat Nara membereskan barang-barang di atas meja kerjanya.

Hari terakhir bekerja sebelum mengambil cuti terasa begitu melelahkan, bukan hanya karena beban pekerjaan yang harus diselesaikan, melainkan tensi emosional yang terus membayangi pikirannya.

Baru saja Nara hendak merogoh kunci mobil di dalam tasnya, ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar keras. Nama Bunda Mayang tertera di layarnya.

["Ya, Bunda?"]

Apa Nara seraya mengempit ponsel di antara telinga dan bahunya sembari mengemas map berkas.

["Nara, kamu sudah selesai di kantor, Nak?"]

Suara Bunda Mayang terdengar hangat, namun tersirat nada terburu-buru yang tidak bisa disembunyikan.

["Baru saja mau ke parkiran, Bunda. Kenapa?"]

["Bagus kalau begitu. Kamu langsung meluncur ke butik Tante Siska di daerah Dharmawangsa ya? Bunda sama Zaid sudah sampai duluan di sini."]

Langkah Nara seketika terhenti di ambang pintu kubikelnya.

["Lho? Fitting bajunya bukannya besok pagi, Bunda?"]

["Dimajukan sore ini, Ra,"]

Potong Bunda cepat dengan nada penuh antusiasme khas seorang ibu yang tak sabar menyambut hari bahagia anaknya.

["Tante Siska bilang ada beberapa detail payet di kebaya kamu yang harus disesuaikan lagi malam ini juga supaya lusa tinggal pakai. Zaid juga sudah ada di samping Bunda, dia yang antar Bunda ke sini. Kamu jangan telat ya, Nak. Kasihan Zaid sudah menunggu."]

Nara menghela napas pelan, pasrah.

[ "Iya, Bunda. Nara langsung ke sana sekarang."]

.

.

Tiga puluh menit menembus kemacetan jam pulang kantor, sedan hitam Nara akhirnya terparkir di depan sebuah butik megah berarsitektur klasik modern di kawasan Dharmawangsa.

Dengan langkah agak ragu, Nara mendorong pintu kaca berukir indah itu. Hembusan pendingin udara bertiup halus, membawa aroma wangi bunga lili dan kemewahan kain-kain sutra.

"Nara! Akhirnya sampai juga," panggil Bunda Mayang yang langsung menyambutnya dengan senyuman lebar.

Namun, pandangan Nara refleks melenceng sedikit ke belakang sang bunda. Di sana, duduk anggun di atas sofa kulit berwarna krem, Zaid tengah memperhatikan sebuah katalog gaun.

Pria itu mengenakan kemeja putih kasual yang digulung hingga siku, membuat penampilannya terlihat santai namun tetap memancarkan aura dominan yang kuat.

Bekas luka kecil di sudut bibirnya, jejak perkelahian dengan Devino dua hari lalu, masih terlihat tipis, menambah kesan maskulin yang samar pada wajah tegasnya.

Zaid menoleh saat mendengar langkah kaki, matanya yang tajam menatap Nara lurus-lurus tanpa senyum berlebihan, hanya sebuah anggukan kecil sebagai sapaan.

"Maaf, membuat kalian menunggu lama," ucap Nara pelan, memecah kecanggungan yang tiba-tiba menyergapnya.

"Tidak apa-apa, Nara. Kami juga belum lama sampai," sahut Zaid. Suaranya yang berat dan tenang bergema pelan di dalam ruangan butik yang hening.

Seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan. Tante Siska, keluar dari ruang ganti sambil membawa selembar kebaya pengantin berwarna putih gading (ivory) yang dipenuhi payet kristal yang sangat indah.

"Nah, ini dia pengantin cantiknya datang!" puji Tante Siska ramah. "Ayo Nara, masuk ke dalam. Kita coba kebayanya dulu, biar kita tahu bagian mana yang masih kurang pas."

Nara mengangguk menuruti arahan. Ia berjalan menuju ruang ganti, meninggalkan Zaid dan Ibunya yang menanti di ruang tunggu utama.

Di dalam ruang ganti berukuran luas dengan cermin besar mengelilinginya, Nara membiarkan dua asisten butik membantunya mengenakan kebaya tersebut.

Kain sutra dan bordiran halus itu melekat sempurna di tubuhnya. Saat kancing terakhir terpasang di bagian belakang, Nara menatap bayangannya di cermin.

Wajahnya yang pucat dan tampak lelah terbingkai begitu indah oleh kebaya mewah itu. Ada kepedihan halus yang masih bersarang di dadanya. Seharusnya gaun ini dipakai di depan pria yang ia dampingi selama bertahun-tahun, bukan pria asing yang baru hadir dalam hidupnya.

"Sempurna sekali, Mba Nara," puji salah satu asisten butik. "Ayo, kita perlihatkan ke calon suami dan Bunda di luar."

Tirai tebal beludru berwarna merah marun perlahan disibak dari dalam.

Bunda Mayang langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca menatap sang putri.

"Ya Allah, Nara... kamu cantik sekali, Nak," bisiknya haru.

Nara tersenyum tipis, lalu pandangannya secara tak sengaja bertabrakan dengan mata Zaid.

Pria itu perlahan bangkit dari duduknya. Pandangan Zaid yang biasanya dingin dan tak tersentuh mendadak tertahan sejenak.

Sorot matanya menyipit pelan, meneliti setiap inci penampilan Nara dalam balutan kebaya pengantin tersebut.

Ada jeda beberapa detik di mana Zaid hanya diam mematung, memberi intensitas rasa yang tak terucapkan di antara mereka.

"Bagaimana, Zaid?" tanya Bunda Mayang memecah keheningan, menatap calon menantunya itu penuh harap. "Cocok kan sama Nara?"

Zaid melangkah mendekati platform tempat Nara berdiri. Ia berdiri tepat di hadapan Nara, dipisahkan oleh jarak yang sangat dekat hingga Nara bisa menghirup aroma maskulin khas dari tubuh pria itu.

"Sangat cocok," ucap Zaid pendek. Suaranya amat tenang, namun tatapan matanya yang tajam menatap langsung ke dalam manik mata Nara. "Kebaya ini terlihat indah... tapi yang lebih penting, Saya berharap kamu merasa nyaman mengenakannya."

Nara meremas ujung kain kebayanya pelan. Kehangatan dan perhatian terselubung dalam tutur kata Zaid selalu berhasil meruntuhkan pertahanan dirinya, menyadarkannya bahwa di balik ketegasan dan keputusannya yang serba mendadak, Zaid tidak pernah berniat menekannya.

"Terima kasih, Zaid," bisik Nara dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.

Di luar gedung butik, hujan deras mulai mengguyur jalanan kota. Namun di dalam ruangan hangat itu, di bawah tatapan teduh Zaid dan senyum kebahagiaan sang bunda, Nara perlahan meresapi kenyataan baru dalam hidupnya.

Takdirnya telah bergeser, dan lusa, tak peduli seberapa keras bayang-bayang masa lalu mencoba mengejarnya, langkahnya akan bermuara pada pria di hadapannya ini.

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah dah jg akhirnya
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
nah gitu dong Nara ,,mending jamu pilih Zaid drpd devino
Apriyanti
di situbkanu harus SDH bisa melihat Nara kesengguhan Zaid sm kamu di banding kan devino yg pengecut itu
Apriyanti
bodoh kamu Nara KLO sampe menolak Zaid,, lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!